Injection and Gun Sympony

ANAK KECIL DILARANG MASUK… MASIH MASUK AUTHOR G TANGGUNG JAWAB…

Injection and Gun Sympony

“Aku punya seseorang.” ucapan itu membuat seorang gadis terdiam membatu. Kecewa, marah, merasa di khianati, dendam, kesal dan berbagai perasaan aneh menyelesup kedalam dirinya.Adaberbagai pertanyaan yang ada dikepalanya tapi hanya kata “kenapa?” yang sanggup keluar dari bibir mungilnya.

“Karena dia lebih berharga dan aku lebih mencintainya.”

Gadis itu menundukan kepalanya. Ia membalikan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan pemuda itu. Ia berharap pemuda itu akan menahannya, bahwa semua yang pemuda itu katakan adalah bohong. Tapi setelah ia berjalan sangat jauh ia tersadar bahwa pemuda itu sudah meninggalkan hatinya. Meninggalkan dia sendiri.

>>deson<<

Suara sirine membelah keheningan malam kota Seoul. Seorang pemuda terbaring lemah sambil merintih di ranjang panjang ambulance yang membawanya ke Rumah Sakit Seoul. Pemuda itu – Kim Junsu dengan seragam polisi yang bercucuran darah berhasil di selamatkan oleh rekan polisinya setelah bakutembak dengan salah satu buron pembunuhan berantai wanita Kaya di Seoul.

Ia berhasil membuka kedok pembunuhan itu tapi sayangnya ia terkena 2 tembakan dan serpihan kaca di kaki dan tubuhnya. Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakitnya yang ada dipikirannya saat itu adalah jika dia mati maka orang itu juga harus mati. Dan ia tidak akan dengan mudahnya meregangkan nyawanya begitu saja.

“Aku takan membiarkan dia menyentuhmu. Tidak akan.” Lirihnya sebelum ia kehilangan semua kesadarannya.

>>deson<<

Eun-ri mentap tubuh pasiennya yang tergeletak di hadapannya. Ia melemparkan senyum separuhnya. Ia masih ingat dengan jelas siapa laki-laki yang sedang meregang nyawa di meja operasinya itu. Ia tak akan pernah lupa siapa yang ada dihadapannya.

Pletakk…

Eun-ri menoleh dan menadapati Jaejoong menatapnya tajam. Jaejoong menutup wajahnya dengan masker dan sudah memakai sarung tangan untuk melakukan operasi. Mata sipitnya sudah di tutup oleh kacamata kotak yang membuatnya semakin tampan.

“Sampai kapan kau akan terus memandangiku seperti itu.” ucap Jaejoong dingin, “kau ingin membuat pasien kita mati?”

Eun-ri menghembuskan nafas panjang. Ia mengambil sarung tangan dan maskernya lalu mengikuti Jaejong.

Eun-ri sudah menyerah saat ia melihat siapa yang akan jadi pasiennya. Ia tidak ingin berhubungan dengan pasien itu. Tapi ia tidak bisa membatalkan tugasnya, karena pasien itu sedang sekarat dan tidak ada dokter lain bisa menggantikannya. Dan Jaejoong adalah orang yang tidak bisa di tentang.

Kau harus profesional, Choi Eun-ri…” bisiknya dalam hati.

Eun-ri mengambil hasil ronsenan pasiennya. Ia melihat memperhatikan sesaat hasil ronsenan itu. Lalu melemparkan tatapan dingin kearah Jaejoong.

“Ada satu peluru bersarang diperutnya dan satu lagi di lengannya. Lalu serpihan kaca di kaki hingga paha.” Ucap Jaejoong sambil menggambil gunting yang cocok merobek kulit putih mulus pasiennya.” Kau ambil yang ada diperut dan aku yang ada di tangannya.”

“tapi…”

Eun-ri berusaha membantah Jaejoong. Tidak mudah untuk merobek perut seseorang ditambah harus mengambil sebuah peluru yang letaknya di dekat hati. Ingat Jaejoong bukan orang yang bisa di bantah dengan mudah. Ia orang yang mempunyai cara pikiran yang berbeda dengan orang lain. Itulah yang membuat Eun-ri kesal setengah mati pada pria itu.

“Letak pelurunya dekat dengan Empedu. Bagaimana jika guntingku merobek empedunya dan meracuninya.”

Jaejoong memfokuskan dirinya pada luka lengan sang pasien, “kau mempunyai ketelitian yang bagus dan analisis yang hebat, tapi kelemahanmu adalah pikiranmu sendiri. Jadi berhentilah untuk berpikir kau tidak bisa melakukannya.”

Eun-ri menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia memfokuskan pada tubuh pasiennya. Ia mendapatkan pisau yang cocok untuk membelah tubuh pasiennya. Tidak, bukan pasiennya tapi seseorang yang pernah hadir dalam kehidupannya. Eun-ri membuka perutnya dengan pelan-pelan. Ia tersenyum miris. Bukankah dulu ia ingin sekali mencabi-cabik orang ini, membuatnya tersiksa. Dan saat kesempatan itu datang ia malah berbuat sebaliknya. Ia memperlakukan orang ini dengan sangat baik. Orang yang telah membuat hatinya hancur.

Eun-ri terdiam saat melihat peluru itu. Letak peluru itu sangat dekat dengan empedu. Satu gerakan yang salah bisa membuat empedunya robek. Eun-ri bisa merasakan derap jantung pasiennya yang semakin melemah. Pasien itu bisa mati ditangannya. Bergerak atau diam sama-sama akan membunuhnya.

“Hati. Itu adalah organ terbesar yang dimiliki oleh manusia bukan?”

“Iya kau benar.. hati tempat empedu, cairan yang beracun bagi tubuh.”

“Tapi aku tidak punya cairan empedu, kau percaya?”

“Bohong mana ada orang seperti itu.”

“Benar… karena racun dalam tubuhku hilang saat aku melihatmu makanya aku tidak punya cairan empedu.”

“Kau ini…”

“Pembohong.” Eun-ri mengigir bibir bawahnya. Kilasan memori itu tiba-tiba saja muncul. Ia berusaha menahannya menahan agar semua memori-memori itu tidak tertumpahkan semua dalam meja operasi.

“Apapun itu Choi Eun-ri. Kau harus mengambil pelurunya atau dia akan mati.” Ucap Jaejoong yang sudah menjahit lengan pasiennya.

>>deson<<

Eun-ri baru saja selesai memeriksa pasien yang baru melahirkan saat ia melewati ruang ICU. Ia menyipitkan matanya untuk melihat layar monitor yang ada disebelah ranjang. Gerakan garis dalam layar itu sangat lambat. Bahkan tidak ada perkembangan sejak keluar ruang operasi.

Eun-ri menghirup nafas sebal. Kenapa? Karena dia bosan. Pasien itu tidak kunjung membaik dan membuka matanya. Dan itu membuatnya khawatir. Membuatnya resah. Setidaknya jika pasien itu hidup, pasien itu bisa langsung meninggalkan rumah sakit dan jika pasien itu mati maka pasien itu akan meninggalkan kehidupannya dan lambat laun ia akan melupakan pasien itu.

Dokter bukan malaikat yang bisa menyembuhkan manusia. Ia hanya menolong, dan Tuhan yang tetap berkuasa.

Eun-ri masuk kedalam ruang ICU lalu memeriksa riwayat pasien itu. Ia mendecak saat menyadari bahwa pasien itu sudah 2 bulan berbaring di ruang ICU. Eun-ri menatap pasien itu dengan tatapan dinginnya.

Iya… wajah itu masih sama. Wajah yang sangat ia cintai dan wajah yang sangat ia benci. Wajah yang tidak pernah ia lupakan dari dalam otaknya.

“Kenapa kau selalu saja muncul dihadapanku, huh? Kenapa kau terus menghantuiku. Saat pertama kali kau meninggalkanmu kau selalu datang dalam pikiranku dan sekarang saat aku sudah melupakanmu kau tampakkan wujudku di hadapanku. Kenapa?”

Ttit… ttit… ttit…

“Pembohong.”

Sunyi. Eun-ri hanya mendengar suara alat-alat yang menopang hidup pasien itu yang berbunyi. Eun-ri menghirup udara sebanyak-banyak, ia memasukan oksigen ke dalam otaknya agar bisa berfungsi dengan baik.

“Apa kau bisa melanjutkan marah-marahnya?” Ucap Yoochun sambil mendekati layar monitor, “Kenapa suaramu bisa mempengaruhi detak jantungnya.”

Eun-ri melihat arah yang di tunjukan oleh Yoochun. Grafik jantung pasien itu naik turun dengan sangat cepat. Selain itu ujung jarinya bergerak perlahan.

“Ini berita bagus untuk Dokter Kim. Aku harus memberitahunya.” Yoochun menepuk bahu Eun-ri sebelum pergi.

Eun-ri menatap layar monitor itu. Perubahan yang sangat drastis. Eun-ri tersenyum sinis. Kemudian meninggalkan pasien itu sendirian.

>>deson<<

“Jadi kau tidak mengingat apapun??” Yoochun mengerutkan keningnya, “aku harus menemui dokter Kim.”

Yoochun meninggalkan pasiennya yang baru sadar dari tidur panjangnya itu. Ia sempat menduga jika pasiennya itu mengalami pendarahan dikepalanya. Namun tidak menyangka jika benturan itu mengakibatkan amnesia.

Pria itu melihat gelang yang melingkar di tanganya. KIM JUNSU 25 tahun.

“Junsu…” gumam pria itu ia mencoba mengingat sesuatu namun pikirannya kosong ia tidak bisa mengingat apapun.

Ia lemparkan tatapannya ke jendela dimana ia bisa melihat seorang dokter perempuan yang sedang duduk bersama seorang anak di taman. Dokter itu terlihat sedang mendongengkan sesuatu yang sangat menarik. Junsu menarik ujung bibirnya, penasaran sekali dengan apa yang diceritakan oleh dokter itu.

Dokter itu menoleh, Junsu merasa udara disekitarnya berhenti. Ia bisa melihat aura yang terpancar dari dokter itu. Aura yang hangat dan bersahaja. Junsu ingin mendekati dokter itu tapi ia tertahan oleh selang-selang yang menacab di tubuhnya.

>>deson<<

“Dokter Choi… Dokter Kim memanggil anda.”

Eun-ri mendengus kesal saat seorang suster menyampaikan panggilannya. Ia menatap pasien kecil di hadapannya.

“Besok kita akan bercerita lagi. Kau istirahatlah dulu.” Eun-ri mengacak-acak rambut pasiennya. Ia memang dokter bedah, tapi ia senang berkunjung ke Poli anak dan bermain dengan anak-anak. Bermain dengan anak-anak bisa mengalihakan dirinya dari ruang perawatan pasien kritis yang ia hindari.

“Kau memanggilku. Adaapa?” Ucap Eun-ri saat berhadapan dengan Jaejoong dan Yoochun.

“Kim Junsu, Polisi yang koma itu sudah sadar dan dia kehilangan ingatannya.”

Eun-ri menatap Jaejoong tidak percaya. Pasien nomor satu yang harus dihindarinya itu kehilangan ingatannya. Entah ini berita bagus atau buruk.

“Lalu apa hubungannya denganku? Aku dokter bedah bukan dokter saraf.”

“Tapi kau punya hubungan masalalu dengannya.” Ucap Jaejoong dingin

Eun-ri menatap Jaejong dingin, tidak peduli bahwa Jaejong itu atasnya atau bukan. Ia tetap tidak suka cara Jaejong memperlakukannya seperti ini.

“Aku tidak ingin mencampurkan urusan pribadiku dengan perkerjaan.”

“Ini perintah Nona Choi.” Ucap Yunho seorang kepala polisi sektor Seoul, “Junsu adalah kunci mata dari pembunuhan berantai yang melibatkan beberapa gadis di Seoul. Semoga kau ingat itu. dan dialah saksi mata terakhir yang selamat.”

Eun-ri terdiam, ia tau tentang pembunuhan para wanita kayadi Seoul, ia membunuh korban secara acak. Polisi sudah melacaknya namun mereka selalu gagal. Pembunuh itu selalu memberikan petunjuk siapa yang akan dibunuh berikutnya melalui pesan yang di taruh di korbannya.

Wanita terakhir yang di bunuh adalah seorang pengacara wanita muda. Cara membunuhnya sama yaitu dengan menjerat leher korban dengan kawat. Wanita itu mati sebelum Junsu datang. Junsu sempat terlibat bakuhantam tapi pembunuh itu membawa pistol dan melukai Junsu.

Junsu sekarat dan menyimpan rahasia pembunuh itu sendirian.

“Seperti yang kau ketahui Junsu tinggal di Korea seorang diri. Orang tuanya di Jepang dan saudara laki-lakinya di China. Kau adalah mantan kekasihnya jadi kupikir kau bisa membatu memulihkan memorinya.” Ucap Yunho

“Aku tidak bisa…” Ucap Eun-ri, “kenapa kau tidak meminta tunangannya saja… Shim Chaesun.” Nada bicara Eun-ri terlihat goyah saat mengucapkan kata Shim Chaesun.

Ia tidak terlalu suka pada nona kaya dan angkuh pemilik stasiun tivi terbesar di Korea. Gadis dengan tingkah menyebalkan, dengan julukan Paris Hilton wannabe. Bahkan kakaknya sendiri Shim Changmin tidak bertingkah arogan seperti itu.

Yunho terkekeh, “Kami sedang mengawalnya. Dari pesan yang di tinggalkan oleh pembunuh itu targetnya adalah kekasih Junsu. Maka kami mengawasinya dan menjaganya dekat ketat. Tugasmu adalah mengembalikan memori Junsu sebelum tanggal 13, arra~”

13. ya angka yang di tingalkan pembunuh itu di pesan pembunuhannya.

>>deson<<

Junsu menatap gadis di hadapannya. Ia merasa senang dapat melihat bibir mungil gadis itu bergerak gerak. Adasesuatu yang membuatnya senang. Entahlah tapi ia tidak bisa berpaling dari wajah imut gadis itu.

“Jadi… apa kau ingat??” Eun-ri menatap tajam Junsu yang sama sekali tidak memperhatikannya.

“Apa kau bisa tersenyum, seperti ini.” Junsu menganggkat kedua ujung bibirnya. Memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Kenapa kau membuatku terkekang seperti ini, huh? Aku ini dokter bedah bukan ahli terapi kejiwaan. Aku bisa saja membedah seluruh isi otakmu jika aku mau.” Eun-ri mendecak kesal. Ia melemparkan lembaran kertas yang dalam map yang ia pegang dari tadi pada Junsu. Ia tidak suka di perlakukan seperti ini, seperti budak yang dikekang.

“Ah~… itu juga yang ingin kutanyakan. Ternyata kau dokter bedah.” Ucap Junsu tanpa melepaskan tatapannya dari Eun-ri.

“Aku muak~” Eun-ri meninggalakan Junsu, ia tidak peduli. Cukup tersiksa baginya. Ia memang mengajukan syarat pada inspektur Jung dan Dokter Kim, bahwa Junsu tidak boleh mengetahui bahwa ia adalah mantan kekasih Junsu.

Tapi dari cara Junsu menatapnya. Ia teringat sorot mata Junsu saat mereka bersama. Sorot mata teduh dan senyuman yang manis. Junsu memang lebih suka menatapnya dari pada berbicara panjang lebar.

“Mata?” tanya Junsu saat ia sedang belajar salah satu bagian organ manusia

“Mata alat untuk melihat, salah satu indra yang dimiliki oleh manusia.”

“Tidak… bagiku mata adalah cara menyampai sesuatu yang tidak bisa di katakan oleh mulut. Kata yang maknanya lebih dari kata SARANGHAE.” Junsu menatapnya dengan tatapan lurus. Seakan dia adalah satu-satunya objek di muka bumi, yang sangat mempersona.

Eun-ri menghela nafasnya. Ia hendak melangkahkan kakinya saat ia melihat Yunho sedang menatapnya dingin.

“Kau lari dari tugasmu?”

“Aku ada jadwal operasi siang ini.” Eun-ri mencoba mengelak dari Yunho.

“Operasimu sudah di gantikan oleh dokter Park. Tugasmu sekarang hanya satu membuat ingatan Junsu pulih.”

Eun-ri menatap Yunho tidak percaya. Kenapa ada orang sedingin dan sekeras ini. Kenapa ia harus hidup di kelilingi oleh orang-orang yang keras dan dingin, tidak punya hati dan selalu mementingkan perkerjaan diatas semuanya. Tidak taukan mereka jika ia baru lepas dari perasaan yang bernama patah hati. Atau manusia manusia itu tidak pernah merasakan patah hati karena hati mereka sudah beku.

“Dia bahkan tidak mendengarkanku sama sekali. Aku sudah lelah.” Eun-ri mencoba meninggalkan Yunho dan kembali ke ruangannya. Tapi Yunho lebih gesit ia menarik tangan Eun-ri lalu membopong gadis itu menuju kamar Junsu. Tidak hanya itu Yunho juga memborgol tangan Eun-ri dengan besi ranjang Junsu.

“Yak- apa kau sudah gila… inspekstur Jung?” Eun-ri mencoba melepaskan borgolnya.

Yunho hanya tersenyum senis, “selamat berkerja dokter Choi.”

Junsu tidak mengerti apa yang terjadi pada dua mahluk di hadapannya tapi ia senang saat melihat itu kembali kehadapannya dengan cara yang unik.

Junsu melihat gadis itu, gadis itu mengembungkan pipinya karena sebal. Berkali-kali ia mencoba melepaskan borgol yang mengekang tangannya. gadis itu juga meleparkan tatapan tajam padanya, bukan tatapan seseorang yang baru kenal. Tapi seseorang yang sudah akrab.

>>deson<<

“Ada yang kau ingat?” tanya Eun-ri.

Junsu menggeleng, “tapi ada yang ingin ku tanyakan.”

“Apa?” tanya Eun-ri dingin.

“Apa kau punya hubungan lain denganku?”

Eun-ri terdiam sesaat, “Tidak ada.”

“Tapi bukannya kau bilang kau dokter bedah. Tapi kenapa kau melakukan dokter spesialis kejiwaan.”

Eun-ri megacungkan tangannya yang di borgol, “kau lihat aku terpaksa melakukannya.”

“Kenapa? Ada sesuatu yang mencurigakan.”

“Stop.” Eun-ri menatap Junsu tajam, “berhentilah bertanya ini dan itu. Sekarang fokuskan pada dirimu sendiri. Kau harus mengingat masalalumu minimal kau ingat siapa pelaku pembunuhan itu.”

“Kau ingin aku mengingat masalaluku?”

Eun-ri mengalihakan pandangannya. Ia tidak ingin Junsu mengingat masalalunya. Ia tidak ingin Junsu mengingat Chaesun. Ia tidak ingin Junsu meningkalnya lagi.

“Aku ingin kau segera keluar dari kehidupanku.” Ucap Eun-ri dingin

Junsu merasa ada yang berbeda dengan tatapan gadis itu. Dari gadis itu berkata dan menatapnya ia yakin gadis itu seperti menyimpan sesuatu. Sesuatu rahasia kecil.

“Kau menyukaiku?” Ucapan Junsu membuat Eun-ri menatapnya kaget.

Junsu tersenyum melihat reaksi Eun-ri. Ia tau itu rahasia kecil yang di simpan dalam hati gadis itu. Tapi ada satu hamabatan yang mengganjalnya. Kenapa gadis itu terlihat seolah membencinya.

>>deson<<

Eun-ri menatap analisis Yoochun dengan seksama. Menurut Yoochun, Junsu sudah mengengalami peningkatan tapi menurutnya Junsu sama sekali tidak mengalami peningkatan apapun. Junsu hanya mendengarkannya berbicara mengenai silsilah keluarga Kim yang dibacakannya, Junsu juga tidak berkomentar saat Eun-ri memberikan foto keluarga Kim.

“kalian hanya menyia-nyiakan waktu saja. Sudah kubilang, aku tidak bisa.” Ucap Eun-ri.

“Kenapa kau tidak mencoba menceritakan kisah cinta kalian?” ucap Yoochun

Eun-ri menatap Yoochun dengan tajam, “membiarkan aku membuka luka ku sendiri? Tidak.”

“Bukankah itu sudah lama? Kau sudah bisa melupakannya bukan?”

Eun-ri terdiam. Lama? Eun-ri melihat kalender yang berada di meja Yoochun yang memperlihatkan bulan Agustus. 4 Agustus. Bukankah itu anniversari mereka. Jika mereka masih bersama mungkin akan menjadi hari jadi ke 4 yang menyenangkan. Dan semua itu musnah karena sosok gadis angkuh nan sombong yang menghancurkan kisahasmaramereka 4 bulan yang lalu.

“Empat bulan untuk empat tahun.” Guman Eun-ri

“Jika aku jadi kau, aku akan mengembalikan ingatan Junsu tanpa mengembalikan ingatan pada Chaesun. Mungkin saja aku akan menghapuskan gadis itu di pikirannya dengan begitu aku akan memiliki Junsu selamanya.” Ucap Yoochun penuh arti

Eun-ri memperlihatkan smirknya, “kau gila.”

>>deson<<

“Junsu Oppa…”

Junsu mengerutkan keningnya melihat seorang gadis di hadapannya. Gadis dengan Make up tipis dengan rambut diikat ekor kuda memperlihatkan kalung berlian yang menghiasi leher jenjangnya. Gadis itu menggunakan gaun biru sederhana tapi berkesan mewah juga highlees mewah yang membalut kaki mungilnya. Gadis itu mengenalkan namanya sebagai Shim Chaesun, tunangannya. Junsu tidak mengerti kenapa gadis itu bisa menjadi tunangannya. Ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, wajahnya asing dan terasa canggung saat mengobrol.

“Berapa taun usiamu?” tanya Junsu

“20 tahun dan kau 25 tahun.”

“Ehmm aku sudah tau aku 25 tahun.” Junsu memperhatikan gadis di hadapannya. Gadis itu tidak terlihat seperti gadis 20 tahun. Gadis itu terlihat lebih dewasa dengan  aura angkuh yang mendominasi aura wajahnya, tapi lewat sorot matanya gadis itu masih sangat belia, “sejak kapan kita bertunangan?”

“Dua bulan yang lalu… satu minggu sebelum kau tertembak.” Ucap Chaesun sambil berkaca-kaca, “Oppa sakitkah??”

Junsu menggeleng. Gadis itu bukan gadis angkuh tapi gadis yang rapuh. Seperti kristal, indah tapi mudah pecah.

“Aku takut Oppa… cepatlah sembuh,” ucap Chaesun tidak hentinya meneteskan air matanya.

“Kemarilah…” Junsu merentangakan tangannya menyuruh gadis itu untuk masuk kedalam pelukannya. Chaesun memeluk Junsu dan menangis dalam pelukan Junsu, “menangislah jika itu dapat meringankan bebanmu.”

Junsu membelai kepala Chaesun. Ia bisa merasakan ia sangat sayang pada gadis itu. Sayang seorang kakak pada adiknya. Tidak lebih.

>>deson<<

Eun-ri hendak memeriksan Junsu saat dia melihat Chaesun sedang berpelukan denga Junsu. Junsu membelai kepala gadis itu dengan sayang. Ia merasakan dadanya terasa pengap. Udara disekitarnya terasa panas. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan membiarkan sepasang kekasih itu bermesraan.

“Kau cemburu?” tanya Jaejoong yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapannya.

Eun-ri menggeleng, “tidak.”

“Kau ter…”

“Ku pikir kau harusnya mendatangkan Chaesun sejak dulu, ku lihat Junsu sepertinya sudah kembali ingatannya.” Potong Eun-ri cepat, “jadi sebaiknya aku tidak mengganggu mereka.”

Eun-ri meninggalkan Jaejoong sendiri. Ia tidak tau apa yang benar dan salah. Pembunuh itu mengeluarkansuratperingatannya bahwa ia akan membunuh kekasih Junsu, orang yang sudah berhasil membuka kedoknya pada tanggal 13 dua bulan yang lalu. Itulah sebabnya Chaesun di jaga ketat oleh polisi. Gadis angkuh itu seperti putri raja dalam dongeng klasik, cantik, kaya, mendapat pria tampan.

Eun-ri menatap kalender yang ada di dinding lorong rumah sakit. Tanggal 13. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah apakah Chaesun bisa selamat dari tanggal itu atau sebaliknya. Jika gadis itu selamat maka ia akan kembali pada Junsu dan jika dia mati maka…

Eun-ri menggelengkan kepalanya. Tidak… ia tidak boleh egois.

>>deson<<

Junsu kembali ke meja kerjanya meski dokter masih melarangnya melakukan aktivitas. Tapi rasa penasaran yang dimilikinya lebih tinggi. Ia penasaran tentang jati dirinya dan hal-hal yang mengganjal di dalam hatinya. Kenapa ia bisa bertunangan dengan gadis yang tidak ia suka. Dan Eun-ri yang menatapnya dengan tatapan yang aneh.

Junsu melihat hal yang aneh saat melihat korban-korban pembunuhan selama 15 bulan terakhir. Pembunuhnya selalu membunuh gadis kaya dan cantik dengan menjerat lehernya dengan kawat.

“Selain luka di leher, tidak ada bekas luka lainnya.” Ucap Yunho sambil menunjukan beberapa foto bekas pembunuhan itu, “mereka langsung tewas di tempat.”

“Apa tidak ada benda yang mencurigakan?”

“Tidak, kecuali kebiasan mereka lewat jalan yang sama di jam yang sama.”

“jadi pembunuhnya melakukan survei terlebih dahulu.” Junsu mengagguk, “apa tidak dilakukan tes forensik atas mayat para korban?”

“Sudah… ada yang menarik yaitu semua korban adalah mereka hilang satu hari atau dua hari sebelum tewas dan setelah diperiksa mereka sudah dalam keadan tidak perawan meski mereka masih berstatus lajang. Tidak ada bukti pemerkosaan. Mayat itu bersih kecuali bekas kawat di leher mereka.”

Junsu menatap Yunho tidak percaya. Ada sesuatu yang aneh dalam kasus ini. sesuatu yang janggal. Ini tidak hanya pembunuhan.

“Ehmm… dan ini adalah pesan kematiannya yang diselipkan dalam bajumu.” Yunho menyerahkan sebuah kertas yang di bungkus oleh plastik.

Junsu membuka plastik itu kemudian menaruhnya dalam meja kaca. Ia bisa mencium bau darah kering dari dalam kertas itu. Ia  melihat fotonya berada di dalam kertas itu dan sebuah kata-kata singkat dari potongan kertas koran.

-tempat terindah untuk kekasih tercinta, 1+3-

Junsu memejamkan matanya sesaat mencoba mencerna pesan singkat itu. bukan tanggal 13. Ia yakin pesan singkat itu bukan menunjukan tanggal 13 tapi sesuatu yang bermakna ganda.

Junsu memperhatikan fotonya dengan seksama. Ia tersenyum miris saat melihat bahwa foto itu bukan diambil saat sekarang tapi itu adalah foto yang sudah lama.

Junsu berpamitan pada Yunho lalu pulang ke apartermennya. Ia yakin pembunuh itu telah mencuri fotonya dari apartermennya. Ia yakin bahwa pembunuhnya telah mengenalnya dengan baik.

Junsu membolak mengambil semua album yang ia punya. Ia terkejut saat ia mendapati banyak fotonya dengan Eun-ri. Eun-ri adalah mantan kekasihnya. Ia terkejut bahwa ia sudah lama menjalin hubungan yang sudah lama.

Tak ada satu fotopun dirinya bersama Chaesun tidak ada meski satu lembar. Junsu memegang kepalanya yang terasa sakit. kenapa??? Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya. Siapa Eun-ri? Siapa Chaesun? Kenapa posisi mereka seolah terbalik.

>>deson<<

Eun-ri menatap kalendernya. Hari ini 4 Agustus. Ia berdandan didepan kaca mematut dirinya secantik untuk hari yang istimewa ini. Tidak ada hal yang istimewa di tanggal ini keculai dulu saat ia masih dengan Junsu. Hari ini adalah anniversari mereka.

Seperti tahun-tahun yang lalu Eun-ri akan pergi ke taman dan menikamati udara bebasnya. Meski kali ini tidak dengan Junsu, tapi ia ingin merayakannya sendiri. Ini mungkin sedikit agak gila tapi ia ingin melakukannya, mengenang saat-saat bersamanya dulu bersama Junsu.

Junsu dan Eun-ri mengenal sejak sekolah menengah tapi mereka akrab dan berpacaran saat di akademi kepolisian. Junsu mengambil intel dan dia mengambil jurusan forensik. Satu hal yang membuat Eun-ri tidak tahan dan memutuskan untuk berkerja di rumah sakit adalah Junsu. Saat Junsu mengatakan ia memiliki gadis lain dan saat itu Eun-ri membencinya. Eun-ri memutuskan untuk meninggalkan Junsu.

Eun-ri melihat ucapan kartu yang dibuatnya sebelum putus dengan Junsu. Tadinya ia ingin memberikan kartu itu saat Junsu dirumah sakit tapi Junsu sudah pergi tanpa memberitahunya. Membuatnya sedikit kecewa.

Eun-ri memandang foto Junsu dan fotonya di atas cermin. Ia mengambil foto itu kemudian merobek bagian Junsu lalu membuangnya begitu saja.

>>deson<<

Junsu terbangun saat matahari pagi menyorot kedua matanya. Ia memengang kepalanya yang sedikit pening. Ia melihat album-album fotonya bertebaran dimana-mana. Matanya kemudian tertarik kepada selembar foto. Foto perkemahan musim panas saat ia masih di sekolah menengah.

Foto itu persis seperti foto yang di ada di pesan pembunuh itu. Junsu mengerutkan keningnya. Sebagian dari perkemahan itu memang di dominasi oleh anak perempuan mereka semua terlihat seperti dari keluarga yang berada.

Junsu mengerutkan keningnya. Kepalanya terasa sakit. Ia harus mengingatnya. Ia harus ingat. Junsu memengangi kepalanya yang semakin berdengung kencang.

Sebuah kilasan masuk ke dalam ingatannya. Ia berdiri di sebuah ruangan bersar dengan perabotan canggih disekelilingnya. Lampu kristal dengan haraga jutaan won bergelantung menyinari ruangan besar itu.

“Tolong jaga adikku.”

“Tapi…”

“Dia dalam bahaya. Tolonglah dia. Pastikan adikku selamat dan aku akan menyelamatkan bisnis ayahmu.”

“tta… ttapi… itu tidak adil.”

Kilasan berbalik dan Junsu menatap sepasang mata yang memandangnya penuh kebencian. Pria itu mendecih tidak suka. Wajahnya di tutupi oleh masker hitam bertuliskan HELL. Junsu kenal dengan mata itu. ia tau.

“Jadi apa keadilan itu?”

“Mereka tidak berdosa, mereka tidak tau apa-apa.”

“Aku juga tidak melakukan apa-apa. Tapi mereka membenciku.”

“Tidak seperti yang kau bayangkan mereka. hanya…”

Bayangan itu menghilang. Berganti dengan gambar putih langit-langit rumahnya. Junsu memengang kepalanya yang masih sedikit pusing. Ia meraih ponselnya kemudian menghubungi Yunho.

“Yunho-ya…bisa kau ceritakan hubunganku dengan Eun-ri!!!”

>>deson<<

Eun-ri sedang mengunci pintu apartermennya ketika seseorang menyekap mulutnya. Ia meronta dengan memukul tangan si penyekap tapi penyekap itu lebih kuat dari dugaannya.

Eun-ri bisa merasakan tubuhnya melemas. Ia tidak mempunyai tenaga bahkan untuk berdiri. Ia masih bisa sadar. Ia bisa melihat dengan jelas tapi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Orang itu membawanya masuk kesebuah van berwarna putih. Eun-ri tidak bisa melihat kemana ia dibawa. Ia hanya bisa melihat penculik itu membawanya kesebuah gudang tanpa bisa melawan. Beribu pertanyaan muncul di benaknya. Kenapa ia diculik? Kenapa tidak Shim Chaesun. Bukannya dalam pesan itu merujuk ke Chaesun. Tapi kenapa dia? Apa penculikan ini berbeda dengan kasus pembunuhan itu.

Penculik itu membawa Eun-ri kesebuah gudang. Gudang dengan berbagai ronsokan seperti telah disulap oleh Kibum jadi labolatorium kecilnya. Dimana berratus tabung reaksi berjejer rapih berhadapan dengan buku-buku kimia kuno dan alat-alat ilmiah hasil curian. Kibum mendudukan Eun-ri disebuah kursi. Eun-ri dapat melihat wajah pembunuh itu dengan jelas. Ia kenal dengan wajah imut nan innocent itu ia tidak pernah menyangka wajah itu akan menjadi dalang kasus pembunuhan ini.

“Kim Kibum.” Lirih Eun-ri saat melihat wajah penculiknya.

Eun-ri kenal dengan pria seumurannya itu. Ia sangat mengenal pria itu. Dirinya dan Kibum dulu satu akademi. Mereka cocok karena sama-sama saling menyukai saint, kecintaan mereka pada hukum archimedes, dan boyle mendekatkan mereka. Namun saint juga yang memisahkan mereka. Kibum keluar dari akademi secara tidak terhormat karena dianggap menyalakan aturan tentang pemakaian obat. Ia ditendang begitu saja dari akademi. Sejak saat itu Eun-ri tidak bisa berhubungan dengannya.

>>deson<<

“Choi Eun-ri adalah mantan kekasihmu. Kalian berpacaran hampir 4 tahun, 4 jika sampai saat ini kalian masih bersamanya, tapi 4 bulan yang lalu kau memutuskannya secara sepihak dan bertunangan dengan Shim Chaesun. Itulah yang membuat Eun-ri pindah tugas.”

“Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?”

“Eun-ri yang memintanya untuk merahasiakannya darimu. Dia bilang dia tidak ingin mengorek lukanya.”

Junsu mendecak kesal saat melihat apartermen Eun-ri yang kosong. Apartermen itu bersih seperti tidak tersentuh. Junsu melihat beberapa foto yang terpajang di dinding apartermen Eun-ri. Disana banyak sekali fotonya dan Eun-ri. Junsu tertegun pada salah satu foto. Foto perkemahan musim panas saat mereka di sekolah menengah.

“Kau tidak perlu sungkan meminta bantuanku, Eun-ri~ya.”

“Kau sedang sibuk dan jarak kita sedang berjauhan bagaimana mungkin aku meminta bantuanmu.”

“Kau hanya perlu berbisik pelan dan aku pasti akan mendengarnya. Karena telingaku ini tercipta hanya untuk mendengar suaramu.”

“kau ini…’

Junsu memengang kepalanya. Kilasan memorinya bersama Eun-ri keluar masuk kedalam pikirannya. Semakin lama semakin cepat. membuat telinganya berdengung kencang.

“Eun-ri dalam bahaya. Dia target selanjutnya.” Racau Junsu

Yunho menoleh padanya, “apa maksudmu?”

“Dia tidak pernah berniat mengincar Chaesun. Bukan karena aku tidak mencintainya tapi karena dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini.” Junsu menunjuk sebuah foto, “1 + 3 itu bukan 13 tapi tanggal 4 bulan 8… 4 untuk perayaan 4 tahun kami.”

Yunho meneliti foto itu dengan teliti, “semua korban ada di foto ini?”

“ini modus balas dendam. Lacak Eun-ri sekarang juga?”

Yunho menatap Junsu, “Bagaimana caranya. Penjahat itu tidak meninggalkan jejak sama sekali.”

Junsu menatap Yunho, “Aku pernah menyembunyikan alat GPS di gelang kaki Eun-ri semoga saja gadis itu belum melepaskannya. Sekarang lacak dia dan segera bergegas.”

Yunho menggangguk, “ baiklah.”

>>deson<<

Kibum mendelik pada Eun-ri ia mengeluarkan senyuman mautnya. Senyuman tipis dengan raut seolah-olah seluruh wajahnya tersenyum. Itu baru senyuman kecilnya, apalagi jika mengeluarkan senyum fullnya. Eun-ri yakin ia bisa menaklukan semua wanita.

Kibum mendekati Eun-ri. Membuat Eun-ri mengerang tidak mau. Eun-ri tidak bisa melawan meski Kibum tidak mengikatnya sama sekali. Kibum telah membiusnya. Eun-ri tau jenis bius yang pakai oleh Kibum, bius yang bisa di dokter untuk persalinan ibu-ibu hamil, namun yang terasa berbeda Kibum memasukan sedikit ester dan entah zat apa yang membuatnya tidak bisa menggerakan saraf motoriknya. Eun-ri sadar 100%, ia masih bisa berfikir dengan normal karena kibum tidak memasukan zat addict. Eun-ri hanya bisa mengira kapan efek obat itu akan habis dan ia bisa menggerakan tubuhnya.

“Tidak bisa bergerak?” tanya Kibum dingin.

Eun-ri membalas tatapan Kibum.

Kibum terkekeh, “Ehmmm… Aku melakukan sedikit percobaan. Menambah zat ini dan itu. Kau tau, aku paling tidak suka melakukan observasi, menurutku lebih baik langsung dipakaikan saja. Kita akan berpesta sampai pagi. Kita lihat apakah kau bisa memuaskanku atau tidak.”

Kibum berjalan ke sebuah yang berada didekat Eun-ri. Ia kemudian mengambil sebuah tabung reaksi kecil dengan cairan berwarna merah. Ia tersenyum lalu mendekati Eun-ri. Kibum memperlihatkan cairan itu ke pada Eun-ri lalu membiarkan Eun-ri bisa mencium cairannya.

“Bagaimana kau suka?” tanya Kibum, “

Eun-ri bergedik saat mencium aroma cairain. Saraf-sarafnya mengejang.Adasesuatu yang menarik birahinya sampai ke ubun-ubun. Dadanya berdetak dengan kencang, ia tidak berani menatap kearah Kibum. Ia tau cairan apa itu. Itu adalah cairan perangsang.

Kibum tertawa saat melihat Eun-ri bergetar. Gadis itu menggigit bibir bawahnya membuat kesan seksi di wajahnya. Kibum menaruh cairannya lalu mendekati Eun-ri. Ia mengelus rambut gadis itu perlahan. Ia meniupkan udara ke daun telinga Eun-ri membuat gadis itu menutup matanya tidak bisa menahan gairah.

“Kau baru saja mencium baunya sudah seperti ini. Apalagi jika cairan itu aku masukan tubuhmu. Apa kau masih menolakku?” Kibum membelai rambut Eun-ri, “Kurasa tidak, bahkan kau akan mati karena tidak bisa memuaskan birahimu.”

Eun-ri menatap Kibum. Ia menatap Kibum dengan tatapan memohon. Tapi Kibum tidak peduli. Ia malah semakin tertarik dengan tubuh Eun-ri.

“Ini adalah balasan untuk Junsu karena telah meremehkanku. Dia pikir aku tidak tau bahwa dia masih mencintaimu. Dia pikir aku akan tertarik dengan gadis yang tidak manja bernama Shim Chaesun itu? tidak aku tidak pernah tertarik pada gadis manja itu.”

Kibum membangunkan Eun-ri. Ia memeluk Eun-ri dengan erat.

“Tadinya aku hanya ingin membunuhmu sama seperti yang lain. Kau adalah target terakhir dan dendamku terbalaskan. Tapi Junsu menggagalkan rencanaku dia mengetahui kedokku dan terpaksa aku harus menghancurkannya juga.”

Eun-ri bisa merasakan kulit putih dingin Kibum menyentuh kulitnya. Ia ingin, ingin itu. Ia menepiskan semua gairahnya dan mencoba berpikir normal, tapi semakin erat pelukkan Kibum semakin ia tidak bisa mengendalikan diri. Hanya mencium cairan itu bisa membuatnya seperti ini apalagi jika cairan itu disuntikan ke dalam tubuhnya.

Kibum membaringkannya di Eun-ri di kasur. Ia kemudian menyusuri wajah Eun-ri dengan telunjuknya kemudian leher jenjang gadis itu turun hingga bawah. Kibum melepaskan blezer yang di gunakan oleh Eun-ri dengan tangannya sementara bibirnya mencari bibir dingin Eun-ri.

“Hei… apa ini yang disebut pemerkosaan? Tidak kau akan melakukannya dengan suka rela. Biasanya aku tidak melakukannya sendiri. Ini pertama kalinya. Biasanya aku menyuruh para bandit di jalanan untuk memuaskan nafsu korbanku. Kau tau bisa saja para wanita jalang itu bisa melakukan one night stand semalaman. Kau ini berbeda… aku ingin memuaskanmu… kau akan mati dalam keadaan bercinta. Kau akan mati dalam kesenangan.”

Kibum melepaskan bra yang menempel ditubuh Eu-ri.

Eun-ri meneteskan air matanya. Ia tidak mau. Ia tidak ingin. Ia bisa merasakan Kibum menarik celananya dan melemparkannya kesegala arah kemudian Kibum menatapnya dengan tajam. Eun-ri bisa menggerakan ujung jari-jarinya. Bius itu sudah mulai menghilang.

Kibum meninggalkan Eun-ri kemudian mengambil cairannya. Eun-ri menggeleng. Ia tidak mau. Eun-ri mencoba menggerakan tangannya. Namun nihil, obat bius itu masih merajai seluruh saraf motoriknya.

Kibum mengambil sebuah suntikan kemudian mendekati Eun-ri.

“Jangan…” lirih Eun-ri

Kibum melemparkan senyuman mautnya, “Apa Kau mencegah penjahat itu saat ia mendekati adikku? Apa kau menolong adikku saat penjahat itu menyentuh adikku? Tidak. Kau hanya diam. Kau dan teman-teman kemah wanitamu hanya diam dan menyaksikan adikku terbunuh. Kini saatnya aku membalaskan dendam adikku.”

Kibum menyuntikan cairan itu ke tubuh Eun-ri. Eun-ri hanya bisa meneteskan air matanya. Tubuhnya menjadi panas seketika dan wajahnya memerah. Nafasnya tersenggal dan tubuhnya menjadi lemas. Ia merasakan sesuatu yang masuk kedalam otaknya dan menyuruhnya mencari sesuatu. Sesuatu yang bisa memuaskannya. Ia melihat Kibum yang berdiri menatapnya, menunggu reaksinya. Ia tersenyum saat jantungnya berdetak kencang saat melihat Kibum. Ia menginginkan Kibum.

>>deson<<

“Berhenti Kim Kibum.”

Kibum menghetikan aktivitasnya kemudian berbalik. Ia mendapati Junsu sedang mengarahkan pistol kearahnya.

“KIM JUN SU…” eja Kibum sambil bertepuk tangan, “Kuakui kehebatanmu, instingmu yang dapat menemukan aku, meski aku telah membuat kehilangan memorimu tapi kau berhasil mengingatnya kembali. Keren.”

“Lepaskan dia.” Ucap Junsu.

Junsu dapat melihat Eun-ri tanpa busana sedang mengerang kesakitan. Ia tau bahwa Kibum menggunakan obat perangsang pada Eun-ri. Gadis itu pasati sedang melawan hasratnya.

“Jika melepaskannya, maka dia akan mati.”

Junsu menatap Kibum marah dan Kibum membalasnya dengan senyum kemenangan.

“Tidak lepaskan dia.” Teriak Junsu

Dorrr…

Junsu melepaskan tembakannya tapi tidak mengenai Kibum. Kibum sudah menghindar dengan cepat. Junsu mengedarkan pandangannya mencari Kibum. Ia mendecak saat melihat Kibum bersembunyi di balik lemari yang besar.

“Kecepatan berpikirmu kuakui bagus, daya cipta juga keren. Ku akui itu sejak kau masuk akademi.” Ucap Junsu, “Tapi ingat Kim Kibum, analisaku dan gerak motorikku lebih cepat darimu.”

Junsu berguling ke sisi kiri lalu mendang sebuah kursi yang ada di hadapannya.

Ddorrr… dorrr…

Kibum menembakan Pistolnya. Junsu kaget ternyata Kibum juga mempunya senjata api.

“Aku selalu merencanakan seribu rencana, ingat itu.”

Junsu mendelik, “Aku juga punya seribu taktik.”

Junsu menendang sebuah tabung kearah Kibum lalu menembaknya sambil berjalan sesisi yang berlawanan dengan Kibum. Kibum kaget dan mundur beberapa langkah.

“Kena kau.” Ucap Junsu tepat dibelakang Kibum

Kibum berbalik kemudian menatap Junsu. Ia menggangkat tangannya tapi tidak melepas pistolnya. Ia menarik pistolnya kemudian menembak atas.

Junsu menatap arah tembakan Kibum. Ia bisa melihat Kibum menembakan sebuah kotak yang terhubung dengan tali yang mengikat sebuah jangkar. Jangkar itu di taruh di atas Eun-ri.

“Shit…” Junsu menendang Kibum dengan tendangan atas hingga membuat Kibum tersungkur. Ia kemudian berlari dan mendorong ranjang Eun-ri. Ia meringis kesakitan saat jangkar itu melukai tangannya.

Setelah merasa Eun-ri cukup aman, Junsu berbalik kemudian mendekati Kibum. Ia meraih kaos Kibum kemudian menghajarnya. Ia meniju perut dan wajah Kibum berkali-kali.

“Mereka tidak ada hubungannya dengan kematian adikmu.” Ucap Junsu sambil menatap Kibum dalam, “Adikmu meninggal di bunuh saat di perkemahan karena kecerobohan dia sendiri dan orang yang kau anggap membunuh adikmu itu dia hanya saksi mata.”

Kibum meringis, “KAU BERBOHONG.”

“AKU SUDAH MEMERIKSANYA KIM KIBUM. KEMATIAN ADIKMU MURNI KECELAKAAN.”  Teriak Junsu tepat di wajah Kibum.

Kibum menatap Junsu tidak percaya.

Junsu melepaskan cengramannya, “Dendam yang membuatmu buta, Kim Kibum. Dendam yang membuat pikiranmu tidak jernih.”

Kibum memelorotkan tubuhnya ketanah.

“Kau rela berlajar mati-matian hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak benar. Kau telah menyia-nyiakan hidupmu.”

Junsu mengambil kedua tangan Kibum lalu memborgolnya. Ia kemudian mendekati Eun-ri kemudian menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.

“Masuklah.” Perintah Junsu pada Yunho lewat walki-talkie

Junsu menatap Eun-ri. Gadis itu memejamkan matanya, tubuhnya panas dan mengeluarkan keringat dingin. Gadis itu menahan gairahnya setengah mati. Kibum benar, Jika Eun-ri menahannya terus maka dia akan mati.

“Kau pasti bisa bertahan, Eun-ri~a… kau bisa.” Bisik Junsu sambil memeluk Eun-ri, “Kau harus fokus. Kau bisa.tahanlah sampai reaksi obat itu hilang. Fokuslah Choi Eun-ri.”

Eun-ri tidak berani membuka matanya. Ia takut jika ia membuka matanya ia tidak bisa menahan nafsunya. Nafasnya sudah tersenggal-senggal, tubuhnya panas tapi dia terus mengeluarkan keringat dingin. Bibirnya terus bergetar. Jantungnya berdetak dengan cepat ceperti hendak mau meledak.

“Fokus Eun-ri…” ucapnya dalam hati.

Ia tidak boleh menyerah. Tidak. Ia berusaha menahan semuanya. Ia tau Junsu datang menyelamatkannya sebelum ia kehilangan kesadarannya.

>>deson<<

“Saat perkemahan musim panas 7 tahun lalu, adik Kibum meninggal karena kecelakaan. Kibum menduganya sebagai pembunuhan karena dia melihat bukti-bukti yang mencurigakan. Orang itu lolos dari tangan hukum karena memang dia tidak bersalah. Tapi Kibum masih menyimpan dendam. Ia masuk kedalam akademi polisi dan bertekat menuntut orang itu. Namun sialnya ia dikeluarkan karena melanggar hukum karena mempergunakan obat-obat berbahaya tanpa lisensi. Jika dengan cara benar Kibum tidak bisa menuntut orang itu maka ia melakukan dengan cara jahat. Ia membunuh orang itu lalu membunuh saksi yang membebaskan orang itu. Ia membunuh para wanita dulu agar mudah kemudian para lelaki, dan yang terakhir adalah aku.” Ucap Junsu yang masih terbaring dengan gips pada kedua kakinya.

“Jadi hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan adikku?” tanya Changmin sambil melirik Chaesun.

“Tidak. Chaesun tidak terlibat dalam perkemahan itu. Dia aman.”

Changmin menghembuskan nafas lega, “Kupikir dia mengincar gadis kaya karena terobsesi atau hal yang lainnya, ternyata.”

“Akupun berpikir begitu awalnya… tapi aku merasakan bahwa pembunuhan itu sangat terpogram dan terpola. Aku mengikuti pola itu dan… aku mendapati diriku sebagai korban terakhir.”

Changmin menepuk bahu Junsu, “Semuanya sudah berakhir. Tidak akan ada teror lagi. Terimakasih sudah menjaga adikku.”

Junsu menganggukan kepalanya, “sudah kewajibanku.”

Changmin kemudian pergi meninggalkan Junsu dan Chaesun. Chaesun menatap kaki Junsu. Ia menimbang-nimbang sesaat untuk mengatakan sesuatu pada Junsu. Ia takut menyakiti hati Junsu. Tapi ia tidak bisa jika tidak mengatakannya.

“kau mau bicara?” tanya Junsu

Chaesun mengangguk. Tapi ia tidak mengucapkan apapun.

“Kurasa aku mengerti.” Ucapan Junsu membuat Chaesun menatapnya, “Aku hanya pengawalmu dan sekarang aku kakiku terluka dan aku tidak bisa mengawalmu lagi. Mungkin sebaiknya aku meminta Donghae untuk menjagamu, seumur hidupmu.”

“Oppa~~” Ucap Chaesun berbinar-binar.

“Aku tau kau sangat mencintainya dan kurasa dia juga mencintaimu. Pergilah.”

Chaesun menatap Junsu sesaat kemudian memeluk Junsu, “gomawo Oppa~ kamshaeyo~~”

Junsu kaget mendapat perlakuan tiba-tiba Chaesun. Ia tersenyum kemudian menepuk-nepuk punggung Chaesun.

>>deson<<

Eun-ri menceritakan kronologis penculikan yang dia alami pada Yunho. Ia juga menceritakan tentang obat yang Kibum berikan padanya. Ia mengakui kejeniusan Kibum dalam menciptakan obat baru, ia ingin berguru pada Kibum.

Yunho juga menceritakan semua tentang Junsu. Analisis Junsu, duel Junsu dan Kibum dan juga luka-luka yang Junsu dapatkan. Hati Eun-ri teriris saat tau bahwa kaki Junsu harus di operasi karena menyelamatkannya.

Eun-ri berniat untuk mengucapkan terimakasih pada Junsu. Tapi saat ia ingin masuk ke kamar rawat Junsu. Ia melihat Junsu sedang berpelukan dengan Chaesun. Eun-ri membalikan badannya dan kembali kekamarnya ketika sebuah suara menahannya.

“Kau cemburu?”

“Tidak.”

Jaejong terkekeh kemudian menjajarkan tubuhnya dengan Eun-ri, “Saat kita mengoprasi Junsu kau menolak untuk membedah perut Junsu karena peluru yang menembus perutnya dekat dengan empedu. Kau tau jika empedu Junsu pecah maka ia akan kehilangan nyawanya. Kau bertanya kenapa tidak aku yang melakukannya?”

Eun-ri mengerutkan keningnya, “kenapa? Karena kau ingin melihat dia mati ditanganku.”

“Bukan?” Jaejong menyerahkan laporan medis Junsu, “Karena dengan emosi yang kau punya kau hanya melihat apa yang terlihat oleh matamu tanpa berpikir panjang lagi. Jika kau mengoprasi lengan Junsu kau akan mencelakainya dan membuatnya cacar seumur hidup.”

Eun-ri tercekat saat melihat poto peluru yang berada di lengan Junsu. Pelurlu itu menembus otot dan tulangnya dan jika salah sedikit maka peluru itu akan merobek jaringan sarap Junsu dan membuat Junsu kehilangan pengendalian tangannya.

“Kenapa kau tidak melihat hal sedetail itu? bukankah aku pernah berkata bahwa kau mempunyai ketelitian yang bagus dan analisis yang hebat, tapi kelemahanmu adalah pikiranmu sendiri. Kau terlalu memikirkan apa yang kau lihat bukan yang kau rasa, dan perasaan itu kemudian mengalahkan logikamu sendiri.”

Eun-ri terhenyak sambil menatap Jaejong.

“Kau mempunyai fokus yang bagus, tapi emosimu buruk.” Jaejong menuntun Eun-ri menuju taman, “Saat Junsu berkata jika Kibum menggunakan obat perangsang. Aku katakan pada Junsu jika kau tidak akan selamat. Kau akan menahan gairah itu dan aku benar, kau menahannya. Itu karena kau memiliki analisis yang hebat dan kesabaran. Tapi kau tidak punya fokus, kau selalu saja terbawa emosimu. Salah satu cara menyelamatkanmu adalah dengan melakukan sex bersamamu.”

Eun-ri tergengang mendengar perkataan Jaejong.

“Jika Kau tidak fokus maka satu-satu jalan adalah kau harus melakukan sex. Tapi Junsu tidak mempercayai ucapanku. Dia tetap bertahan disampingmu tidak peduli dengan kakinya yang retak. Dia terus berbisik di sampingmu, menyuruhmu untuk fokus. Kau bisa fokus dan kemudian kehilangan kesadaranmu.”

Eun-ri mengalihkan tatapannya dari Jaejong.

“Junsu tidak hanya menyelamatkan nyawamu, ia juga menyelamatkan kehormatanmu.”

Eun-ri memikrkan kata-kata Jaejong. Junsu tidak hanya menyelamatkannya nyawanya tapi kehormatannya juga. Ekor mata Eun-ri kemudian tertarik pada sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan.

Shim Chaesun dan Lee Donghae- aktor tampan yang sedang naik daun. Mereka terlihat sangat mesra keluar dari pintu rumah sakit.

“Kenapa Chaesun bersama Donghae?” Ucapan itu mengalir begitu saja dari mulut Eun-ri.

“kau pikir kenapa Junsu bisa bertunangan dengan Chaesun, tanpa rasa cinta. Bahkan mereka tidak saling mengenal.” Ucap Jaejong santai, “Fokus Eun-ri…”

Eun-ri mengerutkan keningnya mencoba memikirkan semua kemungkinan yang masuk dan logis. Eun-ri tersenyum simpul saat ia menemukan benang merah yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya.

“Ya… kau benar… kita tidak akan pernah bisa berfikir dengan fokus jika diselimuti emosi.” Ucap Eun-ri

>>deson<<

Junsu melihat tumpukan berkas di mejanya. Ia mendelik kesal saat melihat perkerjaannya berlipat ganda gara-gara harus menjalani perawatan dirumah sakit selama hampir setengah taun.

“Jika seperti ini aku ingin kembali amnesia.” Gerutu Junsu.

“Sudah kubilang kau jangan dulu masuk kakimu masih sakit.” Ucap Yunho sambil melirik kaki Junsu yang masih terbalut gips.

“Aku tidak betah terus menerus dirumah. Aku bisa mati bosan.” Keluh Junsu.

“tch… dasar hardworker.” Yunho menaruh sebuah berkas di meja Junsu, “yang lain sudah menunggu di aula untuk merayakan kepulanganmu, kajja…”

Junsu menatap Yunho, ia tidak ingin pergi ke pesta itu. Ia sudah tidak berminat pada pesta atau sebagiannya. Tapi ia tidak dapat menolak ajakan Yunho.

Junsu mengambil tongkatnya kemudian menyusul Yunho menuju aula.

Junsu terpukau saat ia melihat aula yang disulap menjadi ruang pesta. Ini bukan pesta penyambutan biasa. Ini benar-benar pesta. Belum selesai rasa kagum Junsu, seorang gadis memakai gaun merah mendekatinya. Junsu menatapnya tidak percaya, semua ini seperti ilusi.

“Kenapa masih disini? kau tidak suka pestanya?” ucap gadis itu.

Junsu menggeleng.

“Teman-teman… hari ini kita merayakan pesta untuk kembalinya dua teman kita, Kim Junsu dan Choi Eun-ri.” Ucap Yunho dari atas panggung.

Junsu menoleh pada Eun-ri dengan tatapan tidak mengerti. Eun-ri tersenyum dan memamerkan ID Cardnya.

“Aku kembali bersamamu.” Ucap Eun-ri

Junsu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya sudah memerah karena malu dan senang.

“terimakasih.” Lirih Eun-ri

Junsu menatap Eun-ri. Ia kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Eun-ri membalas pelukan Junsu.

“Mianhae…” lirih Junsu.”

Eun-ri melepaskan pelukan Junsu. Ia menatap Junsu dengan tajam, “Ya~ harusnya di ending tokoh utamanya bilang Saranghae, bukan Mianhae.”

Junsu memamerkan deretan gigi putihnya. Ia menarik Eun-ri sekali lagi lalu berbisik, “saranghae.”

“Nadoo… saranghae…”

TAMAT

hmmm… to Kibum fans… mianhamnida… saya g tau ini Kibum yg mana hhhh… jangan marah okey… thisis just fanfiction…

kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka… apalagi klo mau ngasih duit hhhhh

Cr: desonzone.wordpress.com

About -deson-

Everybody loves me, coz I’m made of chocolate

Posted on 8 September 2011, in Han Yeosin, SM Town and tagged . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. Like dulu ya onn… Panjang mameennn😄 Oyah, ini ratednya apa? PG? NC? Trus Genrenya ? Angst? Thriller?

  2. *TARIK NAFAS*
    *BUANG NAFAS*
    *TARIK NAFAS*
    *TAHAN SELAMA 3 BULAN*
    *oke abaikan*

    Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~
    Deson kamu nongol di mari lagi. Hahahahahaa… Kebetulan juga aku mampir disini dan langsung dapet karya kamu. HAHA *gejeh deh -.-*
    Ya ampuunnnn suka banget ini mah.
    Keren pisan euy *sok sunda pdhal bukan*
    Jaejoong….. Sumpah kamu cocok jadi dokter *.*
    Dan changmin….kyaaa aku padamu *apadeh*
    Ini bahkan lebih hebat dari novel fiksi yang tersebar dimana2(?) ceritanya beruntun, klimaksnya asli dapet, dan terakhir HAPPY ENDING. Huooooo…
    Kimkibum yg dimaksud sih mnurutku lebih cocok kibum suju. Tampanx dapet banget (?)
    Untung NCnya bukan sm pemeran utama. Kalo sm pemeran utama sih sy khawatirnya hotter. Wkwkwkwkk LOL. Tp ini bukan NC sih, cuma semi NC doang😄

    Yaudahlah yaa.. Cukup kegejehan saya. Suka banget deh yg jelas sm ini FF u,u
    Keep on writing deson. I always being your faithful reader #eaeaaaa

  3. Annyeong~reader baru,lam kenal^^
    dari td aq penasaran inith kibum mn ??tp aq bayangin’a kibum shinne aja .
    Kyaaaaa 4jempol aq acungin buat junshu#pinjam tangan uchun#gila salut dah buat junshu,ngga mentingin nafsu .

  4. annyeong,,pendatang baru niy..
    settingnya tentang kepolisian,,agak gak biasa tapi tetep oke..
    adegan nc gak berlebihan..love it!!!!

  5. annyeong…
    sukaaa..
    Temanya beda ma ff lain yg q baca…
    NC?!!🙂

    fighting!!

  6. annyeong aq reader baru ^_^

    pertama baca judulnya langsung tertarik, eh ternyata ceritanya emg daebak
    keren banget thor..😀
    ikut deg-deg gimana gitu waktu si eunri di culik ma kimbum
    tp ngomong2 ntu kimbum spa thor??

  7. Annyongggggggggg!!!!!!!!!!! (Reader sarap tereak2 sndiri)
    Heheheheeeeee
    Oya, aq reader baru ne
    pndtang baru
    Aq suka bgt ama ff ne
    bgus bgt
    Daebak

  8. udah lebih dari 2 bulan baru mampir kesini lagi, ketinggalan ff keren2 disini…….
    aku suka, ngebayangin Homin+jyj jadi polisi mantap pasti gagah bgt…..
    udah nyerempet NC untung junsu tahan n ngak otak yadong ngeliat badan cwe yg di cintain tanpa busana gitu, kalo jj n yoochun pasti udah diembat langsung kkkkkkkkk!!!!!???:-D:-D
    aku sedikit ngak ngerti kenpa junsu putus n alesan jadian sama cwe lain tp cwe.y cinta ma jae akhir y?????????

    • Mwo??? klo Jj n Yoochun apa???
      Junsu putus sma Eun-ri itu karena Junsu pengen ngelindungi Chaesun…
      Junsu sengaja bikin sakit hati Eun-ri biar Eun-ri sakit hati sama Junsu padahal Junsu itu masih sayang sama Eun-ri… dia tuh minta Jaejong ngejagain Eun-ri…

  9. WAW~
    Ni ff LUAR BIASAAA~~
    Beda bgt dg ff lain~
    Bisa di filmkan author,
    Ato di bukukan~ trbawa em0si banget,
    Gak sekedr cinta2,
    Tp ada ilmu jugaa~
    Luar biasa~

    Tokoh Junsu menarik~
    Idaman sluruh wanita jagat raya dah,
    Jaejung~ super pinter
    Ckck*cuma bs geleng2,
    Eunri~ wanita yg luar biasa,

    LIKE THIS~~

  10. kerenn bgt ceritanyaa
    hebatttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: