[FF/G] MY GHOST MY HERO Part – 6

Main Cast:
Lee Jinki as Lee Eunsook
Kim Jonghyun
Kim Kibum
Choi Minho as Choi Minjung
Lee Taemin

Support Cast:
Jung Yunho as Nyonya Yunah
Kim Jaejong
Go Hara

Genre: Rujak
Rating General
Leght: Sequel
Author: GeGey

Annyeong~
Mungkin banyak dari kalian yang lupa sama FF ini (yaiyalah~ lahir FFnya setaun sekali). Dan banyak yang bingung kenapa kaki Eunsook bengkak. Nah, di part 4 kaki Eunsook emang udah luka ama kekilir. Sebabnya, waktu dia ngegagalin aksi teroris, diperparah dengan gigitan Hara, tambah parah lagi ama Yoogeun yang gelayutan dikaki Eunsook. Otte? Sudah ingat kah?

Ahahahhahha..
HAPPY READING!!! ^^

RCL Please~


Kibum POV

Yeoja itu menangis diam. Tanpa suara isakan. Hanya menatapku nanar dan meneteskan air mata. Langkahku semakin menjauhinya. Melambaikan tanganku pada yeoja itu, dan kuajak serta libertyku untuk melambaikan tangan.
Yeoja itu tak dapat melakukan apa-apa. Dia hanya diam karena kakinya terluka. Duduk sendiri dibangku taman. Dan aku semakin jauh darinya. Dia mungkin saja mati kesepian ditaman ini. Tapi aku akan hidup damai bersama liberty.

Tapi tiba-tiba kakiku terasa berat. Mobil yang hendak kutuju pergi meninggalkanku. Aku seperti terpaku ditempat ini. Bahkan liberty melompat dari pangkuanku, dan berjalan sendiri entah kemana. Aku tak dapat bergerak sedikit pun.

Merinding bulu kuduk. Tengkukku dingin. Taman ini berubah menjadi gelap, hanya diterangi cahaya lampu taman yang remang-remang. Dan angin yang bertiup kencang, sehingga menimbulkan bunyi siulan angin yang menakutkan.

Aku mencoba untuk mengangkat kakiku. Tapi nihil.
Terdengar suara suatu benda yang diseret. Semakin lama suara tersebut semakin jelas terdengar. Seperti mendekatiku. Penasaran, aku memutar setengah tubuhku kebelakang. Dan apa yang aku lihat membuatku terbelalak.

Yeoja itu tidak hanya diam dibangku taman. Dia menyeret tubuhnya menghampiriku. Aku berpaling darinya. Menutup rapat mataku. Mengucapkan beribu do’a, semoga kakiku dapat bergerak. Lagi-lagi nihil. Alangkah terkejutnya, yeoja ini sudah berada didepan wajahku saat kubuka mata. Dia berdiri. seseorang membantunya berdiri dihadapanku. Dan dia, Jonghyun hyung? Jonghyun hyung tidak berekspresi. Bukan seperti hyung yang aku kenal.

Apa yang akan mereka lakukan padaku?

Yeoja dihadapanku kini memejamkan matanya. Memajukan bibirnya, dan mulai mendekatkan wajahnya padaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain melihat bibirnya yang semakin mendekatiku. Semakin dekat. Semakin dekat. Lebih dekat. Aku tak sanggup melihat lagi! Aku lebih suka untuk menutup mataku rapat. Sangat rapat.

Hmmmphh~

Aku tidak mengakui ini sebagai ciuman!

“Ahahhahahhahahhahahaha..ahahhahhah.”

Gelegar tawa anak laki-laki membuatku membuka mata. Dan yeoja itu hilang! Hanya ada Jonghyun hyung. Dia lebih tinggi dariku? Sejak kapan? Kuturunkan pandanganku, dan pantas saja, hyung melayang.

“Itulah hukumanmu. Karena telah membuatnya tak bisa berjalan. Dan kau akan mendapatkan hal yang lebih mengerikan. Jika sampai yeoja itu mati kesepian.”

Hanya itu perkataan hyung, sebelum dia pun menghilang. Taman ini benar-benar sepi.

******

Ayo balas pesanku. Ayo balas. Please~

Aku tak berkedip. Memandangi layar ponselku lekat-lekat. Semoga dengan tak berkedip poselku akan bergetar, mendapatkan pesan balasan dari Eunsook noona.

Bip!

Ada pesan. Akhirnya dari Eunsook noona.
Aisshhh! Sudah kuduga dia pasti akan menjawab kalau dia baik-baik saja.

Kubalas lagi pesannya. Kali ini aku tidak akan menunggu jawabannya. Aku akan tetap kerumahnya, melihat keadaannya dengan mata kepalaku sendiri. Dan otomatis mengantar jemputnya. Sampai kakinya sembuh. Jangan sampai hantu hyung datang lagi kemimpiku. Tapi~ apa hubungannya Jonghyun hyung dengan kaki bengkan Eunsook noona?

Sudahlah tak perlu dipikirkan. Mimpi memang selalu tidak dapat masuk diakal. Mimpi ini pasti karena insiden yang kualami kemarin. Atau mungkin karena selama ini banyak yang mengatakan padaku kalau Eunsook noona adalah Jonghyun hyung. Tidak mungkin!

Kulanjutkan menghabiskan sarapanku. Setelah itu berlari kecil menuju kendaraan yang sudah mengantarkanku kesekolah, dan melindungiku dari serangan tiba-tiba fansku.

Jalanan yang masih lengang, karena masih sangat pagi, membuat laju mobilku sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku tidak mau ngebut dan mengemudi dengan ugal-ugalan. Aku masih ingin hidup. Siapa yang akan mengingatkan umma untuk berdandan jika aku tidak ada? Dan siapa yang akan memarahi appa saat diam-diam dia memakai lipstick umma?

Aku tiba dirumah Taemin dengan selamat. Disambut oleh tuan rumah dengan ramah. Tapi menunggu cukup lama hingga akhirnya aku mendengar suara langkah menuruni anak tangga.

Dia berkata baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya dia masih perlu bantuan orang lain untuk berjalan. Dasar!

“Cepat naik kepunggungku. Selama kakimu masih bengkak, aku akan selalu menggendongmu.”

Berapa lama waktu yang akan kami habiskan jika aku harus memapahnya. Kupikir akan lebih cepat jika aku menggendongnya. Meskipun berat. Dalam artian sebenarnya. Lebih berat dari Jonghyun hyung kurasa.

******

“Apa yang sedang kau cari?”
“Ya?”
“Sepertinya kau sedang mencari sesuatu.”

Aishh! Hanya tempat ini yang belum kujamah. Hampir seluruh tempat dirumah ini sudah kujelajahi, tapi belum kutemukan cincinku.

“Kibumie~ kau sedang mencari apa dikamar kami?”
“Aku mencari cincinku.”

Appa dan umma membantuku keluar dari bawah tempat tidur mereka. Menarik kedua tanganku namun percuma. Aku tersangkut. Tidak kusangka tempatku dan Jonghyun hyung bermain sewaktu kecil sempit sekali. Aku sudah tidak muat.

“Cepat ambilkan minyak goreng.”

Apa? Untuk apa appa menyuruh umma untuk mengambilkan minyak goreng?

“Kita olesi Kibum dengan minyak goreng agar tubuhnya licin. Agar kita dapat dengan mudah menariknya keluar.”
“MWOO??”

Andweee!!!!

******

Kubiarkan ribuan tetes air membasahi kepalaku. Kutundukan kepalaku sehingga air mengalir jatuh melalui tulang hidungku. Mecoba mengingat dimana aku menghilangkan cincin Jonghyun hyung. Apa yang akan kulakukan jika cincin tersebut hilang dijalanan. Kemudian seseorang mengambilnya.

Paboya! Tidak bisa menjaga dengan baik.

Kumatikan aliran air yang mengguyur tubuhku. Kurasa sudah cukup lama aku berada dikamar mandi.
Kukeringkan rambutku dengan handuk. Sepintas teringat lagi tentang cincin yang kuhilangkan. Jonghyun hyung memang tidak pernah menyuruhku untuk menjaga cincin tersebut. Hanya saja bagiku, tidak menjaga cincin tersebut dengan baik sama saja seperti tidak menuruti permintaan hyung. Untuk menjaga Minjung baik-baik.

Hah. Sebenarnya siapa yang tidak menjaga Minjung dengan baik? Mengapa harus membunuh diri sendiri jika masih mencintai Minjung? Apa yang dia pikirkan?

Tenggorokanku mulai tercekat. Beginilah jika aku mengingat kembali hyungku satu-satunya. Terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Tidakkah dia memikirkan orang yang dicintainya sebelum melakukan hal yang bodoh? Dia seharusnya tahu banyak orang yang terluka karena ulahnya. Umma, appa, Minjung, aku, dan bahkan Hara.

Teringat saat dia memintaku untuk mengantar jemput Minjung. Dan demi hal itu aku mengabaikan tugasku sebagai ketua grup namja tampan.

Dan pada akhirnya suatu hari, hari yang menjadi hari terburukku, aku membawa serta Taemin, sahabatku, saat menjemput Minjung. Dan aku tahu Taemin jatuh hati pada tunangan hyungku. Aku mulai cemas. Aku takut Minjung pun menyukai Taemin. Karena untukku, Minjung selamanya adalah tunangan Jonghyun hyung.

Dan disaat hyung benar-benar meninggalkan kami. Aku merasa bahwa dia masih mempunyai urusan yang belum dapat ia selesaikan didunia ini. Dapat kubaca dari matanya. Mungkin mengenai Minjung.

Oleh karena itu aku selalu mengalungkan cincin tunangan Jonghyun hyung dileherku. Kupegang dadaku. Tempat dimana biasanya cincin itu kukalungkan. Tidak ada lagi.

Kupakai setiap hari. Untuk mengingatkan Minjung bahwa dia bertunangan. Dan untuk memperingati Taemin secara tidak langsung. Agar setiap kali taemin melihat cincin tersebut, dia ingat bahwa Minjung adalah milik hyung. Seperti yang sudah pernah aku katakana padanya sebelumnya.

Namun sesuatu membuatku tersenyum. Ah tidak. Lebih tepatnya seseorang.

Tidak pernah kulihat sebelumnya, seorang yeoja yang begitu ceroboh. Seorang yeoja yang tanpa sengaja melemparkan bola kearah kepala Minjung. Setelah itu dia lari terbirit-birit. Dia melarikan diri. Ahaha. Mengapa harus lari jika dia tidak sengaja melakukannya? Tidak kusangka dia adalah Noona dari Taemin.

Kini aku tahu mengapa saat itu dia lari terbirit-birit. Karena itu memang sifatnya. Takut, bahkan sebelum digertak. Eunsook noona.

Hari yang sibuk. Hari yang penuh kejutan. Pertama melihat sahabatmu jatuh hati pada tunangan hyungmu sendiri. Lalu melihat tunangan hyungmu terkena lemparan bola. Dan menemukan species langka seorang yeoja.

Kejutan terbesar dihari itu adalah saat kau kehilangan seorang hyung. Tak bisa lagi berteriak saat dia menggangguku. Atau bermain bersama, menjahili satu sama lain.

******

BUUGHH!!

Jinjja! Apa lagi yang terjadi padanya?
Baru saja dua hari kuhabiskan sebagian waktuku bersamanya, aku sudah terbiasa dengan suara benda terjatuh.

Kuhampiri Eunsook noona yang berada didalam kamar mandi. Kutempelkan telingaku pada daun pintu. Sepi. Tidak terdengar apa pun.

“Noona?”

Tok tok tok!

“AKU MASIH HIDUP! TIDAK APA-APA!”

Aiisshh! Yeoja ini. Membuat orang khawatir saja.

Kembali kududuk dimeja belajar Eunsook noona. Melanjutkan untuk menggambar rancangan untuk markas kami yang baru. Untuk membunuh waktu menunggu Eunsook noona. Aku nyaman berlama-lama dikamar noona. Aroma kamar ini persis seperti kamar Jonghyun hyung.

Tapi jangan sampai aku melamun. Atau aku akan menangis.

Eoh?
IGE MWOYA?

Kenapa ada gambar kutu pada desainku? Dan seingatku aku tidak pernah menggambar kucing mati. Atau harimau mati? Jika dilihat lagi ini seperti burung hantu berkaki empat. Siapa yang menggambar seburuk ini?

Aiishhh! Jinjja! Ini membuatku merinding. Hanya Jonghyun hyung yang selalu merusak gambarku dengan hewan-hewan ciptaannya.

Cklek~

OMO!

“Aigoo~ sudah kubilang bukan?”
“W ae?”

Kudorong kembali Eunsook noona memasuki kamar mandi. Membantunya membersihkan pasta gigi pada wajahnya. Aku kesulitan membersihkan sisa sabun didalam hidungnya, maka kuminta noona untuk membersihkannya sendiri. Sementara aku membersihkan tisu toilet dan sikat gigi yang menyangkut dikepalanya.

“Sudah kubilang biarkan aku membantumu. Tapi kau justru menghancurkan kamar mandi.”
“Bagaimana bisa aku membiarkan namja membantuku mandi?”

Dia benar. Kenapa aku selalu lupa kalau dia seorang yeoja? Mungkin karena tidak lebih cantik dari Taemin.

Selesai dengan kekacauan yang dibuat Eunsook noona. Aku memapahnya untuk keluar kamar mandi. Entah mengapa kenop pintu kamar mandi ini sulit untuk dibuka. Kuatur nafasku, jangan sampai panik. Hal yang terburuk adalah kami terkunci di kamar mandi.

Ok. Sepertinya kami terkunci dikamar mandi. Aku tak dapat membuka pintu ini. Jangan panik. Jangan panik di depan Eunsook noona. Atur nafas kembali, rileks, jangan panik.

“Wae?”
“Tidak apa-apa.”

Aku mendudukan Eunsook noona water closet. Lalu kucoba kembali untuk membuka pintu.

Aaarrrrrkkkkhhh!!! Bagaimana ini!!! Aku tidak mau terkunci didalam kamar mandi!!
Tenang Kibumie. Jangan panik.

“Noona.”
“Ne?”
“Kapan umma dan appamu pulang dari Busan?”
“Besok siang.”

Besok siang! Terkurung hingga besok siang?

“Bagaimana dengan Taemin?”
“Aku tidak tahu. Bukankah kau yang menyuruhnya mengantar Minjung pulang.”
“AKU??”

Noona tersentak karena nada bicaraku terlalu tinggi. Ayolah Kibum. Kendalikan dirimu sendiri. Kalau kau panik, maka Eunsook noona pun akan panik.

“Baiklah kalau begitu.”
“Memangnya ada apa? Apa kita terkunci disini?”

Dia tahu? Omo otte?

“Noona. Kau tidak usah khawatir. Ada aku. Lagipula, sepertinya tidak akan lama lagi Taemin akan pulang.”
“Ohh, baiklah.”

Huh? Kenapa dia tidak panik?
Melihatnya setenang itu justru membuatku tidak tenang!! Aaarrrgggghhhh!!!

***

Sudah lebih dari empat jam berlalu. Kami terdampar dilantai kamar mandi. Noona sudah tertidur. Kupinjamkan bahuku untuknya bersandar.

Ponselku kutaruh dimeja belajar Eunsook noona. Taemin belum juga pulang. Mengantar Minjung kenapa lama sekali? Ha! Bocah itu. Aku tak pernah menyuruhnya untuk mengantar Minjung. Sepertinya sudah mulai menghalalkan segala cara untuk mendekati Minjung. Kukira dia pergi bersama orang tuanya ke Busan. Ternyata.

Kupandangi wajah Eunsook noona yang terlelap.
Dia sama sepertiku. Tidak masalah sesakit apa hatinya sewaktu Taemin tidak mengakuinya sebagai noona. Dia tetap menganggapnya dongsaeng. Aku pun begitu. Walau Taemin pernah membuatku terdengar buruk didepan Minjung. Melebih-lebihkan cerita tentang apa yang kulakukan pada noonanya agar Minjung tertarik. Tetap akan kuma’afkan.

Taemin hanya anak kecil yang sedang jatuh cinta. Sedikit nasehat akan meluruskan jalannya.

Whoaaammmm~ sepertinya aku mulai mengantuk.

Tek!

APA LAGI???
KENAPA LAMPUNYA PADAM!!!!

Tek!

Fiuuhhh~ menyala kembali. Untung saja tidak terlalu lama.

Tek!

YA! KENAPA LAMPUNYA HARUS MATI LAGI!!!!!

Tek!

Terang. Jangan terlalu senang. Siapa tahu lampunya padam lagi.

Tek!

Benar kan?
Lagi-lagi lampunya mati.

Tek!

Lampunya menyala kembali. Ini aneh. Penadaman listrik tidak akan seperti ini.

Tek!

Lampunya padam. Seperti seseorang sedang memainkan sakelar lampu kamar mandi.
Aku mengintip kebawah pintu. Kamar Eunsook noona tidak terganggu. Kamarnya tetap terang.

Ya Tuhan. Bulu kudukku kembali berdiri.
Kugenggam erat tangan Eunsook noona. Dengan memastikan ada seseorang disampingku cukup untuk membuatku lebih tenang. Memejamkan mataku. Menutup mata dari apa pun yang terjadi malam ini.

*****

Sepertinya banyak mata yang tertuju padaku.
Aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Dimana pun selalu menarik perhatian banyak orang. Walau pun terbiasa, tetap saja aku tidak nyaman jika orang-orang saling membisiki membicarakanku. Kenapa tidak urusi saja urusan mereka sendiri.

Sepertinya seluruh murid dari kelas Eunsook noona sudah keluar. Seperti biasa. Aku masuk kedalam kelas dan kulihat Eunsook noona sudah berdiri. Berusaha untuk berjalan sendiri dengan berpangku pada setiap bangku. Segera aku menghampirinya. Dan seperti biasa aku menawarkan punggungku untuk dinaikinya.

“Kibum. Aku sudah bisa berjalan sendiri.”

Tidak biasanya noona menolak. Bukan kah dia senang jika aku menggendongnya. Dia bahkan akan tersenyum lebar jika aku menggenggam tangannya. Apa dia tidak suka padaku lagi?

“Noona. Kau terlalu memaksakan diri. Jalanmu masih terpincang.”
“Tidak apa-apa. Aku tidak mau menjadi bebanmu.”

Haaah~ jika itu alasannya. Seharusnya dia katakan dari dulu. Lagipula, aku sudah terbiasa dengan bebannya.

“Ayo cepat naik kepunggungku! Kita bisa terlambat makan siang dengan jalanmu yang terpincang seperti itu. Palli!”

Tidak perlu menunggu lama. Aku tersenyum. Akhirnya aku merasakan tangannya mengalung dileherku hati-hati. Dia sudah tahu bagaimana caranya agar tidak mencekik leherku. Walau berat. Seperti mendapatkan kepuasan tersendiri setiap kali berhasil menggendongnya.

Ugghhh~

Krreuuk!

Oh NO! apa tulang punggungku patah?

“Kau tidak apa-apa Kibumie?”

Tidak mungkin aku menurunkannya kembali. Aku yang sudah memaksanya untuk naik.

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak usah mengkhawatirkanku. Aku ini kuat!”

Aigoo~ berjalan menuju tempat dimana aku memarkirkan mobilku, rasanya setengah mati.

******

“ARRRGGHHHHH!!! UMMAAA PELAN-PELAN!!”

Kreeuukk~ kreekk!

“ARRRRKKKKHHHHH!!!”

Kreukk kreet~

“UMMAA AAAARRRRRKKKKHH!”

Menyesal. Seharusnya aku meminta appa saja yang memijitku. Mau bagaimana lagi, umma lah yang lebih ahli dalam masalah tulang yang bermasalah. Sayangnya, tenaga umma lebih besar dari satpam rumah kami.

Sshhhhhh~ ngilu. Tangan umma kembali memijat tulang punggungku yang -untung saja bukan patah-, hanya keluar jalur.
Kugigit kain seprai sekuatnya. Menahan rasa sakit yang teramat sangat pada punggungku. Jadilah kuat. Demi Eunsook noona. Hari ini aku bolos sekolah. Juga membiarkan Eunsook noona ikut membolos. Karena tidak kuijinkan Taemin mengantarnya kesekolah. Jika bukan aku yang memastikannya selamat sampai sekolah. Itu artinya sama saja dengan membiarkan Eunsook noona mencelakai Taemin secara tidak langsung.

a.a.a.akh! masih terasa sakit. Tapi tidak sesakit saat awal kali umma memijit punggungku. Aku mulai merasakan pijatan umma lebih baik.

Siang ini aku akan menemani Eunsook noona. Dia pasti sendirian di rumah. Jadi aku harus sembuh!

“Ya! Kenapa kau tersenyum sendiri?”
“Wae? Tidak boleh kah appa?”

Kuberikan tatapan sinisku pada appa yang sedari tadi hanya menyaksikanku hampir terbunuh oleh umma. Orang tuaku ini, mereka senang sekali saat aku menderita.

“Bukankah biasanya jika tersenyum sendiri berarti kau sedang jatuh cinta?”
“Mwo? Kalian mengarang saja!”

Kubenamkan wajahku. Entah harus berekspresi apa saat kedua orang tuamu menggodamu seperti itu. Apa benar aku sedang ajatuh cinta? Yang aku rasakan kini hanyalah aku merasa nyaman didekat Eunsook noona. Dia dapat membuatku tersenyum sendiri jika mengingatnya.

Lee Eunsook memang berbeda dari yeoja yang selama ini mengejar-ngejarku. Awalnya kupikir dia sama saja seperti fansku yang lain. Menunjukan rasa sukanya padaku begitu jelas. Menuruti semua yang kukatakan. Dan diam saja saat kumarahi. Kukira yeoja seperti itu sangatlah membosankan. Ternyata tidak.

Tidak pernah bosan melihat matanya yang berbinar saat menatapku. Berusaha untuk tampil cantik didepanku. Dan tersenyum hingga matanya tenggelam saat aku pun tersenyum. Dia yeoja yang memperlihatkan dirinya apa adanya. Termasuk tidak ragu untuk melahap apapun yang ada dimeja makan, didepanku.

Jika aku mengatakan pada orang tuaku mengenai perasaanku pada Eunsook noona, mereka pasti akan mengaitkannya dengan Jonghyun hyung. Lebih baik aku diam saja.

******

Aku mengajak Eunsook noona makan siang diluar.
Seperti perkiraanku. Dia sendirian dirumah. Taemin belum pulang. Dan aku tidak tahu kemana orang tua Eunsook noona pergi. Kami hanya makan siang di café sederhana terdekat. Itu karena sedari tadi aku merasa ada yang mengikutiku.

“Apa kau merasa akhir-akhir ini ada yang mengikuti kita?”
“Ahni. Wae?”

Kuedarkan pandangan keseluruh café. Siapa tahu memang ada yang mengikuti kami hingga ke café ini. Oh! Aku tahu siapa yeoja yang duduk di pojok sana.

“Noona tunggu disini.”
“N. ne.”

Aku menghampiri seorang yeoja menggunakan topi dan kacamata hitam. Dan benar. Yeoja ini Go Hara. Aku yakin dia yang mengikutiku.

“Apa yang kau lakukan disini? Go Hara?”
“Bagaimana kau bisa mengenali penyamaranku?”
“Kau mengikutiku? Huh?”
“Ahni! Aku mengikuti Jonghyun oppa.”
“APA?”
“Aku-mengikuti-Jonghyun-oppa.”
“Kau gila. Sama seperti Minjung dan umma.”
“Mau aku buktikan? Akan kubuat yeoja itu mengaku kalau dia Jonghyun oppa!”

Hah! Yeoja ini memang sudah gila. Dia menyerek tanganku, membawaku kemeja dimana Eunsook noona berada.

“Ayo cepat mengaku!”
“Apa?”

Hara menyerang Eunsook noona. Secara tiba-tiba. Tentu saja Eunsook noona tidak akan mengerti.

“Hentikan. Sudah kubilang dia itu Eunsook noona.”
“Dia itu Jonghyun!.”

Ck! Masih bersikeras dengan teori bodoh dari Minjung.

“Hyung sudah tidak ada.”
Kujelaskan padanya bahwa orang yang dia maksud sudah tidak ada.

“Dia ada.”
Tapi dia keras kepala.

Hara menarik tangan Eunsook noona, membuat noona berdiri dan bertopang pada sebelah kakinya. Dia jadi sedikit terpapah. Tentu saja!

“Ya! Kakinya masih sakit! Jangan terlalu kasar!”

Hara tidak memperdulikanku. Tatapannya tajam menatap Eunsook noona.

“Apa maksudmu berubah menjadi perempuan!”
“Eoh?”

Eunsook noona tampak kebingungan dengan semua ini. Itu karena dia memang bukan Jonghyun hyung. Kutarik tangan Eunsook noona. Memposisikan tubuhku didepannya, melindunginya dari hara.

“Namanya Eunsook. Bukan Jonghyun.”
“Dia Jonghyun. Minjung sudah menceritakannya padaku. Lagipula aku dapat merasakan aura Jonghyun bila didekatnya.”
“Dia Eunsook noona.”
“Buktinya dia menangis saat aku menciummu. Pasti karena Jonghyun cemburu! Benar bukan?”

Ohh~ kejadian waktu itu?

“Noona cemburu padaku. Bukan padamu Hara.”
“Ahni! Dia cemburu padaku.”

Ck! Kuraih bahu Eunsook noona. Menatap matanya dalam. Dari matanya aku yakin dia bukan Jonghyun hyung. Dia Eunsook noona yang sangat mencintaiku.

“Kau cemburu padaku kan noona? Jika iya maka aku akan sangat senang. Karena aku juga mencintaimu.”

Tunggu! Apa aku baru saja menyatakan cintaku?

Jantungku berdetak tak beraturan. Menunggu jawaban darinya. Seperti menunggu pengumuman kelulusan. Ahni. Bahkan lebih dari itu.
Entah kenapa kulihat Eunsook noona seperti akan menangis. Matanya mulai berair. Apa pertanyaanku membuatnya begitu tertekan?

“Aku memang Jonghyun.”

Apa?
Bagaimana mungkin dia adalah Jonghyun hyung.

Dia bukan Jonghyun hyung. Aku yakin dengan perasaanku. Tidak mungkin aku menyukai hyungku sendiri.

-bersambung-

©2011 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 18 September 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. lha? makin ribet aja nih~ kenapa eunsook malah blg dia jonghyun!! O.O lanjut dah thor~ ^^*

  2. goodjob author…
    Lanjut…

  3. woohhhooo…
    Kq eunsook ngaku jonghyun??
    Jgn2 dy drasukin sma jjong ge..
    Hahaha…
    Daebak chingu….
    Next part’a q tunggu yaaahhh….

  4. ahahaha…..eomma key kuat amat yak,,

    mwo??? kok eunsook ngaku sbg jjong..??
    apa eunsook kerasukan si jjong???

    aihhh……

    penasaran…..lanjutttt

  5. eunsook… Daebakkkkkk!!!!!
    npa lu lakuin itu eunsook~ah, paboya..

    chingu,, lanjutan’a mna??
    penarasan saya nie

    mantap jg peran si onew ama minho, Hhahaha 😀

  6. chingu,, the next story’a kpn klwr?? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: