[FF/PG/Part 1/JINBOON] WE ARE FOREVER BONNIE & CLIDE

Main Cast:
Gweboon
Jinki

Support Cast:
Jjonghyun
Minho
Taeyeon
Jungmo (Trax)
Yoona (SNSD)

Genre: Live
Rating: PG

Awalnya FF ini mau dibikin YAOI. Tapi ada suatu alasan yang mengharuskan pemeran utamanya yeoja. Jadi aku stress dan gak mau lanjutin ni FF. terus, mau aku ganti jadi STRAIGHT. Abisnya takut kalo c Gweboon yg meranin gak dpt feelnya.

Tapi eh tapi. Jari aku malah nulis Gweboon. Jadi weh Shounen Ai. Silahkan baca~ kalo banyak yg suka mau aku lanjut.

Happy reading!!!!
RCL Please~


================================================================================
Aku ingin mati

Aku ingin mati

Aku ingin mati
Ingin mati
Saat ini juga

Bonnie POV

“BOONIE!! AKU MAU MANDI!!!”

Sialan. Dia sudah pulang.

“NE!! CHAKAMANYO!!”

Uang yang sudah aku hitung dan pisah-pisahkan berdasarkan keperluan, kuselipkan dibuku keuanganku. Agar tidak ada yang menyentuh buku keuanganku, kutaruh buku ini diantara buku pelajaranku. Tempat dimana seluruh isi penghuni rumah ini tak mau menyentuhnya.

Kubuka beberapa buku pelajaranku. Dan kutaruh begitu saja dimeja belajar. Kubuat bolpoin dan pensil berserakan disekitar buku. Ini sebagai kamuflase. Agar tidak ada seorang pun yang mendekati tempat ini.

Begitu pentingkah uang yang kusembunyikan ini?. Sangat penting.

“BONNIE!!! DIMANA KAU!!!”

Aisshhh!! Jinjja!!

“NE!!”

Aku berlari keluar kamar. Tidak menutup pintunya terlalu rapat. Justru akan menimbulkan kecurigaan jika aku menutupnya rapat-rapat. Dengan hati-hati aku menuruni anak tangga yang sangat sempit. Bertahun-tahun disini tidak membuatku lihai menuruni anak tangga yang cukup curam ini.

Kuperhatikan Jungmo merebahkan tubuhnya disofa yang sudah lusuh. Kaki panjangnya membuat karpet tipis kami terdorong. Dan ransel yang dia taruh sembarangan, membuat ruang tamu sekaligus ruang televisi, juga ruang makan kami semakin berantakan.

“YA! Boonnie! Kenapa kau memandangiku? Huh?”
“Ahni. Kau mau mandi sekarang?”
“Tentu saja bodoh! Cepat siapkan air hangat untukku!”

Bodoh. Kau yang bodoh.
Tidak bisa melakukan apapun selain berteriak. Memaki. Dan mabuk-mabukan. Bahkan memasak air panas saja harus aku yang lakukan. Tidak bisakah ia melakukannya sendiri? Hanya mengisi panci dengan air, kemudian taruh diatas kompor. Setelah itu tunggu hingga mendidih.
Ha! Aku bahkan dapat menyelesaikannya selama dia hanya menonton tivi. Tidak berguna.

“Bonn! Aku lapar.”

Ck! Bisakah semua orang dirumah ini berhenti menyuruhku? Jjong membuka lemari dimana kami biasanya menyimpan makanan. Kekecewaan tersirat diwajahnya saat dia menutup lemari kembali. Tidak ada makanan dalam lemati tersebut.

“Tunggu sampai aku selesai menyiapkan air hangat untuk Jungmo.”

Kompor yang ada dirumah ini hanya satu. Dan aku rasa Jjong mengerti akan hal itu. Dia berjalan lunglai meninggalkan dapur. Menaiki anak tangga, kembali ke kamarnya.

Selama menunggu airnya mendidih, kusiapkan beberapa bumbu dan tahu. Menu malam ini hanya tahu. Tanpa kimchi. Tidak ada cukup uang untuk membeli sawi dan cabai.

*****

PRANKKK!!

“Hanya tahu? Huh? HANYA TAHUU!!”

Ingin sekali kujejalkan nasi yang berserakan dilantai kedalam mulutnya. Berteriak lagi, membentak didepan wajahku.

“Kemana kau habiskan uang yang kuberikan? AKU MEMBERIKANMU UANG BUKAN HANYA UNTUK MAKAN TAHU!! ARRA!”
“Uang yang kau berikan sudah habis.”
“DASAR TIDAK BERGUNA! MENGATUR UANG SAJA TIDAK BISA!”
“Sudah dua minggu semenjak kau tidak memberiku uang lagi.”
“Kau pikir uang yang kuberikan hanya untuk dua minggu? Seharusnya kau atur uang itu sampai aku memberikan uang lagi padamu! Kau sama saja dengan ibumu. Pelacur tidak berguna!”

Tidak masalah bagiku saat Jungmo membentakku. Mendorong kepalaku. Menamparku atau memukulku. Tapi aku bukanlah seorang pelacur. Aku tidak sama seperti ibuku.

“Cih!”

Jungmo masuk kedalam kamarnya setelah meludahi makanan yang berserakan dilantai. Bodoh. Menyia-nyiakan makanan seenaknya. Aku bahkan belum makan sejak pagi.

“Hey pelacur. Cepat bersihkan pecahan piring itu.”

Inilah yang aku benci. Yoona akan meremehkanku, ikut memanggilku pelacur. Karena Jungmo selalu menyebutku seperti itu didepan semua orang. Aku lebih suka mereka memanggilku Bonnie, nama yang diberikan Jjong untukku. Aku juga tidak mau menggunakan nama asliku. Mengingatkanku pada umma.

Aku tidak mau bertengkar dengan Yoona malam ini. Lebih baik aku membersihkan kekacauan yang dibuat Jungmo dengan cepat. Dengan begitu aku dapat mengerjakan pekerjaan rumah dan tidur lebih cepat. Besok pagi-pagi sekali aku harus bekerja lagi.

*****

Nama asliku Kim Gwi Boon.
Aku benci nama itu.

Aku tinggal bersama tiga orang yang tidak memiliki hubungan darah denganku. Aku mengenal mereka sejak kelas lima sekolah dasar. Enam tahun yang lalu. Ibuku yang membawaku ke rumah yang sempit dan kumuh ini.

Jjong dan Yoona sebaya denganku. Mereka keponakan Jungmo. Jungmo, pria itu teman ibuku. Entah teman biasa atau teman kencan.

Aku dan ibuku tinggal dirumah ini. Tidur dalam satu kamar selama satu tahun. Dikamarku kini. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Tanpa menitipkan apapun. Yang kutahu hanyalah, ibuku akan pergi ke Hong Kong. Disana bayaran sebagai pelacur lebih tinggi. Dengan begitu ibuku dapat membayar hutang kepada Jungmo, dan membayar hutang yang lain. Itulah yang kutahu. Atau lebih tepatnya, yang kudengar saat menguping pembicaraan ibuku bersama Jungmo sebelum wanita itu pergi.

Aku tahu dia kan pergi meninggalkanku bersama Jungmo. Tapi tidak sedikit pun berkeinginan untuk menghalanginya pergi. Terlalu menyakitkan saat kau tahu ibumu adalah pelacur. Saat itu aku tahu alasan mengapa umma selalu berkelit jika aku bertanya siapa ayahku.

Aku sudah merasakan pahitnya dunia sejak usiaku 12 tahun. Perlakuan Jungmo padaku semakin kasar semenjak tidak ada lagi kabar dari ibuku. Sejak itulah aku mengumpulkan uang. Sedikit demi sedikit. Untuk mencari tempat tinggal sendiri.

Pukul empat pagi. Aku menghitung uangku. Rasanya ingin menangis. Uang ini masih sangat kurang untuk menyewa tempat tinggal sendiri. Kini kau harus menguranginya lagi untuk membeli bahan makanan.

Sepulang dari pasar aku bergegas untuk membuatkan sarapan. Menghidangkannya dimeja makan. Setelah itu mandi dan bersiap untuk bekerja. Tidak lupa sebelum berangkat aku menyiapkan air hangat untuk Jungmo. Dan membangunkan Jjong.

*****

Aku bekerja disebuah rumah yang sangat besar. Aku selalu bercita-cita untuk memiliki rumah senyaman ini. Nyonya Park yang mengijinkanku bekerja dikediaman keluarga Choi. Nyonya Park adalah tetanggaku yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumah ini. Sejak kecil dia selalu mengajakku untuk membantunya bekerja didapur. Kemudian aku akan mendapatkan uang jajan darinya.

Selama aku bekerja dirumah ini. Tidak pernah sekali pun aku bertemu dengan pemilik rumah. Hanya mengenal tuan rumah dari foto keluarga mereka. Tuan Choi memiliki dua anak laki-laki yang sangat tampan. Aku rasa hidup keluarga ini sangat sempurna.

“Bonnie! Tolong siapkan sarapan.”
“Ne, nyonya Park.”

Nyonya Park yang kuanggap sebagai bibiku melarangku menunjukan batang hidungku didepan keluarga Choi. Aku selalu disembunyikan didapur. Bisa dikatakan kalau aku pekerja illegal dirumah ini. Bayaran yang kudapatkan adalah sebagian upah yang didapat nyonya Park.

Aku bekerja pagi-pagi sekali. Membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan. Lalu pergi kesekolah sebelum saat pemilik rumah sedang sarapan.
Sepulang sekolah aku kembali bekerja disini. Siang hari tidak ada satu pun dari keluarga Choi yang berada dirumah. Hampir semua anggota keluarga pulang pada malam hari.

“Siapa kau?”

Oh tidak. Tuhan tolong jangan hari ini.
Salah satu anak Tuan Choi memergokiku sedang menata meja makan. Jantungku berdetak kencang sekali. Firasatku mengatakan kalau hari ini adalah ahri terakhir aku bekerja dirumah ini. Hari ini aku cengeng sekali. Tenggorokanku tercekat, ingin menangis.

“Apa yang kau lakukan disini?”
“A. aku.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku belum siap untuk menghadapi hal semacam ini.

“Dia keponakanku. Dia membantuku hari ini.”

Namja itu memandangiku hingga kaki. Aku tidak dapat menebak apa yang dia pikirkan. Ekspresi wajahnya datar. Atau karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan namja ini. Oleh karena itu aku tidak tahu ekspresinya saat sedang marah. Ekspresi wajahnya terlalu dewasa untuk seorang pelajar sama sepertiku.

******

Oh Tuhan. Maafkan aku yang hari ini membencimu.
Mengapa semua kesialan selalu menimpaku? Apa karena memang aku tidak pantas hidup bahagia diduniaMu? Karena aku hanya anak dari seorang pelacur? Apa dosa yang keperbuat banyak?

Aku benci orang-orang yang berjalan dengan wajah berseri pagi ini. Aku benci pagi yang begitu cerah seolah mengolok-olokku.

Tubuhku melemah. Kakiku mulai bergetar tak sanggup lagi untuk melangkah. Anak tangga didepan sebuah toko yang masih tutup menjadi tempatku beristirahat. Angin berhembus membuat perutku semakin ngilu. Kakiku mulai terasa dingin, dan dingin ini mulai menjalar kekepalaku. Lapar. Bahkan nafasku mulai sesak.

Haruskah aku membeli makanan dengan uang yang diberikan Nyonya Park? Uang terakhir yang aku terima. Beliau tidak mengijinkanku untuk membantunya lagi. Dia tidak mau kehilangan pekerjaannya. Anak tuan Choi tampaknya curiga denganku. Keluarga itu tidak menyukai ada orang asing yang bekerja dirumah mereka.

Eoh!

Seseorang menyodorkanku sebungkus roti. Kutengadahkan kepalaku. Dan Onew tersenyum sangat lebar.

“Gomawo.”

Tanpa ragu mengambil sebungkus roti yang disodorkannya. Membuka bungkusnya dengan cepat. Sungguh nikmat ketika mulutmu mulai mengunyah roti. Rasa dingin yang menjalar ditubuhmu perlahan hilang saat sesuatu masuk kedalam perutmu. Kugigit kembali roti coklat yang diberikan Onew.

Namja yang memberikanku roti duduk disampingku. Walaupun dia mengenakan jaket namun aku mengenal t-shirt lusuh dibaliknya.

“Kau belum mandi?”
“Ahahahahhahahah.”

Sudah kuduga. Aku penasaran dimana dia tinggal. Tapi satu yang aku yakini. Tidak ada kamar mandi ditempat tinggalnya. Ini bukan kali pertama aku menangkap basah Onew tidak mandi atau mengganti pakaiannya.

“Kau tidak ke sekolah? Mau membolos.”

Aku meliriknya tajam. Mendesis, kemudian kembali memenuhi mulutku.

“Kau tidak lihat seragam yang kupakai?”
“Lalu kenapa kau duduk disini?”
“Beristirahat sejenak.”

Matanya yang sipit menatap jalanan Seoul yang mulai ramai. Banyak orang yang berlalu lalang didepan kami. Kebanyakan dari mereka tergesa pergi ketempat kerja. Dan juga pelajar.

Apa yang dia pikirkan?
Apa dia iri terhadap orang yang mengenakan seragam sekolah? Aku menyesal sempat membenci Tuhan. Ada yang lebih menderita dariku. Harus mencuri untuk bertahan hidup. Miris? Hidup kami memang miris.

Pertama bertemu dengannya saat tanpa sengaja aku melihatnya sedang mengambil dompet seorang namja. Didalam bus. Aku tak bereaksi apa-apa. Membiarkannya memasukan dompet curian kedalam saku.

Onew yang takut aku melaporkannya ke polisi terus membututiku. Bahkan dia mencoba untuk menyuapku. Uang tutup mulut. Tapi aku menolaknya. Bukan karena aku lebih memilih kebenaran dan akan melaporkannya kepolisi. Untuk apa melaporkan pencuri kelas teri pada polisi? Tidak ada yang aku dapat.

“Cepat habiskan rotimu! Kau bisa terlambat!”
“Ye~”

Kami menjadi akrab karena sering bertemu. Tidak ada yang saling memperkenalkan diri. Aku memanggilnya Onew karena aku suka. Aku tidak pernah tahu siapa nama aslinya. Dan Onew mamanggilku Bonnie, dia mendengar salah satu temanku memanggilku seperti itu.

******

“CEPAT BUKA PINTUNYA!!”

Tak dapat menghentikan isakanku. Meskipun sudah menahan agar tidak menangis, tapi isakanku tak dapat berhenti.

“BON! Kau menangis?”

Kuseka air mataku dengan lenganku. Membuat wajahku tersenyum sebelum kuraih kenop pintu.

Ckleck~

Jjong tampak mengkhawatirkanku ketika melihat wajahku yang mungkin terlihat sembab. Aku segera keluar dari kamar mandi dengan kepala yang tertunduk. Aku merasa tidak nyaman saat seseorang melihat air mataku.

“Wae? Kau menangis Bonnie?”
“Tidak apa-apa Jjong. Cepatlah masuk. Bukankah tadi kau bilang tak dapat menahannya?”

Suaraku masih terdengar parau. Aku menaiki anak tangga kembali kekamarku. Hanya kuberikan senyuman ringan pada Jonghyun yang masih melihat kearahku. Bukankah tadi dia berteriak ingin menggunakan kamar mandi? Sudah kupersilakan untuk masuk kekamar mandi. Kenapa masih melihat kearahku?

Aku tak yakin apakah Jonghyun masuk kekamar mandi atau tidak. Aku tak dapat melihatnya lagi. Barang-barang dikamarku sudah berserakan saat aku pulang sekolah. Hal pertama yang terpintas dikepalaku adalah uangku. Itulah sebabnya aku menangis. Uangku hilang. Lagi. Untuk kesekian kalinya.

Kini tak sepeserpun uang yang kupunya. Uang pemberian nyonya Park pagi tadi sudah kubelikan bahan makanan untuk makan malam. Aku benci Yoona! Persaanku selalu mengatakan kalau perempuan murahan itu yang mengambil uangku. Jika tidak, darimana dia mampu membeli tas serta baju bermerek?

Pasrah saja. Kurapihkan kembali kamarku. Sudah berapa kali hal ini menimpaku? Dan sudah berapa kali aku selalu berikap pasrah? Kapan aku akan memulai perubahan pada diriku sendiri? Kapan aku bisa keluar dari neraka ini?

“BOONNIIE!!!”

Pemilik neraka sudah pulang rupanya.
Aku belum menyiapkan makan malam.

“BONNIE! AKU MAU MANDI!”

Kehidupanku tidak pernah lepas dari memasakan air untuk orang paling tua diumah ini.

******

“Kau bisa bekerja?”

“Mianhe.”

“Cih! Untung saja bukan aku yang terkena air panas. JIKA TANGANKU MELEPUH SIAPA YANG AKAN MENCARI UANG!! HUH!!”

Kapan namja ini akan berhenti mendorong kepalaku?

“Aku sudah meminta maaf pada Jjong. Dia bilang_.”
“SIAPA YANG AKAN MEMBAYAR PENGOBATANNYA!! SIAPA!”

Jjong bilang dia baik-baik saja. Hanya tiga jarinya yang melepuh kau bodoh! Dengarkan orang yang ingin bicara! Seenaknya saja memotong kataku.

“AKU TAK MAU MAKAN! Pelacur ini merusak selera makan malamku.”

Jangan menangis. Jangan biarkan si bodoh itu melihat air matamu. Kau tidak selemah yang dia pikirkan.

Kassa yang kugenggam sudah kusut karena terus kuremas. Padahal kassa ini untuk menutup luka Jjong. Jika saja aku lebih hati-hati saat menaruh air panas kedalam kamar mandi. Aku justru menumpahkan sebagian air panas saat Jjong keluar dari kamar mandi.

“Hey pelacur! Belikan obat untuk Jonghyun! palli!”

Yeoja ini. Melihat wajahnya saja aku muak. Setan apa yang sudah bersatu dalam dirinya. Sehingga dengan tenangnya dia mengenakan pakaian baru. Aku yakin dia tahu berapa tahun aku mengumpulkan uang yang dia pakai untuk membeli pakaian baru. Murahan!

“Ya! Kau dengar tidak!”
“Aaaakkkkkhhh!!!”

*******

Malam ini terlihat begitu luas. Aku merasa begitu kecil. Sendirian dipinggiran jalan tanpa ada yang memperdulikan. Bagaimana dengan masa depanku? Kepada siapa aku akan meminta tolong? Bagaimana dengan sekolahku?

Ternyata kota Seoul sangat hening dimalam hari. Apa yang harus kulakukan? Tetap diam ditempat sepi ini? Atau lebih baik pergi ketempat yang lebih ramai. Setidaknya tempat ramai adalah tempat yang aman untuk yeoja sepertiku.

Udara dingin Seoul menusuk hingga ke tulangku. Bahkan tak sempat mengambil jaketku. Sudah jangan menangis lagi! Bukankah ini yang aku inginkan? Keluar dari neraka itu?

Pipiku terasa perih. Tapi aku puas. Menampar yeoja murahan itu. Mencakar wajahnya, serta merobek pakaian barunya. Itu yang ingin kulakukan dari dulu. Walau Jungmo menamparku dan mengusirku. Aku bertaruh dia yang akan rugi kaena melakukan semua ini padaku.

Kakiku mengantarku kesebuah pasar malam yang cukup ramai. Jika aku hanya berdiri disini apakah orang lain akan menyadarinya? Akan kutunggu hingga pasar ini sepi. Kemudian mencari tempat untuk tidur.

*****

Hampir tiga jam aku berdiri. Mengapa pasar ini belum juga sepi? Pukul berapa sekarang? Aku lelah.

Kulihat seorang yeoja yang sangat manis. Pakaian lusuh yang dikenakannya tidak membuatnya terlihat kotor. Walau lusuh, pakaian yang digunakannya terlihat bersih.

Yeoja berambut ikal itu sendirian. Sama sepertiku. Dia tampak menikmati malam dipasar ini. Sangat antusias menawar barang yang menarik matanya.

Oh jinjja!
Kenapa nasibku dikelilingi dengan pencuri? Dia sangat lihai. Menempatkan tangannya disamping seseorang. Dengan cepat sebuah dompet berpindah tangan. Yeoja manis itu menyimpan dompet seorang namja dibalik mantelnya.

Dia melihatku!
Lama dia menatap mataku. Tampaknya dia tahu aku baru saja menyaksikan aksinya. Dan dia menghampiriku.

“Ikut denganku.”

Yeoja pencuri ini menarik lenganku paksa. Dan aku tidak suka. Kutepis tangannya dari lenganku.

“Apa yang kau lakukan disini? Kuperhatikan kau hanya berdiri disini.”
“Apa urusanmu?”
“Membuat kesepakatan. Kau tidak punya tempat tinggal?”

Anak kecil ini tahu apa?

“Kau mau mati ditempat ini?”
“Tidak. Tidak usah pedulikan aku. Aku akan menganggap semua yang kulihat tidak pernah terjadi.”
“Haha. Kau belum pernah mengenal Seoul dimalam hari?”
“Aku akan bertahan. Tapi tidak mencuri sepertimu.”

Yeoja ini memandangku skeptis. Seakan meremehkan apa yang aku katakana padanya. Dia merogoh saku mantelnya. Mengeluarkan segenggam uang koin. Menghitungnya, lalu menyodorkan sebagian uang koinnya padaku.

“Apa maksudmu?”
“Simpan saja. Aku yakin kau pasti membutuhkannya. Anggap saja sebagai bayaran karena kau tutup mulut.”

Aku tidak menerimanya. Tapi dia memasukan uang koinnya kedalam sakuku secara paksa.

“Jika kau masih hidup besok pagi. Dan butuh bantuanku. Tanyakan saja pada orang-orang dimana kau bisa menemukan ‘Taeyeon’. Namaku Taeyeon.”

Taeyeon. Dia pergi. Menghilang diantara gang kecil dibelakang pasar ini. Perkataannya membuatku sedikit takut. Tiba-tiba orang disekitarku terlihat akan menerkamku. Inikah malam di Seoul?

-bersambung-

©2011 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^


About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 6 Oktober 2011, in GeGey and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. KEREEEENNNN
    woaw,speechless bacanyaaa
    cepet lanjutin donk admin

  2. WaW
    Keren.
    DAEBAK😀

    Bonnie blik lge. . .
    Asyik.
    Next part cpetan ia thor😉

  3. Yoora is Jinyoung

    Keren!!
    Keren!!

    Bner2x nyentuh bgt nie ep ep.
    Ak suka Bonnie. . .😉

  4. Farish ittu Gua doank

    Wahh. . .
    Crita nya kyk reality.
    Daebak. . .
    Next chapter cpetan ia. . .

  5. Aku langsung ke next chap ya thor😛

  6. kyaaaaa…….setelah sekian lama ga baca ff eonni gegey,,kekeke~

    aisshhh…..kenapa disini jjong sama yoona dibuat jadi jahat eonni?? T.T
    kasian nasib gwiboon,,

    semoga anak keluarga choi bisa suka sama gwiboon,, amin
    aku suka kalo gwiboon jadi rebutan,,kekeke~

    lanjuuuuuttttttttt………….

  7. aku hadir lg *sok terkenal* boonie y kasiqn bgt hidup y menderita gt, jinki jd gembel cerita y ya,,,,, jjong kok dia ngak nolong boonie sih pas siksa ma keluarga y…….

  8. Yunjaechunjunmin

    Bonnie~aah…. Malang sekali nasib mu,,,!
    Tggl dgn klwrg yg tdk tw brtrma ksh..
    Sykrlah akhr’a kw bsa klwr dr rmh it…
    Smga,,, kw bsa hdp lbh baik d seoul tk kdpn’a..
    Kw ttp pd pndrian mu tk tdk sllu jujur n teguh d kllingi org” yg hdp d jlnan…

  9. Annyeonghaseyo ^^
    Chonun new reader, bangaseumnida..
    Numpang R, skrg mw C dulu..
    Hehehehe

    Wow..
    Cerita’a seru banget..
    Jd dsni jinboon sama” org susah?
    Trus gmn nih kelanjutan hidup mreka?
    Penasaran buanget..
    Nice FF ^^

  10. cool.. ceritanya agak berbeda dr ff yg prnh aku baca.. dan entah kenapa aku imagine setting tempatnya lebih ke london drpd ke seoul.. tp ff mu keren kok.. akh suka ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: