[FF/PG/Part 2/JINBOON] WE ARE FOREVER BONNIE & CLIDE

Main Cast:
Gweboon
Jinki

Support Cast:
Minho

Genre: Live
Rating: PG

Kebanyakan nonton orang pinggiran jadi sering kepikiran hidup di bawah. Jangan terlalu sering mencekoki diri dengan hal-hal yang indah dimata dan kesenangan duniawi. Karena hidup bergelimang harta tidak perlu belajar. Belajarlah untuk hidup susah. *hallah gw jd ceramah begini*.

Tapi jangan juga gak mau berusaha keras untuk mendapatkan hidup yang layak. Sesuai dengan kerja keras kita. Ok?
SAD READING!!!
RCL PLEASE~

Bonnie POV

Hosh~

Hosh~ hosh~

Tak boleh berhenti. Tetaplah berlari kumohon.

Hosh~

Hosh.

Gang kecil!
Kurasa orang-orang itu masih jauh dibelakangku. Kakiku sudah tak sanggup lagi berlari. Memposisikan beberapa dus yang memenuhi gang kecil yang gelap. Sedikit pun tak ada penerangan. Aku bersembunyi dibalik tumpukan dus yang kubuat cukup tinggi menjadi tempat persembunyianku.

Nafasku memburu. Hanya suara nafasku yang terdengar menggema di gang ini. Apa ini? Sesuatu bergerak dikakiku.

Aaakkhh! Sial. Hanya tikus Bonnie. Kau tidak perlu takut. Jangan membuat dirimu panik. Atau nafasmu akan semakin berat.

Tap tap tap.

Suara langkah beberapa orang mendekati tempat ini.

“Kemana gadis itu!”

Cih! Ajaib sekali. Kenapa mereka harus berhenti dimulut gang ini?
Aku menahan nafasku. Jika nafasku terdengar maka mereka akan menemukanku. Taeyeon benar. Malam Seoul mengerikan. Aku tak mau melayani nafsu orang-orang bau seperti mereka.

“Cepat sekali dia berlari.”

Cepatlah pergi. Ya Tuhan tunjukan kuasamu. Kumohon buatlah mereka pergi menjauh dari tempat ini. Aku tidak tahu seberapa lama aku dapat menahan nafasku.

Kurengkuh kedua lututku. Erat. Untuk mendapatkan hangat karena tubuhku mulai menggigil. Air yang menggenang di gang ini membasahi kakiku. Dan hewan pengerat itu sudah berani mendekatiku. Tidak pernah terpikirkan olehku, menghabiskan malam ditempat seperti ini. Bersama hewan got. Aku sendirian.

Aku tidak mendengar suara mereka lagi. Juga tidak mendengar suara langkah mereka pergi meninggalkan tempat ini. Kuhembuskan nafasku dan dengan cepat mengambil nafas panjang. Kembali menahan nafasku.

Braghh!

Degh.

Seseorang menyingkirkan dus-dus yang menyembunyikanku. Dia namja, terdengar dari suara erangannya saat mengangkat dus yang paling berat. Apa mereka menyadari tempat persembunyianku?

Aku tidak mau hidupku lebih buruk dari ini. Apa yang harus kulakukan? Mereka semakin dekat. Berteriak. Ya. Berteriak. Harapan terakhirmu. Semoga seseorang yang mempunyai hati mendengar teriakanku.

“Hey.”

“Kyaaaaaaaaaa!!!”

“Sssttt~ Bonnie! Ini aku!”

Onew.

Tes~

Kenapa air mataku jatuh melihatnya kini didepanku? Mengulurkan tangannya dengan senyumnya yang khas.

“Ternyata benar kau Bonnie. Apa yang kau lakukan disini?”

“…..”

“Bonnie.”

Please Onew. Biarkan aku menangis. Mengertilah.

“Bonnie. Wae? Kau tidak apa-apa?”

Onew. Memelukku. Entah mengapa tangisku pecah dibahunya yang hangat.

*****

Jadi, ditempat ini Onew tinggal?
Sebuah petak.

“Carilah tempat yang menurutmu nyaman untuk duduk.”
“Ne. Khamzahamnida.”

Tempat tidur yang tidak tertutupi seprai dengan baik yang kupilih untukku duduk. Sebuah ruang yang sedikit lebih besar dari kamarku dipenuhi dengan benda-benda yang tidak tertata. Dari tempat tidurku aku dapat melihat keseluruhan ‘tempat tinggal’ Onew.

Onew pergi keluar. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Semoga dia cepat kembali.

Seseorang membuka pintu dengan tiba-tiba. Hal itu berhasil membuat jantungku ingin melompat dari dadaku.

“Kau ingin membersihkan diri sebelum tidur?”

Onew. Dia datang dengan membawakanku sebuah handuk dan sesuatu bermotif floral.

“Apa kau punya kamar mandi?”
“Ahahahaha. Ada. Tapi mungkin sedikit membuatmu risih. Diujung petak ini.”
“Diujung petak?”
“Akan kutemani.”
“Apa?”
“Aku akan menunggu diluar.”
“Memang seharusnya begitu.”

Petak ini tidak terlalu sepi. Aku mendengar suara siaran radio dari dalam beberapa kamar saat Onew mengantarku ke ujung petak. Onew memberiku sebuah handuk dan, sebuah dress.

“Dress ini milik siapa?”
“Aku memintanya dari ahjumma pemilik petak.”
“Ahjumma?”
“Ne~”

Tidak apa-apa. Hanya akan kugunakan untuk tidur. Mungkin aku akan tidur satu kamar bersama Onew. Dress tua ini akan menjadi tamengku. Onew pasti tidak akan tertarik bahkan untuk melirik seorang gadis dengan dress tua.

Aku masuk kedalam kamar mandi yang cukup besar. Gelap. Kemudian Onew membantuku mencarikan sakelar lampu kamar mandi. Kamar mandi yang tidak menggunakan keramik. Tidak juga di cat. Dibiarkan seadanya begitu saja tapi tetap bersih. Dan tidak berbau pesing.

….

Aku salah. Ternyata dress tua ini lebih buruk dari bayanganku. Aku seperti tenggelam dimakan dress besar ini. Untung saja tidak ada yang melihatku seperti ini selain Onew. Onew berjalan didepanku. Tidak berkomentar apa pun tentang dress yang kupakai.

Kami sampai didepan kamar Onew. Tidak perlu kunci untuk membuka pintunya. Karena memang kamar ini tidak dia kunci.

“Ya! Jinki!”

Seorang namja keluar dari kamarnya. Dua kamar setelah kamar kamar Onew. Dan Jinki menoleh pada namja yang cukup bulat tersebut.

“Kau sudah berani membawa perempuan kekamarmu rupanya. Kenalkan pacarmu padaku.”
“Aa. Hyung! Dia adikku.”
“Jinjja? Kenapa kau tidak bilang Jinki ya~”

Jinki. Nama Onew yang sebenarnya adalah Jinki. Terdengar lucu. Aku adik dari Jinki, itu terdengar lebih lucu lagi.

“Kau! Siapa namamu adik Jinki?”
“Ah. Aku? Aku Bonnie.”

Aku menaikan nada bicaraku karena namja yang terlihat ramah tersebut cukup jauh. Dan dia masih berdiri didepan kamarnya.

“Namaku Shindong. Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan memintanya padaku. Aku ini teman baik oppamu.”
“Ne~ khamzahamnida~”

“Hyung. Adikku butuh istirahat. Berbincanglah lagi dengannya besok pagi.”

Onew, atau Jinki mendorongku masuk kedalam kamarnya. Kemudian melambaikan tangannya pada Shindong ssi sebelum dia pun ikut masuk. Lalu menutup pintu. Dan ‘mengunci’ pintu dengan sebuah lemari.

“Kau tidurlah dikasur. Aku akan tidur dilantai saja.”
“Apa? Kau saja yang tidur dikasur. Aku tidak masalah tidur dilantai. Lagi pula ini kamarmu.”
“Apa kau pikir aku akan membiarka perempuan tidur dilantai sedangkan aku tidur dikasur?”

Mataku mencari tempat yang lebih baik dari sekedar lantai. Tapi tidak ada pilihan lain. Lantai disamping kasur tempat satu-satunya yang dapat digunakan untuk tidur.

“Onew. Aku hanya menumpang. Aku tidur dilantai saja.”

Aku hendak memposisikan tubuhku berbaring dilantai. Tapi Onew sudah lebih cepat memakan lantai dengan merentangkan tangan dan kakinya terlentang dilantai. Laki-laki ini. Membuatku tertawa ditengah malam.

“Ya! Onew! Kalau kau tidur dilantai aku tak akan bisa tidur dengan tenang. Kalau begitu kita berdua tidur dikasur saja.”
“Apa itu tidak apa-apa?”

….

Bodoh!
Justru dengan tidur berdua disatu kasur dengan Onew membuatku tidak dapat memejamkan mata sedetik pun. Kami saling membelakangi, berusaha untuk tidak bersentuhan sedikit pun. Sepertinya aku akan terjaga sepanjang malam.

“Tidurlah Bonnie~”
“Ahahaha. Kau juga tidak tidur?”
“Kau tidak nyaman tidur dibelakangku bukan?”
“Ne~”

Ahahaha. Dia tahu segalanya.

“Ceritakan padaku.”
“Cerita?”
“Ceritakan apa pun. Agar kau merasa nyaman denganku.”

Cerita? Apa yang dapat aku ceritakan padanya? Kehidupanku yang menyedihkan? Hidupku bukanlah hal yang menarik untuk didengar. Bahkan untuk diingat.

“Hey~ jangan menangis.”
“Aku tidak menangis!”

Kudengar Onew beranjak dari tidurnya. Dan dengan cepat aku menghapus air mata yang sempat keluar dari mataku.

“Kau menangis.”
“Ya!”

Aku mendorong wajah Onew yang sudah berada didekat wajahku. Aku menyembunyikan wajahku, membenamkannya dibantal yang kuremas kuat.

“Ceritakan padaku. Akan kudengarkan dengan baik.”

Ayolah Onew. Aku tidak mau mengingat sedetik pun kehidupanku yang telah lalu. Haruskah aku mengatakan kalau seseorang selalu mangataiku pelacur?

“Bonnie. Kau percaya padaku bukan?”

Onew. Kau membuat tangisku pecah lagi.

*****

Malam tadi, aku menangis. Terus menangis hingga akhirnya aku tertidur. Aku tidak sempat bercerita pada Onew.

Aku terbangun tanpa Onew disekitarku. Mataku terasa sangat sembab. Aku ingin melihat wajahku yang sembab. Dan yang kutemukan hanyalah pecahan cermin yang cukup besar disenderkan pada dinding diatas sebuah lemari. Wajahku memang sembab.

Perutku terasa kosong. Sepertinya kulit perutku bersentuhan langsung dengan lambungku. Aku mencari sesuatu untuk dimakan. Tapi aku tidak menemukan apa pun. Hanya sebungkus garam diantara alat makan yang tercecer begitu saja.

Haaahhh~ bagaimana bisa Onew bertahan hidup tanpa membersihkan kamarnya. Tanganku gatal. Maka ku rapihkan dapur kecil Onew. Kupilah beberapa yang bersih dan yang harus kucuci. Dan tebak. Semua benda ini harus kucuci.

Aku mengumpulkannya didalam satu wadah besar yang cukup menampung barang-barang Onew. Baru saja kaki kananku keluar dari kamar ini. Aku sudah kembali masuk. Pakaian Onew, termasuk yang dia pakai kemarin, yang menggantung di dinding mengganggu penglihatanku. Aku mengambil semua pakaian Onew dan menumpuknya bersama perabotan dapur. Lalu pergi ke kamar mandi diujung petak.

Beruntung, kamar mandi masih sepi. Mungkin penghuni petak ini terbiasa bangun siang.

….

Selesai membersihkan semuanya. Aku mengintip keluar, mencari tempat untuk menjemur pakaian Onew. Tapi aku tidak menemukannya. Kuputuskan untuk membawa pakaian basah kembali kekamar. Dan bertanya pada Onew dimana aku harus menjemur pakaian.

Udara pagi yang segar semakin menbuat kulitku yang basah semakin dingin. Sambil berjalan kembali ke kamar, aku memperhatikan satu persatu pintu kamar tetangga Onew. Sticker yang tertempel dipintu salah satu kamar membuatku terkekeh sepanjang jalan. ‘Cepatlah Kaya’, tempat yang tepat untuk memberimu sugesti yang baik.

“KYAAAAA!!!”

Onew keluar dari kamarnya tiba-tiba. Kami berdua terkejut dan berteriak bersamaan. Onew tidak perlu berteriak karena aku korbannya.

“Ya! Dari mana saja kau! Kau membuatku khawatir!”
“Kenapa kau marah-marah! Aku mencuci pakaianmu!”

Mata Onew membulat. Dia kembali kedalam kamar dan berteriak histeris.

“UWAA!! KAMARKU RAPIH!!”

Apa dia tidak menyedarinya saat pertama kali masuk kedalam kamar? Apa yang ada dimatanya sehingga dia baru menyadari kalau kamarnya sudah kurapihkan.

“Onew. Kau dari mana saja?”
“Membeli sarapan.”
“Kau punya uang?”
“Cukup untuk membeli sarapan.”

Aku menata perabotan dapur Onew didapur kecilnya. Tak kubiarkan Onew membantuku karena laki-laki itu sembarangan menyimpan piring tanpa menata. Onew hanya diam melihatku. Jika aku melirik padanya maka dia akan membuang muka, berpura-pura melihat kamar ‘baru’nya.

“Bonnie. Apa itu?”

Ah! Aku ingat aku belum menjemur pakaian Onew. Pakaian itu masih berada didalam wadah yang kutaruh didepan pintu.

“Itu bajumu, dan bajuku. Dimana aku bisa menjemur pakaian?”
“Dibelakang kamar mandi. Disana ada tempat untuk menjemur.”
“Jadi aku harus kembali lagi ke ujung petak.”

Kuambil pakaian yang akan kujemur. Tapi Onew membawanya kembali kedalam kamar. Tenagaku tidak cukup kuat untuk menariknya kembali keluar kamar. Maka aku biarkan Onew membawa pakaian basahnya.

“Makanlah dulu. Kau lapar bukan?”
“Aku terbiasa membereskan pekerjaanku sebelum makan.”

Aku hendak mengambil wadah penuh pakaian basah. Namun Onew menarik tanganku untuk duduk di sampingnya.

“Tidak. Tidak. Kita harus sarapan, sebentar lagi aku harus pergi bekerja.”
“Kau makan saja lebih dulu.”
“Sarapanlah bersamaku. Temani aku makan.”

Aku hanya menumpang. Maka aku menuruti keinginan Onew. Duduk disamping Onew, dilantai. Membiarkan Onew yang membukakan makanan bungkus untukku, lalu menyajikannya didepanku.

“Khamzahamnida~ aku akan memakannya dengan baik.”

Hanya nasi dengan lauk kimchi serta telur. Ini makanan ternikmat yang pernah masuk kedalam mulutku. Bukan karena rasanya yang enak. Tapi, hatiku tidak pernah makan setenang ini.

“Bonnie~ kenapa kau selalu menangis?”
“Aku tidak menangis.”

Suaraku bergetar. Aku tidak bisa lagi mengelak dari laki-laki didepanku kalau aku menangis. Semakin aku menyeka air mataku, semakin deras membasahi pipiku.

“Uljima Bonnie~ apa makanannya tidak enak?”
“Ahni. Ini enak sekali.”

Aku mengambil satu suapan dan memasukannya kedalam mulutku. Lalu mengunyahnya walau air mataku tak dapat berhenti menetes. Aku merasakan air mataku bersatu dengan nasi yang kumakan. Aku tersenyum, melihat Onew tersenyum didepanku. Aku dapat melihat senyumnya, walau mataku terhalang genangan air mata.

“Apa makananmu asin?”
“Ahahahaha. Ne~”

******

Setelah pakaianku kering. Aku pergi untuk melihat-lihat lingkungan baruku. Aku tidak bisa hanya diam dikamar. Tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Berbekal uang koin yang kupunya, aku berjalan diwilayah terpencil gangnam. Tempat ini sangat kontras dengan gangnam. Siapa tahu aku dapat mencari pekerjaan diwailayah ini. Tidak jauh dari tempat Onew, aku ingin bekerja disekitar wilayah ini saja.

….

Tidak ada tempat yang bisa menjadi tempatku bekerja. Wilayah ini hanya dipenuhi dengan hunian keluarga kecil. Aku merogoh sakuku. Menghitung uang koin yang belum sempat kuhitung. Cukup untuk membeli mi instan. Untuk berjaga-jaga jika aku dan Onew kelaparan.

Aku harus berjalan hingga gangnam untuk menemukan mini market. Sedikit berwaspada. Aku masih tidak sudi bertemu dengan orang-orang yang menganggapku rendah. Pria-pria pemabuk.

Sial!

Aku membalikan badanku. Berjalan sewajarnya agar pria-pria ‘semalam’ tidak menyadari kehadiranku. Belum sampai aku menemukan mini market. Aku sudah menemukan kesialanku lebih dulu.

“YA! KAU!”

Sial! Sial! Mereka mengenaliku.

Aku berlari sekuat tenaga. Tidak tahu arah tujuanku. Yang terpenting adalah aku berlari menjauh dari pria-pria itu.

“KAU!! JANGAN LARI!!!”

Tidak mau berhenti. Aku kan terus berlari bodoh!

BRUUGHH!!

Cringg~ cring!

Ah! Koin koin ku!
Koinku lepas dari genggamanku. Aku berusaha agar koinku tidak masuk kedalam selokan. Menyatukan lutut dan telapak tanganku dengan jalanan. Berlomba dengan laju koinku. Tapi terlambat.

“Maaf.”

Aku menatap sinis namja yang mencoba membantuku berdiri. Dia yang menabrakku, dia yang membuat koinku hilang, dan dia..

“Apa kau tidak apa-apa?”
“Ah. Aku tidak apa-apa.”

Aku berdiri sendiri. Tanpa bantuan salah satu anak tuan Choi. Suatu kebetulan, kebetulan yang amat sangat aku bertemu dengannya disituasi seperti ini. Aku tak bisa memerahinya, karena orang tua laki-laki ini pernah memberiku uang. Walau secara tidak langsung.

“Sepertinya aku pernah melihatmu.”
“Benarkah? Mungkin hanya mirip.”

Pelajar rupawan dan kaya ini tidak akan mengingat gadis tersisih sepertiku. Tidak perlu mengingatkannya kalau aku dulu pernah bertemu dirumahnya.

“Ah! Bukankah kau keponankan nyonya Park?”

Dia ingat!

“Namaku Choi Minho. Siapa namamu?”
“Bonnie.”
“Park Bonnie?”
“Ne.”

Terserah kau Choi Minho. Park Bonnie sangat menggelikan.

“Kau tidak pernah lagi datang kerumahku.”
“Ah. Aku harus pergi. Maaf aku buru-buru.”

Ya Tuhan. Kenapa pria-pria itu masih menungguku?

“Tunggu! Aku sudah menghilangkan uangmu. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang sebagai permintaan maafku.”
“Baiklah. Lagi pula aku lapar.”

Lagi pula tidak ada tempat untuk melarikan diri, selain Choi Minho membawaku pergi dari tempat ini.

….

“Kenapa tidak kau makan?”
“Boleh aku membungkusnya pulang?”
“Ne?”

Kenapa seorang pelajar bisa dengan santainya masuk kedalam restoran semewah ini? Ini kali pertamanya aku masuk kedalam tempat seperti ini.

“Makanlah. Akan kupesan makanan lain untuk kau bawa pulang.”
“Boleh?”
“Ne.”

Aku memotong daging besar ini menggunakan sendok dan garpu. Kulihat Minho menggunakan pisau untuk memotong dagingnya. Kenapa pisau disediakan dimaja makan?

“Gunakan pisaumu Bonnie. Akan lebih mudah untuk memotongnya.”

Minho memergokiku kesulitan memotong daging. Tangannya mengarahkan tanganku bagaimana cara untuk memotong daging dengan pisau.
Sepotong daging dimulutku yang mungkin saja enak. Kenapa aku berkata begitu? Karena saat ini rasanya hambar, seperti ada yang kurang. Tidak tahu apa. Tapi ada yang kurang.

“Sepertinya aku akan membungkus makananku juga. Boleh kan Minho ssi?”
“Ne? kenapa?”
“Aku harus segera pulang.”

****

Onew bersungut semenjak ia pulang. Ia mengganti pakaiannya dengan kasar. Seolah marah pada seseorang. Aku perhatikan punggungnya, atau bagian tubuhnya yang lain. Mencari sebuah luka, luka yang mungkin disebabkan karena dia dipukul massa. Karena dia tidak berhasil mencuri dompet seseorang.

“Kenapa kau terlihat kesal?”
“Tidak apa-apa.”

Onew memakai pakaian yang dari dalam lemari yang pintu lemarinya sudah hilang entah kemana. Lalu mengambil segelas air dan meneguknya satu nafas.

“Apa kau ketahuan mencuri oleh orang lain?”
“Huh! Mencuri.”

Onew mengambil jaket dan meraih pintu. Aku menahannya dan menutup kembali pintu yang sempat terbuka.

“Kau mau kemana?”
“Membeli makan.”
“Aku akan menyiapkan makan malam untukmu.”
“Tidak perlu.”
“Wae! Kenapa kau marah kepadaku!”

Onew tidak menghiraukanku. Dia justru membuka pintu dengan kasar dan keluar dari kamar. Aku mengikutinya. Aku tidak bisa membiarka hal seperti ini terus berlanjut. Aku harus tahu penyebab mengapa Onew begitu kesal padaku saat ini.

“Onew! Apa kau tidak suka aku menumpang dikamarmu!”
“Sssstt!”

Onew mendorongku masuk kedalam kamar. Dan menutup pintunya rapat setelah ia tampak seperti memeriksa keadaan diluar.

“Jangan sampai orang tahu kau bukan adikku.”
“Kalau begitu kenapa kau melakukanku seperti ini.”

Menghembuskan nafasnya. Berkaca pinggang tanpa melihat mataku.

“Dengan siapa kau makan siang?”
“Apa?”
“Aku melihatmu masuk kedalam restoran bersama seorang laki-laki.”
“Dia Choi Minho. Anak dari.. mantan tuan tempatku bekerja.”

Onew mamandangiku seolah tidak percaya dengan apa yang kukatakan.

“Kau bekerja diwilayah itu? Tempat itu cukup rawan untuk mencuri.”
“Aku bekerja didepan restoran mewah itu! Perlu kau ketahui. Aku sudah lama tidak mencuri. Aku mendapatkan upah sebagai kuli bangunan.”

“…”

“Maaf.”

Aku tidak tahu ternyata Onew tidak lagi mencuri. Aku mungkin sudah menyekiti hatinya dengan menganggapnya pencuri.

“Kau menikmati makan siang mewahmu?”
“Tidak.”
“Tidak usah berkata seperti itu.”
“Tidak. Sungguh! Aku hanya makan satu suap bersamanya. Aku membawa makanannya pulang.”

Onew memutar bola matanya. Dan kembali untuk meraih pintu.

“Onew. Aku membawanya pulang karena ingin memakannya bersamamu. Aku tidak merasa nyaman makan dengannya.”

Onew menurunkan tangannya. Tidak jadi meraih pintu. Lalu memutar badannya dan melangkah kearahku.

“Benarkah?”
“Aku belum makan siang. Kau tega membiarkanku kelaparan?”

Onew akhirnya menunjukan senyuman yang akhir-akhir ini menjadi favoritku. Mengusap puncak kepalaku dengan tangannya yang terasa sedikit kasar.

“Ayo kita makan.”
“Kau tidak meminta makanan ini padanya bukan?”
“Tidak. Dia yang menawarkannya padaku.”


-bersambung-

©2011 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 8 Oktober 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Hebat 3x.
    Sie bonnie dpt Tmpt.
    Sie Unnyu cpat Tobat.
    Sie Mino mlai mrpat (?) *abaikan

    yg jlas nie ep ep.
    DAEBAK ABIZT😉
    I LIKE IT LIKE IT. . .😀

  2. ihiii serr…
    si onew kayakx mulai jatuh cinta ma bonnie nih~~ wkwkwk😛
    eaaa…. si minho kayakx juga suka si bonnie ya? *sotoy*
    lanjot dah thor~~ ^^

  3. Wah suru seruh , penasaran nih apa lanjutannya

  4. kyaaaaa…….aku suka aku suka aku suka,,kekeke~
    onew suka sama gweboon….
    aiihhh….semakin mendebarkan,, semakin seru,,

    semoga minho uga suka sama gweboon,,iiihhhh…..makin cinta sma ffmu eonni,,
    daebak!!

    lanjuuuutttttt……………

  5. ternyata anak tuan choi itu si minho,,,,,onew kyk y cemburu nih….
    Lanjut ah……

  6. Waduuh..
    Kayak’a bakal ad triangle love nie,,😄
    Onew ud tobat, tp bisakah dy bersaing ama minho??
    *reader sotoy-abaikan*
    Seruseruseru X3
    Lanjut…

  7. sedih ya ngebayangin kehidupan gwiboon ma onew.. dan kyknya si onew cemburu ya lihat gwe mkn siang brg mino?? ><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: