[FF/PG/Part 3/JINBOON] WE ARE FOREVER BONNIE & CLIDE


Main Cast:
Gweboon
Jinki

Support Cast:
Minho
Narsya (BEG)

Genre: Live
Rating: PG

Bagi yang mengharapkan NC d part ini, maaf kalian harus kecewa. Ahahhahhahah. Belum saatnya. Masa gampang bgt mereka NCan.

SAD READING!!!!
RCL PLEASE~


Bonnie POV

TidddiiiiTTT!!!!

Aku malangkah mundur hingga punggungku menyentuh benteng. Mobil city car berwarna merah muda melintas hanya beberapa centi didepanku. Aku mungkin sudah menghalangi jalannya. Tapi bukankah jalanan ini cukup lebar?

Entah bodoh atau terlalu nekad. Saat makan siang kemarin, aku meminta Minho untuk mencarikanku pekerjaan. Mungkin rumah besarnya masih membutuhkan seorang pekerja.

Awalnya Minho terlihat ragu untuk mencarikanku pekerjaan. Aku memang tidak tahu malu. Aku terus mendesaknya untuk mencarikanku pekerjaan. Apapun. Aku tidak mau hanya menjadi benalu bagi Onew.

Dan disinilah aku berdiri. Tempat dimana Minho berjanji untuk memberiku kabar mengenai pekerjaan. Sejujurnya, Minho sudah terlambat satu jam dari waktu yang dia janjikan padaku. Entah sudah berapa ratus siswa yang melihatku berdiri didepan sekolah mereka. Berada disini membuatku sedikit rindu pada sekolahku. Sedikit. Hanya sedikit.

Seorang pelajar tinggi membuatku mengira bahwa dia adalah orang yang aku tunggu. Ternyata bukan. Jadi aku masih harus sedikit bersabar.

Aku bersandar pada benteng sekolah yang menjulang tinggi dibelakangku. Lututku pegal. Memakan waktu satu jam untuk berjalan kesekolah ini. Ditambah berdiri menunggu selama satu jam.

Sekolah ini cukup terkenal. Aku mendengarkan beberapa temanku membicarakan sekolah ini. Teman-temanku benar, banyak siswa sekolah ini yang menggunakan mobil mewah. Dan siswa yang keluar dari sekolah ini terlihat angkuh. Huh! Tidak perlu bersikap angkuh untuk menunjukan betapa kayanya kalian.

“Bonnie ssi?”

Penantianku berakhir. Akhirnya aku melihat wajah Choi Minho.

“Kukira kau sudah pulang.”
“Hanya menunggu satu jam.”
“Maaf. Kelas tambahanku baru saja berakhir. Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahumu tentang kelas tambahanku. Jadi..”
“Tidak masalah bagiku. Bagaimana dengan..”

Beberapa detik Minho terlihat seperti tidak mengerti apa maksud kedatanganku. Tapi kemudian laki-laki bermata bulat ini teringat sesuatu dan memukul keningnya sendiri.

“Sebenarnya, butik ibuku membutuhkan seorang pekerja. Tapi ibuku tidak menerima pekerja part time.”
“Aku akan bekerja sehari penuh.”
“Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Kau masih kelas dua SMA bukan?”

Haah~ seharusnya aku menjelaskan kondisiku pada laki-laki ini sejak awal.

“Aku. Sudah tidak sekolah. Kau tahu. Itulah sebabnya aku, membutuhkan pekerjaan.”
“Tapi, minimal kau harus lulus SMA jika ingin bekerja dibutik ibuku.”

Jadi percuma aku menemui anak orang kaya ini? Membuang waktuku. Seharusnya aku mencari pekerjaan menjadi pengantar Koran saja.

“Maaf mengganggu waktumu Minho ssi. Terima kasih sudah berusaha mencarikanku pekerjaan.”

Aku benar-benar kesal hari ini. Tetap harus membungkuk berterima kasih padanya. Walau dia sudah mengecewakanku. Tidak boleh menyerah hanya dengan satu kali mencoba. Semoga masih banyak tempat yang mau menerimaku bekerja.

Aku mulai melangkah cepat meninggalkan tempat ini. Mulai mengadu keberuntungan ditempat lain.

“Bonnie!!”

Aku menengok kebelakang tanpa menghentikan langkahku. Minho berlari menghampiriku. Maka aku menghentikan langkahku agar Minho tidak perlu berlari lebih jauh lagi.

“Aku sudah berjanji untuk membantumu. Ikutlah denganku.”

Apa aku mendapatkan pekerjaan?
Minho menarik tanganku dan menuntunku pada sebuah mobil. Dari ekspresi Minho yang beraura positif. Sepertinya ini berita baik.

*****

Aku mendapat pekerjaan. Aku mendapat pekerjaan.

Aigoo~. Aku terlalu senang hingga tidak sabar untuk memberitahu Onew tentang berita baik ini. Sudah berapa kali aku memandangi seragam yang akan kupakai besok? Molla. Terlalu senang hingga tak sempat menghitung.

Seragam yang cantik. Kemeja biru sapphire dengan rok hitam. Serta sepatu hitam ber hak tinggi. Aku akan terlihat cantik besok pagi.

Tuhan. Ingatkan aku untuk membalas budi kebaikan Minho dan keluarganya. Dia yang memohon pada ibunya agar aku diterima bekerja di butik ibunya.

Onew. Kapan dia pulang? Kenapa lama sekali? Apa dia lembur?
Cepatlah pulang Onew, selama nasinya masih hangat.

….

Hangat.

Dan nyaman.

Eoh?
Aku terbangun. Tubuhku sudah berada diatas kasur dan seseorang menyelimutiku. Seingatku, aku masih duduk diluar menunggu Onew.

Onew.
Dimana laki-laki itu?

“AAAAACKKH!”

Omona!

“Ahahahaha. Kenapa kau tidur dilantai? Bukan salahku jika menginjak kakimu.”

Onew masih mengelus betisnya yang beberapa detik lalu terinjak olehku. Apa begitu sakit sehingga dia tidak berhenti mengelus kakinya?

“Mianhe. Onew ya.”

Kubantu mengelus kakinya yang sudah memerah. Entah karena terinjak olehku, atau karena terlalu lama diusap oleh pemiliknya.

“Bagaimana? Merasa lebih baik?”

Onew hanya mengangguk dan membiarkanku mengusap kakinya. Senyum yang menenggelamkan matanya memberitahuku kalau dia sudah lebih baik. Tidak sakit lagi bukan?

Hihihi. Bulu kakinya kenapa panjang sekali? Bulunya tidak selebat namja kebanyakan. Tapi justru membuatnya terlihat kontras dengan kakinya yang putih.

“Lain kali. Tidak perlu menungguku diluar. Tidurlah lebih dulu jika kau mengantuk.”

Tanganku tidak lagi mengelus kakinya. Entah bagaimana terpikir untuk memijat kakinya. Biarkanlah lelahnya hilang dengan pijatanku.

“Lain kali. Jika ingin pulang terlambat. Beritahu aku pagi harinya. Dengan begitu aku tidak akan menunggu.”

“Ahahhaha. Baiklah. Aku setuju.”

Aku merasa ada sesuatu yang kulupakan. Aku mengingat kembali apa yang ingin aku lakukan atau kukatakan. Tanpa menghentikan pijatanku pada kaki berbulu Onew.

Ah! Makan malamnya!

“Onew. Kau sudah makan?”
“Kau?”
“Aku sudah menyiapka makan malam. Tapi mungkin sudah dingin.”
“Tidak apa-apa. Ayo kita makan.”
“Tunggu!”

Aku meraih tangan Onew yang hendak beranjak untuk mengambil makan. Ini aneh. Dia tidak terlihat lapar. Atau jangan-jangan dia sudah makan malam.

“Katakan padaku. Apa kau sudah makan?”
“Apa kau sudah?”
“Jangan balik bertanya! Jika kau sudah makan maka lebih baik kita simpan saja makanan ini untuk sarapan.”

Onew diam. Dia menatap mataku tapi seperti ada yang dipikirkannya.

“Kau belum makan bukan?”

Sudah kuduga. Dia memang sudah makan diluar.

“Kau sudah makan bukan?”
“Tuan Han mengajakku makan diluar. Kukira kau tidak menungguku untuk makan.”

Aku dikecewakan dua kali hari ini. Padahal aku sangat ingin makan bersama Onew. Menunggunya pulang. Dan memberitahunya mengenai pekerjaanku.

“Bonnie, kau jangan marah padaku. Aku makan bersama tuan Han karena aku merasa tidak enak menolak ajakan istrinya.”

Kenapa hatiku sakit? Onew tidak berlaku kasar padaku. Hanya makan malam bersama orang lain tanpa mengajakku. Aku disini menunggunya untuk makan malam bersama.

“Tunggu Bonnie. Kau jangan menangis dulu.”

Onew beranjak dan mengambil sesuatu dari atas lemari. Sebuah kantung plastik hitam. Dan segera duduk bersila didepanku. Membuka bungkusan plastik hitam tersebut dengan tergesa.

“Lihat. Kau suka?”

Beberapa pasang pakaian wanita. Onew membentangkan sebuah dress cukup cantik dan menaruhnya ditubuhku. Melihat apa dress ini cukup dibadanku.

“Tuan Han mengatakan kalau putrinya mempunyai beberapa pakaian yang jarang dipakai. Jadi aku pergi kerumahnya untuk mengambil pakaian putrinya. Sudah beberapa hari kau hanya mengenakan pakaian yang sama.”

“….”

“Kau tidak suka pakaiannya?”
“Aku suka. Lagipula aku sudah bosan memakai dress tua ini.”

Aku mengambil pakaian dari tangan Onew dan memeluknya dalam pangkuanku. Menundukan kepalaku meremas kantung plastik hitam ini. Aku malu pada Onew. Aku sudah menuduhnya mengecewakanku.

“Maaf aku belum dapat membelikan pakaian yang baru. Tapi suatu saat aku akan membelikanku pakaian yang baru. Pakaian yang paling bagus untukmu.”

“Onew.”
“Ne?”
“Boleh aku memelukmu?”
“Eoh? Eh. Ne.”

Gomawo~ Onew ya.

*****

Sudah hampir pukul enam. Aku harus berbegas. Berjalan kaki dipagi hari tidak akan membuatmu terlalu berkeringat. Lagipula akan lebih baik jika datang ketempat kerja lebih pagi.

Sambil menghangatkan nasi, sebaiknya aku bersiap. Seragam kerjaku sudah menanti, masih tergantung didinding, aku melihatnya seperti melambaikan tangannya memanggilku untuk segera dipakai.

Kutanggalkan dress tua yang kupakai. Dress tua yang sedikit basah kutaruh didalam ember. Sepulang kerja aku akan mencucinya bersama pakaian Onew yang lain.

Aku mendengar suara pintu terbuka. Dengan cepat aku menutupi bagian depan tubuhku dengan kemeja biru. Aku benar-benar terkejut hingga tak sanggup bergerak.

“Ah! Maaf.”

Apa itu tadi? Onew memalingkan wajahnya kemudian keluar, menutup pintunya kembali. Apa Onew sempat melihatku tidak berpakaian?

Aku memakai seragam kerjaku dengan cepat. Tapi hatiku seperti tidak tenang. Aku terus membayangkan kejadian beberapa saat yang lalu. Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Sungguh rasanya tidak tenang. Apa Onew melihatku tidak berpakaian?

“Apa kau sudah selesai?”

Kenapa lidahku kelu? Tenggorokanku tidak siap untuk mengeluarkan suara apapun.

“Bonnie?”
“N. ne. sebentar lagi.”

….

Suasana sarapan kami menjadi begitu canggung. Aku tidak berani mengatakan sesuatu. Dan Onew pun sepertinya demikian. Kami hanya fokus pada sarapan kami masing-masing. Lebih baik Onew tidak membahas kejadian memalukan tadi.

“Ekhhemm! Kau, mau pergi?”

Ya Tuhan aku lupa member tahu Onew tentang pekerjaan baruku.

“Mulai hari ini, aku akan bekerja di butik yang berada di komplek gangnam.”
“Kau bekerja?! Bagaimana dengan sekolahmu?”

Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku. Menatap mata Onew. Hanya beberapa detik aku kembali menundukan kepalaku. Aku masih dapat mengingat kejadian tadi jika melihat Onew.

“Untuk apa kau bekerja? Seharusnya kau pergi kesekolah.”
“Aku tidak mau terus membebanimu.”
“Aku tidak merasa terbebani. Kembalilah ke sekolah Bonnie~”
“Aku akan tetap bekerja. Lagi pula bagaimana dengan seragam sekolahku? Buku-bukuku? Aku tidak memilikinya lagi saat ini.”

Dan tidak akan pernah aku kembali kerumah Jungmo untuk mengambil seragamku.

“Setelah mendapatkan uang, kau akan membeli seragam lalu kembali kesekolah?”
“Tidak. Aku akan membantumu membayar sewa petak.”
“Tidak boleh! Kau tidak boleh bekerja! Lagi pula aku masih sanggup membayar uang sewa petak sendirian.”

Jika tahu reaksinya akan seperti ini. Lebih baik aku tidak memberitahunya.
Lagipula bagaimana mungkin aku kembali kesekolah?

*****

Aku memang keras kepala.

Walau Onew akan memarahiku saat pulang nanti, biarlah saja. Melihat Onew bekerja keras dan memberikan sebagian upahnya untukku makan membuatku terlihat tidak berguna.

“Selamat pagi~ silahkan melihat koleksi terbaru kami~”

Pelanggan pertama.
Aku masih harus belajar dan beradaptasi. Jadi aku terus mengekor Narsha sunbaenim. Belajar dengan memperhatikan caranya menyapa pelanggan. Dan berusaha untuk berdiri tegap serta anggun dengan sepatu highheel dikakiku.

Semakin siang butik nyonya Choi mulai sedikit ramai. Tidak seramai toko pakaian biasa atau pasar. Tempat ini terkesan ekslusive. Tidak banyak orang yang berani masuk kedalam butik walau hanya sekedar melihat-lihat.

Aku sempat kehilangan kepercayaan diriku. Saat beberapa pelanggan tidak menghiraukan layananku. Menganggapku tidak ada. Tapi tidak kubiarkan semangatku hilang hanya karena orang-orang sombong.

“SELAMAT SIAANGG!!”

Hening.

Aku terlalu bersemangat. Sapaanku kepada pelanggan yang baru saja datang justru membuat semua orang tertuju padaku. Pabbo Gweboon! Kau harus mulai bersikap berkelas. Jangan membuat kebisingan.

“Annyeonghaseyo~ kami punya koleksi terbaru. Nyonya pasti akan menyukainya.”

Seorang wanita cukup berumur. Pakaiannya sederhana, tapi warna dari pakaiannya membuatnya terlihat ‘mahal’. Dia memakai high heel walau sudah berumur. Tas jinjing bertabur kristal dan kacamata hitamnya tidak menghilangkan senyum ramah yang ia tunjukan padaku.

Aku cukup gugup. Nyonya ini adalah pelanggan pertamaku. Terpaksa aku bertugas seorang diri. Narsha sunbaenim sedang beristirahat.

“Siapa namamu?”
“Kim. Ekheem~ maksudku, Park Bonn imnida.”

Aku menahan tawaku. Rasanya ingin terbahak mendengar nama konyolku sendiri.

“Phifft~”

Nyonya didepanku juga terlihat sedang menahan tawanya. Membuatku kehilangan nafsu untuk tertawa. Karena malu.

“Nama yang unik. Sama seperti pemiliknya.”
“Khamzahamnida~”

Aku tidak tahu apa dia memuji atau meledekku. Tetap saja aku harus menunjukan keramahanku pada pelanggan.

“Sebenarnya, aku kemari ingin meminta bantuan.”
“Ne?”
“Aku perlu uang kecil. Apa boleh aku meminjam darimu?”
“Eoh? Ne.”

Aku tidak ingin mengecewakan pelanggan. Kuberikan uang kecil yang kupunya. Kuberikan seluruh uangku. Sebenarnya uang ini untuk membeli makan malam. Tapi, Onew akan mendapatkan uang malam ini. Jadi tidak apa-apa.

******

Lagu Trot.

Entah lagu trot apa yang Onew nyanyikan didalam kamar mandi. Hanya orang yang tidak mempunyai beban pikiran yang dapat bernyanyi didalam kamar mandi. Sesuatu yang membahagiakan pasti membuatnya bernyanyi selantang ini.

Aku bersandar pada dinding kamar mandi. Menunggu Onew selesai membersihkan dirinya. Bukan karena aku ingin menggunakan kamar mandi. Tapi karena aku ingin meminta uang untuk membeli makan malam.

Suara nyanyian Onew sudah tidak terdengar lagi. Tidak juga terdengar suara air. Pasti Onew sudah selesai.

Oh!

Degh.

Degh. Degh.

“Bonnie? Kau mau menggunakan kamar mandi?”
“Ah. Ahni. Aku..”

Kenapa aku segugup ini? Aku pernah melihat Onew mengganti baju didepanku. Tapi kenapa kali ini berbeda? Melihat Onew bertelanjang dada membuatku canggung. Aku tidak bisa bertatapan dengannya.

“Bonnie?”
“A. aku. Apa kau punya uang? Aku akan membeli beras.”

Aigoo Boonnie~ demi Tuhan aku tak sanggup melihat Onew. Dan tampaknya hanya aku yang menikmati kecanggungan ini.

“Uang yang kuberikan sudah habis? Aku tak punya uang lagi.”
“Apa?”

…..

Kesal. Ingin rasanya melempar seragam sekolah didepanku jauh-jauh hingga tak dapat kulihat lagi.

“Apa yang kau lakukan Onew~?”

Aaaaaaggh! Kepalaku terasa berat. Sehingga aku menunduk dan menjambak rambutku sendiri untuk menghilangkan rasa sakit dikepala.

“Aku ingin kau sekolah lagi.”

Sekolah? Kenapa laki-laki ini bersikeras untuk mengirimku ke sekolah??

“Onew. Hanya memiliki seragam sekolah saja aku tetap tak bisa kembali kesekolah. Bagaimana dengan sepatu, buku, dan tasku? Lalu alat tulisnya? Apa kau juga membelinya?”
“Aku tidak membelinya..”

Melihat seragam sekolah yang dibeli Onew dengan upahnya hari ini membuatku semakin kesal. Gara-gara seragam ini. Kami tidak akan dapat membeli makan malam dan sarapan. Keputusan yang bagus, Onew.

Onew. Kenapa tidak berfikir lebih jauh sebelum kau memutuskan untuk membeli seragam ini? Aaagghh!! Jinjja! Jinjja! Aku kesal sekali.

…..

Kami hanya berbaring, memandangi langit-langit kamar Onew yang sudah terdapat lubang, juga sarang laba-laba. Ingatkan aku untuk membersihkannya besok.

Sudah satu jam kami yang kami lakukan hanya berbaring seperti ini. Berharap rasa kantuk datang dan mengusir rasa lapar kami.

“Kau pernah ke taman bermain Bonnie?”
“Ne? kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Hanya ingin bertanya.”

Langit-langit kamar ini terlihat lebih kusam jika aku mengingat bahwa aku belum pernah pergi ketaman bermain. Pergi ke taman kota saja tidak pernah. Hanya melewatinya jika akan pergi kesekolah.

“Bonnie? Kau sudah pernah?”
“Belum.”
“Benarkah?”
“Hmm~”

Aku sudah siap mendengar ejekan Onew. Dan mendengarnya membanggakan diri karena aku yakin dia sudah pernah. Sebab dia terkekeh saat aku menjawab belum.

“Kau mau pergi ke taman bermain mala mini?”
“Kau serius?”
“Shindong hyung pasti sedang bertugas malam ini.”

*****

Whoaa~
Aku tidak pernah melihat cahaya lampu seindah ini.

“Cepat Bonnie!”

Onew menarik tanganku. Aku masih terkagum-kagum dengan pemandangan yang pertama kali menarik mataku. Taman bermain ini dipenuhi dengan berbagai macam warna. Lampu yang menerangi taman bermain ini membentuk beberapa benda yang manarik. Pantas saja mascot taman bermain ini selalu tersenyum Sebab pertama kali kau menginjakan kakimu ditempat ini, moodmu akan semakin membaik.

“Onew! Apa kita tidak perlu membayar?”
“Tidak perlu. Taman ini sebenarnya sudah tutup. Temanku bilang, kita hanya mempunyai satu jam sebelum dia memadamkan seluruh lampunya.”

Taman bermain ini sudah tutup? Pantas saja tidak ada orang lain selain aku dan Onew.
Kami hanya punya waktu satu jam ditaman bermain ini. Sebelum teman Onew yang merupakan petugas taman ini memadamkan lampunya. Dan sebelum Shindong oppa ‘menjemput’ kami dengan bisnya. Kami berjanji akan menunggunya di halte satu jam lagi. Saat bis yang dikendarai Shindong oppa melewati taman ini.

Jika boleh egois, aku tidak mau pulang. Tempat ini indah sekali.

Omo! Komedi putar!
Aku berlari mendekati komedi putar yang menarik mataku. Aku pernah melihatnya di televisi. Ingin tahu bagaimana rasanya berputar didalam komedi putar.

Onew mambantuku melompati pagar yang menutupi komedi putar. Aku segera berlari mengelilingi komedi putar. Memilih kuda mana yang paling cantik untukku tunggangi. Setelah menemukan kuda yang menurutku cantik, aku menaikinya. Dan Onew ikut menaiki kuda disampingku.

“Apa kuda ini tidak akan bergerak?”
“Sayangnya tidak malam ini.”

Sayang sekali. Andai saja komedi putar ini dapat berputar. Malam ini akan sangat sempurna bagiku.

“Kau pernah menaiki komedi putar, Onew?”
“Ne. saat aku masih tinggal dipanti asuhan.”
“Berapa usiamu saat itu?”
“Hmm.. sepuluh.”
“Anak sepuluh tahun pergi ketaman bermain sendirian?”
“Tentu saja tidak. Seorang dermawan mengajak seluruh anak dipanti asuhan untuk bermain ditaman ini. Saat itu belum ada wahana itu.”

Mataku mengikuti arah jari telunjuk Onew. Sedikit memiringkan kepalaku karena benda bersinar yang sangat tinggi itu terhalang pepohonan. Benda yang sangat besar dengan lampu yang memenuhi sisi-sisinya. Aku tidak tahu benda apa.

“Kau belum pernah sekalipun ketaman bermain ini?”

Aku hanya menjaba pertanyaan Onew dengan menggeleng. Ibuku tidak pernah mengajakku bermain. Anak yatim piatu lebih beruntung dariku.

“Kenapa kau tidak tinggal dipanti asuhan lagi?”

“Krisis ekonomi. Tidak ada dermawan yang membiayai kami lagi. Anak yang tidak mendapatkan orang tua asuh sepertiku, berakhir dijalanan. Dan berhenti sekolah.”
“Maaf.”
“Kenapa harus meminta maaf? Justru dari situlah kehidupanku dimulai. Satu-satunya orang dewasa yang kutemui justru mengajariku mencuri. Jika tidak begitu, aku tidak akan mempunyai orang dewasa yang melindungiku.”

Cahaya lampu dari tihang penyangga kuda ini menerpa wajah Onew. Tidak terlihat sedikitpun perasaan sedih dari wajahnya. Aku harus banyak belajar untuk tidak cengeng kepada Onew.

“Aku sudah bercerita. Sekarang giliranmu.”
“Aku?”
“Tentu saja.”

“Ibuku seorang pelacur. Dan dia meninggalkanku bersama tiga orang asing.”
“Ohh Maaf.”
“Ahahaha. Kau tidak perlu minta maaf. Kau, tidak akan memanggilku pelacur juga bukan?”
“Apa? Siapa yang memanggilmu pelacur? Katakan padaku? Akan kubuat mereka merasakan tinjuanku. Katakan padaku. Siapa mereka?”
“Ahahahhahha. Gomawo, Onew.”

….

Taman bermain ini sangat luas. Tapi kau tidak akan lelah walau berjalan mengelilinginya. Pemandangan malan ditaman bermain ini cukup untuk membayar lelahmu. Aku menjadi semakin rakus. Bukan hanya komedi putar yang ingin kunaiki, aku ingin mencoba semua wahana ditaman bermain ini.

“JINKII!!”

Seseorang meneriakan nama Onew. Kami melihat laki-laki melambaikan tangannya pada kami. Apakah itu sebagai tanda satu jam kami sudah habis?

“Cepat Bonnie! Kita harus segera keluar dari tempat ini. Kau tidak mau terkurung disini sampai pagi bukan?”

Onew menggangdeng tanganku berlari bersamanya. Sebenarnya tidak masalah jika aku harus terkurung ditempat ini.

Kami terus berlari. Dan berlari lagi hingga menemukan halte bis. Tidak ada bis. Semoga kami datang terlalu cepat. Bukan datang terlambat dan melewatkan bis gratis kami.

Kami lelah. Duduk dengan meluruskan kaki kami. Bersandar pada dinding halte sambil mencari nafas. Aku teringat pada orang disekitar Onew yang memanggilnya Jinki. Kenapa Onew tidak pernah keberatan aku memanggilnya Onew?

“Onew.”
“Neh~?”
“Siapa namamu yang sebenarnya?”
“Lee Jinki. Nama yang aneh bukan?”
“Tidak juga.”
“Lalu apa margamu?”
“Marga ibuku Kim. Namaku Kim Gwi Boon.”
“Hey~ nama yang bagus. Tidak seperti namaku.”
“Ahaha. Jadi, apa aku harus memanggilmu dengan Jinki?”
“Apa kau suka memanggilku begitu?”
“Aku lebih suka Onew.”
“Kalau begitu panggil saja aku Onew.”

Onew terdengar manis. Lagipula hanya aku yang memanggilnya seperti itu. Terdengar special. Seperti panggilan sayang seorang gadis pada oppanya.

“Boleh aku bertanya sesuatu, Onew?”
“Apa?”
“Berapa usiamu?”
“Jika tidak salah hitung, aku sudah dua puluh tahun.”
“O! kau lebih tua dariku? Haruskah aku memanggilmu oppa?”
“Oppa kedengarannya lebih baik! Aaaah~ aku suka panggilan itu.”
“Baiklah, Onew oppa~”

Lampu kendaraan menerangi jalan didepan kami. Dan itu bis Shindong oppa!! kami tidak terlambat!
Shindong oppa membukakan pintu bis. Dan kami masuk tanpa harus membayar.

“Silahkan duduk Kim Gwi Boon~.”

Onew oppa mempersilahkanku untuk mengambil tempat duduk didekat jendela. Aku memang lebih suka duduk sambil memandangi jalanan.

Kim Gwi Boon. Ada yang aneh. Kenapa nama Kim Gwi Boon terdengar menyenangkan jika keluar dari mulut Onew oppa?

-bersambung-

©2011 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 10 Oktober 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. kyaaaa…..udah tumbuh benih” cinta nih,, kekeke~

    ayo eonni….lanjutkan!!
    aku tunggu next partnya….
    daebak euy!!

    next part…jangan lama” ya eonni…^^

  2. mereka berdua udah sama2 saling overprotective tp masi blm sadar sm perasaan y masing2,,,,,,n onew n boonie sama2 dodol, onew ngak nanya2 dulu mau klo mau beli seragam buat boonie n boonie main minjemin duit k orang ja tanpa mikir dia.bisa makan pa ngak nanti y……..
    Lanjut………

  3. Permisi, saya reader baru disini..🙂. Salam kenal semuanya.🙂 *bowing*
    FFnya keren,, bahasanya mudah dimengerti. Pokoknya daebaklah.
    Btw, saya boleh nanya gak, nama authornya siapa kalo boleh tahu?? Soalnya saya pernah baca FF ini di salah satu blog.🙂
    Maaf kalo banyak bacot. Hehe.

  4. 😄
    Kyaaaaa!!!!
    Romantis!!! Walau dlm keadaan tidak berada, tp mereka saling peduli..
    Benih-benih cinta mulai tumbuh!! *kapan naburnya?-plakk!!abaikan*
    Kasian, onew ingin gwe sekolah lagi, di satu sisi gwe gc mw ngrepotin jinki..
    Semoga hidup mereka membaik deh..

  5. omoo.. plisss ini sweet pake bangetss.. tp sempet terharu sma msa lalu onew ma gwiboon.. mereka seolah dah di pertemukan oleh takdir /ea.. lebay bahasanya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: