My Husband, My Hero

My Husband, My Hero

“Hei… Jiyoo-ya, Daesung mencarimu.” Ji-Eun menepuk bahu Jiyoo dengan gemas karena gadis yang satu itu tidak menanggapinya sama sekali.

“Hah??”

“Kang Daesung mencarimu.” Ulang Ji-Eun lagi.

“O” Jiyoo menggangguk lalu kembali ke bukunya kembali.

“Choi Jiyoo.” Ji-Eun menaikan suara hingga semua orang menoleh padanya. Ia membungguk minta maaf kemudian kembali menatap Jiyoo “Daesung mencarimu dan dia ingin bertemu denganmu.”

Jiyoo menoleh dan menatap Ji-Eun polos, “Kau ini kenapa sih? Biasanya aku dan dia bertemu di sini. Kau tidak usah khawatir dia pasti menemukanku disini.”

Ji-Eun menepuk keningnya. Sahabatnya yang satu ini memang tidak peka, “bukan begitu… tapi… kurasa Daesung ingin menyatakan cintanya padamu.”

Jiyoo menatap Ji-Eun tidak percaya. rentetan kalimat yang berusaha ia hapal hilang begitu saja saat Ji-Eun menggucapkan kata ‘CINTA’.

“Kau yakin dia menyukaiku??” tanya Jiyoo polos.

Ji-Eun menatap Jiyoo, “bukan hanya suka tapi cinta. Dia benar-benar mencintaimu.”

Jiyoo membetulkan kacamata bacanya, “memangnya apa yang dia suka dariku??”

“Hmmm…” Ji-Eun mengamati sahabatnya itu lalu mencopot kacamata bacanya, “kau tau kau itu cantik. Kau saja yang tidak menyadarinya. Kau baik hati dan ramah. Juga pintar.” Ji-Eun tersenyum tulus. Jiyoo memang pintar, dia bahkan sangat popular di kalangan dosen.

“Benarkah??”

Ji-Eun menggangguk, “kau tidak percaya dengan sahabatmu ini? banyak pria di luar sana yang menyukaimu. Kau saja yang tidak peduli dengan mereka dan asik dengan buku-bukumu sendiri.”

“Ya… Hwang Ji-Eun… kata-kata itu lebih cocok untukmu. Kau masih saja menyimpan cinta dalam hati untuk senior yg sudah wisuda itu dan mencampakan puluhan pria yang dekat denganmu.”

Ji-Eun mencibir, “setidaknya aku mempunyai hati untuk memberikan cintaku, tidak seperti kau yang hanya bisa mencintai buku.”

Jiyoo terkekeh, “arraso~… aku masih ada kuliah. Aku pergi duluan ya!”

Jiyoo mengambil bukunya kemudian pergi dari hadapan Ji-Eun.

>>deson<<

Hyukjae memasuki sebuah pelataran kantor dengan masam. Ia tidak suka bangun pagi. Ia benci bangun pagi. Tapi sekertaris bosnya terus menelepon meminta laporan yang harus di serahkan pagi ini.

Sebenarnya Hyukjae sudah menyelesaikan laporan itu kemarin, satu jam setelah ia mendapatkan tugas itu. Tidak susah bagi Hyukjae untuk menyelesaikan laporan itu, hanya saja ia merasa bosan. Tugas yang diberikan padanya terlalu mudah tapi ia tidak bisa bebas. Tempatnya berkerja ini mengharuskan karyawan hadir selama 9 jam dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Hyukjae menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari yang lain tapi ia tidak bisa pulang lebih awal. Itulah yang membuatnya kesal setengah mati.

“Ya~ kenapa kau lambat sekali mengerjakan tugas ini.” ucap Hyerim bossnya.

Hyukjae mendelik saat bosnya memarahinya. Ia tidak bisa marah pada perempuan pertengahan tigapuluh itu, bukan karena ia merupakan bosnya tapi karena dia seorang perempuan.

“Aku sudah menyelesaikan laporannya, apa sekarang aku boleh pergi. Aku janji dengan teman-temanku.”

Hyukjae melangkahkan kakinya tidak peduli dengan jawaban yang akan di berikan bosnya itu. Iya atau tidak. Ia akan pergi. Sekalipun perempuan itu memecatnya ia tidak akan peduli.

“YA~ LEE HYUKJAE, KEMBALI ATAU KAU KU PECAT.”

Hyukjae mengeluarkan headsetnya kemudian memasangkan lagu dengan volume maksimal.

>>deson<<

Brukk…

Jiyoo merasakan tubuhnya menubruk tembok. Dua orang perempuan berbadan besar mencengkram tangannya dengan keras. Sementara leadernya menandanginya dengan tatapan sinis dan dengki.

“Sekali lagi kuperingatkan padamu, jauhi Kang Daesung.”

Jiyoo merasakan tangannya diremas oleh perempuan itu. Mereka juga menyiram Jiyoo dengan air sebelum mereka pergi.

JIyoo memegang lututnya tangan, kaki dan beberapa bagian tubuh lainnya sudah memar bahkan berdarah. Tubuhnya menggigil kedinginan.

Sudah berapa kali ia mengalami kejadian itu, di bully oleh senior bahkan teman seangkatannya. Ia tidak tau kenapa ia sering sekali di bully. Mungkin karena ia tidak pernah melawan dan ia memang tidak bisa melawan. Ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan hal tersebut.

Jiyoo merapikan bajunya dan tasnya. Ia tidak bisa mengikuti kuliah. Ia juga tidak bisa pulang. Ia memutuskan untuk mengeringkan tubuhnya sambil jalan-jalan.

>>deson<<

Hyukjae merasakan perutnya kembung. Ia sudah menghabiskan lima botol soju bahkan sebelum jarum jam menyentuh angka 2 siang. Ia tidak mabuk. Ia memang peminum yang handal. Ia sadar meski ia ingin sekali mabuk dan melewatkan siang ini tanpa sadar.

Ia menyeret kakinya keluar dari klub. Ia mengendus udara musim gugur yang dingin. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menyesuri jalan. Ia medecak kesal saat menyadari bahwa ia memarkirkan mobil terlalu jauh.

“Aisshhh…”

Dinginnya udara yang hampir masuk musim dingin membuatnya ingin buang air kecil. Ia mendecak saat ia sudah berjalan terlalu jauh dari club tempatnya minum dan masih jauh menuju mobilnya.

Hyukjae merapatkan kakinya, ia sudah tidak sanggup menahan hasratnya. Ia merapat kesebuah gang. Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang dapat melihatnya.

Ia menarik nafas memudian perlahan membuka celananya.

Ia memejamkan mata kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya.

“Arrgggghhhh…”

Hyukjae menahan hasratnya untuk membuang air kecil karena mendengar teriakan yang memekakan telinganya. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis menatapnya dengan tatapan aneh.

Ia tersadar saat gadis itu terpaku pada bagian bawahnya.

Ia segera menutup celananya namun sialnya sudah banyak orang yang memperhatikan mereka.

>>deson<<

Jiyoo menundukan kepalanya. Ia tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan oleh ibunya. Kenapa ia ada di tempat itu sementara ia harusnya berada di ruang kuliah bersama teman-temannya. Ia tidak mungkin mengatakan pada ibunya bahwa ia dibullly lagi oleh teman-temannya.

“Apa dia melakukan kekerasan terlebih dahulu sebelum melakukan ‘hal itu’ padamu?” tanya seorang polisi sambil mengobati lebab di tubuh Jiyoo.

“Jika sampai kau mengadu maka Daesung juga akan terseret masalah ini. kau mengerti.” Ucapan teman-temannya membungkam mulutnya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Daesung.

“Aku sudah bilang, aku tidak melakukan itu. Aku hanya ingin buang air kecil dan dia melihatku. Harusnya dia yang di tahan karena telah melihat barangku tanpa izin bukan aku.” ucap pria yang tidak sengaja dilihatnya di sebuah gang saat dia berusaha mengeringkan tubuh.

“Kau ini pria bejat. Masih berkilah, padahal banyak saksi yang melihat kejadian itu.” ucap polisi perempuan lain.

“Itu tidak seperti yang kalian pikirakan.” Pria itu masih berkilah

Jiyoo hanya menunduk. Ia ingin sekali menghapus memori sebuah gambar yang beberapa jam lalu ia lihat.

“Hyukjae-ah…” seorang wanita paruh bsya menghampiri pria itu.

“Eomma…” Pria itu terlihat kaget melihat ibunya datang.

“Nyonya mari kita bicara didalam.” Ucap seorang polisi yang dari tadi mengintrogaasi mereka berdua.

Jiyoo melihat ibunya dan ibu pemuda itu masuk ke sebuah ruangan di dalam. Ia merasakan perasaannnya tidak nyaman. Terlebih banyangan yang di lihatnya itu terus berkeliaran di kepalanya.

>>deson<<

“Ini tandatanganlah…”

Hyukjae menatap ibunya tidak percaya. Ibunya menyerahkan sebuah surat nikah padanya dan memaksanya menandatangi surat itu.

“Eomma… kau tidak percaya padaku? Aku tidak melakukan apapun?” Hyukjae bersikukuh pada pendiriannya. Ia tidak melakukan apapun pada gadis itu. Tidak mengenal gadis itu dan tidak pernah menyentuh gadis itu. kalaupun ada yang merasa rugi itu adalah dirinya karena gadis itu melihat barangnya tanpa ijin darinya.

“Ya Lee Hyukjae… tandatangi ini atau aku mau melihatku mati sekarang.” Ancam ibunya dengan keras.

Hyukjae mendecak kesal. Ia melirik gadis yang bernama Jiyoo – yang sedang menatap kertas di hadapannya dengan ragu. Ibunya di sebelahnya terus memintanya juga untuk menandatangani surat itu.

Choi Jiyoo ia melihat nama gadis itu tertera di kertas nikahnya, “Baiklah aku akan menandatanginanya.” Hyukjae membubuhkan tandatangannya di surat itu. Ia pikir tidak ada salahnya toh gadis itu juga tidak jelek. Cantik. Lagi pula jika ia tidak menginginkannya bukankah mereka bisa bercerai.

“Nah jangan lakukan hal yang tidak-tidak lagi. Kau sekarang sudah mempunyai istri, kau bisa melakukannya pada istrimu.” Ucap salah satu polisi itu sambil mengambil kertas nikahnya.

Hyukjae mendecak kesal.Ia mengambil jaketnya lalu melangah pergi.

“Ya~ Lee Hyukjae… bawa istrimu juga.” Hyukjae menoleh dan menadapati Eommanya menatapnya tajam.

“Aisshh… Eomma kan yang ingin dia menjadi menantumu, jadi Eomma saja yang membawanya.” Ucap Hyukjae di jawab oleh tatapan tajam nyonya Lee, “Arra~ Aku mengerti. Ayo cepat, kita pulang.” Hyukjae menatap gadis itu dengan cuek.

>>deson<<

Jiyoo tidak berani menoleh pada pria di sampingnya. Bukan karena dia bau atau sebagiannya tapi karena ia malu. Ia mengutuki dirinya yang bodoh yang masuk ke gang itu tanpa alasan jelas dan tidak mengatakan apapun pada polisi. Ia terlalu takut.

Jiyoo mengikuti pria di hadapnnya dengan langkah patuh seperti budak pada majikannya. Ia sendiri hanya bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi pada nasibnya selanjutnya.

Pria itu membuka sebuah pintu apartermen yang lumayan mewah. Pria itu masuk tanpa mempersilahkannya masuk.

“Changkaman.” Jiyoo membuat langkah pria itu terhenti. Pria itu hampir menyentuh knop pintu kamarnya, berbalik dan menatapnya, “ Aku harus mandi dan tidak punya baju ganti.”

Pria itu berbalik lagi lalu masuk ke kamarnya. Ia kemudian menaruh sebuah baju di atas sofa. Tanpa bicara lagi ia masuk lagi ke dalam kamarnya lalu menutup pintunya kencang.

Jiyoo menarik nafasnya lalu masuk kedalam kamar mandi.

Ia berpikir keras tentang apa yang akan dilakukannya setelah ini. Ibunya mengacuhkannya setelah ia menandatangani surat nikah itu, bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun.

Setelah membasuh tubuhnya dengan sabun sekaligus mencuci bajunya yang kotor ia baru sadar bahwa ia tidak membawa baju yang bersih.

>>deson<<

Hyukjae hendak mengambil air ketika ia melihat gadis itu keluar dari kamar mandi dengan hanya balutan handuk dari dada sampai paha atas. Ia memperlihatkan tubuh gadis itu dengan seksama, bukan karena tubuhnya yang indah tapi karena wara biru dan ungu di seluruh tubuh gadis itu.

Gadis itu mengambil bajunya yang ditaruh di sofa lalu membawa baju itu kedalam kamar.

Ia menggelengkan kepalannya lalu keluar rumah untuk makan malam.

Ia tidak boleh terpengaruh oleh gadis itu.

>>deson<<

Jiyoo memilih tidur terlebih dahulu. Ia hanya menemukan tiga ruangan dalam apartermen itu satu ruanga tengah yang menyatu dengan dapur, satu kamar mandi dan satu ruang tidur. Ia menaruh guling ditengah sebagai pemisah jika pria itu datang dan ingin tidur. Ia butuh tidur karena besok ada kuliah pagi.

Ia juga tidak ingin terjaga malam-malam karena takut. Takut sesuatu akan terjadi jika ia terjaga.

Krucukk…

Jiyoo memegang perutnya yang keroncongan. Ia belum makan dari siang tadi dan ia tidak menemukan apapun di dapur. Jiyoo menekuk tubuhnya untuk menahan lapar.

Hyukjae melihat Jiyoo sudah tidur dengan posisi tubuh menekuk. Ia hanya mencibir melihat posisi tidur yang benar-benar tidak nyaman.

Hyukjae membaringkan tubuhnya di kasur, ia mendengar suara perut Jiyoo dengan jelas. Hyukjae mencibir, gadis itu pasti sedang kelaparan. Tapi ia tidak peduli.

Ia menutup matanya dan tidur dengan membelakangi gadis itu.

Hyukjae tidak bisa tidur dengan nyenyak karena gunjangan di kasurannya secara berkala. Gadis itu tidak bisa diam terus membolak-balikan tubuhnya.

Hyukjae membuka matanya dan melihat gadis itu keluar dari kamarnya. Hyukjae menyunggingkan senyumnya kemudian menutup matanya.

Perasaan Hyukjae menjadi tidak enak saat gadis itu tidak kembali ke kamar. Ia bangkit dan mencari gadis itu. Ia tidak menemukan gadis itu di dalam rumah. Ia mengambil jaket kemudian menyusul gadis itu.

Ia tidak tau kenapa dia melakukan hal itu. mungkin itu perasaan seorang suami. Molla ia juga tidak yakin dengan apa yang ada di hati dan pikirannya. Yang jelas semuanya serba bersebrangan.

Hyukjae melihat Jiyoo ada di sebrang jalan. Kemeja putih kebesan yang dia pakai begitu transaparan dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hyuhjae mendecak kenapa ia memberikan kemeja berwarna putih.

Ia melihat dua orang preman mendekati Jiyoo. Gadis itu mundur beberapa langkah.

Hyukjae mendekati Jiyoo yang semakin terjepit diantara preman itu.

Jiyoo menatap dua preman di hadapannya. Ia tidak membawa ponsel. Toh jika ia membawa ponsel juga ia tidak bisa menelepon siapa pun.

“Wah ada gadis cantik keluar tengah malam.” Ucap salah satu preman itu mengapai tangan Jiyoo.

“Ya lepaskan dia.”

Jiyoo melihat Hyukjae mendekatinya. Tangannya bergetar ketika salah satu dari preman itu melayangkan tangannya yang besar ke arah Hyukjae.

Hyukjae berusaha menangkis semua serangan yang diterimanya. Tidak begitu susah menghadapi dua preman yang hanya memiliki otot itu.

Jiyoo melihat salah satu preman membawa balok kayu yang besar. Jiyoo menggeleng saat melihat Hyukjae hanya fokus pada preman yang satu lagi. Jiyoo lalu berlalu memeluk Hyukjae.

Hyukjae kaget saat Jiyoo memeluknya. Ia melihat preman di belakangnya menganyunkan sebuah kayu. Hyukjae tidak bisa menggerakan tangannya karena Jiyoo ia lalu membalikan tubuh Jiyoo lalu memeluk gadis itu dengan erat.

Jiyoo terdiam saat Hyukjae membalikan tubuhnya dan memeluknya. Ia bisa melihat dorongan dari tubuh Hyukjae saat kayu itu menghantam Hyukjae.

“Babo…” Suara Hyukjae dingin dan berat.

Jiyoo melepaskan pelukannya dan mendapati Hyukjae memuntahkan darah. Ia lalu berteriak saat darah Hyukjae berlumuran di tubuhnya.

Jiyoo membingkai wajah Hyukjae dengan telapak tangannya. Ia bergumam kecil, “bangun… bangun.”

Jiyoo menatap Hyukjae penuh khawatir. Ia takut terjadi apa-apa pada pemuda itu.

Hyukjae tersenyum sebelum ia kehilangan kesadarannya. Ia dapat mendengar suara teriakan Jiyoo. “Tolong… tolong suamiku… tolong dia.” Teriakan yang mengubahnya dan hidupnya. Mungkin Jiyoo tidak tau apa arti teriakannya tapi bagi Hyukjae teriakan itu sangat kramat.

>>deson<<

Hyukjae mencoba membuka matanya yang terasa berat. Ia melihat Jiyoo tertidur dalam posisi duduk. Hyukjae bergerak turun lalu membopong Jiyoo ke kasur. Ia pergi ke beranda.

Bau rumah sakit memang tidak pernah membuatnya nyaman.

Ia mendengar suara ribut di dalam lalu memutuskan untuk masuk kedalam. Ia melihat Jiyoo sudah bangun dengan tampang bingung menatap bos dan beberapa teman sekerjanya.

“Katanya kau sakit tapi kenapa dia yang tidur di ranjang sementara kau jalan-jalan.” Ucap Hoon. Jiyoo turun dari ranjang kemudian menghampiri Hyukjae.

“Aku bosan.” Ucap Hyukjae datar.

“Cepatlah sembuh dan kembali ke kantor.” Ucap Hyerim bossnya sambil menyentuh tangan Hyukjae. Hyukjae menepisnya begitu saja, “Siapa dia??” Lirik Hyerim sambil melirik Jiyoo.

“Dia istriku.” Jawab Hyukjae cuek.

Semua orang menatap Jiyoo tidak percaya. Mereka tau bahwa Hyukjae seorang cassanova dan punya banyak teman wanita. Dan jika dilihat Jiyoo masih seperti gadis belasan tahun, yang masih polos.

“Kami menikah kemarin.” Sambung Hyukjae yang secara tidak sadar membuat Jiyoo mematung. Ia tidak tau harus berbuat apa. Semuanya seperti mimpi baginya.

“Jangan bercanda.” Ucap Hyerim

“Apa aku terlihat bercanda boss??” Hyukjae menarik bahu Jiyoo kedekatnya, “dia bahkan lebih cantik darimu.”

Hyerim merasa direndahkan oleh kata-kata Hyukjae lalu pergi bergitu saja tanpa bicara lagi, yang lainnya juga memilih angkat kaki dari pada berurusan dengan Hyukjae. Pria arogan yang menyebalkan.

Begitu semua tamunya pergi, Hyukjae mendorong tubuh Jiyoo. Jiyoo limbung, untungnya dia bisa langsung menyesuaikan diri.

“Apa kau selalu begitu pada semua orang?”

“Bukan urusanmu.” Ucap Hyukjae cuek.

Jiyoo mendecak. Ia berpikir ulang untuk mengatakan terimakasih pada pemuda itu.

>>deson<<

Jiyoo membereskan kertas yang akan di kumpulkan pada dosen. Ia ingin harus mendapatkan nilai yang sempurna dan bisa mengajukan semester pendek pada dosennya. Ia ingin lulus cepat-cepat dan keluar dari rumah Lee Hyukjae.

Ia tidak ingin menjadi benalu, meski Hyukjae sama sekali tidak mengganggapnya benalu bahkan Hyukjae kadang tidak pernah mengganggapnya ada. jiyoo bersyukur karena Hyukjae lebih sering mengganggapnya tidak ada karena itu membuatnya bisa nyaman. Ia tidak perlu was-was Hyukjae akan berbuat macam-macam.

“Akhir-akhir ini kau menjauhiku??” Jiyoo menoleh dan mendapati Daesung mendekatinya.

Jiyoo mengambil kertasnya, “Maaf, aku ada janji dengan dosen.” Jiyoo mudur perlahan-lahan.

Ia tidak pernah bermaksud menjauhi Daesung. Ia ingin melupakan Daesung. Melupakan kejadian yang membuat hidupnya menjadi berantakan.

“Choi Jiyoo… aku mencintaimu.” Daesung menarik tangan Jiyoo erat.

Jiyoo melepaskan genggaman tangan Daesung, “mianhae…”

Jiyoo bisa melihat anak perempuan yang pernah membully nya dulu. Ia masih ingat tatapan benci mereka padanya. Luka yang ia dapat baru sembuh ia tidak ingin membuat yang baru.

>>deson<<

“Dari mana kau???” tanya Hyukjae tanpa melirik ke arah Jiyoo yang baru datang.

“Kuliah. Kau sendiri?? Bukankah ini jam kerja. Kenapa kau masih dirumah?”

“Aku keluar dari pekerjaan membosankan itu.” jawab Hyukjae masih sibuk dengan tivi dihadapannya.”

“Mwo??? Keluar?? Apa kau gila?”

Hyukjae menatap Jiyoo, ia tidak suka urusan priabadinya di campuri meskipun mereka statusnya menikah tapi mereka tidak menikah dengan keadaan yang sesungguhnya.

“Kau boleh bersikap seenaknya. Kau boleh melakukan apapun yang kau suka tapi sekarang kau tidak selalu bisa melakukan hal itu. Lihat aku dihadapanmu. Kau tidak sendirian lagi.”

Hyukjae mencibir.

“Kita tidak bisa melakukan apapun sendirian. Jika kau tidak berkerja dan aku masih berkuliah, bagaimana kita bisa hidup kedepan. Apa kita harus meminta bantuan pada Eomma sementara Eomma sudah tidak ingin melihat wajahku lagi.”

Hyukjae menatap Jiyoo tidak percaya. ia memang tidak pernah melihat ibu gadis itu sejak di kantor polisi tempo hari. Ia tidak percaya bahwa ibu gadis itu meninggalkannya.

“Aku tidak mau berkerja di tempat itu. Mereka merendahkan aku.” Jawab Hyukjae, “harga diriku terlalu tinggi.”

“Apa harga diri itu bisa dijual? Apa harga diri itu bisa menutupi perut yang kelaparan?? Apa aku yang harus berhenti kuliah dan berkerja??”

Hyukjae tersentak mendengar ucapan Jiyoo. Ia tidak pernah berpikir bahwa Jiyoo akan melakukan hal itu. Selama mereka hidup berdua, Jiyoo tidak pernah berbicara sepanjang ini dan tidak pernah membantah apa yang dia ucapkan.

“Ya~ mau kemana kau???” tanya Hyukjae saat melihat Jiyoo keluar apartermennya.

>>deson<<

Hyukjae hanya diam saat melihat surat berhenti kuliah Jiyoo. Ia tidak marah dan tidak berkomentar apapun. Ia asik dengan dunianya sendiri. Bermain dengan teman-temannya dan melakukan hal yang ia suka.

Ia juga tidak peduli dengan Jiyoo yang sering pergi pagi dan pulang malam untuk berkerja. Ia tidak peduli dengan apa perkerjaan dan yang dikerjakan oleh Jiyoo.

Hyukjae tapi kini berbeda. Ia bisa melihat Jiyoo bolak-balik mengantarkan pesannan makanan pada para pelanggannya. Ia memakai baju yang ngetat dan rok mini yang membuat lekuk tubuhnya. Jiyoo sama sekali tidak menyadari kahadirannya dan sibuk dengan pelanggannya.

“Yak~ kenapa kau malah memperlihatkan pelayan itu?” Donghae membuyarkan tatapan Hyukjae pada Jiyoo.

“Kau tertarik padanya ya??” goda Chaesun yang melingkar mesra di tubuh Donghae.

“Dia memang cantik. Banyak pria yang mencoba untuk tidur dengan gadis itu.” Ucapan Shindong membuat Hyukjae tertegun.

“Dia sangat cantik wajar saja banyak pria yang menginginkannya.” Ucap Leeteuk di susul cubitan Sanni.

“Hmmm… aku juga dengar dari ibu pemilik restoran ini. Dia sudah menikah dan suaminya tidak berkerja makanya dia berkerja full disini dan tidak melanjutkan kuliahnya. Padahal dia salah satu murid berprestasi.”.

Hyukjae sedang merenungkan perkata Chaesun ketika perkataan Donghae mengusik pikirannya, “Lelaki apa yang membiarkan istrinya berkerja sendirian, bukan contoh pria sejati. Jika aku jadi gadis itu. Aku akan menceraikan suamiku dan pergi bersama pria tampan dan kaya. Ooo… lihat belum kering bibirku bicara dia sudah mendapatkannya”

Hyukjae melihat Jiyoo berdiri dengan nampan dengan salah satu pengusaha terkenal Lee Suksuk. Pria dengan 3 istri dan puluhan mantan istri. Pria itu mencoba menggoda Jiyoo.

“Apa dia seperti gadis yang kau katakan?” Shindong melirik Donghae

“Kurasa tidak. Dia akan menolak.” Ucap Sanni percaya diri, “dia sangat menyanyangi suaminya. Bahkan dia rela menyisakan jatah makannya untuk di bawa pulang.”

“Aku tidak.” Jawab Chaesun, “Wanita manapun tidak akan sanggup menahan luka seperti itu. Dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan dirinya untuk meninggalkan suaminya. Dia bisa mendapatkan pria yang lebih baik.”

Hyukjae menggenggam sendok yang di penggangnya. Kata-kata temannya membuatnya panas. Bukan karena Jiyoo adalah istrinya tapi karena dia adalah suami Jiyoo. Orang yang di olok-olok oleh teman-temannya. Pria yang di sebut bukan pria sejati dan pria buruk yang tidak pantas untuk Jiyoo. Hei dia seorang pria sejati dan tidak sebanding dengan pria manapun.

“Apa yang kau lakukan??” Hyukjae berjalan mendekati Jiyoo lalu menggegam pergelangan tangannya. Ia merasa ada perbedaan dalam tangann Jiyoo, tangan itu terasa lebih kecil dari sebelumnya. Jiyoo kaget melihat Hyukjae langsung menariknya. Sedari tadi dia mencoba untuk mengacuhkan Hyukjae bersama teman-temannya.

“Ya~ kau menyingkirlah.”

Hyukjae menatap pria tua di hadapannya, “berhentilah mengganggu istriku.”

Hyukjae menaruh nampan yang dibawa Jiyoo lalu menarik tangan gadis itu keluar. Ia tidak peduli dengan teriakan teman-temannya dan majikan Jiyoo.

>>deson<<

“Makanlah.” Jiyoo menyodorkan sepiring nasi pada Hyukjae.

“Sudah ku katakan bahwa harga diriku sangat tinggi.” Hyukjae tidak menatap Jiyoo sama sekali. Pikirannya sangat kacau.

Jiyoo meniup poninya, “Aku tau harga dirimu tinggi. Tapi aku tidak akan sanggup membayar biaya rumah sakit jika kau jatuh sakit.”

Hyukjae menatap Jiyoo tajam.

“Apa yang ada di otakmu? Jika kau ingin hidup sendiri aku akan mundur perlahan dari hidupmu pelahan-lahan. Toh kita juga bisa hidup sendiri-sendiri. Berikan aku waktu sampai aku bisa berdiri sendiri. Sampai saat itu aku akan pergi dari kehidupanmu dan kau bisa melanjutkan hidupmu seperti dulu.”

Hyukjae menaikan alisnya sebelah, “bagaimana caramu berdiri?? Dengan berkerja rodi seperti itu dan membuat harga diriku terinjak-injak, huh??”

Hyukjae melemparkan berkas berhenti kuliah Jiyoo ke hadapan Jiyoo, “Teruslah kuliah sampai kau bisa mendapatkan perkerjaan yang layak. Setelah itu kau bisa meninggalkaan aku selamanya.”

Jiyoo melihat berkasnya. Ia bingung dengan sikap Hyukjae. Ia takut pada pria itu. Apalagi saat pria itu menatapnya dengan dalam. Ia merasa nafasnya menjadi sesak.

>>deson<<

Hyukjae menghela nafasnya berat. Ia sudah berkeliling ke semua perusahaan besar di Korea, namun hasilnya selalu sama. Ditolak. Ia baru menyadari saat mengunjungi perusahaan ke lima bahwa namanya telah di blacklist dari semua perusahaan ternama korea. Ia mendengus kesal, kenapa ia memilih keluar dengan cara yang tidak terhormat dulu.

Ttit…

Hyukjae menatap layar yang menunjukan angka 500ribu won. Itu uang yang tersisa di buku tabungannya. Uang segutu mungkin hanya cukup untuk makan selama satu minggu untuknya dan Jiyoo. Ia sudah bertekat untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa dia bukan seperti pria yang di pikirkan mereka. Dia pria sejati yang patut di perhitungkan eksistensinya.

Hyukjae menarik kartu ATMnya lalu menarik beberapa ribu won untuk hari ini. Ia masih harus mencari perkerjaan.

Saat ia keluar dari mesin ATM ia melihat Jiyoo sedang berdiri tidak jauh darinya. Mata gadis itu sedang memandang sebuah gaun pengantin yang terpasang indah di etalase bridge.

Hyukjae tidak pernah melihat ekspresi Jiyoo yang seperti itu. Bukankah setiap perempuan mempunyai mimpi yang sama, menikah dengan pria yang sempurna. Hyukjae mengutuki dirinya, dia juga pria yang sempurna. Ia tidak kalah ganteng dari Won bin dan Choi Siwon.

“Kau berharap untuk menikah dengan Daesung?” Hyukjae melihat gerobolan perempuan menghampiri Jiyoo.

“Sudah ku bilang jangan dekati dia.” Perempuan itu berteriak di telinga Jiyoo bahkan Hyukjae bisa mendengar suara dengan jelas.

Hyukjae tersentak saat melihat Jiyoo di perlakukan kasar oleh gerombolan gadis itu. Jiyoo pun tidak terlihat membela atau takut. Ekspresinya datar seperti memikirkan sesuatu yang sangat melelahkan. Pikirannya mungkin masih menempel pada gaun itu.

Hyukjae mendekati Jiyoo lalu menatap gerombolan gadis itu dengan tajam, “jangan ganggu dia lagi.”

Hyukjae menarik Jiyoo dari gerombolan gadis bengis itu.

“Kau sudah mendapatkan perkerjaan??” kata-kata pertama Jiyoo langsung membuat Hyukjae membeku.

Hyukjae menggeleng, Jiyoo kemudian melepaskan tangan Jiyoo, “Jangan bermain lagi. Kau sudah berjanji padaku.”

Pria sejati selalu menepati janjinya.

Hyukjae melihat Jiyoo menjauhinya. Ia mengumpat kesal. Ia berbalik dan melewati jalan yang di laluinya tadi. Ia melewati etalase yang memajang gaun pengantin yang dilihat Jiyoo. Ia medelik saat melihat harga Gaun pengantin yang setinggi langit.

 

>>deson<<

Jiyoo tidak bisa percaya sepenuhnya dengan ucapan Hyukjae. Diam-diam ia mengikuti kerja part time untuk sekedar mengisi waktu luang dan dompetnya dan tanpa sepengetahuan Hyukjae. Ia tidak ingin membuat masalah dengan pria itu, ia hanya ingin pergi jauh jauh dari pria itu.

Jiyoo terkejut saat melihat botol soju bertebaran di atas meja dan Hyukjae sedang menatap televisi dengan tidak berkedip. Jiyoo menaruh tasnya kemudian membersihkan meja. Tidak mempedulikan Hyukjae yang memperhatikannya.

“Kau berkerja Part time??” Jiyoo bisa mencium bau alkohol dari nafas Hyukjae.

“Iya.” Jiyoo masuk kedalam kamar. Ia tidak ingin dekat-dekat dengan Hyukjae. Ia tidak tau kenapa tapi ia takut melihat sorot mata Hyukjae yang seperti itu

“Kenapa?” Hyukjae sudah menggenggam tangan Jiyoo, “Karna kau tidak percaya padaku?”

Jiyoo terdiam. Ia tidak mau menjawab pertanyaan itu.

Hyukjae mendorong Jiyoo hingga jatuh terduduk di ranjang, “Saat kau bilang aku tidak pernah berpikir panjang. Kau benar. Saat kau bilang aku mempunyai harga diri yang tinggi. Kau benar. Tapi saat kau bilang aku tidak pernah peduli. Kau salah. Aku mencoba untuk berpikir panjang dan berusaha untuk menurunkan harga diriku, tapi kau tidak pernah peduli.”

Jiyoo menatap Hyukjae. Ia merasakan tatapan Seunghyun berbeda dari sebelumnya. dia tidak seperti pria arogan tapi ia terlihat seperti seorang anak kecil yang kesepian, anak kecil yang selalu mencari perhatian orang lain.

“Aku berusaha untuk tidak pernah mempedulikamu tapi kau selalu datang dalam pikiranku. Kau merusakan otakku. Kau membuat semuanya menjadi kacau dan aku tidak bisa tidak memperhatikanmu.” Hyukjae mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyoo.

Jiyoo merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Ia bisa melihat Hyukjae dari dekat. Well, wajah Hyukjae tidak jelek. Ia tampan.

“Aku bukan seorang pria yang baik. Aku bukan seorang suami yang baik, bahkan untukmu. Aku bahkan tidak pernah berpikir jika aku menikah nanti dengan orang yang aku cinta dan aku melakukannya seperti ini. Aku…”

Jiyoo menggenggam tangan Hyukjae. Ia tidak tau ia mempunyai keberanian dari mana, tapi instingnya mengatakan bahwa Hyukjae sedang membutuhkan sesuatu. Pria itu membutuhkan perhatiannya. Ia juga merasa bersalah sudah tidak mempercayai Hyukjae padahal pria itu pernah menolongnya dan mempercayainya.

“Kau pria yang baik. Setidaknya kau membiarkan aku menumpang disini. Tidak melakukan yang tidak-tidak dan kau juga tidak…”

Suara Jiyoo terpotong oleh ciuman singkat Hyukjae. Hyukjae memeggang bibirnya yang basah.

Nappeun namja na.” Jiyoo masih terdiam dan menatap Hyukjae dengan tatapan tidak percaya. “Aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, aku mudah bosan, aku brengsek, aku bahkan tidak bisa mencari perkerjaan dengan benar. Aku benar-benar payah.”

Jiyoo menggeleng, “Jika kau begitu lalu aku apa? Aku lebih buruk darimu, aku yang membiarkan kita dalam posisi seperti ini. aku bahkan tidak bisa mengatakan hal apapun.”

Jiyoo meneteskan air matanya. Selama ini ia mencoba untuk menahan air matanya, bahkan saat ia di bully sekalipun ia tidak bisa menangis. Ia tidak ingin ibunya menangis karena dia menangis. Tapi kali ini. ia benar-benar ingin menangis

Uljima…” Hyukjae mengusap pipi Jiyoo. Ia bisa melihat wajah cantik gadis itu yang memerah. Ia tampak cantik sekali.

Jiyoo merasakan bibir nya menjadi hangat. Hyukjae menciumnya dengan sangat intens dan lebih lama dari yang pertama. Ia bahkan merasakan sesak bernafas saat Jiyoo tidak melepaskan ciumannya.

Nappeun namja na.” Kali ini Jiyoo tidak membantah perkataan Hyukjae. Pria itu memang brengsek. Tapi dia tetap membiarkan pria itu menikmati tubuhnya.

Hyukjae tidak mabuk sama sekali. 7 botol soju yang diminumnya tidak berhasil memabukannya tapi gadis itu dengan wajah polosnya itu bisa memabukannya dalam beberapa detik.

Ia tidak bisa menggunakan akal sehatnya lagi. Gadis dihadapannya itu benar-benar membuatnya buta. Ia melihat wajah gadis itu yang kelelahan di pelukannya. Inikah perasaan cinta?? Perasaan yang tidak ingin terpisahkan? Perasaan untuk saling menjaga. Perasaan untuk saling mengasihi.

Hyukjae melihat Jiyoo yang tertidur lelap di hadapannya. Tiba-tiba ia ingin membeli sebuah rumah di pinggir kota dengan halaman yang luas. Halaman untuk anak-anaknya bermain di akhir pekan. Rumah yang dekat dengan sekolah dan kantornya kelak. Ia ingin setiap pagi bisa mengantar anak-anak nya sekolah dan makan malam bersama Jiyoo dan anak-anak mereka setiap hari.

Hyukjae tidak pernah berpikir sejauh ini bahkan memikirkan semuanya secara detil untuk 10 tahun yang akan datang, tapi gadis itu sanggup melakukannya, “Saranghae, Choi Jiyoo.” Hyukjae mengecup kening Jiyoo kemudian menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut. Ia memeluk Jiyoo kemudian menutup matanya.

 

>>deson<<

Hyukjae tersenyum saat melihat gaun putih panjang itu berada di tangannya. Ia sudah berusaha selama sebulan terakhir untuk menghemat pengeluarannya demi membeli gaun itu bahkan sepasang cincin yang manis. Ia juga rela kerja serabutan demi membuat Jiyoo tersenyum.

Jiyoo juga sudah tidak sependiam dulu. Gadis itu lebih sering bicara dan bercerita. Mereka juga sering menghabiskan waktu istirahat bersama. Hyukjae berusaha sekuat tenaga untuk selalu hadir makan malam yang di hidangkan oleh Jiyoo. Jiyoo pun sering membuatkannya bekal.

Hyukjae memandang jam tangannya. sebentar lagi Jiyoo selesai kuliah. Benar saja Jiyoo keluar dari gedung tempatnya kuliah dengan seorang pria. Jiyoo berjalan tidak peduli pada pria itu hingga akhirnya pria itu menyerah dan meninggalkan Jiyoo.

Jiyoo berjalan mendekatinya. Hyukjae melihat gerobolan gadis tempo hari itu mendekati Jiyoo mereka mengegal Jiyoo. Hyukjae hendak turun dari mobilnya dan menolong Jiyoo tapi niatnya diurungkan karena Jiyoo bisa melawan gerombolan gadis itu. Jiyoo tidak terlihat takut sama sekali bahkan dengan lantang Jiyoo membentak gadis-gadis itu.

“Siapa mereka?” tanya Hyukjae saat Jiyoo sudah duduk manis di sampingnya.

“Aku tidak tau tapi mereka tidak suka melihat aku berdekatan dengan Daesung.” Ucap Jiyoo santai tidak peduli dengan tatapan cemburu Hyukjae.

“Daesung? Pria yang keluar bersamamu tadi?”

“Iya… aku bilang pada mereka bahwa aku tidak akan merebut Daesung dari mereka tapi mereka terus mencurigaiku jadi ku katakan saja bahwa aku sudah menikah denganmu. Lalu mereka pergi.”

“Lalu dengan Daesung?”

Jiyoo terdiam.

“Kau tidak mengatakan apapun padanya??”

“Aku tidak bisa menghapus pertemanan kami tapi aku juga tidak bisa memberikannya harapan terus jadi kuputuskan untuk mengganggapnya menjadi seorang kakak. Dia mengerti lalu pergi.”

Hyukjae tidak berani memandang Jiyoo. Ia takut Jiyoo merasakan tatapannya yang di penuhi rasa cemburu.

“Kau banyak berubah, Choi Jiyoo.”

“Kau Juga.” Balas Jiyoo, “Kau membuatku berubah dari anak yang hanya menerima takdir menjadi anak yang berani mengubah takdir. Kau membuatku berani untuk melawan semua penindasku.”

Hyukjae menyunggingkan senyumnya, “Jika aku bukan takdirmu apa kau akan berusaha mengubahnya??”

Jiyoo menandang Hyukjae sesaat kemudian menunduk, “Jika aku mempunyai tempat untuk pulang, aku mempunyai tempat untuk berlindung. Aku ingin tempat itu adalah hatimu. Tempat aku mencurahkan semuanya. Cinta dan kasih sayang”  Jiyoo mengucapkan kata-kata itu dalam hatinya.

>>deson<<

“Mianhae, maafkan Eomma.” Jiyoo memandang Eommanya dengan penuh heran, “Eomma tidak bermaksud menyuruhmu menikah dengan pria itu. Eomma pikir kalian melakukan hal yang tercela. Eomma baru tau dari suster yang memvisummu jika kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh.”

Jiyoo memandang Hyukjae tapi pria itu malah menatap keluar jendela.

“Kita Pulang~~ kita kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.” Jiyoo merasakan tangan Eommanya menggenggamnya erat, “Tempatmu bukan disini. Kau bisa kuliah dengan nyaman lagi dan bermain dengan teman-teman temanmu.”

Hyukjae melihat Ibu mertuanya membawa Jiyoo pergi dari hadapannya. Jiyoo menoleh tanpa perlawanan sedikitpun. Gadis itu hanya memandangnya dengan tatapan datarnya.

Hyukjae merasa sesuatu menghantam dadanya. Sakit. Ia merasa menjadi orang yang tidak berguna.

“Jika aku bukan takdirmu apa kau akan berusaha mengubahnya??” Hyukjae mengulangi kata-katanya di mobil lagi, “Kau tidak perlu menjawabnya, aku sudah tau.”

>>deson<<

Jiyoo menekuk tubuhnya sendiri. Ia pernah merindukan suasana kamarnya. Tapi entah kenapa ia ingin berada di kamar Hyukjae. Satu kasur dengannya melihat pria itu tertidur di sebelahnya dan membuatkan makanan untuk pria itu.

Jiyoo merindukan tatapan Hyukjae yang hangat. Ia merindukan senyuman Hyukjae. Ia meridukan pelukan Hyukjae dan ia merindukan semua hal tentang pria itu.

“Ini.” ibunya menyerahkan pasportnya dan dokumen-dokumen lainnya. Ibunya mengirimnya ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya. Cita-cita nya sejak dulu, tinggal di negara sakura itu, “Bersiaplah, besok kita akan pergi.”

Jiyoo menggaguk sambil memandang langit dari jendela kamarnya. Ia bisa melihat wajah Hyukjae dari sana. Jiyoo merasa berat meninggalkan pria itu. Apa yang akan dilakukan pria itu tanpanya, apa yang akan dimakan oleh pria itu, bagaimana cara pria itu merawat rumah.

Jiyoo membuka laci meja belajarnya, ia ngeluarkan surat nikahnya dengan Hyukjae. Eommanya memintanya bercerai, tapi sampai sekarang ia belum menandatangani surat cerai itu. Ia tidak rela meninggalkan Hyukjae.

Ia tidak tau apa yang di pikirkannya, ia ingin melangkah sejauh-jauhnya dari Hyukjae merasakan apa yang belum pernah ia rasakan. Tapi saat ini dia ingin pulang. Pulang. Ia lelah dan ingin pulang.

>>deson<<

“Aku tidak pernah melihatmu sekacau ini.” Ucap Donghae sambil menyentuh pundak Hyukjae, “Kau terlalu mementingkan harga dirimu.”

“Hufftt… untuk apa memikirkan gadis yang tidak menyukaiku. Hanya membuang-buang waktu.” Hyukjae mencoba fokus pada bidikannya. Tapi sayang papan merah putih itu berubah menjadi wajah Jiyoo.

“Dia tidak akan memberitahu apa yang dia rasa sebelum kau mengatakannya.”

Hyukjae tidak peduli. Ia mencoba menghilangkan bayangan Jiyoo dari pikirannya.

“Karena perempuan itu lebih suka dengan pria sejati yang berani menggungkapkan apa yang dirasakannya.” Donghae seolah tau apa kelemahan Hyukjae. Benar saja Hyukjae langsung menoleh dan menatapnya sengit.

“Mungkin kau tampan, kaya dan terkenal dikalangan para gadis tapi bagi Jiyoo kau tetap pemuda brengsek. Kau membuat hidupnya hancur dan tidak berniat sedikitpun untuk memperbaikinya bahkan hanya untuk meminta maaf sekalipun.”

Hyukjae terdiam, pistol di tanggannya sudah ia remas dari tadi. Hyukjae menggumam kemudian berbalik meninggalkan Donghae sendiri.

>>deson<<

Jiyoo menatap pintu apartermen Hyukjae dengan tatapan sendu. Ia ingin melihat Hyukjae sebentar tapi ia tidak mempunyai keberanian untuk menemui Hyukjae. Ia takut. Ia tidak bisa meninggalkan Hyukjae.

“Apa kau lupa, tempat aku menaruh kunci.” Hyukjae melewati Jiyoo lalu mengambil kunci yang ada di kotak pos. Ia membuka pintu dan membiarkan pintu terbuka.

Jiyoo menatap ragu sejenak kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam.

“Aku akan pergi.” Ucap Jiyoo datar.

Hyukjae tidak peduli ia masuk kedalam kamar dan meninggalkan Jiyoo sendiri. Jiyoo merasa tidak nyaman dengan sikap Hyukjae. Jiyoo mengedarkan matanya ke seluruh apartermen Hyukjae memasukan semua kenangan ke dalam otaknya. Mata Jiyoo terpaku pada sebuah kotak di atas meja.

Jiyoo penasaran lalu membuka kotak itu. Ia melihat sebuah gaun berwarna putih. Jiyoo hampir menangis tidak percaya. di bawah gaun itu ada sebuah kotak cincin. Cincin polos dengan ukiran nama mereka didalamnya.

Jiyoo tergelitik untuk memakai gaun itu ia membawa gaun itu ke dalam kamar mandi. Jiyoo tersenyum puas saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Gaun itu sangat cocok di badannya.

Hyukjae terkesima saat melihat Jiyoo keluar dari kamar mandi dengan memakai gaun yang ia beli. Gaun itu sangat cantik di pakai Jiyoo.

Jiyoo menyunggingkan senyumnya, “Upss maaf aku memakai gaunmu.”

Hyukjae tidak menjawab.

“Aku akan melepaskannya.” Jiyoo hendak melangkah ke kamar mandi ketika Hyukjae menghentikannya.

“Tunggu… bolehkan aku mengambil fotomu?”

Jiyoo menatap Hyukjae sesaat lalu menggangguk.

Jiyoo duduk di sofa dengan bembeberan gaunnya. Ia menatap Hyukjae yang memandangnya lewat camera digitalnya.

Hyukjae mencoba fokus pada cameranya. Ia ingin mengambil gambar yang sempurna tapi tangannya terus saja bergetar. Hasil jepretannya selalu berbayang dan tidak fokus.

Jiyoo mendecak gemas, “Sudahlah tidak usah di paksakan, aku memang bukan fotogenik.”

Hyukjae menggeleng, “bukan… aku hanya membayangkan jika nanti kau menikah beneran..” Hyukjae tersenyum hambar, ia mengutuki dirinya sendiri yang mengucapkan hal yang justru melukainya sediri.

Jiyoo terperangah. Ia menatap Hyukjae dengan seksama. Ia mencoba membaca pikiran pria itu. tapi ia tidak menemukan apapun kecuali kekosongan.

“Tidak akan ada pernikahan jika hanya ada pengantin wanitanya saja.”

Hyukjae menatap Jiyoo, “Maksudmu??” Hyukjae kemudian mengutuki dirinya sendiri lagi. Ia ingat perkataan Donghae bahwa seorang gadis hanya akan menyukai pria sejati yang berani mengunggkapkannya.

Hyukjae mengambil kontak cincinnya lalu berlutut di hadapan Jiyoo, “Aku tidak peduli pada perkatakan orang lain karena hanya aku yang merasakan ini.”

Jiyoo memandang Hyukjae tidak percaya.

“Aku tidak akan marah jika ada orang yang mengatakan aku bukan pria sejati. Karena bagiku pria sejati adalah seorang pria yang dapat melindungi gadis yang dicintainya. Seorang pria dengan gadis yang mencintainya di sampingnya.” Hyukjae mengulurkan cincinnya di hadapan Jiyoo.

Jiyoo tersenyum, “Yeah… You re My Husband and My Hero.”

Hyukjae memasangkan cincin untuk Jiyoo dan juga Jiyoo memasangkan cincin untuk Hyukjae. Mereka saling menatap kemudian tersenyum.

Finn~~~

Bukan Hyukjae banget ya hhhh mian^^

About -deson-

Everybody loves me, coz I’m made of chocolate

Posted on 13 Oktober 2011, in Han Yeosin, Super Fanfiction and tagged . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Waa bagus. . Tapi ada nama seunghyun nyempil. . Haha
    alurnya rada kecepetan ni. . Dibikin sequelnya ya. .

  2. nanggung ceritanya

  3. Iya bukan hyuk bangeeeeer tapi aku sukaaaaaaa~ terus itu jiyoo ga jadi ke jepang?

  4. Iya bukan hyuk bangeeeeet tapi aku sukaaaaaaa~ terus itu jiyoo ga jadi ke jepang?

  5. Gak qow, niy sisi lain(?) dari Hyukoppa.. ^_^
    suka banget! feelnya terasa sangat…aku mpe terharu…
    suka karakter jiyoo, terlihat lemah v bnrnya kuat!! mereka bertolak belakang v saling membutuhakn…
    Gengsi tinggi, mang bisa m’bwt kita kehilangan… huukzz…
    FIHGTING!!

  6. so sweet bgt,,,, sukaaaaaaaaaaa
    apalagi jiyoo y lemah tapi strong hati y……

  7. sukaaa,,,
    dibikin epilognyaa biarr komplit eritanya

  8. aiiss ni ff sweet bangaett…
    bikin lagi dong thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: