[FF/PG/Part 4/JINBOON] WE ARE FOREVER BONNIE & CLIDE

Main Cast:
Gweboon
Jinki

Support Cast:
Taeyeon
Jjong
Shindong (suju)
Yoona (snsd)
Yuri (snsd)

Genre: Live
Rating: PG

RCL please~~

Bonnie POV

Kreuuk! kreuk!

Tanah yang menempel ujung sepatuku mengganggu penampilanku. Dengan kuku jari telunjuk yang cukup panjang, aku menggaruk tanah yang menempel hingga tidak tersisa. Dan kini justru kuku jariku yang menghitam karena tanah yang masuk disela-selanya.

Fhuuhh!

Tiupanku tidak cukup kuat untuk menerbangkan tanah dari kuku jariku. Kugunakan kuku ibu jari untuk mengoreknya, kemudian membersihkannya dengan bagian dalam rokku. Kuedarkan pandanganku, berjaga-jaga jika ada yang melihatku menaikan rok.

Dan..Yang benar saja.
Aku melihat Taeyeon! Dia melambaikan tangannya kearahku dari balik jendela display. Perempuan manis itu masih sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku ingat betul mantel yang dipakainya.

Aku mengalihkan padanganku. Menganggap seolah Taeyeon tidak ada disana. Dan sialnya, seorang gadis yang lebih buruk dari Taeyeon baru saja memasuki butik ini. Yoona. Bersama teman-temannya bersikap angkuh, memandangi jajaran pakaian yang terpajang bagai tak menarik seleranya. Melihat satu persatu pakaian dengan teliti dan santai. Tidak akan ada yang mengira yeoja itu tinggal disebuah rumah kecil dilingkungan kumuh. Hanya aku yang tahu.

Aku ingin tahu dari mana Yoona mendapatkan uang sehingga dia berani untuk berbelanja di butik ini. Mencuri dari siapa? Atau jangan-jangan temannya juga seorang pencuri.

Berbicara mengenai pencuri, aku semakin dibuat gila dengan masuknya Taeyeon kebutik nyonya Choi. Aku segera menghampiri gadis yang sadari tadi tersenyum manis kepadaku, gadis itu mulai bersikap seolah dia akan membeli sesuatu dari tempat ini.

“Selamat siang~”

Hanya ingin mengantisipasi kemungkinan terburuk. Menahan Taeyeon agar tidak masuk kedalam butik lebih dalam. Taeyeon melihat-lihat pakaian yang dapat dijangkaunya. Memanyunkan bibirnya, dia mengerti jika aku tidak mau dia mengganggu pekerjaanku.

“Kau masih hidup rupanya. Bagaimana kau bisa bekerja ditempat sebagus ini?”

Suara dengan nada lembut khasnya dibuat sepelan mungkin. Matanya tidak lepas dari beberapa pakaian yang tergantung dengan label harga yang tidak murah.

“Aku baru saja mendapatkan pekerjaan. Jadi kumohon jangan mengacau disini.”

Kami berbicara sepelan mungkin. Bahkan hampir seperti berbisik. Aku menempel kemana pun Taeyeon bergerak. Gadis ini mencoba beberapa kalung dan perhiasan berkilau lainnya. Sebuah cermin cembung menampilkan pantulan gambar sebuah anting yang terlihat bagus pada telinga Taeyeon.

“Jangan menghawatirkanku. Aku justru ingin memberitahumu agar lebih waspada.”

Kembali memanyunkan bibirnya sambil melepaskan anting yang semula menghiasi daun telinganya. Menyimpannya ketempat semula, dengan sangat hati-hati.
Untuk gadis seumurannya. Dia dapat berakting cukup bagus. Seolah tidak ada benda yang menarik hatinya, dia berjalan perlahan sambil melihat sekilas benda yang terlewatinya. Menuju pintu keluar tanpa menoleh kembali kearahku.

Aku pastikan Taeyeon benar-benar tidak terlihat lagi dari tempat ini. Aku pergi keluar butik, melihat Taeyeon berbelok ditikungan komplek gangnam, dan hilang dari penglihatanku. Baiklah, aku sudah merasa aman. Jadi aku kembali masuk kedalam butik untuk melayani pelanggan yang lain.

“Park Bonn ssi.”

“Ne?”

Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk. Ekspresi nyonya Choi tidak terlalu ramah. Dengan menyilangkan kedua tangannya didada, ibu dari Choi Minho ini memandangku dingin. Menggoyangkan jari telunjuknya, sebagai isyarat agar aku mengikutinya.

Nyonya Choi berjalan menuju kasir, dimana Yoona dan temannya mamandangku jijik. Dari cara Narsha sunbaenim memandangiku aku yakin kalau akulah pusat permasalahannya.

“Ada apa nyonya Choi?”
“Kupikir karena anakku Minho berkata kau gadis yang baik, jadi aku tidak menyangka kau sampai melakukan ini.”

Apa? Melakukan apa?

“Apalagi karena kudengar kau sangat membutuhkan pekerjaan, aku yakin kau tidak akan mengacau diawal hari kerjamu.”
“Maaf nyonya Choi. Aku tidak mengerti apa..”

Nyonya choi mengintimidasiku dengan tatapan sinisnya. Wanita yang selalu tersenyum ramah, kini menunjukan ketidaksukaannya padaku.

“Justru karena dia membutuhkan uang maka dia berani untuk mencuri.”

Perkataan teman Yoona menyentakku. Atas dasar apa mereka menuduhku mencuri? Apa mereka punya bukti?

“Nyonya Choi. Apa kau berfikir aku mencuri?”
“Yuri dan temannya melihatmu mengambil anting dan memberikannya pada temanmu tadi.”
“Apa? Temanku?”

Apa yang dimaksud dengan temanku itu Taeyeon? Tidak. Aku yakin Taeyeon tidak mengambil barang apapun dari tempat ini. Mataku sendiri yang memastikannya.

“Kau tahu harga anting yang kau curi? Terbuat dari ruby. Sepadan dengan lima bulan gajimu.”
“Tapi. Aku tidak mengambil anting itu. Temanku juga tidak. Anting itu masih pada tempatnya.”

Tanganku menunjukan tempat dimana anting itu terpajang.
Tidak mungkin.
Anting itu tidak ada ditempatnya. Seharusnya anting merah itu cukup mencolok mata walau dilihat dari kejauhan. Dan kini hilang. Tapi aku sangat yakin Taeyeon pun tidak mencurinya.

“Nyonya Choi~ bagaimana bisa kau membiarkan gelandangan masuk kedalam butikmu? Lihatlah akibatnya. Gelandangan itu mencuri barangmu.”
“Taeyeon tidak mencurinya!!”

Ingin kurobek mulut berbisa perempuan ini. Seenaknya saja menuduh orang mencuri. Apa baginya semua orang miskin akan mencuri? Perempuan ini pasti bodoh. Karena dia berpikiran sempit!

“Nyonya Choi. Sungguh aku tidak mencurinya. Kenapa kau tidak periksa tas perempuan ini. Mungkin saja perempuan ini yang mencuri.”
“PARK BONN! Yuri ssi adalah anak pelanggan setiaku. Dia tidak mempunyai alasan untuk mencuri!”
“Jadi nyonya Choi pun berfikiran sama dengan perempuan ini? Apa karena aku tidak mempunyai uang maka aku akan mencuri?”

Kenapa semua orang kaya selalu memandang rendah orang yang lemah. Memperlakukan kami dengan tidak adil? Karena kami kotor maka kami pantas diinjak-injak.

“Aku tidak dapat memperkerjakanmu lagi dibutikku. Sampai kau mengembalikan antingku. Kau beruntung karena Minho yang membawamu, aku tidak melaporkanmu ke polisi.”
“Tapi.”

Percuma kau mempertahankan diri Bonnie. Semua orang kaya sama saja. Yoona dan temannya tersenyum puas meremehkanku. Mereka dapat melenggang begitu saja keluar toko ini. Tanpa seorangpun yang berani memeriksa tas mereka. Yuri. Akan kuingat nama itu seumur hidupku.

Hatiku tertusuk lagi. Sudah cukup sering aku diperlakukan tidak adil seperti ini. Tapi rasa sakitnya tetap sama. Bahkan semakin sakit.

*****

“Aaaaaaaa~ kenyang sekali.”

Kubiarkan Onew oppa merebahkan tubuhnya dikasur. Sementara tangannya menepuk-nepuk perutnya yang sudah terisi penuh, aku membereskan alat makan kami. Menumpuknya agar aku mudah membawa piring kotor ini kekamar mandi.

“Kau mau aku membantumu mencuci piring?”

Mendengarku membuka pintu Onew oppa langsung terbangun.

“Tidak perlu. Biasanya pun aku mencuci sendirian.”
“Tapi kau lelah sehabis bekerja.”

Onew oppa bejalan mengikutiku menuju kamar mandi. Tangannya berusaha untuk mengambil tumpukan piring plastik yang kubawa. Tapi tak kubiarkan dia menyentuhnya.

“Pekerjaanku tidak begitu melelahkan. Mencuci piring hanyalah seperti mengedipkan mata bagiku.”
“Kalau begitu aku bantu kau mengedipkan matamu.”
“Ahahahhahahhahha.”

Aku tidak perlu bersusah payah menyembunyikan kesedihanku didepan Onew oppa. Karena oppa akan membantuku untuk tetawa.

….

“Apa yang kau pikirkan Bonnie?”
“Eoh?”
“Kulihat sedari tadi kau melamun.”
“Ah. Tidak ada apa-apa. Sungguh.”

Apa ekspresi wajahku begitu kentara? Aku memang sedang memikirkan hari esok. Merencanakan kemana aku harus mencari pekerjaan baru. Yang pasti aku akan memakai seragam kerjaku besok pagi. Onew oppa masih belum mengetahui kalau aku tidak bekerja lagi.

Apa sebaiknya aku mencari Taeyeon? Sekedar untuk memastikan apa dia mencuri antingnya? Gadis itu cukup lihai mencuri. Bisa saja dia mengambil antingnya tanpa sepengetahuanku.

“Bonnie! Katakan padaku apa yang kau pikirkan?”
“Tidak ada. Sungguh. Hmm.. hanya mengingat kembali komedi putar ditaman bermain itu.”
“Oh! Kau masih ingin pergi kesana?”
“Tidak usah.”
“Kau sangat menyukai komedi putar?”
“Ne.”

Maaf aku berbohong mengenai apa yang aku pikirkan. Aku memang sangat menyukai komedi putar. Tapi ada masalah yang lebih memenuhi pikiranku.

Aku membalikkan tubuhku membelakangi Onew oppa. dengan posisi seperti ini maka Onew oppa tidak akan bertanya lagi. Dia akan mengira aku sudah mulai mengantuk.

“Jumuseyo~”

Kurasakan kasur bergetar karena gerakan Onew oppa. Onew oppa sudah membelakangiku. Dia pun sudah mulai mengantuk.

“Jumuseyo. Oppa.”

******

Dipagi hari pasar malam ini tidak terlalu ramai. Angin menggetarkan beberapa spanduk yang tergantung disetiap kios. Jaket Onew oppa yang kupinjam membuatku tidak terlalu kedinginan. Aku mulai menghampiri seorang pria penjaga kios. Pria berumur yang sedang merapihkan dagangannya.

“Permisi.”
“Ya?”

Aku sedikit ragu untuk menanyakan Taeyeon pada pria ini. Bagaimana jika pria ini tahu Taeyeon seorang pencuri? Dan akan menganggapku sebagai komplotan Taeyeon?

“Ada apa? Kau ingin membeli sesuatu?”
“Ah. Tidak jadi maaf. Dompetku tertinggal.”

Kuputuskan untuk meninggalkan pasar malam. Tidak perlu mencari Taeyeon. Lebih baik mencari pekerjaan baru saja. Lupakan mengenai anting-anting itu.

….

Sudah puluhan tempat diwilayah pertokoan ini kumasuki. Tak kulewatkan satupun lowongan pekerjaan yang terpampang ditiap jendela toko. Tapi tak ada satu pun toko yang menerima pekerja tanpa ijazah.

Aku tak boleh menyerah. Kueratkan jaket Onew oppa untuk menghangatkanku. Hari sudah siang, tapi angin bertiup begitu dingin. Mungkin karena sudah memasuki musim dingin. Aku akan mulai mencari pekerjaan dirumah makan. Tidak berharap banyak, hanya sebagai tukang cuci piring pun aku akan sangat bersyukur.

“Hey! Kau! Park Bonn!”

Suara panggilan itu terdengar dari belakangku. Ketika aku menoleh aku melihat gadis yang kucari. Taeyeon, dia pasti mengetahui nama Park Bonn dari nametag kerjaku.

Gadis yang tampak ceria itu berlari menghampiriku. Kemudian berjinjit didepanku, untuk menyamai tinggiku yang menggunakan highheel.

“Kau pasti sudah ditendang dari toko mewah itu bukan?”
“Jadi benar kau yang mencuri anting itu?”

Kakinya diturunkan. Tidak lagi berjinjit. Hanya tersenyum lalu berjalan mendahuluiku. Lalu berhenti dan kembali menatapku.

“Sudah kuperingatkan sebelumnya bukan? Kau harus lebih waspada. Dua perempuan itu, yang masuk kedalam butik sebelum aku, mereka merencanakan untuk menjebakmu.”

Yoona dan temannya? Jadi benar mereka yang mencuri antingnya? Issh! Sial! Menyebalkan.

“Kenapa mereka melakukan itu? Apa mereka musuhmu?”
“Salah satu dari mereka musuhku.”
“Oouu~”

Taeyeon memulai langkahnya lagi. Dan aku mengikuti arahnya pergi. Banyak yang ingin kuketahui mengenai gadis ini.

“Kenapa kau tidak mencuri dibutik itu?”
“Untuk apa? Kepada siapa aku akan menjual barang hasil curianku dari butik itu? Percuma saja aku mencuri disana.”

Aku terus mengikuti Taeyeon. Entah kemana Taeyeon akan membawaku pergi. Tapi kami sudah kembali kepasar malam. Dan berjalan membelah pasar yang hanya ramai dimalam hari ini.

“Mau kuberitahu suatu hal?”
“Apa?”
“Aku hanya mencuri dari saku seseorang.”
“Wae?”
“Resiko yang kuterima tidak banyak. Kau mencuri bank atau mencuri sesuatu yang lebih mahal, orang yang kehilangan akan melaporkanmu kepolisi.”
“Bukankah orang yang dompetnya dicuri akan melaporkanmu kepolisi juga?”
“Mereka hanya melaporkan isi dompet mereka yang hilang, bukan melaporkanmu. Setelah beberapa hari mereka akan lupa dan merelakan dompet mereka yang hilang.”

Taeyeon mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk mungilnya. Menyuruhku untuk berfikir huh?
Langkahku terhenti. Kami sudah memasuki sebuah pemukinan. Didepanku berdiri sebuah bangunan besar dan tinggi. Dengan lapangan tanah merah didepannya. Dilapangan itu anak-anak kecil bermain bola menggunakan gumpalan pelastik yang tak terpakai lagi.

Dan Taeyeon sudah masuk kedalam bangunan tersebut. Saat aku mengikuti taeyeon masuk kedalam menaiki anak tangga. Aku disuguhkan dengan pemandangan kumuh. Banyak pakaian yang tergantung dimana saja, dan coretan didinding dengan bahasa yang kasar.

“Ayo masuk.”

…..

Pria itu baru saja mengambil uang dari dompetnya. Dia memasukan dompet kesaku belakang celananya bahkan sebelum dia menerima kembalinya. Pria itu akan fokus menunggu uang kembali. Dia tidak menyadari jika aku menghimpitnya.

“Ah! Maaf.”
“Ne. Gwenchana.”

Aku berpura-pura menjadi korban dari banyak orang yang berdesak-desakan dipasar ini. Mendorong tubuhnya dari belakang hingga pria ini bertahan pada meja kios. Saat dia lengah, tanganku mencoba untuk mengambil ujung dompet yang tidak masuk kedalam saku dengan sempurna.

Aku mendapatkannya.
Tanganku bergetar, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah mendapatkan dompet ditanganku. Kumasukan dompet kedalam saku jaketku, dan tanganku masih bergetar. Bahkan kakiku lemas, aku hampir terjatuh saat hendak pergi dari tempat ini.

Hatiku tidak tenang. Aku terus memikirkan apa yang akan menimpaku setelah ini. Bagaimana jika pria itu tahu aku mengambilnya? Bagaimana jika mereka menyeretku ke polisi?

Langkahku semakin mendekati tempat dimana Taeyeon menungguku. Semakin aku melangkah jauh dari pria itu, kakiku semakin lemas. Hatiku semakin tidak tenang. Dompet didalam sakuku membebani pikiranku. Dan tanganku belum berhenti bergetar.

Tidak. Ini tidak benar. Ini bukan caraku.

Aku mengambil dompet dari dalam sakuku. Tanganku yang tak dapat tenang menjatuhkannya dijalan. Aku tidak mau berurusan lagi dengan dompet itu.

Aku berjalan cepat. Menghampiri Taeyeon yang menungguku hasil kerjaku.

“Mana barangnya?”
“Aku tidak tahu.”
“Apa maksudmu.”

Aku tidak menghiraukan taeyeon. Tetap melangkah manjauhi pria itu.

“Hey! Boonie! Kau mau mengambil semua uangnya?”

Taeyeon menarik tanganku cukup kuat. Aku hampir jatuh jika tidak berpegangan pada dinding toko.

“Aku tidak tahu. Aku membuangnya.”
“Apa! Kau gila?”
“Sudahlah! Aku tidak mau melakukan ini lagi!”

Taeyeon menghentakan kakinya karena kesal. Saat ini aku benar-benar tak peduli sekesal apa pun Taeyeon padaku. Aku hanya ingin pulang dan bertemu Onew oppa.

“ITU PENCURINYA!!!”

Yang aku khawatirkan benar terjadi. Aku tak dapat bernafas. Seperti ada yang memukul keras dadaku hingga jantungku berdetak kencang merintih kesakitan. Aku tak dapat bergerak. Hanya melihat pria itu berlari kearahku bersama banyak orang dibelakangnya.

“Cepat lari.”

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Taeyeon menarik tanganku berlari bersamanya. Gadis ini berlari sangat cepat, sehingga kakiku sakit karena menghentakan kaki terlalu cepat dan dipaksakan. Aku tak dapat mengambil nafas, terlalu banyak udara yang masuk kedalam mulutku.

Aku melepaskan tanganku dari genggaman Taeyeon. Tak sanggup lagi berlari. Aku membungkuk, bertopang pada kedua lututku. Mengatur nafasku.

“Bonnnie! Mereka masih mengejar kita.”
“Kau lari sajahh..hh. aku menyusulh~”

Taeyeon berlari hingga aku tak dapat melihatnya lagi. Suara orang-orang yang mengejarku terdengar semakin dekat. Dengan tenagaku yang tersisa aku berlari lagi walau tak secepat Taeyeon.

“Hmmpphh!!”

Tangan seorang laki-laki menarikku. Bersembunyi disebuah gang sempit. Tangannya yang besar membekap mulutku. Dan mengunci tubuhku agar tidak bergerak.

“Diam.”

Aku mengenali suara laki-laki ini. Jjong.

******

Ada sesuatu didalam dadaku yang terus menghentak ingin keluar sedari tadi. Aku merasa tak berdaya. Tak ingin menjadi kuat lagi. Tapi aku tak bisa menunjukan betapa lemahnya aku saat ini.
Berjalan dimalam hari, dan tak ada seorangpun yang memperhatikanku. Seharusnya aku dapat menangis tanpa harus takut orang-orang itu melihatku.

“BONNIIEE!!!!”

Onew oppa.
Kukira dia sudah berada dirumahnya pada jam semalam ini. Apa yang akan kulakukan pada laki-laki ini?
Dia semakin dekat. Kini senyum lebarnya semakin jelas terlihat.

“Kau! Kenapa tidak menceritakannya padaku!”

Dia marah?
Sedang membentakku? Tapi kenapa dia tersenyum?

….

“Darimana oppa tahu?”
“Aku mencari ketempat kerjamu! Dan mereka bilang kau sudah tidak bekerja hari ini.”

Aku pusing.
Kepalaku terus memikirkan apa yang Jjong katakan padaku.

“Kau mencuri?”

Apa? Apa orang-orang dibutik menceritakannya pada Onew oppa?

“Ahni. Oppa. tidak seperti itu ceritanya. Aku. Hanya..”
“Ceritakanlah. Aku ingin mendengar sisi ceritamu.”

Aku tak terlalu ingin menceritakannya. Ada yang lebih penting dari kejadian kemarin. Aku tidak suka mengingat hal itu lagi.

“Boonie?”

“Mereka menjebakku. Dan tak ada yang percaya kalau bukan aku yang mencuri.”
“Mereka siapa?”
“Seseorang yang tidak menyukai kehadiranku.”

Yoona. Mengingat perempuan itu kepalaku semakin pusing. Apa yang akan kulakukan pada perempuan itu nanti?

“Mengapa kau yakin mereka menjebakmu?”
“Taeyeon yang menceritakannya padaku.”
“Siapa? Taeyeon? Kau kenal Taeyeon?”

Kujawab pertanyaan Onew oppa dengan anggukan lemah. Aku lupa. Mungkin saja Onew oppa mengenal Taeyeon. Bukankah Onew oppa pernah menjadi pencuri?

“Bagaimana bisa kau mengenalnya?”
“Kami bertemu dipasar malam. Oppa mengenalnya?”

“Kau diajaknya mencuri?”
“Tidak.”

Tatapan Onew oppa mengintimidasiku. Dia selalu tahu apa yang kupikirkan. Dia pasti tahu aku berbohong.

“Iya. Tapi aku tidak melakukannya. Sungguh, aku tidak mencuri.”

Setidaknya aku berkata jujur. Aku tidak mencuri.

“Kau tahu akibatnya jika mencuri!! Apa kau mau mereka memukulimu!! Apa kau bisa tahan dipukuli!! Huh?”
“Sudah kukatakan aku tidak mencuri!”
“Kenapa kau melakukannya!!”
“Kenapa kau tidak percaya padaku!! Bukankah kau juga dulu mencuri?”

Onew oppa mengacak-acak rambutnya. Membenturkan kepalanya pada dinding.

“Onew oppa, kau percaya aku tidak mencuri bukan?”
“Jika kau berjanji tidak akan mendekati taeyeon, maka aku akan percaya.”
“Tapi Taeyeon..”
“KUBILANG JANGAN!!”

Tapi kau tidak mengenal Taeyeon. Dia sama sepertiku. Hanya saja dia memilih menghilangkan kesedihannya dengan mencuri. Semua orang mengenalnya, tapi tak ada satu pun yang mau berteman dengannya.

“Orang dewasa yang pertama kutemui adalah paman dari Taeyeon. Laki-laki itu akan mengajarimu mencuri. Kemudian tidak akan melepaskanmu. Kecuali, jika kau masuk penjara.”

Aku tahu. Karena itulah yang terjadi pada Taeyeon.
Apa? Onew oppa pernah masuk penjara?

“Kapan kau masuk penjara?”
“Tak lama setelah kau memergokiku mencuri di bis.”
“Kenapa aku tidak mengetahuinya?”
“Saat itu untuk apa aku memberitahumu. Sudahlah, lupakan saja. Lagipula aku sudah bebas.”

Berapa cerita yang belum aku ketahui dari Onew oppa? laki-laki ini memiliki cerita yang tidak habis diceritakan dalam semalam.

Onew oppa memberikanku sebuah kantung plastik hitam. Saat aku menggenggamnya aku tahu apa isi dari kantung plastik ini. Aku mengeluarkan seluruh isinya. Aku tak percaya Onew oppa akan membelikanku buku dan alat tulis lainnya.

“Oppa. kau menghabiskan upahmu untuk membeli ini?”
“Bukankah kau bilang kau memerlukan buku untuk sekolah?”

Aaasshh! Jinjja!

“Kembalilah kesekolah.”
“Tak perlu kau habiskan upahmu. Aku akan tetap pergi kesekolah.”
“Benarkah?”

Ada apa dengan hatiku? Kenapa rasanya perih melihat Onew oppa yang terlihat bahagia?

“Boonie? Kenapa kau menangis?”

Aku sendiri pun tidak tahu mengapa air mataku jatuh. Satiku semakin sakit ketika Onew oppa memelukku.

“Aku, akan kembali kerumah Jungmo. Jjong bilang, ibuku sudah pulang.”

Tanganku meremas kuat kaus yang menutupi punggung Onew oppa. Menutup mataku dengan bahu Onew oppa. Aku tidak tahu apa arti air mataku. Sakit hatikah? Karena apa?

“Oppa, apa aku harus pulang?”

“Hmm, pulanglah.”

Suara Onew oppa datar. Aku tak dapat melihat apa ekspresinya? Kueratkan pelukanku. Membiarkan air mataku jatuh dibahu Onew oppa.

“Aku tidak mau bertemu umma. Dia sudah menyakitiku, dia meninggalkanku. Aku ingin bersamamu saja.”

“Kau merindukannya, itu sebabnya kau menangis. Pulanglah.”

*******

Aku merindukannya.

Entah mengapa aku sangat senang. Tak sabar untuk segera menemui laki-laki yang sudah dua hari tidak kulihat.

Kali ini aku membawa pakaianku sendiri. Dan seragam serta peralatan sekolahku dalam satu tas besar. Agar laki-laki yang sebentar lagi kutemui tidak memaksakan dirinya untuk memebelikanku peralatan sekolah.

Dok dok dok!

Seharusnya dia ada dikamarnya saat ini.

Dok dok dok!

Apa dia sedang membeli makan malam? Kalau begitu tidak akan terlalu lama hingga dia kembali.

“Bonnie?”

Benar bukan? Dia hanya pergi membeli makan malam.

“Onew oppa. Boleh aku tinggal bersamamu?”
“Apa? Bukankah kau. Bagaimana dengan ibumu?”
“Pergi. Kembali ke Hong Kong.”

Anehnya aku tidak sedih saat umma lagi-lagi meninggalkanku. Onew oppa salah. Aku menangisi bukan karena merindukan umma. Tapi karena tidak mau meninggalkan laki-laki didepanku ini.

“Kau membawa apa? Biar kubantu.”

Onew oppa mengambil tas besar berisi pakaianku. Dan menaruhnya kedalam kamar. Cukup kecewa dengan apa yang kulihat. Hanya dua hari, tapi kamar ini kembali kesedia kala, saat pertama kali aku datang kekamar ini.

“Kau lapar?”

Aku lapar. Tapi kulihat Onew oppa hanya membeli satu bungkus nasi. Maka kugelengkan saja kepalaku. Dan mulai membereskan dapur kecil kami. Mulai dari menumpuk peralatan dapur yang kotor.

“Kau pasti lapar. Kita bagi dua saja nasinya.”
“Oppa. sudah kubilang aku tidak lapar.”

Onew oppa menepuk pundakku. Membuatku menoleh kepadanya.
Aku terkejut dengan satu sendok penuh nasi yang sudah berada didepan mulutku.

“Buka mulutmu. Aaaaa~”

Awalnya aku tetap menolak. Tapi Onew oppa terus mengarahkan sendoknya tepat dimulutku. Aku malu, tapi pada akhirnya aku menerima suapan Onew oppa.

“Kau harus makan. Ini sudah musim dingin.”

Yah. Musim dingin pertamaku bersama Onew oppa.

“Buka mulutmu lagi.”
“Tidak mau oppa~ kau belum mengambil satu suap pun.”

Kuambil alih sendok dari tangan Onew oppa. Lalu kali ini, aku yang memaksanya untuk menerima suapanku.

*****

“Kau pulang jam berapa?”

Aku ingin tertawa melihat Onew oppa yang tenggelam bersama syal yang topinya.

“Sekolahku selesai pukul dua siang.”
“Cepat pulang.”
“Ne~ lagipula banyak pakaian kotor yang harus kucuci.”

Salju sudah turun tadi malam. Jalanan menjadi licin. Oleh karena itu Onew oppa tidak melepaskan tanganku saat menuruni tangga. Bahkan tangannya tidak terlepas walau kami sudah melalui tangga yang terjal. Tidak apa-apa, dengan begini tangan kami akan hangat. Aku akan meminta benang rajut dikelas keputrian. Membuatkan Onew oppa sarung tangan yang hangat.

“Pulang nanti. Tunggu bis Shindong hyung saja.”
“Ne~ arraseo.”

Aku menaiki bis yang dikemudikan Shindong oppa.

“Selamat pagi Shindong oppa~”
“Pagi!”

Mencari tempat duduk didekat jendela. Dan melambaikan tanganku pada Onew oppa yang berdiri di Halte saat bis ini mulai melaju.

Tapi, ada yang mengganjal didadaku. Melihat Onew oppa, hatiku tidak tenang.

*****

“Auucchh!”

Tanganku tertusuk jarum. Aku menyimpan hasil rajutanku sebelum darah dari jariku menodainya. Kumasukan jariku kedalam mulutku. Aku merasa hari ini akan terjadi sesuatu yang buruk. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Onew oppa.

Setelah darahnya tidak lagi keluar. Aku kembali menyelesaikan rajutanku. Hampir selesai. Kuhabiskan waktu istirahatku untuk membuat sarung tangan. Sementara menunggu bis Shindong oppa yang sudah satu jam lebih tidak melewati halte ini, aku menyelesaikan rajutanku.

Biru muda. Apakah akan cocok dengan Onew oppa?

“Bonnie!!”

Seorang laki-laki dengan seragam sekolah yang sama denganku berlari mendekati halte. Jjong, dengan keringat yang memenuhi keningnya. Wajahnya terlihat cemas. Ada apa dia mencariku?

“Bonnie, Onew hyung.. dia..”

Tak tahu mengapa mendengar nama Onew hyung darinya meyesakkan dadaku.

“Jjong? Kau kenal Onew hyung?”

Pertanyaan bodoh. Tentu saja Jjong mengenal Onew oppa. aku tidak tahu mereka saling mengenal dimana dan bagaimana. Tapi yang pasti Jjong mengenal Onew oppa sejak dia menyebut namanya.

“Aku..”
“Wae Jjong?”
“Dia mengalami kecelakaan di kontruksi.”

-bersambung-

-bersambung-

©2011 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 19 Oktober 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. aigoo~~ kasian amat nasibnya si bonnie😦
    omona~ itu onew oppa kenapa lg?? ><
    Lanjut thor penasaran ma nasibnya bonnie .___.

  2. omona omona omona..!! tu onew kok bisa kecelakaan??
    aiihhh…..semoga onew ga apa”,,

    eonni….kenapa kau selalu membuatku penasaran???
    eonni selalu berhasil membuatku penasaran sama ff eonni,,
    aiihhh…..next part jangan lama” yah eonni…

    fighting!! ^o^

  3. ya onew y kecelakaan,,,, gmn nasib y nanti mereka nyari buat makan b’2 ja mati2an kerja y sekarang huuufff….
    lagian yoona tetep ja jahat bgt padahal kan boonie udah.keluar dr rmh y tp tetep d musuhin n aku penasaran sama sosoj taeyeon…..
    Lanjut……

  4. Omona??! Eottoke?!
    Onew oppa kecelakaan??!
    Smoga gx parah..
    Jebal..

  5. oh tidak.. onew kecelakaan..
    duh~ kasian gwiboon..
    dan taeyeon.. sumpah bikin penasaraan.. siapa dia sebnrnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: