[FF/PG-15/1Shot] 30 MINUTES

Cast:
Jinki
Gweboon
Genre: Romance
Rating: PG 15
Leght: Oneshot

lama tak update. sangat merasa bersalah. untuk menebus kesalahan aku post FF ini dulu. kkk. setelah check S3FI ternyata aku masih punya utang FF. moahahahha <<jahanam.

************************************

#Gwe POV

“AWAASS!!”
Dugghh!
“Awww~”
Sshhhh~ .. sakit.
Seperti banyak semut dingin yang menggigiti keningku. Sedikit pusing. Tapi tidak masalah. Aku bukan gadis yang selemah itu.
Aku mengusap-usap keningku. Dan orang yang didepanku meringis, seakan dia yang merasakan sakitnya.

“APA!”
Menggonggong sebelum kau diinjak. Itulah prinsipku untuk menghadapi lelaki seperti batu ini.
Menggertaknya sebelum dia mengataiku ceroboh, tidak punya mata karena tidak dapat melihat palang kayu sehingga kepalaku terbentur. Atau lebih parah lagi, jika dia mengejekku, mentertawaiku. Karena aku yakin saat ini keningku bertambah bengkak.
Iishhhh!!! Aku benci keningku yang berlebih. Aku lebih benci lagi jika kening berlebih ini dihiasi benjolan!!

As ussual. Jika aku sudah membentaknya dia akan diam. Membaca buku entah buku apa, sangat serius. Mengandalkan pantulan cahaya matahari yang tersorot dari satu-satunya jendela ditempat ini. Raut wajahnya kembali kesedia kala. Dingin. Bagai batu. Sangat jelas jika dia sedang berusaha mengabaikanku. Menganggapku tidak ada.

Haaahhh~

Kenapa waktu berjalan lama sekali?
Sial! Menghabisakan waktu berdua dengan si batu benar-benar BORING. Satu detik terasa bagai satu dekade. Aku merasa cepat tua bila didekatnya.
Jika bukan karena tempat ini satu-satunya tempat bersembunyi yang paling aman, dan entah bagaimana si batu ini bisa menemukan tempat persembunyianku, aku tidak akan pernah sudi berada disatu ruang yang sama dengannya. Cuihh!
Kulirik sekali lagi lelaki yang ajaibnya menjadi teman sekelasku selama tiga tahun masa SMAku –Tuhan sepertinya sedang mengutukku-. Kini aku harus berbagi ruangan yang sempit dengannya. Dasar monster, mengancam akan memberitahu guru tempat persembunyianku ini jika dia kuusir.
Oke. Just be calm. Tak ada yang bisa kulakukan, keculai jika aku ingin guru waliku mengetahui keberadaanku.
Pemandangan indah tersajikan didepan mataku. Walau kaca jendela sudah usang, aku masih dapat melihat hamparan taman sekeliling bukit. Rumah-rumah warga yang tersusun rapih, dan gerbang sekolah.
Ada untungnya aku disekolahkan disekolah tua diatas bukit. Setidaknya jika kau sedang jengah ada pemandangan cantik yang sedikit menenangkanmu.
Sekolah tua, dengan guru-guru tua. Bangunan tua, dengan tempat rahasia dimana aku bersembunyi saat ini. Di atap loteng perpustakaan. Untuk naik ketempat ini kau harus berjuang mendaki rak buku disudut perustakaan. Ditambah kau harus tahan dengan bau buku yang menyengat otakmu.

“Kakimu.”
Hmm? Apa Jinki berbicara padaku?
Aku menatap matanya, menemukan Jinki yang sedang menatapku intens. Mengerikan.

“APA?”
Aku tidak suka dia memandangiku seperti itu. Maka aku menggertaknya. Dia tidak takut aku menggertaknya. Well, dia tidak pernah takut pada apapun setahuku. Matanya menuntunku untuk melihat kakiku yang sudah menimpa kakinya. Oh, jadi itu maksudnya dari ‘kakimu’.
Dengan cepat, secepat mungkin aku menarik kakiku. Menekuknya dan kujadikan lututku sandaran daguku.
TUNGGU!
Ini salah! Aku penghuni tetap ditempat ini. Kenapa aku harus mengalah padanya? Mengapa dia dapat dengan santai meluruskan kakinya sedangkan aku harus menekuk lututku?
JAHANAM! KEJU BUSUK! Baru saja beberapa menit dia Jinki sudah berani menjajahku? Kenapa harus berbagi tempat sempit dengannya? Ruangan ini hanya sebesar dua toilet wanita. Bahkan kau tidak dapat berdiri tegak didalamnya. Maka demi harga diriku, aku tetap meluruskan kakiku. Tak peduli jika Jinki marah karena kakiku menimpa kakinya.

“Kau mau mati?”
Tak kuhiraukan aungannya. Memainkan ujung rambutku sambil melihat pemandangan dibawah sana jauh lebih menyenangkan.

Eh? Si batu ini dengan santainya mengubah posisi kaki kami. Kini kakiku yang harus merasakan beban kakinya monsternya. Dia pikir aku dapat diintimidasi seperti ini? Tidak. Kunaikan kembali kakiku. Rasanya puas melihat ekspresi Jinki yang begitu kesal ketika kakiku kembali diatas kakinya.

“Kau benar-benar ingin aku melapor pada Pak Han?”
“Silahkan. Aku masih punya tempat rahasia lainnya.”
Aku bohong. Hanya ingin menggertaknya. Mungkin saja dia kan berhenti mengancamku.
“Sayang sekali kau tak bisa membohongiku.”
Huh? Bagaimana dia bisa tahu? Ishhhh!!
“Ya! Apa salahku! Kenapa kau mengusik tempatku huh?”
“Kim Gweboon, bisakah kau tenang? Aku tak bisa konsentrasi membaca.”
Ck! Iblis! Mengalah bukanlah keahlianku. Dan Lee Jinki baru saja dengan tenangnya membuatku mengalah. Menekuk kembali kakiku. Mencoba untuk bertahan dalam posisi seperti ini selama 30 menit. Sampai kelas Pak Han berakhir.
LEE JINKI. Tidak punya teman. Tidak punya kekasih. Selalu bersikap ketus. Tidak pernah tersenyum. Bertindak sesuka hatinya. Bagaimana kau bisa hidup dengan hanya membaca buku? Apa kau akan menikah dengan buku? Menyedihkan.
Jika diingat kembali. Saat pertama kali menginjakan kaki disekolah ini, aku bahkan sudah mendapatkan kesialan. Bertemu dengan lelaki dingin yang bahkan tak mau menjawab ketika aku bertanya padanya. Baru pertama bertemu dia sudah memberikan kesan menyebalkan. Apa sulitnya membantu teman sekelas yang tidak tahu dimana letak toilet? Lee Jinki kau memang menyebalkan.

“Kau jelek sekali.”
“APA?”
Dia baru saja mengataiku? Seumur hidupku baru ada satu mahluk ini yang mengataiku jelek. Dia baru saja membangunkan KIM GWEBOON yang sebenarnya.
“Kau pikir kau tampan? Kau tahu berapa lelaki yang mengejarku?”
“Maksudku..”
“Kau tahu mengapa kau tidak punya teman? Karena kau menyebalkan. Kau tidak pernah memberikan contekan pada teman didekatmu saat ujian. Kau tidak pernah membaca surat cinta dari anak perempuan yang menyukaimu. Kau juga tidak pernah mau mengerjakan piket kelas. Kau..”
“Maksudku kau jelek karena wajahmu terus bersungut. Bu…”
“Tetap saja kau mengataiku jelek! Kau mau tahu kenapa aku bersungut? Aku tidak suka berbagi tempat rahasiaku dengamu. Aku juga tidak suka berbagi udara diruangan pengap ini bersamamu. Auramu buruk sekali. Aku bahkan tidak dapat tersenyum.”
“Ya Tuhan Gwe, kau cerewet sekali.”
“Jangan panggil aku Gwe!! Hanya Jonghyun oppa yang memanggilku seperti itu. Arra? Atau kau mau aku mengadu pada Jonghyun oppa? Kau mau dimasukan kedalam toples kesayangannya? Kau tahu seberapa besar otot kakakku? Huh?”
“Terserah.”
Apa? Hanya itu saja perlawanannya? Kembali membuka lembaran buku dan kembali kedunianya. Dia membuat semua seranganku terlihat sia-sia.

Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba menggangguku? Kenapa harus bersembunyi? Bukankah pelajaran Pak Han adalah favoritnya? Aku punya alasan untuk bersembunyi. Aku sudah bosan jika Pak Han menyuruhku untuk mengisi soal-soal yang kupikir lebih cocok untuk einstein itu kepadaku.
Aku memang tidak pandai. Tapi aku tidak mau reputasiku memburuk karena terus tak bisa menjawab soal Pak Han dipapan tulis.
Check jam tanganku. Dan dugaanku tepat aku baru saja menghabiskan lima menit. Ugh! Kuharap ada orang yang berbaik hati menekan bel pergantian jam. Dengan begitu aku bisa terbebas dari aura negatif Jinki. 25 menit kedepan akan sangat menyiksa.
Yang dapat kulakukan hanyalah, memandangi dahan yang menari bersama angin. Aku suka setiap gerakannya.

“Apa yang kau lihat?”
APA URUSANMU? TIDAK USAH MENCAMPURI URUSANKU! Ingin sekali meneriakan kata-kata itu. Tapi jika itu terjadi, maka aku sudah masuk kedalam perangkapnya. Dia hanya ingin aku marah kemudian dia akan kembali membaca bukunya.
“Diantara lima laki-laki itu siapa yang kau suka?”
“Eoh? Apa?”
Tuk tuk!
Telunjuknya mengetuk kaca jendela yang menyebabkan beberapa debu dari bingkai jendela jatuh mengotori jarinya. Cukup lama aku hanya memandangi jari telunjuknya yang ternyata cukup lebih besar dari jariku, mencari tahu apa maksudnya mengetuk jendela. Hingga dia melempar dagunya kearah kerumunan anak kelas C yang tampak sudah menyelesaikan pelajaran olah raga.
Dia menyuruhku untuk memilih salah satu dari kelima lelaki kelas C itu? Untuk apa?
“Siapa dari kelima lelaki itu yang sejak tadi kau pandangi?”
“Apa? Aku tidak memandangi mereka. Aku sedang memandangi..”
“Ssstt! Diamlah. Kau berisik.”
Benarkan. Benar apa yang kukatakan tadi. Si batu ini akan kembali membaca bukunya setelah melemparkan pertanyaan aneh. Ck. Gila.

Aku bosan. Aku bisa mati jika terus seperti ini. Mungkin menghubungi Taemin dapat membunuh kekesalanku.
Susah payah merogoh selfon dari saku blazerku. Dari ujung mataku aku dapat melihat Jinki sedang memperhatikanku. Aku mulai mencari dan menekan nomor Taemin. Dan Jinki masih memperhatikanku. Apa guna buku ditangannya jika yang dia lakukan hanya memperhatikanku?
“Hallo?”
Tidak ada jawaban, tapi sambungannya tidak juga terputus. OMG, bodoh! Taemin sedang berada dikelas. Mana mungkin dia menjawab telefonku.
“Aisshh! Sial.”
Kutekan tombol reject kuat-kuat. Ingin melempar selfon yang tak dapat membantuku disaat seperti ini, tapi yang dapat kulakukan hanyalah menaruh kembali selfonku dengan kasar kedalam saku.
Pluk! Traakk!
Ah!
Dan kesialanku bertambah. Dalam posisi seperti ini memang sulit bahkan untuk mengambil selfon dari sakumu. Ketika aku akan memasukannya kembali, selfonku justru jatuh kesela-sela atap. Hingga akhirnya jatuh kelantai dasar perpustakaan.
Aku merangkak –karena merangkak satu-satunya cara untuk berjalan ditempat sesempit ini- menuju lubang atap yang menjadi jalan masukku ketempat ini. Mengintip kebawah, bersyukur karena tidak ada tanda-tanda kehidupan dibawah sana. Hanya bangkai selfonku yang terbelah menjadi beberapa bagian. Sempurna!

“Ehkhem! Tolong jangan mengumbar pakaian dalammu.”
Seketika tubuhku membeku. Beberapa detik kemudian aku merasakan udara dingin berhembus menyentuh paha dan bokongku. Yang artinya, jika feelingku benar, rokku tersibak hingga Jinki dapat melihat bokongku.
TIDAAAKKKKK!!!
CELANA DALAM RAPUNZELKU!!!

……

Aku yang tidak tahu malu. Atau aku yang terlalu benci menjawab soal Pak Han. Aku tidak tahu bagian mana yang membuatku memilih untuk bertahan bersama lelaki yang baru saja melihat celana dalamku, lengkap dengan bokongku.
Lima belas menit kulalui tanpa berani melihat wajah Jinki. Bernafas saja aku malu. Sikap Jinki yang seolah tidak terjadi apa-apa justru membuatku merasa gelisah. Jika boleh jujur, leherku mulai pegal karena harus terus menoleh kearah jendela.
“Pantas saja nilai-nilamu buruk. Kau pasti sibuk menonton rapunzel.”
Aku malas meladeninya. Lebih baik leherku bertambah pegal dengan terus menatap jendela.
“Apa Oppamu juga senang menonton rapunzel?”
Kenapa dia menyebalkan sekali? Apa yang salah dengan rapunzel? Dan kenapa dia harus ikut menghina kakakku? Menjadikan oppaku bahan ejekan. Tidak cukup puaskah dia memojokanku saja?
Aku. Tidak sudi bicara padanya.

“Kau, biasanya tidak pernah diam.”
Memangnya kenapa? Tidak pernahkah melihat gadis ceria yang banyak disukai orang? Hingga gadis itu bahkan tak sempat untuk istirahat disela kesibukannya bersosialisasi?
“Seperti barbar yang berteriak lalu terbahak berlari kesana-kemari.”
Apa semua orang harus sepertimu? Diam membatu dengan memasang wajah musim halloween. Tulisan diwajahmu seperti memperingati orang agar menjaga jarak minimal dua meter darimu.
“Melihatmu diam seperti ini, rasanya aneh sekali.”
Itu karena kau Lee Jinki! Aku tidak pernah bad mood seperti didekatmu saat ini.
“Apa kau marah?”
IYA!
“Kau marah karena tidak dapat meluruskan kakimu?”
Huh?
Ya! Apa yang dia lakukan? Menarik paksa kakiku agar aku dapat meluruskan kakiku. Dia siswa teladan yang selalu mendapat juara umum, bagaimana bisa menganggap bahwa aku marah hanya karena tak dapat meluruskan kakiku?
Aku menekuk lagi kakiku. Konyol. Karena Jinki menarik kembali kakiku. Sungguh konyol.
Cukup. Aku tidak tahan lagi berada didekatnya. Sepuluh menit tersisa mungkin aku dapat menghabiskannya ditoilet wanita. Aku yakin aku tidak akan menemukan Jinki disana.

Aku mulai mengambil posisi merangkak, sebelumnya memastikan jika rokku aman, tidak tersibak. Tanpa berpamitan –untuk apa berpamitan?- aku merangkak menuju lubang kebebasan. Bebas tanpa Jinki.

“Ya! Kenapa tidak mau bicara padaku?”
BRUUGHH!
Awwww~ sakit.
Apa dia gila? Menarik kakiku saat aku merangkak. Membuat keningku lagi lagi terbentur. Dan tebak. Saat aku baru saja akan bangkit, Jinki sudah berada diatas tubuhku. Aku hanya dapat berbalik hingga membuat keadaan kami semakin parah. Berhadapan langsung dan sangat dekat dengan wajahnya membuatku gugup.
“Setidaknya beritahu aku apa yang membuatmu tidak mau bicara padaku.”
Aku tidak mau bicara padanya. Aku tidak mau bicara padanya. Aku tidak mau bicara padanya. Lalalalalalala~
“Aku menyukaimu.”
Lala-apa?
“Kau benci padaku? Karena aku bersikap dingin?”
“Kau memang dingin. Kau angkuh.”
“Lihat apa yang terjadi padamu saat aku bicara? Kau membenciku. Aku juga membenci cara bicaraku yang angkuh. Oleh sebab itu aku lebih memilih untuk diam.”
Kenapa dia mengatakannya padaku? Itu karena dia sedang mengungkapkan perasaannya padamu Gweboon bodoh! Dia menyukaimu! Tidak mungkin.
“Kau juga tidak suka gurauanku tentang rapunzel bukan? Itu karena aku aneh, keluargaku aneh. Itu cara kami bercanda.”
“Itu tadi gurauan?”
“Ne. Tidak lucu bukan?”
“Ahahahahah. Itu lucu saat aku tahu kau sedang bergurau. Sungguh.”
Jonghyun oppa menonton rapunzel? Apa reaksi umma jika dia memergoki oppa sedang melakukannya? Ahahahahaha. Mungkin kekasihnya pun akan langsung mencampakannya.
Ahahahhaha.. hhh. Ya Tuhan. Ini kali pertama aku melihat Jinki tersenyum. Aku tak pernah menyangka sudut bibirnya begitu manis saat dia tersenyum.
“Kau selalu tersenyum, maka aku begitu takut saat melihatmu bersungut. Aku tidak mau kau membenciku.”
Ah? Apa ini mengapa jantungku terus berdetak kencang? Kenapa aku begitu gugup? Tidak! Tidak! Ini hanya karena situasi yang sedang canggung.
“Ah! Kita harus turun. Pelajaran selanjutnya akan dimulai.”
“Tunggu.”
Tangan Jinki menahan bahuku agar aku tetap berbaring. Saat dia sadar tubuhku kaku akibat perbuatannya, dia menyingkirkan tangannya dari bahuku. Mengalihkan pandangan matanya lalu menggaruk tengkuknya sendiri. Layaknya Jonghyun oppa saat gugup. Apa dia juga gugup?

“Aku tahu ini sangat aneh tapi, bisakah kita menyelesaikan masalah kita disini? Sebelum kita kembali kekelas?”
“Masalah apa?”
“Hmmm. Masalah.. aku, menyukaimu. Itu..”
Ah tidak. Jantungku semakin kencang berdegup. Apa ini? Aku tidak sedang menyukai Jinki bukan? Setidaknya aku yakin aku tidak suka dengan sikapnya selama ini.
“Kau, sedang tidak memiliki lelaki yang kau incar bukan? Kakakmu Jonghyun pun tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa kau berpacaran. Kau hanya menggunakan namanya untuk menggertak jika ada lelaki yang tidak kau sukai mendekatimu.”
“Hey! Bagaimana kau bisa tahu?”
“Sama seperti aku tahu kakakmu Jonghyun memanggilmu Gwe.”
Oo! Kenapa aku tidak menyadarinya? Tidak ada yang tahu nama kecilku disekolah ini. Kenapa aku tidak langsung menyadari bagaimana bisa Jinki tahu. Jinki memata-mataiku selama ini? Jangan-jangan tiga tahun sekelas dengannya bukanlah kebetulan.
“Aku..”
“Masalah aku tidak pernah memberikan contekan, karena aku ingin menjadi yang terbaik. Sungguh. Aku ingin kau tertarik padaku.”
Jinki tolong jangan membuatku semakin bingung dengan perasaanku.
“Ma..”
“Jika masalah piket kelas kau bisa mengatur jadwalku agar sama dengan jadwalmu. Bagaimana?”
“Bukan itu, hanya saja mengapa kau mengatakannya sekarang?”
“Karena kupikir kita akan mengakhiri masa kita disekolah ini. Aku takut tak dapat lagi bertemu denganmu.”
Jinki kau terlalu memaksa. Kau membuatnya seperti aku mau tak mau harus menerimamu karena kau begitu ingin seperti itu.
Aku mencoba menatap matanya. Mencari kesungguhan didalamnya. Atau seperti itulah yang umma ajarkan padaku. Untuk beberapa detik ini, kupikir matanya tulus. Aku hanya sok tahu saja sebenarnya. Aku tak pandai membaca mata orang lain.
Tapi aku dapat membaca mata yang kini berpindah melihat bibirku. Aku memang belum berpengalaman dalam menjalin hubungan dengan lelaki. But this, sangat jelas kemana arahnya akan-
Dan Jinki menciumku. Lembut, sedikit memaksa. Dan agak aneh saat sesuatu yang hangat dan basah mulai menyapu dibibir bawahmu. Ini pertama kalinya aku melakukan berciuman. Aku memang payah.
Saat nafas Jinki berhembus didekat hidungku, itu mulai membuat isi kepalaku kosong. Aku hanya berkonsentrasi pada apa yang bibir Jinki lakukan pada bibirku. Berkali-kali Jinki menghisap bibirku. Menimbulkan suara yang membuat darahku berdesir kencang.
Bibir kami masih saling menempel. Onew seperti sedang bermain dengan bibirku. Bahkan aku tak tau mengapa lidahnya terus berusaha membuat bibirku terbuka. Terkadang gigi kami bersentuhan. Lidah hangat Jinki mulai menguasai rongga mulutku.
Aku tidak memungkiri bahwa aku mulai terhanyut. Aku cukup menikmatinya. Aku menyukai sensasi yang kurasakan pada hatiku.
“Akkhh Jinki! Ja-mmpp”
Geli. Teramat geli ketika Jinki meremas dadaku. Aku tak peduli lagi pada bibirku. Aku mulai mewaspadai tangan Jinki yang mungkin akan meremas dadaku lagi.
Dan Binggo! Kurasakan tangannya mulai merayap menuju dadaku lagi.
“Jinki jangan!”
“Ssssttt~ kau dengar? ada suara orang dibawah sana. Jadi jangan berteriak jika tidak ingin diketahui.”
Aku hanya mengangguk, sayup-sayup mendengar suara beberapa orang sedang membicarakan sesuatu. Entah bagaimana aku bagai terhipnotis, dan Jinki yang memegang kendali.
“Kau tidak suka aku menyentuh dadamu?”
Jinki berbisik. Aku mengangguk. Tersirat kekhawatiran pada wajahnya.
“Maaf. Aku pervert.”
Apa?
Yang aku terima adalah Jinki membekap mulutku dengan tangannya. Bibirnya kini mulai menciumi leherku. Aku kembali tak berkutik. Bahkan suara nafasnya membuatku gila.
SADARLAH GWEBOON!!! TANGANNYA MULAI MASUK KEDALAM SERAGAMMU!! JINKI AKAN MEMPERKOSAMU!!
Sekuat tenaga aku mencoba untuk mendorong tubuh Jinki. Aku semakin panik saat tangan Jinki mulai menyusup kedalam braku. Aku memang tak bisa mendorong tubuhnya. Tapi aku bisa mengeluarkan jurus andalanku, mencekiknya.
“Ya! Ohhokk! Okhhookk!”
Aku berhasil mencekiknya hingga dia mulai menjauhiku.
DUGHH!
Dan bonus saat kepalanya terbentur palang kayu.
“Aisshh!! Uhhukk!”
Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku pun bangkit dan berusaha untuk duduk. Jinki mulai menjauhiku. Duduk bersandar didekat jendela hingga menutupi cayaha yang masuk.
Jinki mengusap kepalanya yang terbentur dan masih terus terbatuk. Efek dari serangan balasanku. Seharusnya aku senang melihatnya menderita. Tapi aku justru senang karena melihatnya tersenyum disela-sela batuknya. Senyum yang kembali menjeratku. Sial.

“Gomawo Gwe.”
“Apa? Untuk apa?”
“Untuk menyerangku karena bertindak berlebihan padamu.”
“Berlebihan? Kau hampir memperkosaku!!”
“Sssssttt~ pelankan suaramu. Uhhukk. Kau mau orang mendengarmu?”
“Ya! Kau.”
“Ahahaha. Kau bisa mencekikku jika aku mulai berlaku keterlaluan padamu. Tapi kumohon jangan menolakku.”
“Kau pikir aku akan melepaskanmu setelah apa yang kau lakukan padaku? Bodoh! Kau harus tanggung jawab!”
“Dengan senang hati.”

…….

“Hati-hati.”
Jinki sudah bersiap dibawah dan berjaga-jaga jika aku terjatuh. Ini bukan perdana aku menuruni rak buku. Jadi seharusnya dia tidak perlu cemas. Dan lagi, karena aku risih dia melihat celana dalamku dari bawah sana.

Hup!
Sekali lompatan aku mendarat selamat dilantai perpustakaan. Dengan tangan Jinki yang langsung menyambut tanganku. Menggandengnya dan menuntunku keluar dari perpustakaan. Menuju kelas berikutnya.

Sampai, langkah kami tiba-tiba terhenti.

“Ternyata kalian bersembunyi disini?”

Pak Han. Beliau memeriksa lubang dilangit-langit perpustakaan yang menjadi jalan masuk ketempat rahasia kami.

Well, kupikir. Kami harus mencari tempat rahasia lain. Setelah kami menjalani hukuman karena membolos disetengah jam Pak Han tentunya.

_Tamat_

©2012 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 19 Januari 2012, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 24 Komentar.

  1. unyuu…unyuuuuuuuu…kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………..OMO!!!celana dalamnya…wkwwkkwkwkkwkw….jinki pervert*authornya lebih pervert….selalu dan selalu kreatif, dgn ide crt yg slelu fres….SEMANGAT EONN

  2. Jinki!!!!!!! Masya Allah…. edun euy! muahahaha, tapi saya suka manis-manis gimanaaa gituh… itu apa, tempat rahasianya kok???? haduuuh pake acara ketahuan segala pula, sini aja ngumpet dikamarku kan ga bakal ketahuan. kujamin 100% saya jaga😀 …
    Kak, Ghea, SARANGHAE!!!!! hohoho, banyakin jinboon yaaaa, hohohohohoho….
    SEMANGAT BUAT BIKIN NEXT PROJECT…..🙂

  3. wiiihhh,,,,simple….sweet
    emak ttp ya,,,galak!!!
    suka ama SG bwtnnya gegey onnie
    hwaiting onnie!!!

  4. HuaAa. . Apa ini??
    O.O

    30menit yg plg indh bwt OnKey. .
    Ehh, cma oNew dink,, gwe’a mah ga tllu..

    Ngakak,, guling2 paz bgyn clna rapunzel,, ama bAng Jjong yg b’otot tp doyan n0ntn rapunzel..😀

    Romantis’a dpt, hum0r’a jg
    ^^d

    T.O.P dh Eonn__🙂

    btw,, tnyta key jidat’a jenong ya,,
    Q ga ngeh lho ka, c0z q hanya ska liat fto’a sllu pke poNi. Whehehey__😀

  5. hahaha… demi apapun gue doyan si gweboon yang macam ginian!!!

    si jinki! bang lo… pervert! apaaaaa? lagusng cium dan raba dada!! ckckckckckckkc,,,

    mau lagi….*teriak

  6. wow……….pervert……..

    jinki bener gila ma gwee……psona gwee mang tiada duanya
    30 mnit yg mnyenngkn bgi jinki…

  7. annyeong… Baru mampir lg sekarang setelah sekian lama T,T
    ceritanya simple, dan penuturan cerita nya pas sama tujuan cerita yg simple. Keren thor. Keep writing, fighting !

  8. Ah,lama ga bc ff ghege unn^ Pakarnya jinki PERV gwe galak wkkk^

    Mslh JINBOON gheghe unn ga diragukan lg.

    Simple story,..,30 menit yg berharga 10 menit terakhir yg berkesan^^ ah suka jinki perv

  9. Yaaaa jinki pervert,sy sukaaaa aplgi gwe nya nerima2 aja…..hehe
    like this pkokx…..

  10. wah,,,,kocak,,kocakkk
    aq suka banget bagian
    “Ehkhem! Tolong jangan mengumbar pakaian dalammu.”
    Seketika tubuhku membeku. Beberapa detik kemudian aku merasakan udara dingin berhembus menyentuh paha dan bokongku. Yang artinya, jika feelingku benar, rokku tersibak hingga Jinki dapat melihat bokongku.
    TIDAAAKKKKK!!!
    CELANA DALAM RAPUNZELKU!!!
    hhaaaaahhha…lucu bgt sih si jinki!

  11. whahaha….
    30 menit sangat berkesan….
    omo..omo….jinki ngapain tu….
    aq tunggu y ff slsnjut ny yg gak kalah daebak dgn ni. .
    fighting…..

  12. jinki sayanggg kamu diam2 menghanyutkan,ngaku lg kl dia pervert haha dasar
    lucu ceritanya,hahah apalg celana dalam rapunzel aduuh gweboon ckck

  13. eonni…..aku sangat rindu dengan ffmu…
    setelah sekian lama menanti kedatangan ff eon yg kagak kunjung brojol….

    eonni….lanjutkan ff eon yg dulu itu dong….
    ahh…..bogosshippeo

  14. gak kebayang nyempik d’tempat kaya gituan haha
    Untung gak lanjut ke yg ‘iya iya’ kalo gak, udh kena pass nih hehe…
    Haloo, aku readers baru ^^

  15. Please, buat sequelnyaaa donggggggg. Mantep bgt ni ff

  16. Astaga…
    Bagus bgt ff nya..
    Pakai celana dalam rapunzel pula lagi..

  17. annyeong annyeong
    jinki pervert tapi suka wkwk
    gweboon muna woooo😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: