[FF/G/1Shot] PAGE 56

Cast:
Lee Jinki
Kim Gweboon (Key as a girl)
Choi Minho
Lee Taeyeon (Taemin as a girl)

Genre: Romance

Rating: General

Leght: Longshot

FF yang diadaptasi dari sebuah komik. Komik kesayangan, komik yang pernah kutiduri. Baca komik langsung nangis, trus ketiduran, nah komiknya ikut tidur sama gw.

Tolong jangan tagih MGMH. Ahahahhah << *biadab*
Gw janji!! Bakalan tamatin itu hantu gentayangan..

HAPPY READING~ eh salah! SAD READING~

RCL Please~



===================================================

Romantic dinner.
Hanya candle light dinner sederhana yang disuguhkan sang lelaki untuk wanita didepannya. Berdua saja dalam satu meja makan kecil yang dialasi sehelai marun. Hidangan steak dan wine tersedia diramaikan dua buah lilin yang menyala.
Fine. Sang wanita tampak puas. Ternyata benar, mencuri hati wanita tidak perlulah dengan hal yang rumit dan mahal. Cukup dengan menyerangnya dengan hal kecil yang romantis.
Mudah bukan? Terlebih bagi Lee Jinki yang sudah terbiasa melakukan hal-hal romantis untuk wanita.

Drrrtttt~

Mood Jinki seketika berubah. Melihat pada layar selfon siapa yang berusaha menghubunginya sejak siang. Malas untuk menjawabnya, tapi.. sipenelefon ini akan tetap menghubungi Jinki lagi.

Jinki mulai beranjak. “Sebentar saja. Hanya menerima telefon.”
Ijin Jinki hanya dibalas senyum kecil dari sang wanita. Sebenarnya sedikit tidak rela Jinki meninggalkannya. Lagi pula, mengapa tidak menjawab telefon dihadapannya saja?

Muncul prasangka buruk dibenak siwanita. Akhirnya memutuskan untuk diam-diam mengikuti Jinki yang sudah terlebih dulu menuju balkon. Menghentikan langkahnya dan berdiri beberapa langkah dibelakang Jinki untuk menjaga jarak. Tapi cukup untuk mendengar suara percakapan Jinki dengan telefonnya.

“Iya. Aku sedang di Daegu..”

Daegu? Bukankah Jinki dan dirinya kini sedang di apartemen Jinki di SEOUL? Kepada siapa Jinki harus berbohong demikian?
Wanita tinggi berambut hitam legam yang indah tergerai ini melangkahkan kakinya untuk lebih dekat. Mendengar betapa lembutnya Jinki berbicara. Sama persis jika sedang berbicara padanya.
Aku jamin. Tak ada wanita yang tak luluh dengan suara lembut Jinki. Dan Jinki pintar memanfaatkan kelebihannya tersebut.

“Mungkin aku kembali lusa, kau tidak usah menyusulku.”

Wanita itu kini dapat dengan jelas mendengar suara wanita lain dari telefon Jinki. Bukan ibu Jinki pastinya. Karena Jinki sudah kehilangan ibunya sejak kecil.

“Selamat malam, kau tidurlah yang nyenyak..”

Mesra sekali. Terlalu mesra untuk seorang ‘teman’. Wanita itu sudah tak tahan, mengepalkan kedua tangannya. Begitu yakin Jinki sedang menduakannya. Sebenarnya gosip Jinki seorang playboy bukanlah rahasia dan bukan tak pernah didengarnya. Hanya saja, Jinki begitu pintar mencuri hatinya setiap hari. Membuatnya buta.

“Siapa?”

Jinki tesentak mendengar suara wanita yang baru dua hari menjadi kekasihnya. Membalikan tubuhnya dan mencoba untuk bersikap tenang. Tersenyum seperti sewajarnya. Ini sudah biasa bagi Jinki.

“Siapa wanita itu?”
“Bukan siapa-siapa. Sungguh.”

*********

Kreeuukk~

Seorang lelaki jangkung baru saja masuk kedalam apartemen yang ia bagi dengan sepupunya. Baru satu langkah, dan dia sudah menginjak pecahan piring didekat pintu. Menggeleng-gelengkan kepalanya seraya masuk kedalam apartemen.
Oh tidak. Batin Minho. Itu karena dia baru saja melihat apartemennya, yang juga apartemen Jinki, bagaikan baru saja diserang badai. Hampir seluruh barang berada dilantai. Sebagian pecah, sebagian selamat.

“JINKI HYUNGG!!”

Menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Menendang barangnya yang sudah menjadi rongsokan untuk tidak menghalangi jalannya menuju kamar Jinki. Mencari penjelasan atas apa yang baru saja Minho lihat.

“Ada apa Minho? Pagi sekali kau pulang.”
Tidak perlu repot mencarinya kekamar. Jinki sudah keluar dari kamarnya dengan handuk dikepalanya. Berjalan santai menuju dapur seolah jalannya tidak terganggu oleh pecahan barang. Membuka lemari es dan mengambil sekotak susu.
“Jadi karena ini kau menyuruhku menginap dirumah Jjong hyung? Untuk menghancurkan apartemen kita?”
“Sudahlah, masih untung Seohyun tidak membunuhku.”
“APA?? Jadi dia sudah tahu kau hanya mempermainkannya? Baguslah.”
“YA! Choi Minho!!”
Berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Jinki. Tersenyum lega ketika menemukan kamarnya masih dalam keadaan seperti seharusnya. Rapih, dan segar.

Jinki mulai membersihkan kekacauan yang Seohyun akibatkan. Wanita itu, memiliki trempamental yang cukup tinggi. Melempar apapun yang dia temukan kearah Jinki semalam. Saat Jinki dengan santainya mengakui kalau Seohyun bukan satu-satunya wanita yang Jinki kencani. Well, it always end so bad.
Jinki mengambil vakum cleaner, mulai menyalakannya, dan mengarahkannya pada sofa. Pecahan barang yang kecil mulai terhisap. Dan barang yang cukup besar Jinki singkirkan dengan menendangnya.
“Selesai!”
Melapor pada diri sendiri. berkaca pinggang memandangi sofa putih kesayangannya sudah bersih dan tampak nyaman untuk berbaring.

Sementara itu Minho keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa map berisi arsip-arsip pekerjaannya. Dan kepalanya kembali pusing saat melihat kekacauan yang dia belum terbiasa melihatnya. Juga tak habis pikir saat melihat Jinki dengan santainya duduk disofa dan menonton televisi. Bahkan ada saus yang menghiasi layar televisi.
“Hyung. Aku hanya mengambil ini. Apa kau mau pergi bersamaku? Atau menyetir sendiri?”
“Kau pergilah lebih dulu.”
Baiklah. Maka Minho pun meninggalkan apartemennya dengan Jinki didalamnya.

Sudah lebih dari lima tahun Minho menemani Jinki, tinggal berbagi apartemen dan bekerja ditempat yang sama. Di perusahaan pamannya atau perusahaan ayah Jinki.
Minho tahu betul siapa Jinki. Lelaki yang selalu mengeluh bosan dengan hidupnya. Hingga akhirnya menemukan suatu kesenangan dengan bermain wanita. Jinki kaya, dia cukup dikenal, dan cerdas. Juga perayu yang ulung. Tak ada yang bisa Minho lakukan untuk menghentikannya. Setidaknya karena Jinki masih mau bertanggung jawab dengan pekerjaannya dikantor.

…..

“Whoaamm~”
Menguap. Bosan. Menyetir saja sudah membuat Jinki bosan. Memperhatikan lampu merah menunggu lampu hijau menyala dan orang yang menyeberang didepan mobilnya.
Dia berfikir, untuk mencari wanita lain sebagai pengganti Seohyun, atau hidupnya akan kembali suram. Begitulah menurutnya. Sebaikanya mencari yang tidak tempramen agar apartemennya tidak hancur.

Cckkiitt~

Sebuah mobil berhenti tepat disamping mobil Jinki. Udara yang cerah dan tidak terlalu panas membuat pemilik mobil tersebut membuka jendela mobilnya. Dan TADAAA!! Dia wanita yang cukup cantik. Seketika membuat semangat Jinki berapi-api. Next target, pikir Jinki.

Dia menoleh pada Jinki yang juga membuka jendela mobilnya. Tersenyum pada Jinki yang sudah tersenyum sejak pertama menemukan wanita ini. Make up natural yang menghiasi wajah gadis berambut pirang menambah aura glamour senyum wanita tersebut. Hey! Jinki semakin on fire!

Tak berselang lama, Jinki kehilangan gadis itu. Dia tidak menyadari bahwa sudah giliran lampu hijau untuk menyala. Dan gadis itu mendahului Jinki memacu kendaraannya.

Tak mau kehilangan gadis cantik dipagi hari. Setidaknya tak mau kehilangan gadis yang sudah menaikan mood Jinki.

Jinki memacu mobilnya lebih kencang. Hingga akhirnya dapat berdampingan dengan mobil silver wanita berambut pirang tadi. Mengendalikan setir mobil sambil terus memandangi wanita yang berada didalam mobil sebelahnya. Menembakan senyum menggoda pada gadis tersebut sambil pamer kemampuan mengemudinya.

Gadis berambut pirang tersebut hanya tersenyum menanggapi rayuan Jinki. Dia tetap fokus pada jalanan. Dia menoleh pada Jinki, hanya untuk mengecek apa Jinki masih menatapnya sambil menyetir. Dan Jinki masih.

Sambil mengembangkan senyumnya, telunjuk gadis itu menunjuk jalan didepan Jinki. Mengisyaratkan bahwa ada sesuatu didepan Jinki.
Jinki tak mengerti, hingga akhirnya gadis itu melambaikan tangannya dan melaju lebih kencang. Jinki meluruskan pandangannya kedepan. Membelalakan matanya saat didepannya ada sebuah mobil yang sedang menepi. Si pemilik mobil sudah berlari keluar saat melihat mobil Jinki menuju kearahnya dengan cukup kencang.

Jinki tak dapat menghindar untuk menjauhkan mobilnya,

BANGGG!!

Terjadilah kecelakaan dipagi hari.

*********

“Kau terlambat hyung!”

Minho memberikan sebuah map kepada Jinki yang memegangi keningnya. Langkah dua lelaki ini tergesa karena ada rapat yang harus segera mereka hadiri.

“Apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa hyung?”
Minho mulai khawatir pada kakak sepupunya yang tampak kesakitan pada bagian lehernya. Berkali-kali Jinki mengusap-usap belakang lehernya dan mengerang kecil.

“Aku tidak apa-apa. Hanya baru saja menabrak mobil seseorang.”

Minho mengerutkan keningnya. Langkahnya semakin melambat seiring mencerna apa yang baru saja dikatakan Jinki. Langkah Minho terhenti saat dia mengerti kalau Jinki baru saja mengalami kecelakaan.

“YA! Kau kenapa kau tidak kerumah sakit untuk memeriksakan keadaanmu hyung!”

“Kita ada rapat hari ini! Cepat Minho ya!!!”

Jinki sudah jauh didepan Minho. Meninggalkan lelaki bermata bulat tersebut berkutat dalam pikiran ‘tak habis pikirnya’.

**********

Hujan.
Cukup deras.

Seorang gadis duduk dihalte seorang diri. Bosan. Sehingga dia memutuskan untuk berdiri dan berjalan hingga ujung trotoar menggunakan payungnya. Hanya untuk mengecek dengan mata kepalanya sendiri apa Bis yang dia tunggu sudah akan tiba.

Namun..

SPLAASSS~~

Sebuah mobil sedan melaju kencang dan mencipratkan banyaaakk air dari genangan didepannya.

“YAAA!!! BERHENTI!!”

Gadis yang basah kuyup ini kesal setengah mati. Reflek melemparkan kaleng soda yang ia temui dijalan.

Beruntungnya, lemparan gadis tersebut tepat mengenai kaca belakang mobil yang baru saja membuatnya basah kuyup.

Mungkin tak terima, mobil tersebut berhenti dan memundurkan lajunya. Gadis tersebut cukup panik. Tak menyangka bahwa mobil tersebut akan menghampirinya.

Jinki membuka kaca jendela mobil yang ditumpanginya. Rapat yang sedikit bermasalah dan Minho yang terus berceloteh untuk mengajaknya kerumah sakit, membuatnya sakit kepala berlebih. Kini dia ingin sekali memarahi orang yang baru saja melempar mobil yang ditumpanginya dengan kaleng soda.

Dibukanya jendela mobil dengan tidak sabaran. Sedikit demi sedikit Jinki dapat melihat baju biru langit tersangkanya. Semakin kaca jendela terbuka lebar semakin Jinki dapat melihat wajah sipelempar kaleng soda.

Jinki terdiam. Menatap mata orang yang baru saja akan diceramahinya. Dibawah guyuran hujan lebat, seorang gadis berlindung pada payungnya dan seakan siap untuk mendapat cacian dari Jinki.

Gadis itu lagi-lagi beruntung. Jinki bahkan tak berkutik. Tak juga bisa mengeluarkan senyumannya.
Aura gadis itu, tak pernah Jinki temui dimanapun. Sexy, walau hanya mengenakan kemeja dan celana jeans. Disaat yang bersamaan dia begitu cantik, dan terlihat rapuh.

“Kau, mau kemana? Aku bisa mengantarmu.”

…..

“Terima kasih sudah mau memberikanku tumpangan.”

Tersenyum sangat manis sambil melipat payungnya. Kemudian dia sibuk membenahi dirinya. Membersihkan beberapa kotoran yang menempel pada pakaiannya yang basah, juga rambutnya.

“Kau akan pergi kemana?”
“Rumah sakit.”
“Ah! Tujuan kita sama. Kebetulan sekali.”

Mata Jinki tak pernah lepas memandangi gadis yang ada duduk disampingnya. Jinki terus tersenyum. Bukan senyuman yang biasa ia gunakan untuk merayu banyak wanita. Tapi sebuah senyum yang muncul dengan sendirinya tanpa diperintah.

Mendadak apapun yang gadis itu lakukan sangatlah terlihat menarik bagi Jinki. Saat gadis itu sibuk mengaduk isi tasnya dan mengeluarkan selfon tua yang hampir basah. Saat gadis itu membetulkan posisi duduknya karena tidak nyaman tubuh basahnya ikut membasahi jok mobil Minho. Ya, mobil milik Minho. Dan sipemilik justru ditinggalkan sendirian mengemudi di jok depan.

“Maaf, aku membasahi jok mobilmu.”
“Tidak apa-apa. Justru aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu basah. Siapa namamu?”
“Kim Gweboon.”
“Aku..”

Ucapan perkenalan Jinki terputus saat tiba-tiba Gweboon hanya fokus dengan selfonnya yang berkelap-kelip.

“Hallo, apa? Suster Shin sudah datang? Bagaimana ini.. Aku segera sampai, kau tolong atasi suster kepala Shin untukku.”

Wajah Gweboon tak dapat menyembunyikan kecemasannya. Gadis itu berulang kali menggigit kukunya. Terlihat menggemaskan bagi Jinki.

Wajah Gweboon sedikit berlega, saat mobil Minho sudah memasuki gerbang rumah sakit. Dia sudah bersiap untuk turun. Jinki takut dia tidak akan bertemu lagi dengan gadis sederhana ini.

“Apa aku bisa mengajakmu makan malam sebagai permintaan maafku? Gweboon ssi?”
“Ah! Disini saja. Tolong turunkan aku disini saja.”

Menepuk bahu Minho yang lalu diiyakan oleh lelaki jangkung ini dengan menepikan mobilnya.

“Terima kasih sudah memberiku tumpangan.”

Menunduk pada Minho dan Jinki lalu membuka pintu mobil. Berlari terbirit diguyur gerimis. Melupakan payungnya yang tertinggal di mobil dan, selfonnya.

“Ahahahaha. Hyung. Ternyata ada juga gadis yang tak mempan kau rayu.”
Minho menggoda hyungnya yang terbengong melihat kepergian Gweboon. Jinki bahkan belum sempat memperkenalkan dirinya. Ini kejadian langka bagi seorang Lee Jinki dan Minho puas akan itu.

Jinki tak terlalu kecewa. Itu karena Jinki menemukan alasan untuk bertemu gadis itu lagi. Modus mengembalikan selfon Kim Gweboon.

Bip!

Bagus. Baterai selfonnya habis.

……

Berkali-kali Jinki mencari daftar nama suster yang bernama Kim Gweboon. Seorang suster didepannya sudah agak kesal karena Jinki tidak percaya bahwa tak ada suster yang bernama Kim Gweboon, dan lebih memilih untuk mencari sendiri daftar nama suster dirumah sakit ini.

Nihil. Apa gadis itu berbohong mengenai namanya?

“Tuan Lee. Tolong segera ikut kami.”

Seorang suster lainnya. Bukan Gweboon yang diharapkannya. Menunjukan jalan pada Jinki tempat dimana seharusnya Jinki berada. Jinki pasien yang melarikan diri saat akan diantar menuju kamar rawatnya. Dan ditemukan dibagian informasi rumah sakit.

“Maaf suster. Aku hanya penasaran pada suatu hal.”

Kembali menunjukan senyum mautnya. Berjalan mengikuti suster yang terlihat cukup lelah. Mungkin segala penjuru rumah sakit sudah ia periksa untuk menemukan pasien nakal yang tampan ini.

“Kau harus istirahat sebelum melakukan scan tubuh besok pagi. Tuan Lee.”
“Hanya menginap satu hari saja bukan?”
“Ya.”

Lelaki sipit ini. Tidak terlalu suka rumah sakit.
Dilain sisi. Dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Walau ada Minho, tapi Jinki tak dapat tenang.

….

“Kenapa kau terus tersenyum eonni?”
“Kenapa Taeyeon? Tidak boleh kah?”

Seseorang mencium bau ada yang tidak beres. Jika melihat Gweboon terkekeh sendiri pasti ada hal yang baru saja membuatnya geli. Hal yang akan membuat gadis yang selalu menemaninya ini kerepotan.

Taeyeon memicingkan matanya. Mengintimidasi Gweboon agar cepat mengatakan apa yang baru saja Gweboon lakukan sampai begitu senang.

“Ok. Ok. Aku hanya menyampaikan surat cinta pada dokter Shojin.”
“Apa kau gila? Jangan katakan kau memakai nama suster kepala.”
“Hihi. Aku hanya membantu menyampaikan perasaan suster kepala yang terpendam.”

Tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Gadis yang sudah menjadi sahabat Gweboon selama bertahun-tahun tersebut dibuat menganga.

“Kau tahu eonni? Kulihat suster kapala Shin begitu marah dan mencarimu kemana-mana.”
“Kenapa kau tidak bilang sedari tadi? Aiisshhh!!”

Sebelum melakukan hal ini, Gweboon sadar betul apa akibatnya. Ternyata saat dia akan menerima amukan dari suster Han. Dia belum siap. Melompat dari kasurnya. Menarik Taeyeon dan membaringkan paksa sahabatnya tersebut. Tak lupa menutupi tubuh Taeyeon dengan selimut.

“Kau mau kemana eonni?”
“Berlindung untuk sementara. Kau gantikan aku. Jika bisa tolong buat suster Shin tidak marah lagi.”

Membuka pintu rawat kamarnya, hanya mengeluarkan kepalanya dan menengok kesetiap koridor. Sejauh ini aman. Belum ada tanda-tanda kedatangan suster Shin. Maka Gweboon memulai langkah seribu meninggalkan kamarnya.

“Ya! Eonni! Jangan terlalu lelah berlari!”

Peringatan Taeyeon tidak terdengar. Selain sudah cukup jauh dari kamar rawatnya, yang Gweboon pikirkan hanyalah mencari dimana tempat bersembunyi yang aman.

Gweboon sudah cukup jauh dari kamarnya. Beberapa suster sudah menyuruhnya untuk kembali kekamar. Tapi tak didengar Gweboon. Suster-suster pun sudah hafal betul tingkah Gweboon. Pada akhirnya mereka hanya akan menggelengkan kepala mereka.

Sebuah kamar dengan pintu yang tidak tertutup rapat. Bagai melambai mengundang Gweboon untuk masuk dan seakan menjanjikan sebuah tempat yang aman untuk bersembunyi. Di kamar itulah Gweboon mengamankan diri dari suster Shin.

Menutup pintu kamar rapat-rapat. Menemukan sebuah kasur tak berpenghuni, lalu bersembunyi dibalik selimut. Berbaring. Seolah dialah pasien kamar ini.

Masalahnya, seorang yang sebelumnya tidur dikasur yang sekarang ditiduri Gweboon sudah kembali dari kamar mandi. Dia dikejutkan dengan sesuatu yang membuat kasurnya tampak menggelembung. Apa yang ada dibalik selimut? Atau, siapa yang berada dibalik selimut?

Jinki mendekati kasur yang seharusnya ia tempati. Mengendap-endap untuk menangkap basah siapa yang sudah berani masuk kedalam kamarnya. Ujung selimut sudah Jinki genggam kuat. Dalam hitungan ketiga, dia akan membuka selimutnya.

Satu,
Dua,
Tiga!

Gweboon tersentak saat tak ada lagi selimut yang menjadi tempat sembunyinya. Jinki lebih terkejut, tapi sedikit senang. Matanya menelusuri pakaian Gweboon yang sama dengan yang Jinki pakai.

“Ternyata kau pasien disini? Kukira kau seorang suster. Aku sudah mencarimu kemana-mana.”
“Sssttttt!!!”

Telunjuk Gweboon menekan bibir Jinki. Matanya mewaspadai pintu kamar. Gweboon berkonsentrasi, dia yakin dia baru saja mendengar suara suster Shin. Jinki ikut terdiam, bahkan tak bergerak.

Tak ada suara suster Shin lagi.

“Oiya. Tadi kau bilang mencariku? Ada perlu apa?”

Gweboon mulai beranjak dari kasur. Duduk ditepi kasur, namun matanya masih tak lepas dari pintu.

“Aku mau mengembalikan selfonmu.”
“Benarkah? Kukira sudah hilang. Mana selfonku?”

Menadahkan tangannya pada Jinki. Meminta selfonnya dikembalikan. Tapi Jinki menyadari satu hal. Jika dia mengembalikannya sekarang, maka dia tidak akan punya alasan untuk bertemu Gweboon lagi.

“Hilang. Maaf, sepertinya aku menghilangkannya saat mencarimu.”
“Apa?”
“Tenang saja, akan kubelikan yang baru.”

Kaki Gweboon berayun-ayun lemas. Kekecewaan jelas tersirat pada wajahnya.
“Tidak apa-apa. Lagipula itu selfon tua.”
Sebenarnya, itu selfon satu-satunya milik Gweboon. Tapi Gweboon bukanlah orang yang senang memanfaatkan kebaikan orang lain.

“Tapi kau membutuhkan selfon. Dan aku yang sudah menghilangkannya. Ayolah, aku akan sangat merasa bersalah jika kau menolak.”

Jinki meremas kuat selfon Gweboon yang ada pada saku celananya. Sambil berdoa semoga gadis dihadapannya menyetujui idenya.

“Baiklah.”
“Ok. Lusa kita pergi.”

Tak pernah dirasakan sebelumnya oleh Jinki, parasaan yang meletup-letup ketika Gweboon mengangguk. Jinki mulai menyukai apa yang dirasakannya akhir-akhir ini. Dan semuanya berhubungan dengan Gweboon.

********

Hmmmm..
Jika Gweboon termasuk dalam kategori ‘gadis kebanyakan’ mungkin saat ini dia akan merasa tidak nyaman. Hampir semua pasang mata tertuju padanya. Bukan pandangan yang bagus ataupun jelek. Hanya, tidak lazim saja.

Dengan rambut yang diikat sekenanya. Membiarkan beberapa helai tergerai begitu saja. Berlaku santai layaknya pembeli sewajarnya. Melihat-lihat selfon yang ditawarkan. Meskipun dengan pakaian rumah sakit lengkap dengan sandal hotel.

“Ada yang kau suka?”

Tanya Jinki. Lelaki ini pun tampaknya tidak keberatan harus ikut terciprat pandangan orang-orang sekitar.
Benar apa kata orang tua. Saat kau jatuh cinta segalanya tampak indah. Dan bagi Jinki saat ini, Gweboon sangat cantik dengan balutan biru muda pakaian pasien.

“Tak ada yang sama persis seperti selfonku dulu. Hmmm~”
Mengetuk-ngetuk dagunya sendiri menggunakan telunjuk yang ramping. Mengerucutkan bibirnya seraya mengedarkan matanya pada model-model sefon yang baru. Sedikit pun tidak melirik model selfon lama.

Jinki hanya terkekeh. Mudah sekali membaca pikiran Gweboon. Jelas ia begitu menginginkan selfon baru merah muda. Tapi tak sanggup untuk meminta pada Jinki.

“Yang ini saja.”
Menyodorkan selfon merah muda pada pelayan toko. Berikut memberikan kartu kredit miliknya. Jinki hanya menyeringai melihat ekspresi Gweboon yang antara ‘senang’ dan ‘ingin menolak tapi tak mau’.

“Tapi..”
“Aku lapar. Jangan mengbuang waktuku hanya untuk memilih selfon.”

…..

Gadis yang tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
Bahkan menggubris pertanyaan Jinki mengenai makanan yang ingin dia pesan. Terlalu sibuk dengan fitur-fitur baru selfonnya.

“Kau suka steak?.”

Sebenarnya ingin marah karena berulang kali perkataan Jinki seakan tidak masuk ketelinga Gweboon. Tapi lelaki itu terhipnotis dengan kepolosan Gweboon dengan mainan barunya. Sabarlah sedikit Jinki~

“Ah! Apa yang terjadi pada selfonku? Kenapa jadi begini?”

Menyerahkan selfonnya pada Jinki. Tiba-tiba saja Jinki terlihat dimata Gweboon disaat seperti ini. Dengan santainya Jinki memutuskan aplikasi internet pada selfon Gweboon. Dan selagi mendapatkan kesempatan, diam-diam Jinki menghubungi selfonnya sendiri menggunakan selfon Gweboon.
Akhirnya Jinki mendapatkan nomor Gweboon.

“Ini hanya aplikasi internet. Kau tidak tahu?”

Dimana harga dirimu jika kau ketahuan gagap tehnologi?
Kau akan berbohong untuk tak tampak bodoh bukan? Itulah yang ada dibenak Gweboon saat ini.

“Aku tahu! Aku hanya lupa. Berikan selfonku.”

Gweboon mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Jinki yang duduk dihadapannya. Berharap agar tangannya dapat sampai untuk mengambil selfon barunya dari tangan Jinki. Tapi yang Gweboon tangkap hanya udara. Jinki lebih cepat menjauhkan selfon merah muda tersebut dari jangkauan tangan Gweboon.

“Pesanlah dulu makanan. Baru kukembalikan sel-fon-mu.”

Menekankan kata selfon. Agar Gweboon ingat siapa yang sudah berjasa membelikannya sefon baru. Tapi bukankah itu salah Jinki yang menghilangkan selfon?
Ah! Bukan. Tapi salah Gweboon yang ceroboh hingga meninggalkan selfon satu-satunya dimobil Minho. Ini bukan saat yang tepat bagi Gweboon untuk menyerang.

“Baiklah, samakan saja pesananku dengan makanan yang kau pesan.”

Masih mencoba untuk menggapai selfon yang Jinki angkat tinggi-tinggi. Dan masih saja gagal.

“Kau suka steak?”

Tawar Jinki yang masih mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Gweboon tak lagi berusaha mengambil selfonnya, dia lebih tertarik pada kata yang asing baginya.

“Apa? Steak? Steak apa?”

Oh no. Jangan katakan ini pertama kalinya Gweboon mendengar kata ‘steak’. Jinki berusaha keras menahan tawa. Tak menyangka bahwa selain gagap teknologi, gadis pujaannya juga hidup di goa.

“Kau tidak tahu steak?”

…..

“Whoaa! Ini enak sekali.”

Menusukan potongan daging yang sebelumnya dipotong kecil oleh Jinki, lalu melahapnya dengan semangat.

Jinki tak bernafsu untuk makan. Bukan karena tidak lapar, tapi ia lebih suka untuk mengawasi seorang gadis yang makan dengan mata berbinar-binar. Menopangkan dagunya pada kepalan tangannya sendiri. Matanya tak lepas untuk menyaksikan setiap gerak-gerik Gweboon

Sungguh menarik. Banyak hal yang sepertinya Gweboon belum mengetahuinya. Juga banyak hal yang Jinki belum ketahui dari Gweboon.

“Jadi, kau bahkan tidak pernah ke mall?”

Menganggukan kepalanya sambil mengunyah. Menelan semua makanannya sebelum akhirnya Gweboon membuka mulutnya.

“Aku bahkan tidak lulus SMA. Aku selalu sial, setiap kali waktu ujian, aku terbaring di rumah sakit.”

Tak ada nada yang terdengar sedih dari mulut Gweboon saat dia menceritakan kehidupannya pada Jinki. Dia menceritakan hidup yang banyak ia habiskan dirumah sakit seolah biasa saja.

Hanya memiliki seorang teman, itu pun dia dapatkan saat bersama-sama dirawat dirumah sakit. Teman yang kini sudah sehat, dan kembali kekehidupan normalnya. Teman yang tak pernah abstain untuk menjenguknya. Bahkan rela bertukar pakaian agar Gweboon dapat kabur dari rumah sakit untuk beberapa jam. Dan berpura-pura tertidur di kasur Gweboon, sebagai Gweboon. Lee Taeyeon.

Gadis yang tak mempunyai tempat tinggal. Dan hidup sebatang kara. Oleh sebab itu, Gweboon akan memaksakan diri untuk sekedar menghabiskan waktunya dimakam kedua orang tuanya. Hidup dari asuransi yang akan membiayai kehidupannya selama dirumah sakit.

Lalu kekasih?

“Aku bertaruh kau tidak pernah berkencan sewaktu SMA.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Mau mencobanya? Besok siang?”

******

Pantulan gambar dari cermin kamar mandi umum membuat Gweboon tertegun. Berkali-kali gadis ini membenahi penampilannya yang memakai seragam SMA yang diberikan Jinki. Dia sendiri tak mempercayai bahwa dirinya masih pantas mengenakan seragam yang ia tinggalkan tiga tahun yang lalu.

Gweboon menghela nafasa sebelum berjalan keluar dari toilet umum sebuah mall. Menemui Jinki yang menunggu didepan toilet umum, juga mengenakan seragam SMAnya.

Ide yang gila. Gweboon hanya mengira Jinki akan mengajaknya berkencan di mall. Tidak dengan seragam SMA yang dikenakannya saat ini.

“Aku siap!”

Setengah melompat dihadapan Jinki. Rencananya mengagetkan Jinki berhasil. Lelaki yang juga masih pantas mengenakan seragam SMA ini tersentak dan hampir menjatuhkan selfonnya.

“Sudah siap untuk bioskop?”

Tanya Jinki dengan mengibas-ngibaskan tiket bioskop didepan wajah Gweboon. Tangan Gweboon dengan cepat merampas tiket dari Jinki. Melihat potongan kertas tersebut dengan teliti.

“Jadi seperti ini bentuk tiket bioskop?”

Tertarikkah dengan hal kecil seperti ‘tiket bioskop’? ekspresi polos Gweboon membuat Jinki ingin membawa gadis ini keseluruh dunia. Mengenalkan satu persatu padanya apa saja yang ada didunia ini.

“Bagaimana jika sebelum menonton kita membeli pernak-pernik terlebih dahulu?”

Menarik lengan Gweboon untuk mengikutinya. Berjalan bergandengan tangan, menyempurnakan skenario mereka sebagai sepasang kekasih yang sedang berkencan.

“Jangan terlalu lama. Taeyeon menungguku.”

Disaat seperti ini, Gweboon bahkan tak dapat melupakan Taeyeon yang sedang menggantikan posisinya dirumah sakit. Gweboon pergi untuk bersenang-senang, bukan untuk pergi kemakam orang tuanya seperti biasa. Itulah yang menyebabkannya tidak nyaman meninggalkan Taeyeon.

“Baiklah. Lagi pula, aku ada janji dengan dokter Shojin.”

Keduanya berjalan seirama. Dengan Jinki yang menggenggam erat tangan Gweboon. Menuntunnya. Gadis ini, tak dapat berjalan dengan benar. Matanya terus beredar keseluruh sudut mall.

…..

“Haaaaahhhh~”
Membentangkan kedua tangannya saat menapak dipintu keluar bioskop. Melepaskan rasa pegal yang didapat akibat lebih dari 2 jam duduk menonton film. Kemudian tersenyum pada Jinki. Nice movie. Pilihan tepat mengajak ‘sipemula’ Gweboon untuk menonton film fiksi yang memanjakan mata.

“Hei Jinki! Bagaimana jika kita membelikan sesuatu untuk Taeyeon?”
“Asal kau memanggilku oppa.”

Gweboon memicingkan matanya, menatap mata Jinki yang hari ini banyak sekali memberinya syarat. But it’s okay. Lagi pula mereka hanya berpura-pura sebagai pasangan kekasih bukan?

“Oppa~”
Merengek dan memasang wajah imutnya. Mengerucutkan bibirnya sambil menggoyang-goyangkan lengan Jinki.

“Ahahahhah. Kau boleh membeli apapun yang kau mau.”

Chu~

Mencuri cium dari Gweboon yang seketika membelalakan matanya. Walau hanya kecupan di pipi. Tapi ini pertama kalinya Gweboon mendapatkan kecupan dari seorang lelaki.

FIRST KISS?

Perlahan wajah Gweboon mulai memperlihatkan kekesalannya. Jinki yang sadar akan hal itu, sudah berlari menghindari amukan Gweboon.

“Ya! Jinki! Kau!!”

Mulai melangkahkan kakinya untuk berlari. Pandangannya fokus pada punggung Jinki yang terkadang menghilang dikerumunan orang-orang.

“Hosh~”

Sesak. Ada sesuatu yang menekan dada Gweboon. Membuatnya mulai sulit bernafas. Aliran darah menuju kepalanya seakan ikut terhambat. Pusing. Merasa sekujur tubuhnya mulai mendingin.

Gweboon menghentikan langkahnya. Tiba-tiba semua yang terlihat olehnya berputar, dan bising.
Tubuhnya semakin lemas. Dilihatnya Jinki yang berlari kearahnya. Jinki seperti berteriak, tapi tak terdengar suara apapun. Atau seperti itulah yang dirasakan gadis yang kian pucat.

“GWEBOON!!”

Bruughhh!

********

Mereka, yang mengenakan pakaian serba putih. Tergesa, membawa Gweboon yang sudah berbaring keruang ICU. Masker yang terpasang untuk membantu Gweboon bernafas membuat Jinki semakin takut.

Rasa bersalahnya semakin timbul. Semakin takut hal buruk menimpa pada Gweboon. Dia hanya dapat berdiri memandangi Gweboon yang semakin jauh menuju ICU.

“Tuan Lee?”

Mengabaikan panggilan dokter Shojin yang berada tepat dibelakangnya. Bukan mengabaikan, tapi pikirannya sedang tertutup. Menutup diri dari hayalannya atas kemungkinan buruk yang terjadi.

“Tuan Lee.”

Kali ini dokter Shojin menepuk bahu Jinki. Lelaki yang pikirannya sempat kosong ini tersadar kembali. Membalikan tubuhnya untuk berhadapan dengan dokternya.

“Anda tidak menyangka keadaannya seburuk itu bukan?”

Pertanyaan dokter Shojin membawa Jinki kembali pada rasa bersalahnya. Ekspresinya semakin suram. Kerutan dikeningnya belum juga hilang.

“Aku. Aku minta maaf karena sudah membawanya pergi. Aku..”
“Bisa ikut saya? Ada hal penting yang harus bicarakan.”

….

Melalui kaca pintu, Jinki memperhatikan senyum Gweboon yang sudah kembali. Melihatnya ditemani oleh seorang gadis lainnya, maka ia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar Gweboon.

Cukup melihatnya dari balik pintu. Pandangan Jinki kembali menerawang. Suatu hal terus difikirkannya. Percakapannya dengan dokter Shojin kembali terngiang dikepalanya.

-“Separah itu kah?”-
-“Tidak akan kuat untuk bertahan lebih lama.”-

Entah mengapa percakapan tersebut membuatnya kehilangan semangat hidup. Semua yang ia rencanakan untuk masa depannya, tentunya bersama Gweboon, seketika menguap begitu saja.

-“Kami turut menyesal, tuan Lee.”-

Tak dapat mengembalikan konsentrasinya. Arah matanya tertuju pada Gweboon, tapi fikirannya masih berada diruang dokter Shojin. Bahkan tak menyadari Gweboon yang melambaikan tangannya dari dalam kamar. Memanggil Jinki untuk masuk.

Jinki. Mulai detik ini ia bukanlah Lee Jinki yang dulu. Melangkahkan kakinya jontai, lantai koridor menjadi arah matanya yang kosong. Pergi meninggalkan rumah sakit ini.

Senyum itu, yang semula mengembang dihadapan Taeyeon, kini menghilang. Melihat Jinki pergi begitu saja, Gweboon kembali dihatui rasa sakit hati.

“Sudahlah eonni. Lebih baik kau istirahat. Kau baru saja kembali dari ICU.”

Taeyeon mengerti betul apa yang dipikirkan Gweboon saat ini. Senyum Taeyeon tak pernah hilang, ia mulai menenangkan Gweboon. Membetulkan posisi kain tebal yang menyelimuti tubuh sahabatnya yang tampak murung.

“Kau lihat tadi Taeyeon? Aku yakin, besok dia akan kembali dengan rasa ibanya.”
“Eonni! Jangan bicara seperti itu.”
“Jinki pasti sudah mengetahui masalah penyakitku. Pada akhirnya, semua orang akan tersenyum padaku karena merasa kasihan.”

Taeyeon bersikap seolah tak mendengar Gweboon. Dia tetap tersenyum, menurunkan ketinggian kasur agar Gweboon dapat berbaring.

“Bisa tinggalkan aku sendiri?”
“Tapi..”

Gweboon sudah memejamkan matanya. Ditangannya sudah terdapat sebuah buku yang tak pernah ia tinggalkan. Buku yang selalu ia peluk saat tidur.
Jika sudah seperti ini. Taeyeon terpaksa pergi dari kamar Gweboon. Dia akan menghabiskan waktu di kantin, atau ruang tunggu. Karena yakin Gweboon pasti masih membutuhkannya.

Dari suara pintu, Gweboon dapat tahu jika Taeyeon sudah pergi. Seiring dengan membuka matanya, air mata yang sedari tadi ditahannya berjatuhan, beberapa tetes membasahi buku novel tua yang dipeluknya. Buku yang selalu membawa imajinasi padanya. Buku satu-satunya peninggalan ibunya.

Air mata itu, kian deras. Dia menyesali awal petualangannya. Kembali teringat akan gambaran yang ia dapatkan dari bukunya, sepasang kekasih yang memulai cintanya dengan berkencan.

Gweboon merenggut dadanya, sakit. Dia memang baru saja mendapatkan kencan pertamanya. Dan harus ia relakan untuk berakhir sampai disini. Juga merelakan perasaannya yang mulai tumbuh untuk Jinki.

*******

Suasana yang sepi lumrah ditemui jika sebuah tempat hanya ditinggali oleh dua penghuni.
Suara kepikan tombol dari stick game, dan riuh penonton sepak bola dari layar televisi mendominasi ruang tengah. Sedangkan di dapur, hanya tiga meter dari ruang tengah, seseorang sedang berdiri memandangi semua bahan untuk makan malam.

“Minho ya.”

“Ne hyung?”

Menjawab meski mata tak lepas dari layar, tertuju pada satu bola yang diperebutkan pemain-pemainnya. Dan yang memanggil berkaca pinggang memandangi adik sepupunya yang bagai tak rela meski harus kalah disebuah game.

“Minho ya. Cepat bantu aku.”

“Sebentar.”

Raut wajahnya semakin serius. Gerakan jari-jarinya pada stick game semakin cepat, semakin kuat menekan.

“Aaiisssshhhh!!!”

Memukul pahanya sendiri, lalu menjambak rambutnya. Kesal, mengapa hanya sebuah bola kecil tak dapat masuk kedalam sebuah gawang yang beratus kali lipat lebih besar?

“Kau sudah kalah? Kalau begitu cepat bantu aku Minho.”
“Belum hyung. Aku masih bisa menang.”

Well, the game is not over. Minho melanjutkan perjuangannya untuk memasukan satu kali saja bola kedalam gawang lawannya. Jinki bukan tipe yang tidak sabaran, tapi jika Minho d biarkan mungkin dua jam kemudian dia baru akan menghampiri Jinki.

“Ya! Minho goon! Jika kau tidak membantuku tak ada makan malam.”

Mengerutkan keningnya, dikepalanya sedang berdebat mana yang harus ia tinggalkan. Tim sepakbolanya? Atau perutnya?
Menekan asal semua tombol pada stick gamenya. Kemudian mematikan televisi tanpa mematikan gamenya terlebih dahulu. Akhirnya, menyerah demi perutnya, berjalan menghampiri Jinki yang sudah menyodorkan apron biru kepada Minho.

“Kau suka omelete buatanku bukan? Akan kuajari kau, dan kuberitahu rahasia mengapa omeleteku bisa menyihirmu.”

Brrakk!
Memukul dua bawang putih menggunakan pegangan pisaunya. Kemudian mencincangnya halus.

“Hyung? Kau baik-baik saja? Malaikat apa yang merasukimu hingga kau mebocorkan resepmu?”
“Jika aku sedang tidak ada, kau bisa memasaknya sendiri.”

Mendorong sisa bahan, selain bawang putih, kewilayah counter dimana Minho berdiri.

“Kau tidak menyesal? Kau tidak punya lagi senjata untuk membuatku tunduk selain omelete ini.”
“Tidak akan ada lagi gencatan senjata.”
“Apa?”
“Nothing. Cepat potong tomatnya!”

Memukul kepala Minho menggunakan penggorengan, yang hanya dibalas dengan kerutan bibir Minho. Bukankah Jinki baru saja mengatakan tak ada lagi gencatan senjata? Lalu apa yang baru dilakukannya?

…..

“HYUNG!!! JAUHKAN MAHLUK ITU DARIKU!!”

Berdiri ditepi sofa. Setelah melemparkan stick gamenya begitu saja. Tak lagi peduli pada tim sepak bolanya. Tidak jika dia merasa terancam oleh hewan kecil yang dibawa Jinki.

“Kau harus terbiasa menghadapinya. Jika aku tak ada siapa yang akan membantai kecoa-kecoa ini? Huh? Siapa? Pacarmu?”

Melangkah semakin dekat pada Minho. Membawa serta seekor kecoa yang memberontak karena antenanya dipegang Jinki.

“HYUNG!! JANGAN MENDEKAT!!”

Melompat dari sofa dan berlari menuju kamarnya.
Ckelk!
Dan mengunci diri dikamar.

Jinki mengangkat kedua bahunya. Tak mengerti mengapa lelaki segagah Minho bisa lari terbirit hanya karena mahluk kecil ditangannya.
Memandangi kecoa yang meronta ditangan Jnki. Sepertinya, jalan satu-satunya adalah memastikan tak ada lagi kecoa yang menumpang hidup diapartemennya untuk Minho.

“Hey, Mr. Kecoa. Ada berapa keluargamu?”

********

Cahaya pagi selalu tampak indah.

Jinki menikmati pemandangan yang dilihatnya. Meskipun lagi-lagi melalui kaca pintu. Sinar matahari memantul dari jendela, menyorot wajah Gweboon yang masih terlelap. Cantik. Seperti putri yang sedang tertidur panjang.

Ragu-ragu, Jinki mendorong pintu untuk masuk. Perlahan. Agar tak membangunkan pasien cantik didalamnya. Setelahnya, Jinki hanya berdiri didekat pintu. Memandangi Gweboon dari jarak yang cukup jauh.

“DOR!!”

Tiba-tiba Gweboon bangkit dan mengagetkan Jinki dengan suara tingginya. Jinki tersentak hingga memundurkan tubuhnya merapat pada pintu.

“Ahaahaahaha. Sudah kuduga kau akan datang. Lee Jin Ki.”

Sungguh. Gweboon tak tampak seperti orang sakit. Begitu bersemangat. Mengintimidasi Jinki dengan mata kucingnya.

Mata Gweboon terbelalak saat menemukan luka lebam diujung bibir Jinki. Menyibakkan selimutnya, dan turun dari tempat tidurnya. Mengenakan sandal lalu berjalan menghampiri Onew.

“Eoh? Apa yang terjadi padamu? Apa kau berkelahi?”

Onew meringis, membiarkan jari-jari dingin Gweboon menyentuh luka memarnya.

“Hanya luka kecil, bayaran atas dosa-dosaku.”

Melirikkan mata kucingnya pada Onew. Terdiam untuk mencerna beberapa kata-kata yang diucapkan Onew. Bertanya-tanya mengapa lelaki tampan didepannya ini melakukan banyak dosa.

“Apa kau, masih bersedia jika kuajak pergi lagi dari rumah sakit ini? Bersenang-senang.”

Apa Gweboon harus melompat-lompat sama seperti hatinya yang kini sedang melompat? Haruskah Gweboon menarik tangan Onew dan mengajaknya berlari dari rumah sakit karena begitu senangnya?

“Kita pergi sekarang?”

*****

Langkahnya panjang. Arah yang akan dia tuju semakin dekat karena dia berlari. Menggenggap sebuah map ditangannya, membiarkan rambut dan dasinya ikut bergerak seirama dengan hentakan kakinya.

Seorang wanita memperlambat lajunya, dengan terengah-engah dia menghadapi seorang suster yang berpas-pasan dengannya.

“Pak. Jangan berlari dikoridor.”
“Ah, ya. Maaf.”

Melanjutkan langkahnya setelah membungkuk meminta maaf. Langkah yang cepat. Ingin cepat sampai pada tempat tujuan.

Berdiri pada sebuah pintu yang tak tertutup rapat. Membaca sebuah nama diatas pintu tersebut. Lalu mendorong pintu ketika ia yakin dengan tempat yang dicarinya.

Matanya menemukan seorang gadis, manis. Berdiri disamping tempat tidur yang kosong. Gadis yang menoleh pada Minho ketika mendengar suara langkah sepatu yang mendekatinya.

“Dimana, Kim Gweboon ssi?”

….

Tak jauh dari rumah sakit. Didalam sebuah cafe kecil diseberang bangunan rumah sakit. Taeyeon duduk dengan memegangi gelas coklat yang masih mengepul. Merasakan panas pada gelas tersebut.

“Maaf jika tiba-tiba aku..”
“Tidak apa-apa.”

Pandangan Taeyeon kosong. Entah apa yang dilihatnya. Coklat hangatnya? Atau asap dari minumannya?
Minho, dia menjadi merasa canggung menghadapi gadis yang tak banyak bicara ini. Tak tahu harus berbicara apa lagi. Setelah dia menanyakan dimana Jinki dan gadis didepannya ini tak juga menjawab.

“Aku, khawatir pada hyungku. Dia menghilang beberapa hari, dan ternyata dia baru saja meminta maaf pada semua perempuan yang pernah dipermainkannya.”

Minho terdiam. Merasa dia baru saja mengatakan hal yang salah pada gadis didepannya. Karena ekspresi gadis ini semakin dingin.

“Ehmm, maksudku.. kau tahu Jinki hyung seorang playboy bukan? Maksudku mendatangimu karena kupikir dia meninggalkan segalanya untuk pergi bersama Gweboon ssi. Itu karena..”

Minho menghentikan perkataannya. Mengetuk jari-jarinya pada meja. Menghilangkan kecanggungan, dan berfikir kata-kata apa yang seharusnya ia katakan saat ini.

“Jinki hyung bersikap seolah dia akan pergi meninggalkanku. Mengajariku memasak, memberitahuku apa yang harus kulakukan untuk menjaga tempat tinggal kami tetap bersih.”

Taeyeon mengarahkan tatapannya pada mata Minho. Itu membuat Minho menghentikan perkataannya sekali lagi. Taeyeon kembali menundukan kepalanya. Minho mulai membuka mulutnya.

“Bahkan hyung, baru saja menerima pukulan dari ayahnya. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama pergi dari rumah. Dia meminta maaf pada ayahnya. Dan, menyerahkan semua wewenangnya di perusahaan, kepadaku.”

Memdangi sebuah map didepannya. Map berisi surat penyerahan wewenang perusahaan. Kini tatapannya sama seperti Taeyeon. Tatapan kosong mamandangi map yang membuatnya langsung berlari kerumah sakit untuk mencari Gweboon. Karena tak dapat menghubungi Jinki hyungnya.

“Ini, pertama kalinya Gweboon eonni tak memberitahuku saat ia akan pergi.”

Mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Memperlihatkan air matanya yang jatuh disela senyumannya.

“Aku juga khawatir padanya.”

******

Tempat yang asing.

Gambaran yang ditangkap matanya, serupa dengan apa yang pernah dilihatnya. Tapi ini berbeda. Menarik nafasnya dalam-dalam, mencium aroma hangat yang menyeruak dihidungnya. Bahkan saat dia memejamkan kedua matanya, suara desiran ombak bagai memanjakan telinganya.

Ini kali pertamanya. Merasakan butiran pasir pada kakinya. Angin pantai yang menerpa rambutnya.
Begitu terpesona pada semua hal yang berada disekitarnya saat ini. Ketika panca inderamu merasakan semuanya, otakmu akan merekamnya. Perasaan yang berbeda dari hanya sekedar melihatnya disebuah gambar.

“Ini pertama kalinya bagimu?”

Gweboon hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jinki. Tanpa membuka matanya, hanya mengira-ngira Jinki yang kini telah berdiri disampingnya.

“Seharusnya aku mendapatkan bayaran karena sudah membawamu ketempat ini.”

Perlahan mulai membuka matanya. Menoleh kearah Jinki yang ternyata sedang memandanginya. Jinki tampannya, semakin tampan saat angin mengacak-ngacak rambut brownnya.

Memberikan senyuman terbaiknya sebelum melompat dan melingkarkan kakinya pada pinggang Jinki. Merengkuh kepala Jinki, menyatukan bibirnya pada bibir Jinki. Hanya sebuah kecupan, kemudian keduanya terkekeh. Saling menatap mata satu sama lain. Lalu kembali menghapus jarak dengan menyapukan bibir pada pasangannya.

Bukan lagi kecupan singkat.
Merasakan kelembutan bibir masing-masing lebih lama. Membetahkan diri dengan menikmati setiap sapuan lidah yang basah. Hangat. Sebuah ciuman yang memberikan rasa bahagia pada hati mereka.

Tidak tahu sampai kapan mereka akan berhenti. Sepertinya hidup ini sudah cukup hanya dengan bercumbu. Indah. Menyenangkan.

Terlalu menyenangkan hingga Jinki tak menyadari langkahnya. Menginjak permukaan kelapa yang licin, lalu terjatuh ditengah ombak kecil.

“Ahahahhaha. Kau bodoh oppa.”

Menjadikan Gweboon yang terjatuh diatas tubuh Jinki, harus merelakan pakaian rumah sakitnya ikut basah kuyup sama seperti Jinki.

….

Ada sesuatu yang membuatnya jalan pikirannya menjadi tidak rasional.
Membiarkan Jinki berada didalam satu selimut dengannya. Memandangi pakaian mereka yang menggantung pada seutas tali yang Jinki bentangkan ditengah kamar.
It is love, isn’t it? Hanya memandangi pakaianmu saja terasa begitu indah. Asalkan kau bersama seseorang yang kau cintai.

Tak tahan menahan kelopak matanya untuk tetap terbuka. Hatinya damai, Gweboon bahagia. Sehingga dia tak ragu untuk memejamkan matanya, membayar kelelahannya.

“Selamat malam.”

Berbisik pada kekasihnya yang mulai terlelap dibahunya. Memberikan kehangatan melalui kulit mereka yang bersentuhan didalam selimut. Tak ada hal lebih yang Jinki pikirkan saat ini. Memandangi Gweboon sudah cukup. Memeluknya agar ia merasa nyaman sudah cukup.

Ketika kau hal seperti ini saja akan hilang. Maka kau akan menjaganya baik-baik.

******

Sinar matahari yang menyorot wajahnya membuatnya reflek mengangkat tangannya untuk menghadang cahaya yang menyilaukan mata. Terbangun walau merasa aneh ketika kembali tersadar bahwa dirinya tak mengenakan sehelai pakaianpun dibalik selimut.

Hanya ada pakaiannya yang tergantung. Tak ada pakaian Jinki.

Menoleh kesamping tempat tidurnya. Tak ada Jinki disana. Gelisah. Tak mungkin Jinki akan meninggalkannya sendirian bukan?

“Sudah bangun?”

Menunjukan batang hidungnya dari balik pintu. Berpakaian lengkap. Tersenyum menyambut senyuman Gweboon yang akhirnya merekah saat melihat Jinki.

Kriiuuukk~

“Sebaiknya kita cepat mencari makan.”

Tertawa mendengar perut Jinki yang sudah memberikan sinyal lapar. Beringsut bangun mempertahankan selimut dituhnya. Berjalan menuju tempat dimana pakaiannya digantungkan. Pakaian yang mengingatkannya bahwa ia masih seorang pasien.

“Dan membeli pakaian untukmu.”

Seru Jinki saat melihat Gweboon malas mengambil pakaian biru mudanya.

*****

Bermain dipinggir pantai.
Menyinggahi rumah makan satu-persatu.
Berbelanja.
Lalu bercumbu saat kau menemukan moment yang tepat.

Seperti sedang berbulan madu bukan? Tak ada yang kau lakukan selain bersenang-senang. Mencurahkan rasa cintamu. Dan menikmati setiap detiknya.

Bahagia.
Mendengarkan deburan ombak pasang. Dan cahaya bulan, duduk balkon kamar.

“Apa kau ingin menikah?”

Menatap mata Jinki, tak lama, kemudian kembali memandangi pantulan cahaya bintang dipermukaan laut.

“Aku rasa kita sudah menikah. Aku, selalu bersamamu.”

Tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Gadis yang tak banyak menuntut. Selalu menerima apa yang ia miliki saat ini.

“Mungkin jika menikah, kita bisa melakukan hal yang lebih.”

Mendelik pada Jinki. Dan Jinki hanya menahan tawanya ketika elihat ekspresi Gweboon.

“Maksudmu membuat anak? Mesum.”
“Ahahahhahaha.”

Tawanya pecah. Untuk menyembunyikan kesedihan yang yang dirasakannya. Jinki tak akan setega itu. Maksudnya, dia tak mungkin meninggalkan Gweboon mengurus anak mereka sendirian bukan?

“Aku tak yakin. Apa aku bisa? Aku begitu lemah.”

Benar. Keadaan mereka tak memungkinkan untuk mendapatkan kebahagiaan lebih dengan memiliki keturunan.
Merangkul Gweboon erat. Menyandarkan kepala Gweboon dibahunya. Mengecup kepalanya lembut dan cukup lama. Menyampaikan pesan kalau hal itu bukanlah masalah. Jinki mencintai Gweboon apa adanya.

“Bagaimana jika untuk, sekedar memamerkan cincin pernikahanmu pada Taeyeon.”
“Eoh?”

Terperangah ketika sebuah cincin sudah berada didepan matanya. Tanpa sebuah kotak, tergeletak begitu saja ditelapak tangan Jinki. Tapi begitu indah, berkilauan.

“Apa kau sedang melamarku?”

Tak henti memandangi kilauan pada cincin sederhana tersebut. Nafasnya tercekat ketika Jinki memakaikan cincin tersebut pada jarinya. Hingga dia menangis.

Mengapa semuanya begitu indah. Lebih indah dari khayalan yang ia dapat dari sebuah buku.

******

Jinki memegang erat sisi washtafel. Kepalanya begitu sakit. Dia limbung. Dan bertahan agar tidak terjatuh.

Memejamkan matanya. Menghitung dalam hati hingga sakit dikepalanya mereda. Lalu melanjutkan aktifitasnya. Membasuh wajahnya.

Jinki menoleh pada jam tangannya yang ia simpan didekatnya. Pukul sepuluh pagi. Ia pun terkejut. Tak pernah sesiang ini ia terbangun. Begitu juga dengan Gweboon. Gadis itu masih terlelap. Semalam mereka tak melakukan aktifitas yang melelahkan. Tapi mengapa mereka tidur terlalu lama.

Dengan menggunakan handuk kecil, mengeringkan wajahnya, berjalan menuju tempat tidur dimana Gweboon masih menutup matanya.

Tubuh Jinki mematung. Menatap wajah Gweboon yang tidak biasa. Jantungnya berdegup kencang, terpompa oleh firasat buruk yang dirasakannya.

“Gwe..”

Membelai wajah Gweboon yang sangat pucat. Berpeluh. Dan panas.

“Gweboonie, kau baik-baik saja?”
“Ngg~”

Ini tidak baik. Gweboon tak mampu untuk membuka matanya. Hanya dapat mengerang ketika Jinki mengguncangkan tubuhnya.

“Kita kerumah sakit sekarang. Ne.”

….

Suara empat roda kecil yang berdecit. Diramaikan dengan hentakan langkah kaki orang-orang yang tergesa. Membawa seseorang yang terbaring diatasnya kesebuah unit gawat darurat.

Jinki ikut berlari. Air matanya tak dapat berhenti. Memandangi wajah Gweboon yang sudah tertutup masker. Gadisnya bahkan kesulitan untuk bernafas. Menyesalkah? Membawanya jauh dari rumah sakit?

Kenapa begitu bodoh? Mengapa baru mengetahui penyakit Gweboon separah ini? Hatinya sesak. Bahkan lebih sesak dari ketika Jinki mengetahui hidupnya tak lama.

-“Separah itu kah?”-
-“Tidak akan kuat untuk bertahan lebih lama.”-
-“Kami turut menyesal, tuan Lee. Benturan dikepala anda menyebabkan beberapa syaraf terjepit. Dan sulit untuk dijangkau. Operasi tak akan menolong.”-

Bayangan itu, kembali teringat. Hanya saja, ini lebih perih. Karena kau juga akan kehilangan orang yang cintai.

Kepalanya sakit. Terus berdenyut hingga membuat langkahnya terhenti. Terlalu sakit. Tak kuat lagi untuk sekedar berdiri. Membuatnya menjatuhkan diri, berdiri pada lututnya.
Memandangi Gweboon yang semakin menjauh. Perih. Bukan dikepalanya, tapi dihatinya.

“Tuan Lee!! Anda baik-baik saja?”

Tak lagi merasakan apapun. Kehilangan pandangannya.

“Tuan Lee!!”

Pendengarannya pun semakin kabur. Sekujur tubuhnya sakit. Menutup matanya, karena tak dapat lagi melihat Gweboon.

Hanya satu penyesalan. Mengapa Gweboon tak disisinya saat terakhir kali ia menutup mata. Begitu juga sebaliknya.

******

Matanya sembab.

Berkali-kali mengatur nafas agar air matanya tak lagi terjatuh. Memandangi putihnya seprai yang kini terpasang rapih. Tak akan ada lagi yang tidur diatasnya. Ta akan ada lagi eonni yang meminjam pakaiannya agar dapat pergi sejenak dari rumah sakit.

Menemukan sebuah buku yang tersimpan diatas meja disamping tempat tidur Gweboon. Buku yang selalu menemani eoninya sejak kecil. Hendak meraihnya.

Pluukk!

Namun, tangannya terlalu lemah, hingga menjatuhkannya.

Berjongkok untuk mengambil buku tersebut. Selembar foto hampir terlepas dari himpitan lembaran buku tersebut. Taeyeon membuka halaman dimana foto tersebut terselip.

Halaman 56. Terselip sebuah foto sepasang kekasih. Seorang wanita yang tersenyum seperti Gweboon bersama seorang lelaki yang memiliki mata Gweboon. Berpose disebuah pantai.

Air matanya kembali tumpah. Memeluk erat harta lain dari gadis yang sudah dianggapnya eonni. Harta lain, selain cincin yang Gweboon berikan padanya.


-End-

©2012 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 3 Februari 2012, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. waduh
    pada ke surga semua ini

    masa tidak ada yang hidup sih?
    ah.. pegen nangis juga
    tapi dag keluar

  2. huweeeee…….feelnya dapet,,
    udah lama kagak baca ff eonni,,
    nyesek dah dua”nya mati…..

    manis banget pas menikmati waktu yang tersisa berdua,,
    aigoo……bener” perpisahan yang menyesakkan hati,, T_T

    eonni……mana lanjutan ffmu?? aku lupa judulnya tapi aku masih sangat ingat ceritanya,,
    yg gwe selalu menderita itu…..ugh~
    yg scene terakhir itu bikin sangat penasaran,,
    ayo eonni….lanjutin dong…

  3. Fine! Bikin deg2an walaupun udah ketahuan pas waktu si jinki ngajarin mino buat masak dan bersiin apart…

    Nice job, eonni!! Walaupun pengen nangis cuman kok gakeluar gt😐

  4. wah,,,,kayak aku pernah lihat flim yg ceritanya kayk gini di sctv,,,
    keren yah,.,onkey tetap bersatu smpai kapan pun,,,,,,

  5. Keren banget ceritax…😥 mengharukan

  6. huweee~ JinBoon emang di takdirkan bersama sampe2 mati pun bersama..
    Padahal jinki gak punyapenyakit parah tapi karna hatinye yang terlalu sakit & cintanye terlalu besar buar gweboon makanya jinki mati juga!
    Yah gada pesan atau moment terakhir yang JinBoon lakuin pas mau mati!!
    Punya perasaan gak enak emang pas jinki ngajarin & ngebocorin resep andalannye ke minho!
    Trus bilang kalo jinki gada minho harus bisa! Ahh!
    Sedih sih gwe baru ngerasain namanya pacaran.
    Berkat gwe, jinki tobat jadi playboy😀

  7. banjir air mata,,sedihh,,huaaaaa

  8. asli nangis abis2an akunya

  9. aku masih ngambang endingnya
    kan gwe mati terus jinki kemana? meninggal juga kan?
    tapi kok kalimat “bersama seorang lelaki yang memiliki mata Gweboon”
    apa jinki transplantasi mata gwe, eo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: