TOMORROW

Title: TOMORROW

Author: Deson

Cast: Kim Heechul, Cho Kyuhyun, Jungmo Trax

Backsound: Tomorrow by Tablo ft Taeyang

PS: Alurnya Maju Mundur

 

Aku menyukai lagu ini lalu membencinya. Karena lagu ini selalu mengingatkanku pada dirimu. Karena lagu ini terlalu jujur menyindir isi hatiku. Hatiku yang rapuh karena kehilanganmu. Aku membenci lagu ini karena kamu tapi… entah lagu ini atau kamu, aku tidak bisa melupakannya, aku akan tetap mengingat keduanya. -deson-

 

Krringg…

Seorang gadis masuk kedalam sebuah kafe. Ia lalu menggantung jaketnya di hangger lalu masuk kedalam pantri. Ia tersenyum pada beberapa karyawan lain yang sudah datang.

Ia mengikat setengah rambutnya, yang membuat rambut bawahnya yang tidak terikat tergerai dan poninya menghiasi sudut wajahnya. Bentuk rambutnya sudah tidak berbentuk lagi, terakhir kali ia memotong rambutnya adalah 2 bulan lalu. Ia memotong rambutnya sangat pendek dan menyesalinya. Sejak saat itu ia tidak mau pergi ke salon lagi.

Ia mengambil beberapa sedok kopi lalu di mix dengan susu. Ia menunggu sampai kedua bahan itu tercampur dengan sempurna. Setelah itu, ia tuangkan dalam mug bercorak sapi. Ia bisa mencium aroma kopi susu khas. Kopi susu buatannya sendiri.

Setelah mendapatkan minuman kesukaannya ia kembali ketempatnya- dimeja pojok dekat Tipe dan ruang manajer utama.

Gadis itu meletakan mugnya yang mengepul. Ia melirik keseluruh kafe dan mendapati bahwa kafe itu tidak terlalu sepi atau ramai. Kafe itu hanya sebuah kafe kecil untuk minum kopi yang dilengkapi dengan ratusan buku bacaan dan wifi. Suasana hangat yang ditawarkan oleh kafe itu juga sangat menarik, design interior yang mengusung tema back to classic itu mampu membuat para pengunjungnya terkesima.

Gadis itu tersenyum, ia lalu menyalakan tipe dan memutar playlist secara acak. Seorang gadis lain yang bertugas sebagai kasir menghampirinya lalu menyerahkan buku rekap kafe. Gadis itu tersenyum kemudian membuka laptopnya dan mulai menjelajah angka demi angka yang ada dihapannya.

 

No, no, no, no more tomorrow

No, no, no, no more tomorrow

 

“Jangan di stop!”

Sebuah tangan menghentikan gerakan tangannya yang hendak mematikan lagu yang sedang di putar. Ia tidak menyukai lagu itu. Jujur saja setiap kali lagu itu terdengar di telinganya ia selalu refleks untuk mematikannya.

Gadis itu mendecak kesal. Ia menarik tangannya dari genggaman orang itu. Ia mendungus tidak suka. Ia menarik matanya melihat siapa pemilik tangan besar itu.

Ia memicingkan matanya untuk mengenali seseorang dihadapannya. Pria itu memakai kacamata hitam dan wajah yang ditutupi oleh syal. Rambutnya hitam bergelombang serta parfumnya yang khas mengingatkannya pada seseorang.

“Jangan dimatikan. Aku ingin mendengar lagu ini.”

Gadis itu terhenyak mendengar suara itu. suara yang sangat familiar di telinganya.  Ia menyusuri wajah pria di hadapnnya. Ia berharap telinganya salah mendengar dan pria itu bukan pria yang dihadapannya.

 

사랑은 받는다고 갖는 게 (sarangeun batneundago gatneun ge) 

시간은 걷는다고 가는 게 (siganeun gotneundago ganeun ge)

사람은 숨 쉰다고 사는 게 (sarameun sum swindago saneun ge)

아닌데 (aninde)

 Menerima cinta bukan berarti kau memilikinya

Menjalani waktu bukan berarti kau melewati

Bernapasan bukan berarti kau hidup

Tidak berarti

 

Pria itu memakai kacamata dan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Ia menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang khas. Senyum yang tidak pernah gadis lupakan. Senyum yang akhirnya menyadarkan gadis itu bahwa yang dilihatnya adalah benar.

“Annyeong… Yeosin-ah…” ucap pria itu membuat gadis itu membatu.

>>deson<<

“Oppa kau tau?” Lirikan jail Yeosin mengarah pada pria yang sedang duduk dihadapannya. Tatapannya begitu antusias menatap lawan bicaranya itu. sebuah ide baru saja melintas di kepalanya dan ia ingin melakukan hal itu dengan pria yang ada dihadapannya itu, untuk mengusir rasa bosan.

“Mwo??” ucap pria itu datar tanpa melepaskan tatapannya dari komik yang dipengangnya.

“Hmm… ani…” Yeosin mengurungkan niatnya saat pria dihadapnnya sama sekali tidak meresponnya. Idenya menguap begitu saja karena kecewa.

“Ada apa cepat katakan saja?”

Yeosin menggeleng, meski tau bahwa pria itu tidak akan melihat gelengan kepalanya. Matanya yang berbinar-binar menjadi redup dan tidak bercahaya lagi.

Pria itu melepaskan tatapan dari komik dan menatap mata Yeosin dengan lekat, “Cepat katakan, atau jangan mengganggu konsentrasiku.”

Yeosin mengembungkan pipinya kesal. Ia tidak suka bila dipaksa seperti itu dan… Ia mengalihkan wajahnya dari tatapan intensif pria itu, “Hal itu tidak bisa diucapkan Kim Heechul-ssi.”

Yeosin mendorong kursinya kebelakang kemudian berdiri meninggalkan Pria yang lebih memilih komiknya dari pada dirinya

Yeosin menoleh kebelakang dan melihat pria itu kembali tenggelam dalam komiknya. Ia tidak tau apa alasan pria itu memintanya untuk datang dan menemaninya jika akhirnya ia akan didiamkan seperti ini.

Yeosin lalu memilih untuk duduk disofa. Ia mengangkat kakinya lalu merangkulnya. Ia menatap pria itu dari jauh. Ia menyusuri lekuk wajah pria itu dengan seksama memperhatikan ekspresinya. Ekspresi yang tidak pernah pria itu berikan padanya.

Yeosin mengigit bibir bawahnya. Kupu-kupu yang ada di perutnya saling berterbangan. Jantungnya berdebar sangat kencang saat melihat pria itu. Hanya dengan melihat pria itu tersenyum, ia merasa… merasa… entahlah… mungkin ini yang namanya cinta. Meski pada kenyataannya pria itu tidak pernah mengubrisnya. Ia akan melihat pria itu dari jauh kemudian jatuh tertidur dan akan mendapati tubuhnya di kasur keesokan harinya.

Yeosin menepuk pipinya kemudian mengalihkan pandangannya. Ia tidak boleh membuat dirinya semakin mencintai pria itu. Tidak boleh meski ia memang telah mulai untuk menyukai pria itu.

>>deson<<

Heechul memperhatikan wajah cantik dihadapannya. Ia tidak tau apa yang membuat kakinya menginjakan di kafe calon mantan istrinya dan mendekatkan diri pada wanita yang dihindarinya itu. Ia juga yang menghentikan tangan gadis itu untuk tidak menghentikan lagu itu. Lagu yang menjadi lagu kesukaan gadis itu.

“Kau masih sama.” Heechul melirik mug sapi yang ada dimeja. Heechul tau kebiasaan buruk istrinya yang terlalu addict terhadap kopi. Tidak akan pernah lepas dari kafein dan mencintai warna hitam di dalam gelasnya itu.

 

Baby there’s no no tomorrow

그때 그대로 난 멈춰있고 (geutte geudero nan momchwoitgo)

마지막 그 순간에 머문 시간 (majimak geu sun-gane momun sigan)

너에겐 그저 지난날이지만  (noegen geujo jinannarijiman)

 

Baby takan ada, tidak akan ada esok

Aku telah berhenti di waktu itu, tempat itu

Di saat terakhir, untuk waktu yang lama

Meskipun untukmu, itu hanya masa lalu

 

“Benarkah?” Yeosin mengangkat sebelah alisnya.

Heechul segera menggeleng, “Tidak, Kau mengubah rambutmu juga. Menjadi lebih pendek…” dan kau terlihat lebih pucat dengan rambut itu. Kau terlihat lelah. Apa kau menghabiskan waktu seharian dengan mengerjakan angka-angka itu? Apa mendapat istirahat yang banyak? Apa kau tidak melihat lingkaran hitam di bawah matamu? Kau terlalu banyak minum kopi dan sering mengalami insomnia seharusnya kau…  Heechul membungkam mulutnya agar kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. Ia lalu menggengam erat tangannya untuk mengontrol emosinya.

“Hmm… kau tetap sama.” Ucap Yeosin, “tidak berubah.” Yeosin masih bisa ingat dengan jelas tatapan lurus Heechul padanya. Cara pria itu memanggil namanya, cara pria itu berkata, cara pria itu tersenyum padanya semua masaih terekam jelas di otak Yeosin.. Tidak ada yang berubah, atau memang waktu dua bulan memang sebentar meski rasanya ia sudah hidup jutaan tahun tanpa melihat calon mantan suaminya itu, Atau kenangan tentang pria itu masih melekat di kepalanya, seperti kemarin. Semua tetap sama.

 

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

Till you come back, everyday is yesterday

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

 

Heechul menyunggingkan senyum separuhnya. Senyum yang biasa ia berikan pada gadis itu. Ia juga mengucapkan hal yang biasa. Melakukan hal-hal biasa dan Memang tidak ada yang berubah padanya. Semuanya masih tetap sama dan berharap bahwa semuanya akan masih tetap sama.

“Kau harus menjaga dirimu sendiri.” Ucap Heechul datar sambil melhat mug-nya di meja. Tidak ada ekspresi atau nada yang berlebihan dalam ucapannya. Semuanya datar.

“Kau yang seharusnya menjaga diri.”

Heechul mengangkat kepalanya dan memandang lekat gadis dihadapnnya. Gadis itu terlihat sangat biasa. Gadis itu tidak mengusirnya, gadis itu tidak berkata dengan nada tinggi atau memakinya. Semua seperti biasa hingga Heechul bisa bernafas lega merasa gadis itu sudah bisa memaafkannya atas perlakuannya yang buruk.

“Jangan terlalu banyak membaca komik dan menonton hingga larut. Jangan melakukan hal bodoh hingga banyak menimbulkan gosip dan… segeralah mencari gadis yang baik yang selalu bisa mengerti keadaanmu.”

Gadis itu tersenyum Heechul merasakan jantungnya berdetak kencang. Bodoh gadis mana yang mau dengan pria dihadapannya. Dia juga bodoh karena terlah terjerat pesona pria itu dan harusnya ia tidak mengatakah hal sesesitif seperti itu

Segeralah mencari gadis yang baik

Heechul merasa tersindir dengan ucapan gadis itu tapi dari caranya bicara. Gadis itu sangat serius. Bukan karena tidak bisa mendapat gadis lain, kerena ia memang tidak melepas gadis dihadapannya.

>>deson<<

“Kapan kalian akan memberikan kami keponakan?” Goda Hyukjae saat Yeosin mengantarkan makan siang. Heechul yang saat itu sedang mengisi acara musik memintanya untuk membuatkan makan siang karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan.

“Kami benar-benar tidak sabar untuk mendengar celotehan Heechul Junior.” Ucap Sungmin diikuti yang lainnya.

Yeosin melirik Heechul tapi pria itu malah asik dengan headset yang bercantol di telinganya. Ia sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan pada ‘adik-adik’ iparnya itu. Ia hanya tersenyum. Karena ia sendiri tidak tau jawabannya.

Ia dan Heechul memang menikah. Hampir sepuluh bulan mereka menikah tapi sampai sekarang mereka tidak pernah melakukan apapun.

Yeosin sendiri bingung kenapa ia menyutui pernikahan itu saat ayahnya membawa Heechul kehadapannya. Heechul tidak mengatakan apapun tapi ayahnya bersikeras untuk menikahkan mereka.

“Yeosin-ah… Apa Heechul hyung melakukan ‘itu’ padamu?”

Yeosin menoleh pada Hyukjae yang duduk disampingnya. Pria itu memamerkan gummy smilenya yang khas dan membuat Yeosin ingin menghajarnya dengan sepatu yang ia pakai.

“Hei tidak usah malu. Kau bisa percaya padaku” Hyukjae memandang Yeosin dengan dalam, “apa Hyung melakukan ‘itu’?” tanya Hyukjae sekali lagi.

Yeosin hendak membuka mulutnya ketika tangannya ditarik oleh seseorang.

“Hyukjae-ah, bukan karena aku pernah digosipkan menjadi seorang gay, aku tidak bisa membuatnya hamil.” Heechul menarik Yeosin dari Hyukjae, “Sebaiknya kau berhenti tebar pesona. Karena istriku tidak akan tergoda padamu.”

Heechul menarik tangan Yeosin ke luar ruangan. Mereka pergi keatap dimana tidak ada satu orang pun yang dapat mengganggu mereka. udara tidak terlalu dingin hingga mereka tidak perlu repot-repot untuk memakai jaket.

Yeosin memandang punggung Heechul. Pria itu melepaskan tangannya saat mereka tiba di atap. Ia melihat Heechul memasukan tangannya ke saku celana dan menggadap langit luas. Rambutnya yang agak panjang berayun mengikuti angin.

Yeosin mengambil ponselnya kemudian mengambil beberapa foto. Setelah ia puas dengan kameranya ia mendekati Heechul.

“Kau mendengarnya?” Yeosin menyamakan posisinya dengan Heechul. Mereka berdua menghadap ke arah langit yang luas. Yeosin mulai mengambil beberapa gambar langit.

“Aku punya telinga.” Ucap Heechul datar

“Kenapa kau tidak membantuku menjawab pertanyaan Dongsaengmu?”

“Apa mereka akan percaya?” Heechul menoleh ke gadis disebelahnya, “Aku menikah denganmu untuk menutupi gosip yang mengatakan bahwa aku seorang gay dan kau menerima pernikahan ini karena perintah ayahmu, yang merupakan pemegang saham terbesar di SM??”

Heechul mengalihkan pandangannya ke langit, “Mereka pasti tau bahwa kita memang tidak saling menyukai.”

Yeosin menunduk, “Ya~ kita memang…”

“Seharusnya kalian berpengangan tangan.” Tiba-tiba Kyuhyun berada ditengah-tengah mereka. Ia merangkul bahu Heechul dan Yeosin. Ia hanya memamerkan deretan gigi putihnya saat Yeosin dan Heechul memandangnya heran.

“Aku tidak menyangka kalian akan melakukan hal romantis nan menjijikan seperti ini.” Kyuhyun mundur beberapa langkah lalu mendekatkan Yeosin pada Heechul, “Seharusnya kalian lebih mendekat dan, Yeosin kau harusnya bersandar pada bahu Hyung.” Kyuhyun menyandarkan kepala Yeosin di bahu Heechul lalu mengambil tangan Heechul untuk dilingkarkan di pinggang Yeosin.

Kyuhyun memandang hasil karyanya lalu mendecak, “ckkckkk… kalian terlihat sangat bagus tapi sepertinya kalian harus melakukannya lebih lama karena matahari belum mau tenggelam.” Ucap Kyuhyun sambil tertawa. Ia lalu menghilang.

Yeosin dan Heechul terdiam salah tinggah. Yeosin merasa wajahnya memerah. Ia menarik kepalanya untuk menjauh dari Heechul tapi Heechul menariknya kedalam pelukannya. Pria itu lalu memeluk Yeosin dari belakang.

“Kenapa terburu-buru? Bukankah Kyuhyun bilang Matahari masih belum mau tenggelam?” ucap Heechul tepat di telinga Yeosin.

Yeosin merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Ia tersenyum senang. Sepuluh bulan memang waktu yang tidak sedikit untuk membuatnya jatuh terpesona kedalam kharisma seorang Kim Heechul. Meski dengan dalam sikapnya yang dingin. Jarak yang dekat dan seringnya bertemu, membuatnya semakin mencintai suaminya itu.

Yeosin menaruh tanggannya di atas tangan Heechul lalu menyandarkan kepalanya didada bidang Heechul. Ia memejamkan matanya menikamati siang hari yang sejuk itu, ia heran kenapa Heechul digosipkan gay padahal dimatanya Heechul bisa memperlakukan wanita dengan baik kecuali sikap datarnya, padahal semakin di kenal Heechul terasa lebih hangat.

“Terimakasih.”

Ucapan Heechul membuat Yeosin tersadar. Heechul melepaskan pelukannya dan membuat Yeosin kebingungan.

“Kau telah menyelamatkan hidupku dan karirku.” Heechul menatap Yeosin yang masih kebingungan, “tadi ada paparazi yang mengikuti kita. Aku menyadarinya setelah Kyuhyun pergi. Dia terus memotret kita terus menerus dan membuatku marah.”

Yeosin mengembungkan pipinya, “dan orang itu masih percaya kau gay meski kita sudah menikah, huh??”

Tidak perlu mendengar jawaban Heechul, Yeosin pergi dari hadapan Heechul. Ia tidak ingin melihat pria itu. Menyandarkan dirinya di pengangan tangga kemudian membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh Heechul.

Baru saja ia merasa melayang oleh perlakuan manis Heechul dan setelah itu Heechul kembali bersikap dingin. Seharusnya ia tidak terlalu berharap. Seharusnya ia tau bahwa mereka menikah untuk menyelamatkan karir Heechul dan akan Heechul lakukan apapun untuk menyelamatkan karirnya.

>>deson<<

“Bagaimana karirmu? Kudengar kau melakukan Super Show lagi?” tanya Yeosin menyeruput kopinya.

“Ne, kami melakukannya lagi di beberap kota dan beberapa negara.”

“Sepertinya mengasikkan, kau pasti bertemu dengan beberapa fangirl.”

“Aku bertemu dengan E.L.F dan juga Petals,” Heechul menyunggingkan senyum datarnya membuat Yeosin merindukan setengah mati senyuman yang dulu ia benci. Senyuman biasa yang sering ia lontarkan. Senyum yang jauh lebih dingin dari senyum yang biasa ia berikan pada fansnya, “Aku juga bertemu dengan fans Yeo-Nim yeomin.”

Yeosin membelak tidak percaya, “maksudmu fans Yeosin-Heenim couple??” ia pernah mendengar beberapa couple buatan fans dan juga buatan sebuah acara reality show. Misalnya Yong-Seo, Khun-Toria, atau Seo-Kyu, Hyo-Hyuk, Min-Stal ia juga banyak mendengar tentang, Hee-Sicca, SoHeeChul, dan lainnya.

Heechul menggangguk, “mereka bertanya apa aku ikut tur denganku.”

“Lalu apa yang kau jawab?” Mata Yeosin memandang Heechul dengan penuh antusias.

 

가슴을 찢던 그 기억이 달력을 찢고 (gaseumeul jjitdon geu giogi dallyogeul jjitgo)

한해처럼 저물어가너를 잊고 (hanhechorom jomuroga noreul itgo)

사는 척 하기도 해 아직도 내 세상은 변함없어 (saneun chok hagido he ajikdo ne sesangeun byonhamobso)

너만 없어 (noman obso)

 

Kenangan yang terkoyak telah mati di hatiku

Hari di kalender dan memudar seperti akhir tahun

Aku hidup dengan berpura-pura melupakanmu dalam duniaku belum berubah

Kau masih tidak ada

 

“Tidak ada.”

Yeosin langsung memutar matanya. Kilatan yang tadi ia rasakan menguap begitu saja. Seharusnya ia tau, Heechul akan menjawab begitu saja.

“Karena kau memang tidak ada disana.”

“Aku memang tidak ada disana.” Yeosin mengulangi ucapan Heechul, “bagaimana dengan keadaan member lain?? Mereka pasti sangat antusias dengan show kali ini?”

“Tentu saja mereka melakukan dengan antusias. Masing-masing melakukan bermacam-masam fanservis dengan baik.”

“Yeah, aku juga tau, kau pasti melakukannya juga,” Yeosin menyeruput kopinya lagi, “Apa yang kau lakukan? apa masih menirukan Lady Gaga atau mencium pria-pria yang ada di panggung?”

Heechul meringis, “aku tidak melakukannya lagi.” Heechul menyandarkan punggungnya di kursi sambil memainkan gelasnya, “aku belajar dari seseorang untuk tidak melakakan hal yang aneh tapi masih bisa menyenangkan fans.”

“Nugu???” Tanya Yeosin penasaran kemudian sebuah senyum mengembang di wajahnya, “ah~ pasti seorang yang sedang dekat denganmu.”

Heechul menggulum senyumnya tanpa melepas tatapannya dari Yeosin, “Ne, seseorang yang aku cintai.”

Yeosin berusaha untuk menarik bibirnya membentuk senyuman. Ia lalu menarik tangan kananya kebawah. Ia lalu meraba tangannya dan ia masih menemukan cincin itu di sela jari manisnya. Yeosin mengigit bibirnya lalu memutar cincin itu hingga terbalik. Ia tidak ingin Heechul melihat cincin itu ditangannya. Apalagi setelah Heechul menemukan pengganti dirinya.

“Kau harus menggundangku.” Ucap Yeosin dengan berat.

“Tentu saja. Kau orang yang harus datang saat itu.”

>>deson<<

Pluuk… sebuah handuk mendarat di wajah Yeosin. Ia mendengus kesal saat melihat Kyuhyun hanya tersenyum jail lalu duduk disebelahnya.

“Kau tidak tau betapa menyeramkannya dirimu.” Cerca Kyuhyun

“Aku sedang tidak ingin diganggu.” Jawab Yeosin ketus. Ia sedang menunggu Heechul membawakan acaranya sementara member lain sudah pulang duluan setelah mereka selesai recording. Kyuhyun masih berada di sana karena dia akan menjadi bintang tamu di acara selanjutnya.

“Aku serius. Kau tampak menyeramkan.” Kyuhyun menyerahkan cerminnya ke Yeosin, “Jika begini bagaimana hyung akan menatapmu.”

Yeosin menoleh pada Kyuhyun. Tidak ada cengiran jail diwajah Kyuhyun ia tampak serius dengan ucapannya.

“Tidak usah berbohong. Kami semua tau kau mencintainya.”

Yeosin mencibir.

“Kau menjaganya dengan baik. Kau juga membuatnya jauh dari berita buruk itu.”

“Bukanah itu memang tugasku?” Yeosin mencoba menghindari tatapan Kyuhyun, “bukankan kau mendengar percakapan kami di atap. Bahwa kami menikah hanya untuk meredakan gosip itu.”

Kyuhyun merangkul Yeosin, ia gemas gemas karena Yeosin terus menghindari pertanyaannya, “Ne, semuanya sangat jelas. Kalian menikah karena perjodohan, tapi bukan berarti kalian tidak bisa saling mencintai, bukan? Dari caramu menatapnya. Dari suaramu saat berbicara padanya. Mungkin hanya Hyung saja yang tidak menyadarinya.”

“Jinjja?” Yeosin merasakan wajahnya memerah, “dia memang tidak menyukaiku.” Ucap Yeosin frustasi

Kyuhyun membulatkan bibirnya, “Hei, siapa yang mengatakannya. Dia sangat menyukaimu. Hanya saja kau tidak tau. Kalian sama sama tidak menyadarinya lucu.” Kyuhyun mengeluarkan senyum jahilnya, “saling mencintai tapi sama-sama tidak menyadarinya.”

Yeosin mencibir, “Aisshhh… bagaimana aku bisa percaya pada setan sepertimu?”

Kyuhyun mengacak-acak rambut Yeosin gemas, “Akan ku buktikan padamu.”

Yeosin mendelik, “jinjja?? Kau harus berusaha dengan keras.”

Kyuhyun mencubit pipi Yeosin gemas. Ia lalu mengambil candycam milik Yeosin lalu memasukannya kedalam ranselnya, “Kau akan melihatnya.

>>deson<<

“Mungkin sebaiknya aku datang dengan pasangan, bukan?” Yeosin menatap Heechul kembali.

Heechul menggangguk ragu. Ia tidak berharap begitu. Bagaimana gadis itu bisa mendapatkan penggantinya dalam waktu dua bulan. Heechul mendengus, gadis itu pasti bisa. Gadis itu tidak hanya cantik, tapi ekspresif. Gadis itu selalu mengatakan apa yang ada dikepalanya. Gadis yang brillian dan hanya dirinya yang bodoh yang mau melepaskan gadis itu.

 

사람들은 다 돌아보면 웃게 (saramdeureun da dorabomyon utge)

되는 거래 너를 향했던 (dweneun gore noreul hyanghetdon)

고개를 틀기도 힘든 내게 듣기도 싫은데 왜 떠들까? (gogereul teulgido himdeun nege deutgido sireunde we ttodeulkka?)

난 여기서 머문다 (nan yogiso momunda)

 

Semua orang berkata jika kau kembali, kau akan tertawa

Meskipun aku memiliki waktu yang sulit memutar kepalaku untuk berhadapan denganmu

Aku tidak ingin mendengarnya tapi mengapa mereka tetap mengoceh?

Aku berlama-lama di sini

 

Suasana kafe sedang tidak begitu ramai. Heechul melepaskan alat penyamarannya. Ia membuka mantelnya yang menutup wajahya. Yeosin bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki dihadapannya. Tanpa make-up dan tanpa topeng.

Bukankah ia sering melihat Heechul tanpa make-up. Tanpa topeng idol dan tanpa harus menjaga image. Ia tahu isi dan tingkah asli Heechul, bukan Heechul yang seorang publik figure yang selalu bersembunyi dibalik topengnya idol-nya. Bahkan ia merasa bukan Heechul yang bersembunyi dibalik topeng itu tapi dirinya yang bersembunyi di atas kepura-puaraan. Pura-pura tidak membutuhkan Heechul padahal ia sangat merindukan pria dihadapannya.

“Kau pasti sedang mempunyai banyak waktu?” ucap Yeosin.

Heechul menggangguk, “kau boleh meneruskan perkerjaanmu. Aku sedang menunggu seseorang.”

Yeosin membuka mulutnya kemudian menutupnya kembali, “Dia kah? Dia akan datang kemari?” Yeosin mengutuki perkatannnya. Ia tidak akan sanggup melihat ‘orang itu’. Ia bahkan tidak mau tau.

Heechul tidak menjawab. Membuat Yeosin kembali untuk mengerjakan tugasnya. Ia harus memeriksa catatan keuangan kafenya. Kafe yang dipenganya selama hampir dua tahun belakangan ini. Kafe yang hampir ia telantarkan setelah menikah dengan Heechul. Sekarang ia malah mensibukan diri dengan buka kafe-kafe kopi lainnya untuk melupakan Heechul.

Heechul mengamati matanya Yeosin yang penuh dengan angka-angka. Ia tidak tau betapa ia merindukan sorot teduh gadis itu. Merindukan celotehannya. Merindukan sosok yang sering ketiduran di sofa karena menemaninya bergadang.

“Kau tidak boleh terlalu banyak minum kopi.” Ucap Heechul pelan.

Yeosin menggangkat kepalanya ingin mengatakan, “apa urusanmu?” tapi ia urungkan. Ia kembali menjelajah kedalam dunianya, ia tidak peduli. Baginya Heechul adalah masa lalu dan ia benci saat ia masih merasakan perasaan itu.

Heechul memakai Headsetnya kemudian menggumam pelan. Ia tidak peduli dengan lagu yang di pasang di dalam kafe. Ia terus menyanyikan lagu dalam headsetnya sambil memejamkan matanya.

>>deson<<

Heechul menatap langit luas dari balkon kamarnya. Bayangan Kyuhyun mengacak-acak rambut Yeosin dan juga mencubit pipi istrinya sangat mengganggu pikirannya.

Ia memandang Yeosin dari kejauhan. Ia mendiamkan Yeosin sejak peristiwa itu. Ia tidak mengerti. Ia marah pada Yeosin. Ia menginginkan posisi itu, posisi dimana Yeosin bisa tertawa lepas bersamanya. Tapi lidahnya terlalu kelu untuk melalukan itu. Ia takut, ia salah ucap.

Heechul mengutuki dirinya sendiri. Bukannya setiap hari ia sudah mendiamkan Yeosin. Bagaimana gadis itu bisa tertawa lepas jika mengobrol saja mereka jarang. Ia tidak pernah berani untuk mendekati Yeosin. Karena gadis itu selalu terlihat menggoda di matanya.

Heechul mendekati Yeosin. Gadis itu sudah tertidur disofa, film yang ia nonton masih menyala. Heechul mengamati wajah gadisnya dengan lekat. Ia selalu memandang wajah Yeosin sebelum menindahkan gadis itu ke kasur.

Ia menyentuh pipi gadis itu.

“Saranghae.” Ucapnya pelan, “kenapa lebih mudah mengucapkannya saat kau tertidur??”

Heechul tersenyum lalu menggangkat tubuh Yeosin lalu membaringkannya di ranjang. Ia menarik selimut hingga dada Yeosin kemudian mematikan lampu. Heechul memandang Yeosin sesaat.

“Mimpi yang indah Han Yeosin” ucap Heechul lirih, “Mimpikan aku.”

>>deson<<

하지마라 내일은 해가 뜬다는 말 (hajimara ne ireun hega tteundaneun mal)

너와의 밤보다 캄캄한 아침일 테니 (nowaye bamboda kamkamhan achimil teni)

비온 뒤에 땅이 굳는다는 말 (bion dwie ttangi gutneundaneun mal)

너와의 근심보다 답답한 안심일 테니 (nowaye geunsimboda dapdaphan ansimil teni)

다 엉망이잖아 (da ongmangijana)

너에게는 다시 봄이지만 내 계절은 변하지 않아 (noegeneun dasi bomijiman ne gyejoreun byonhaji ana)

내 마음이 또 싹튼다 해도 (ne maeumi tto ssakteunda hedo)

I’ve got no tomorrow

 

Jangan berkata bahwa matahari akan terbit besok

Karena it akan menjadi gelap pagi yang lebih gelap dari malam denganmu

Jangan katakan bahwa tanah mengeras setelah hujan

Karena itu akan menjadi bantuan yang lebih frustrasi daripada kekhawatiran kita

Semuanya berantakan – Waktunya musim semi untukmu, tetapi musim tidak berubah untukku

Meskipun kau mengatakan bahwa hatiku akan mekar lagi,

aku tidak punya hari esok

 

Ujung mata Yeosin tertarik pada satu titik dimana Heechul menutup matanya dan dan tertidur. Heechul pasti kelelahan. Matanya terlihat cekung dan kantung mata yang tebal. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya pecah-pecah.

Yeosin menyusuri lekuk wajah Heechul dengan seksama. Biasanya Heechul memintanya untuk menemaninya dan Heechul akan tenggelam dengan komiknya atau gamenya dan ia akan kebosanan karena hanya melihat Heechul dengan intes.

Yeosin melipat tangannya dan mencondongkan wajahnya. Ia melihat wajah Heechul dari dekat. Ada perasaan rindu yang menyergap hatinya. Rindu saat ia duduk di sebelah Heechul dan memperhatikan wajah Heechul. Ia rindu saat Heechul berteriak padanya dan menyuruhnya untuk tetap menemaninya membaca komik.

Yeosin menggelengkan kepalanya. Ia kemudian meneguk kopinya lalu kembali kepekerjaannya.

Baby there’s no no tomorrow

그때 그대로 난 멈춰있고 (geutte geudero nan momchwoitgo)

마지막 그 순간에 머문 시간 (majimak geu sun-gane momun sigan)

너에겐 그저 지난날이지만 (noegen geujo jinannarijiman)

 

Baby takan ada, tidak akan ada esok

Aku telah berhenti di waktu itu, tempat itu

Di saat terakhir, untuk waktu yang lama

Meskipun untukmu, itu hanya masa lalu

 

>>deson<<

Yeosin menghentikan aktifitas memasaknya saat berita tentang dirinya ada diTV. Lebih tepatnya berita tentang Superstar Heechul dan istrinya berpelukan di atap gedung salah satu stasiun TV menyebar di dunia maya. Yeosin tidak heran melihat ke popularitasan Heechul. Suaminya itu memang seorang superstar meski pernah vakum selama 2 tahun untuk wamil.

Foto-foto itu benar-benar bagus. Seorang profesional yang mengambil gambar dengan begitu detial. Ia terlihat seperti seorang pasangan yang sedang menikmati matahari terbenam.

“Ya… masakanmu.”

Yeosin membekam mulutnya. Ia lalu kembali dapur dan membalik daging yang sedang ia panggang.

“Kenapa kau begitu… gembira melihat kita digosipkan seperti itu.” Heechul duduk di meja makan lalu memperhatikan Yeosin dari kejauhan

Yeosin menoleh. Ia membalik tubuhnya lalu menuangkan kopi pahit kedalam cangkir Heechul dan kopi susu untuknya.

Yeosin mendekatkan wajahnya ke wajah Heechul, “Karena aku terbiasa dengan gosip kau dengan pria.” Ledek Yeosin lalu berbalik ke dapur.

“Ya~” Heechul menahan tangan Yeosin lalu menariknya kehadapnya. Heechul menggeser kursinya agar bisa menghadap Yeosin, “Apa maksudmu?”

Yeosin mencibir, “Semua orang sudah satu Kim Heechul-ssi, kau sering berciuman dengan sesama pria.”

Heechul mendecak, “ya~ itu kulakukan untuk fans dan itu bukan berarti aku seorang gay.”

“Aku tidak mengatakan kau seorang gay hanya…”

Heechul berdiri lalu menarik tubuh Yeosin mendekatinya. Ia merengkuh pinggang Yeosin dengan tangannya yang bebas lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Yeosin.

Yeosin menutup matanya saat Heechul berdiri. Ia takut Heechul akan memukulnya. Ia merasakan gerakan halus di bibirnya. Yeosin tidak berani untuk membuka matanya, ia malah membuka mulutnya perlahan membuat Heechul lebih leluasa menyentuh semua mulutnya.

Spatula yang Yeosin pengang jatuh saat ia berjinjit untuk membalas ciuman Heechul. Ia melingkarkan tangannya di leher Heechul untuk memperdalam ciumannya. Heechul tersenyum ia merasakan lehernya kaku karena menuduk. Ia lalu menggangkat Yeosin naik keatas meja tanpa menghentikan ciumannya.

Heechul melepaskan ciumannya lalu berpindah keleher Yeosin. Tangannya bergerak masuk kedalam kaos yang dipakai Yeosin lalu membuka tali bra yang dipakai gadis itu.

“Astaga Hyung…”

Heechul mengentikan aktifitasnya. Ia mengeratkan pelukannya pada Yeosin. Ia lupa mengunci pintu depan dan ini memudahkan member lain yang tinggal di sebelahnya untuk masuk kedalam rumahnya.

Yeosin membeku dalam pelukan Heechul.

“Harusnya aku membawa handycam-ku.” Seru Hyukjae.

“Kau ini pria bejat Hyung.” Ucap Ryeowook yang langsung pergi kedapur dan mematikan kompor, “harusnya kau membiarkan istrimu selesai memasak baru kau melakukannya. Kau membuat bau yang tidak sedap.”

“Hyung ini masih pagi… apa kau tidak puas melakukannya semalam?” ucap Kyuhyun.

“Ya~ kenapa kalian malah menonton mereka,” ucap Siwon, “bukankah kalian ingin segera mendapatkan keponakan?”

Heechul mendengus kesal. Ia yakin wajahnya sangat merah saat ini.

“Oppa tali bra-ku.” Ucap Yeosin ditelinga Heechul. gadis itu menenggelamkan wajahnya di bahu Heechul. Ia juga pasti sangat malu terpergok sedang berduaan. Untung saja ia belum membuka baju Yeosin. Jika tidak…

“Ya~ kalian apa kalian tidak bisa meningalkan kami?” Heechul menurunkan Yeosin dari atas meja.

Mereka semua menggerutu sambil menutup kembali pintu.

Heechul memandang Yeosin yang sedang menunduk malu.

“Lepas, aku harus membenarkannya.” Yeosin membalikan badannya sambil memengang dadanya. Ia berjalan kekamar lalu menutup pintunya.

Yeosin merasakan dadanya bergetar hebat. Kupu-kupu di perutnya semakin banyak dan berterbangan di dalam perutnya.

>>deson<<

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

Till you come back, everyday is yesterday

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

 

Heechul menyunggingkan senyumnya saat melihat bola mata Yeosin yang bergerak mengikuti deretan angka dihadapannya. Gadis itu menggerakkan bibir mungilnnya menggumamkan angka-angka dihadapanny kemudian menyalinnya dalam sebuah kertas. Kadang-kadang ia mendecak kesal saat perhitunggannya tidak sama.

Ia tidak pernah tau, apa menariknya angka-angka itu. Baginya angka itu terlalu rumit seperti seorang perempuan. Terlalu banyak misteri.

Ia tidak pernah tertarik dengan angka-angka tapi ia tertarik pada gadis itu. Gadis yang entah kenapa mampu membuat hatinya yang dingin menjadi meleleh. Hanya dengan tatapan berbinarnya, hanya dengan senyum lebarnya dan diamnya dirinya.

Ia merindukan sosok yang selalu menemaninya membaca. Sosok yang selalu kebosanan menemaninya dan akhirnya akan tertidur disampingnya. Sosok yang tidak pernah pergi jauh darinya.

Detik-detik yang ia lalui bersama gadis itu. Detik-detik penuh kesunyian. Detik-detik yang tidak pernah terlupakan.

 

속은 텅 빈 죽은 미소인데 (sogeun tong bin jugeun misoinde)

너를 만날 때보다 좋아 보인대 (noreul mannal tteboda joa boinde)

이젠 한숨이 놓인대 난 숨이 조이네 (ijen hansumi noinde nan sumi joine)

미소가 나만 못 속이네 (misoga naman mot sogine)

평범해지긴 했어 마음이 짐이 돼서 (pyongbomhe jigin hesso maeumi jimi dweso)

많이 비워냈어 정말 미치겠어 (mani biwonesso jongmal michigesso)

내겐 들리지 않는 위로들 (negen deulliji anneun wirodeul)

제발 그만해 (jebal geumanhe)

 

Hatikuku kosong dan senyumku sudah mati

Tapi kau berkata bahwa aku terlihat lebih baik dari pada bersamamu

Kau mengatakan bahwa kau dapat membiarkanku bernagas lega sekarang

Tapi aku kehabisan nafas senyum tidak hanya untuk menipuku

Aku menjadi normal – hatiku menjadi memberatkan sehingga aku mengeluarkannya.

Aku benar-benar akan gila – tolong berhenti mengatakan hal-hal yang menghibur seakan aku tidak dapat mendengar

>>deson<<

Yeosin dan Heechul duduk berdua. Heechul memakai headsetnya dan matannya sibuk membaca komik-komiknya. Yeosin mendengus kesal saat ia mulai kebosanan. Acara TV yang di tontonnya sudah tidak menarik lagi dan Heechul tenggelam dalam dunianya sendiri.

“Oppa…” ucap Yeosin yang tidak di gubris oleh Heechul.

Yeosin mengembungkan pipinya kemudian menatap Heechul. Ia menatap pria dihadapannya tapi pria itu tidak juga merespon.

Yeosin kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa tanpa sambil tetap menatap Heechul.

“Sebenarnya bagaimana hubungan kita ini??? kita tidak seperti suami-istri tapi kita tidak pernah melakukan apa-apa. Kita seperti kakak adik tapi status kita suami-istri.” Celoteh Yeosin, “Oppa… Oppa… Oppa…”

“Aku bosan memanggilmu Oppa dan mendengar kau memanggilku dengan sebutan Yeosin. Semua orang dapat memanggilmu Oppa dan aku benci itu. Orang lain juga memanggilku Yeosin dan aku tidak pernah memanggilku dengan panggilan khusus.”

“Ah~ mungkin aku terlalu kekanankan dan terlalu terobsesi pada dongeng-dongeng. Tapi Oppa, aku ingin sekali… ingin kau mengulurkan tanganmu dan meminta berdansa denganmu di tengah banyak orang. Ingin kau mengelus keningku sebelum tidur. Ingin kau kecup sebelum kau pergi berkerja dan…” Yeosin memeluk lututnya, “aku tau kau seorang superstar. Pernikahan ini juga banyak ditentang oleh fansmu. Aku mengerti. Aku tidak akan menuntut banyak permintaan. Tapi…”

Yeosin menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Ia merasa seperti orang bodoh berbicara sendiri. Ia mengutuki dirinya sendiri yang bodoh.

Tting… tttong…

Yeosin mengangkat kepalanya saat bel rumah mereka.

“Biar aku saja.” Ucap Heechul yang membuat Yeosin membeku.

Heechul menaruh komiknya dan Headset yang tidak tersambung kemanapun lalu berjalan dengan santai ke arah pintu. Yeosin bisa merasakan wajahnya memerah. Ia malu karena ternyata Heechul mendengarkan semua ucapan kekanak-kanakannya.

>>deson<<

“Apa kau benar-benar sudah menemukan penggantiku?” tanya Heechul penasaran memmbuat Yeosin refleks menatapnya.

Yeosin memandang mata Heechul. Ia melihat Heechul ragu mengatakan hal itu. Ia tidak tau apa yang mendasari Heechul mengatakan hal itu. Heechul terlalu sulit di mengerti. Ia tidak pernah benar-benar tau isi hati pria itu.

Heechul menatap wajah polos dihadapannya. Ekspresinya sulit diartikan.

“Ah~ Dia tidak pernah menggantikanku. Kau memang tidak pernah menjadi milikku.”

Ucapan itu membuat Yeosin mendekapkan tangannya di meja. Ia menatap Heechul lekat-lekat. Kedatangan pria itu secara mendadak, percakapan mereka yang entah kenapa terasa sangat lama dan… entahlah Yeosin merasa ada yang tidak beres.

 

사랑은 다른 사랑으로 잊는다는 말 (sarangeun dareun sarangeuro itneundaneun mal)

나에겐 이별보다 쓸쓸한 만남일 테니 (naegen ibyolboda sseulsseur-han mannamil teni)

시간이 다 해결해준다는 말 (sigani da hegyolhe jundaneun mal)

나에겐 매순간이 죽은듯한 삶일 테니 (naegen mesun-gani jugeundeut-han salmil teni)

 

Jangan katakan bahwa kau melupakan cinta karena memiliki cinta yang berbeda

Karena itu akan menjadi pertemuan yang lebih menyakitkan dari pada berpisah

Jangan mengatakan bahwa waktu dapat menyembuhkan semua

Karena saat itu akan seperti kematian untukku

 

“Kim Heechul-ssi, apa kau menyukaiku?” tanya Yeosin.

Heechul membelakakan matanya. Ia tidak percaya atas kejujuran Yeosin. Tentu saja ia menyukai gadis itu. Tidak hanya sekedar suka tapi juga ia sangat mencintai gadis itu. Hari-harinya terasa sepi tanpa kehadiran gadis itu. Ia benar-benar kesepian.

“Tapi bagaimana jika aku tidak.”

Heechul menelan ludahnya sendiri. Ia tau bahwa Yeosin sudah melepasnya. Bodoh kenapa ia meninggalkan Yeosin dan menerima saat Yeosin keluar dari rumah mereka.

Bodoh

Bodoh.

Bodoh.

Heechul mengutuki dirinya sendiri.

“Aku mengerti.” Heechul mencoba menatap Yeosin. Ia memaksa dirinya untuk menatap gadis itu seolah mereka sedang memainkan sebuah drama melankolis, “Aku tau jika dia lebih baik dari aku. Dia yang bisa mengerti perasaanmu.”

Yeosin meniup poninya, “kau tau seberapa bencinya aku padamu?”

“Hah?”

“Aku sangat membencimu Kim Heechul. Aku sangat membencimu. Sangat. Kenapa???”

Heechul melihat amarah itu lagi. Ia melihat mata Yeosin yang menusuk tajam padanya. Ia tau ia bukan orang yang pantas dimaafkan.

“Karena kau tidak pernah menentukan sikapmu.” Ucap Yeosin dingin.

“Aku tau… karena tapi jika kau bahagia hidup dengannya aku rela melepasmu.”

Yeosin menatap Heechul kesal.

“Aku tau kau sangat membenciku. Aku bisa paham. Aku mengerti jika ada pria lain di pernikahan kita. Aku tau aku bukan pria yang kau idam-idamkan. Aku bahkan tidak berusaha untuk membuatmu bahagia.”

Tatapan Yeosin melembut, jantungnya berdebar dengan kencang. Ia juga tersiksa dengan keadaan ini. Ia juga merasa sakit.

Heechul juga menyukainya. Senyumnya mengembang. Sulit mengambarkan bagaimana perasaannya. Abstrak mungkin ia akan berteriak histeris jika Heechul mengucapkan 3 kata ajaib yang selama ini ia inginkan.

“Oppa apa kau tau sebuah rahasia di pernikahan kita?”

Heechul mendongkah menatap Yeosin. Ia menatap Yeosin dengan tatapan tidak mengerti.

“Tidak ada pria ketiga diantara kita. Jika ada pria itu adalah Jungmo.”

Heechul membelakakan matanya tidak percaya. Jungmo. Jungmo adalah alasan kenapa Yeosin pergi dari sisinya. Jungmo adalah seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

Senyum Heechul mengembang. Ia menarik tangan Yeosin kemudian menggenggam tangannya eratt. Ia kemudian membalikkan cincin Yeosin ke posisi yang benar.

Yeosin tersenyum saat Heechul melakukan itu.

Heechul mengelus pipi Yeosin.

>>deson<<

Yeosin menatap dirinya di cermin. Ia merasa penampilannya cukup sempurna. Ia lalu menggambil high heels yang senada dengan bajunya. Setelah lama berputar di depan cermin, Yeosin keluar dan mendapati Heechul memandangnya dengan tatapan kagum.

Mereka berdua akan menghadiri acara pernikahan anak dari pejabat tinggi SM. Sebagai artis SM dan Yeosin sebagai anak dari pemegang saham tertinggi SM menjadi dua tamu kehormatan.

“Ah~ aku tidak suka tempat ini.” ucap Heechul saat mereka bergandengan masuk kedalam gedung pesta.

“Kenapa?? Pestanya cukup meriah kok.” Jawab Yeosin.

Heechul menatap Yeosin, “Aku tidak suka saat melihat mereka menatapmu penuh kagum.”

Wajah Yeosin merona, “kau cemburu, Mr. Kim???”

Heechul menggeleng, “tidak.” Jawab Heechul datar.

Yeosin mengembungkan pipinya, “Kau harus berhati-hati karena aku mempunyai banyak fanboy.” Yeosin melepaskan diri dari Heechul.

Selama di pesta Heechul berkumpul dengan teman-temannya hingga Yeosin memutuskan untuk berkeliling mencari teman-temannya.

“Hyung~ kapan kau memberikanku keponakan?” tanya Taemin.

“Yak kau itu…” Heechul nenepuk bahu Taemin.

Yeosin terkekeh saat mendengar Heechul kelayapan menjawab pertanyaan dari teman-temannya tentang hal yang tidak pernah mereka bicarakan. ‘anak’.

“Yeosin-ah… Kenapa kau tidak bersama suamimu?” Tanya Chaesun Membuyarkan lamunan Yeosin

Yeosin menggeleng, “biarkan dia dengan teman-temannya. Dia juga butuh bertemu dengan teman-temannya.”

“Apa kau tidak khawatir. Dia kan…”

Yeosin menatap Chaesun tajam, “Dia tidak seburuk yang kau pikirkan.” Yeosin kemudian mengambil minum. Yeosin memandang Heechul dari kejauhan. Heechul tampak menikmati pestanya.

Yeosin merasa kakinya sudah pegal. Lama-kelamaan High heelsnya menjadi sangat menyakitkan. Ia sudah tidak kuat berdiri. Ia ingin pulang.

Yeosin melihat Heechul keluar ruang pesta bersama Jungmo. Yeosin mengikuti Heechul perlahan. Langkah kakinya semakin melambat karena pergelangan kakinya semakin sakit.

Heechul dan Jungmo berhenti di taman belakang. Mereka berdua saling berpegangan tangan dan mencari tempat yang sepi dan remang-remang.

“Opp~” Yeosin menghentikan teriakannya saat melihat Heechul mencium Jungmo dengan intensif. Tangan Heechul memengan leher Jungmo dengan mesra dan Jungmo membalas ciuman Heechul.

Yeosin membalikan badannya tidak sanggup melihat ‘pemandangan’ itu.

Butiran-butiran kristal jatuh di pipinya.

Aku menikah denganmu untuk menutupi gosip yang mengatakan bahwa aku seorang gay.

Ingin sekali Yeosin tidak percaya pada gosip yang beredar itu. Ia tau bahwa Heechul adalah laki-laki normal. Tapi ia salah, Heechul tetaplah Heechul.

>>deson<<

Yeosin tersipu malu saat Heechul membelai pipinya. Ia merasa bahagia. Matanya berbinar dan senyumnya terus mengembang.

Drrttt…drttt…

Yeosin membuka pesan masuk dengan tangganya yang bebas. Ia mengerutkan keningnya lalu membuka laptopnya dan mengetikan sesuatu.

Heechul menggangkat sebelah alisnya saat melihat ekspresi Yeosin berubah. Ia memperhatikan dengan seksama wajah yang ada dihadapannya. Hatinya sudah tenang Yeosin tidak mempunyai pria lain dan akhirnya gadis itu tau perasaannya. Ia tidak tau seberapa bahagianya perasaannya.

Yeosin menarik tangannya yang digenggam Heechul. Tatapan matanya berubah menjadi marah. Ia mendecak kesal lalu melipat tangannya di dada.

“Apa sebenarnya yang membuatmu datang kemari?” tanya Yeosin dingin, “Apa untuk menyuruhku kembali padamu, tapi sepertinya kau tidak pernah mengatakan hal itu atau untuk memintaku menjadi topengmu lagi?”

Heechul mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

Yeosin membalikan laptopnya ke hadapan Heechul. Heechul terbelak saat membaca artikel yang berisi tentang fotonya bersama Yeosin beberapa menit yang lalu dan artikel yang jelas-jelas membuatnya marah.

Super Junior Heechul kembali membuktikan bahwa dirinya bukan seorang gay. Ia dan istrinya terlihat sedang bermesraan disalah satu kafe milik istrinya.

“Yeosin-ah… ini tidak…”

“Sudah cukup hentikan sandiwaramu.” Yeosin membuang wajahnya ia tidak ingin Heechul melihat air matanya, “Aku tau kita menikah hanya untuk meredakan gosip itu. tapi pada kenyataannya kita gagal. Kau terus diburu oleh wartawan dan aku tidak bisa menjadi topengmu lagi.”

“Dengarkan aku sekali saja…” pinta Heechul

“Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Semuanya sudah Jelas dan aku sangat membencimu. Lebih baik kau temui kekasih priamu itu dan…”

“I Love You…” potong Heechul

Yeosin menundukan wajahnya. Air matanya mengalir deras. Heechul selalu bisa mempermainkan perasaannya. Dan dengan bodohnya ia selalu terjerumus dalam permainan yang sama.

“Semuanya sudah terlambat. Pergilah.”

 

그래 사랑이란 건 받는다고 갖는 게 (geure sarangiran gon batneundago gatneun ge)

시간이란 건 걷는다고 가는 게 (siganiran gon gotneundago ganeun ge)

사람은 숨을 쉰다고 사는 게 아닌 걸 이젠 아는데 (sarameun sumeul swindago saneun ge anin gol ijen aneunde)

 

Ya, menerima cinta bukan berarti kau memilikinya

Menjalani waktu bukan berarti kau melewati

Bernapasan bukan berarti kau hidup

Tidak berarti

>>deson<<

Yeosin tidak berani pulang ke apartermen Heechul. Ia memutuskan untuk pulang kerumah orangtuanya. Ia mematikan ponselnya dan tidak membiarkan Heechul menemuinya. Ia mengurung diri dikamar dan menangis.

“Yeosin-ah tunggu…” Heechul menahan langkah kakinya saat ia keluar dari rumah, “Ada apa denganmu? Kenapa kau menghindariku?”

Yeosin menepis tangan Heechul, “Ceraikan aku.”

Heechul menatap Yeosin tidak percaya, “Apa maksudmu?”

“Jika aku katakan aku tidak bahagia bersamamu, apa kau akan melepaskanku. Apa jika aku berkata ada pria lain diatara kita, apa kau akan melepaskanku?”

Heechul terdiam.

“Ceraikan aku Kim Heechul-ssi. Jebal.”

Yeosin meninggalkan Heechul yang masih menatapnya. Ia menatap Yeosin yang menjauhinya. Ia merasa dunianya runtuh seketika.

Ia mendengus. Ia memang tidak mengerti perasaan seorang wanita.

>>deson<<

Heechul masih terdiam menatap layar laptop Yeosin. foto-foto yang terpajang disana belum lama. Foto dimana Yeosin menatap wajahnya saat ia tertidur. Tatapan mata yang intens dan dalam. Foto dimana ia sedang memperhatikan Yeosin yang sedang berkerja. Foto dimana mereka sedang mengobrol dan foto dimana mereka lebih banyak diam dari pada bicara.

“Kirimkan surat cerai padaku atau aku yang akan mengirimkannya padamu.” ucap Yeosin dingin

“Kau yakin?”

“Aku tidak pernah benar-benar seyakin ini.” Yeosin mengigit bibir bawahnya.

“Bagimana jika aku tidak mau?”

Yeosin meleparkan tatapan membunuh pada Heechul, “Aku akan tetap memintanya. Toh sejak awal kita memang bukan sepasang kekasih. Kita bukan kakak adik yang harus tinggal dalam rumah yang sama.”

“lalu kenapa jika kita bukan sepasang kekasih? Kenapa jika kita tinggal satu rumah. Kenapa aku harus melepasmu”

Yeosin mencibir, “Lebih baik seperti ini, bukan. Kita sama-sama tidak tersakiti.”

Heechul menggengam ujung meja agar emosinya tidak meledak-ledak, “kau tau… aku ingin sekali menuliskan kata ‘I Love You’ disebuah batu dan melemparkan batu itu kepadamu agar kau tau betapa sakitnya aku merindukanmu.”

Heechul bangkit kemudian mengambil jaketnya. Ia meninggalkan Yeosin sendirian yang menatap lurus tanpa fokus. Ia sudah kehilangan kendalinya. Ia tidak ingin emosinya meluap. Ia hanya butuh pikiran yang jernih.

 

No no more tomorrow

No no more tomorrow

네가 돌아올 때까진 (nega doraol ttekkajin)

No, no, no more tomorrow

내게 돌아올 때까진 (naege doraol ttekkajin)

No, no, no more tomorrow

 

Tidak tidak akan ada esok

Tidak tidak akan ada esok

Sampai kau kembali

Tidak tidak akan ada esok

Sampai kau kembali padaku

Tidak tidak akan ada esok

>>deson<<

Yeosin memeluk lututnya sendiri. Ia menatap kosong kedepan. Ayah dan ibunya berusaha menasihatnya agar memikirkan kembali tindakannya. Ia hanya menggagguk tapi tidak melakukannya. Seharian ia hanya duduk sambil melamun.

“Kau terlihat mengerikan jika seperti itu.”

Yeosin tidak menoleh ia tetap menandang lurus, “pergilah.”

“Tidak… aku kesini untuk menepati janjiku.” Kyuhyun menyerahkan handycam Yeosin, “mungkin ini sudah terlambat. Tapi tidak apa-apalah dari pada tidak sama sekali.”

Kyuhyun memasangkan Handycam Yeosin ke tivi. Ia mengatur TV itu agar Yeosin dapat melihat dengan jelas.

“Waa~~ annyeong…” suara Yeosin terdengar di TV, “Aku sedang melihat suami perform. Lihat dia tampan bukan?” gambar mengarah pada Heechul yang memakai baju biru tua.

Gambar kemudian beralih. Gambar ruang tamu apartermen Heechul tersorot.

“Astaga Hyung…” suara Ryeowook sementara gambar menampilkan gambar Yeosin dan Heechul sedang berciuman dengan mesra. Gambar itu diambil secara sembunyi-sembunyi.

“Harusnya aku membawa handycam-ku.” Seru Hyukjae.

“Kau ini pria bejat Hyung. harusnya kau membiarkan istrimu selesai memasak baru kau melakukannya. Kau membuat bau yang tidak sedap.” Ryeowook pergi kedapur lalu mematikan kompor

“Hyung ini masih pagi… apa kau tidak puas melakukannya semalam?” ucap Kyuhyun diselingi tawa iblisnya.

“Ya~ kenapa kalian malah menonton mereka,” ambar bergetar, tubuh Siwon menutupi gambar “bukankah kalian ingin segera mendapatkan keponakan?”

“Ya~ kalian apa kalian tidak bisa meningalkan kami?” Heechul berteriak salah tinggah.

Gambar berpindah lagi, dimana Heechul sedang menatap wajah Yeosin secara diam-diam. Peristiwa itu sangat lama, hingga membuat Yeosin kesal setengah mati

Gambar berpindah, tidak menampilkan gambar yang jelas.

“Hyung… apa kau benar-benar menyukai nuna?” suara Kyuhyun

“Maksudmu?” Heechul

“Jika tidak aku ingin menikah dengannya.”

“Ya~ kau itu. kau harus melewati mayatku dulu baru bisa menikah dengannya.”

“Apa itu berarti kau menyukainya?”

“….”

Gambar kemudian berpindah. Wajah Kyuhyun mendominasi layar, “Annyeong Cho Kyuhyun Imnida~… Ya Hyung…” Kyuhyun menarik Heechul, “Aku meminjam kamera Yeosin apa kau ingin mengatakan sesuatu padanya?”

Heechul menatap ke layar. Ia membuka mulutnya kemudian menutupnya kembali.

“Aiissshhh…”Gerutu Kyuhyun

Gambar berpindah, tidak jelas menampilakan apa.

“Hah… aku tau biasanya seorang gadis akan mengatakan cinta jika pria nya hampir mau mati. Kau berpura-pura saja masuk rumah sakit lalu Yeosin akan menangis dan bilang jika dia sebenarnya cinta padamu.” suara Hyukjae tampak antusias.

“Jika dia menyukaiku. Jika tidak?”

“harusnya kau mengajaknya makan malam berdua. Lalu kau katakan jika kau menyukainya.”

“Huuffttt… Aku selalu berusaha untuk mengatakannya tapi setiap aku berhadapan dengannya aku merasa seperti orang bodoh.”

 

Baby there’s no no tomorrow

그때 그대로 난 멈춰있고 (geutte geudero nan momchwoitgo)

마지막 그 순간에 머문 시간 (majimak geu sun-gane momun sigan)

너에겐 그저 지난날이지만 (noegen geujo jinannarijiman)

 

Baby takan ada, tidak akan ada esok

Aku telah berhenti di waktu itu, tempat itu

Di saat terakhir, untuk waktu yang lama

Meskipun untukmu, itu hanya masa lalu

 

Gambar berpindah. Yeosin mengenali itu sebagai tempat latihan suju. Heechul duduk di pojok sambil menutup matanya.

“Hyung kau kenapa?”

“huh… entahlah… sepertinya ada yang menusuk di ulu hatiku. Sakit. Aku tidak tau jika di membenciku dan semakin membenciku. harusnya aku mengatakan padanya lebih awal. Jika aku dan menyukainya. Aku masih normal dan mencintainya. Tapi aku tidak dapat mengatakannya. Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa aku hanya membantu Jungmo untuk terlepas dari kekasihnya. Kami hanya berpura-pura menjadi gay tapi ternyata kekasihnya malah menyebarkan ke seluruh wartawan.”

“…”

“Kyuhyun-ah…”

“Ne?”

“kenapa tiga kata itu sulit sekali diucapkan?”

“Hah?”

“Aku merindukannya. Sangar. Apa dia juga?”

“…”

“Saat aku membuka mataku dan melihat tempatnya kosong. Tidak ada seseorang yang menemaniku saat dirumah. Tidak ada seseorang yang menungguku pulang. Tidak ada seseorang yang mengantarkan makanan untukku. Tidak ada orang yang harus ku angkat karena ketiduran disofa. Tidak ada gerutuannya dan celotehannya tentang ini dan itu. Aku berharap saat aku terbangun, aku hanya sedang bermimpi buruk.”

 

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

Till you come back, everyday is yesterday

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

Till you come back to me

 

Yeosin memandang Kyuhyun.

“Dia mencintaimu. Dia bukan gay seperti yang orang-orang katakan. Dan kau juga bisa merasakan bahwa dia bukan seorang gay bukan.”

>>deson<<

One years ago…

“Kim Heechul-ssi…”

Heechul yang sedang menatap Yeosin kaget. Wajahnya memerah karena yang memergokinya adalah ayah Yeosin sendiri.

“Kenapa kau hanya memandangnya dari jauh. Kenapa kau tidak melakukan pendekatan lalu menyatakan cinta padanya.”

Heechul menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ne, ada apa Sanjangmin memanggilku?”

“Ini masalah Jungmo.”

Heechul mengerutkan keningnya.

“Pacarnya sangat tidak berkelakukan bagus. Jungmo sudah memintanya putus tapi gadis itu sepertinya akan nekat.”

“Aku juga mendengar hal itu. Dia gadis yang sangat buruk.”

“Oleh karena itu, aku memintamu untuk berpura-pura menjadi kekasih Jungmo.”

“Hah?”

“Sampai gadis itu memutuskan Jungmo. Jungmo harus bisa putus agar ia bisa melanjutkan promosi lagu-lagunya tanpa gangguan dari gadis itu.”

“Tapi bagaimana nanti jika rumornya menyebar.”

“Kau tidak usah khawatir. Rumor itu akan berhenti setelah kau menikah.”

“Tapi bagaimana aku menikah jika.”

“Kau akan menikah dengan putriku. Kau menyukainya bukan dan kurasa dia juga tidak akan menolakmu.” Goda Han sanjangnim

Heechul menunduk malu.

>>deson<<

Yeosin melihat semua barang di tetakan di tempat yang sama. Tidak ada yang berubah. Seperti ia baru pergi beberapa jam yang lalu.

Yeosin mengambil celemeknya dan mulai memasak. Ia memasak nasi goreng beijing kesukaan Heechul. Ia juga membuat kopi susu untuknya dan kopi pahit untuk Heechul.

Heechul mendengar suara berisik. Ia membuka matanya dengan berat kemudian bangun. Ia hampir tidak percaya saat melihat Yeosin sedang memasak didapur. Gadsi itu mendendangkan lagu favoritnya

 

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

Till you come back, everyday is yesterday

Baby there’s no, no, no, no more tomorrow

 

“Oppa kau sudah bangun.” Seru Yeosin saat melihat Heechul.

Heechul memandang Yeosin beberapa saat kemudian menghampiri Yeosin dan memeluk Yeosin dengan erat.

“Jangan tinggalkan aku lagi.” bisik Heechul, “Saranghae…”

“Nado.” Ucap Yeosin singkat

Heechul menarik dagu Yeosin kemudian menciumnya dengan lembut.

Yeosin mendorong tubuh Heechul perlahan, “changkaman.”

Heechul mengerutkan keningnya. Yeosin berbalik dan mematikan kompornya. Heechul tersenyum saat menyadari itu. Ia tidak ingin kedatangan makhluk makhluk yang tidak diundang lagi.

Yeosin melepas celemeknya. Heechul sudah tidak sabar. Ia segera menggendong Yeosin menuju kamar.

Selanjutnya sensorrrrr

Fin~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Melampiaskan kekangenan Pada makhluk bernama Heechul kkkk…

About -deson-

Everybody loves me, coz I’m made of chocolate

Posted on 21 Februari 2012, in Han Yeosin, SM Town and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. komen dulu bar ga ilang
    susah nyarinye

  2. miissssss youuuuu much much much ….Chullie__yaa …!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: