MIDNIGHT SUN/OKI★KIM/PART2

MIDNIGHT SUN/OKI★KIM/PART2

 

 TEASER | PART 1

Author             :           Oki★(@helloimoki)

Chapter           :           2

Main Cast        :           Song Sun Hye – Lee Jin Ki

Support Cast   :           Han Jin Kyu

Ayah Sun Hye

Ibu Sun Hye

Length             :           series

Rating                         :           PG-15

Genre              :           Friendship, Romance, AU

Disclaimer       :           Para cast dan cameo menjadi diri mereka sendiri dalam ff ini dan alur cerita ini secara garis besar saya ambil dari film jepang Taiyou No Uta. Saya selaku penulis hanya sebagai pengembang dari cerita ini.Jangan hakimi saya jika ada yang tidak sesuai dengan kehidupan nyata ataupun karena cerita ini sangat mirip dengan film Taiyou No Uta karena cerita ini memang sepenuhnya berasal dari skrip asli film tersebut dan saya tergerak untuk menulisnya dalam bentuk fanfiction dan dibumbui dengan imajinasi liar saya.Jadi tolong jangan hakimi saya sebagai plagiat karena niat awal saya bukan memplagiat tapi menuliskan kembali dan menambah atau merombak beberapa bagian yang saya rasa perlu.Terima kasih.

Note                :           saya Oki★Kim, author laki-laki. Jadi tolong jangan panggil saya Onnie karena saya LAKI-LAKI dan berhenti memanggil saya thor, karena nama saya bukan jonthor, bathor, kunthor, dll. Cukup panggil saya Oki atau Oppa. Tolong berikan komentarnya baik berupa kritik, saran, koreksi, atau pujian😉 asal jangan bashing, semuanya akan saya terima dengan kerendahan hati.  Terima kasih.

Sekali lagi cerita ini selebihnya hanya fiksi, bukan untuk menjatuhkan harkat dan martabat pihak manapun. Terima kasih.

Ada baiknya membaca ff ini sambil mendengarkan lagu YUI – GoodBye Days.😀

Jangan lupa RCL jika sayang bias!

HAPPY READING!

Part 2

“kau yang kemarin kan?” pemuda dihadapanku.

Aku mengangguk dan meminta maaf untuk masalah itu dan ia mengangguk dan tertawa.

“ternyata kau salah satu dari yang suka bernyanyi di jalan ya?”

“iya, aku biasa bernyanyi di dekat stasiun. Tapi aku bernyanyi bukan untuk mencari uang, aku bernyanyi karena hobiku” jelasku, pemuda itu mengangguk.

“uhhmm… maaf, lagu yang kau nyanyikan bagus! Apa judulnya?”Tanyanya lagi.

“benarkah? Aku belum menentukan judulnya” ujarku.

“heee… kau menciptakan sendiri lagu itu?” ia keheranan.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya ia datang terlalu pagi, batinku. Kemudian kembali hening karena ia tidak bersuara lagi.

“papan surfing yang bagus!” ujarku, mencoba bersuara.

“eh, benarkah?? Kau tahu, aku sangat menyukai surfing. Walaupun susah tapi aku akan berusaha untuk tetap hidup dan berjuang agar bisa menjadi atlet surfing yang hebat. Walaupun ini papan bekas, tapi ini akan sangat berguna untukku belajar. Eh, apa gitarmu bekas juga??”

Aku menggeleng. Pemuda itu kemudian diam, mungkin ia merasa tidak enak hati. Ia kemudian duduk di sisi ujung bangku dan aku bergeser ke sisi sebaliknya hingga kami berdua masing-masing duduk di bagian ujung bangku.

“namaku Lee Jin Ki, kemarin kalau tidak salah kau bilang namamu Song Sun Hye kan?”

Aku menangguk dan tersenyum. Ternyata namanya Lee Jin Ki, nama yang bagus, batinku. Kulihat ia gugup melihatku tersenyum. Ia sedikit salah tingkah dan menanyakan dimana aku tinggal.

“aku tinggal disana” ujarku menunjuk kearah rumahku yang terlihat sangat tinggi dari tempat kami duduk sekarang.

“ahh… kau sering memperhatikanku dari sana ya? Jangan-jangan kau sering melihatku melakukan hal yang aneh-aneh ya?” tanyanya.

“ahni… tidak! Tingkahmu biasa saja kok… tidak ada yang aneh menurutku” aku menunduk, sedikit berbohong.

Aku melihat jam tanganku, tenyata waktu hampir pagi dan matahari hampir terbit. Aku permisi padanya dan bergegas menyeberang jalan dan melangkah cepat menuju rumah.

“Sun Hye-ah! Mulai besok sekolah libur dan aku janji akan melihatmu bernyanyi. Di dekat stasiun kan?”

Aku tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan.

“jangan cuma berjanji tapi tidak datang” kataku padanya.

Ia mengangguk lalu melambaikan tangannya padaku. Aku balas melambaikan tanganku padanya lalu melangkah meninggalkannya secepat mungkin, takut jika matahari terbit saat aku belum sampai di rumah.Sambil melangkah cepat aku tersenyum-senyum sendiri.kurasa aku akan tidur nyenyak hari ini, lirihku pada diriku sendiri.

****

“HEI KALIAN! PERHATIKAN INI PAMAN ROCKER DISINI! PAMAN AKAN MENGHENTAK HATI KALIAN DENGAN MUSIK YANG SANGAT DAHSYAT! AYO PERHATIKAN PAMAN! KALIAN AKAN MENYESAL JIKA TIDAK MEMPERHATIKAN DENGAN BAIK PAMAN ROCKER! YEEEEAAAAAHHHH!!” teriak seorang pengamen tua dengan gaya nyentrik pada microphone fals ditangannya. Pengamen tua yang menamai dirinya paman rocker itu mulai bernyanyi dengan suara yang menggelegar namun tidak sesuai dengan petikan gitarnya sendiri.

Aku menunduk, takut melihat kearah paman rocker yang kini melakukan gerakan yang menurutnya sensual padahal sedikit menjiikan.Seseorang menutup mataku dengan telapak tangannya yang kokoh dan besar.

“jangan lihat!” lirihnya. Ternyata Jin Ki. “kenapa tidak mencari tempat lain untuk bernyanyi?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepala. “aku hanya diperbolehkan ayahku menyanyi disini karena disini tempat yang paling aman dan aku juga menyukai tempat ini” ujarku sambil tetap menunduk dan mataku ditutup oleh tangan Jin Ki.

Jin Ki menarik tanganku dan mengajakku meninggalkan tempat ini. Aku menoleh sedikit kea rah paman rocker yang kini ternyata melakukan gerakan yang makin erotis.

“awww” pekikku.

“sudah kubilang jangan lihat!” seru Jin Ki kembali menutup mataku.

Jin Ki mengajakku naik skuternya dan pergi ke suatu tempat yang menurutnya bagus untuk bernyanyi.Aku berusaha memasang helm yang diberikan Jin Ki padaku.Aku kesulitan memasangkan sabuk yang seharusnya melintang dibawah daguku, sabuk pemgunci itu malah terpasang di bagian bawah hidungku atau di bibir bagian atasku. Jin Ki tertawa melihatku  lalu memasangkan helm padaku dengan benar. Aku cemberut karena ia masih tertawa. Jin Ki malah mencubit kedua pipiku pelan.

“wajah yang aneh” ujarnya lalu kembali tertawa.

Jin Ki lalu naik ke atas skuternya dan aku ikut naik lalu berpegangan kencang pada perutnya.Jin Ki sedikit menoleh kearahku dan kulihat mukanya sedikit merah.

“ini pertama kalinya aku naik motor” lirihku jujur. Aku gugup karena takut jatuh.

Jin Ki tertawa lagi lalu ia melajukan skuternya. Mulanya pelan lalu makin lama makin kencang.Aku berpegangan makin kencang di perutnya.

****

Ternyata Jin Ki mengajakku ke sebuah tempat yang dipenuhi lampu berwarna-warni dan terlihat sangat menyenangkan.Aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya.Aku sangat senang dan memandang kesekelilingku.Aku melihat sebuah roda raksasa yang berputar pelan dan di ujung-ujungnya terdapat semacam ruangan kecil dan kulihat ada orang didalamnya.

“itu namanya bianglala” ujar Jin Ki, “disini banyak tempat untuk menyanyi yang bagus” lanjutnya.

“ayo kita berkeliling dulu disini baru mencari tempat menyanyi untukku” ajakku.

Jin Ki lalu mengajakku ke toko es krim daan membeli es krim jumbo rasa pisang. Ah, ternyata ia ingat jika aku suka buah pisang, batinku. Kemudian Jin Ki mengajakku berkeliling, melihat sebuah kapal hiasan yang berukuran besar dan dipenuhi lampu hias dan bermain di tempat permainan yang menyenangkan.selama berkeliling Jin Ki menggenggam erat jemariku dan aku membiarkannya.

Setelah puas berkeliling, Jin Ki mengajakku mencari tempat yang bagus untuk menyanyi. Entah memang disadarinya atau tidak, ia tetap mengenggam jariku dan seakan tidak ingin melepaskanku. Setelah lama mencari akhirnya aku menemukan tempat yang kusukai dan aku memilih untuk bernyanyi disana.Sebuah dinding yang dipenuhi gambar bunga matahari. Terlihat menyenangkan!

Aku duduk tepat di depan gambar bunga matahari itu dan aku menghidupkan lilin, seperti biasa. Aku mengatur senar gitarku terlebih dahulu dan setelah kurasa pas aku melihat ke arah Jin Ki yang duduk tidak jauh didepanku.Ia seperti melamun memandangku dan ketika aku trsenyum kepadanya ia seakan tidak sadar dan tidak percaya aku tersenyum padanya sebelum aku bernyanyi.

Aku memainkan gitarku, memetik nada awal lagu ciptaanku yang belum aku tentukan judulnya.

Theres a reason why I decided to meet you

I wanted you to listen to this song in my pocket

 

Slowly I turn the volume louder to ensure that everything is alright

 

Now Good-bye days

I’ve known this feeling will change

Until yesterdays that we have gone trough feels like so long

Forbidden days but memorable

When I was with you

 

Giving you other side of my earphone

Slowly, when the song began to sound

(I was thinking) if I could loving you betterly?

And sometimes I feel indecisive.

Now , goodbye days.

Everything began to change, but something in my heart just fine

Like before, forbidden days but it’s memorable

Just like when you with me, now

 

If I can, I wouldn’t be sad, how unprepared my feelings to you

But you were there, right?

At that moment, you smiled, didn’t know how I will say “Hey Friend” nicely

 

When I hum the same song as you hum

I wish I was right beside you

Day parting is not fun, but I’m glad to meet you

 

(Yui – Goodbye days (Ost. Taiyou no Uta))

 

 

Ketika aku meyelasikan petikan terakhir laguku, aku menerima tepuk tangan bergemuruh dari orang-orang yang menontonku. Aku tidak menyangka akan seramai ini yang melihatku bernyanyi.

****

            “kau tahu, ketika melihatmu bernyanyi aku merasa melihat bintang besar bersinar dihadapanku” ujar Jin Ki sambil memandang ke arah ombak. Setelah selesai bernyanyi, Jin Ki mengajakku ke tempat lain yang menurutnya tidak kalah indah dari tempat tadi dan ternyata ia membawaku ke pantai.

“kau terlalu melebihkan… tapi aku juga merasa melihat seorang atlet surfing ketika kau membawa papan surfing setiap pagi”

“kau ingat apa yang kukatakan kemarin? Aku akan berjuang untuk bisa ahli surfing. Walaupun susah tapi aku akan berusaha untuk tetap hidup dan berjuang agar bisa menjadi atlet surfing yang hebat. Kau juga berjuanglah untuk menjadi seorang penyanyi terkenal! Suatu saat kau harus rekaman dan menyebarkan lagumu.Aku yakin lagumu akan mejadi Hits” seru Jin Ki.

Aku diam, seakan mendapat suntikan semangat, aku merasa harus bisa bertahan separah apapun penyakitku saat ini.Aku harus kuat dan berjuang.Tiba-tiba Jin Ki berdiri dan berteriak kearah laut.

“Namaku Lee Jin Ki”

“Umurku 17 tahun, tinggal bersama orang tuaku, hobiku surfing, dan aku tidak punya pacar!” serunya.

“Hewan favoritku bukan cheetah dan untuk makanan aku tidak suka pisang tapi aku akan berusaha menyukai keduanya!”

Aku tersenyum melihatnya, ia terlihat seperti menggodaku karena mempraktekkan apa yang kulakukan beberapa hari yang lalu padanya. Namun tiba-tiba Jin Ki berdiri dihadapanku.

“maukah kau menjadi kekasihku??” tanyanya.

Aku terdiam, apa yang dikatakannya membuatku seakan masuk ke alam mimpi. Bisa berkenalan dan bersamanya semalaman ini saja sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak pernah membayangkan jika ia akan mengatakan hal ini padaku. Aku bingung harus menjawab apa. Jin Ki terlihat bingung karena aku hanya diam. Aku berusaha berbicara padanya namun bibirku terkatup tak bisa kubuka.Bibirku kini hanya membentuk senyum, perlahan kuanggukkan kepalaku mengiyakan tawarannya. Bibirku kini tersenyum makin lebar setelah melihat Jin Ki tersenyum manis dihadapanku.

“tunggulah sekitar sepuluh menit lagi. Kau akan melihat keindahan muncul dibalik sana. Matahari akan terbit dengan anggun disana. Hanya dari sini kau bisa melihatnya dengan sangat bagus” ujar Jin Ki.

Aku terkisap.Matahari terbit?Tidak mungkin aku melihatnya langsung dari tempat ini. Dari sini sinar matahari akan langsung menerpa kulitku tanpa perlindungan sedikitpun!

“aku harus segera pulang” lirihku sambil menarik tangan Jin Ki, mengajaknya meninggalkan tempat ini segera.

“kenapa? Tunggulah sebentar.Kau tidak akan menyesal melihatnya” ujarnya.

Aku meninggalkannya dan pulang sendiri, baru beberapa langkah, Jin Ki menyusulku dan memintaku untuk menemaninya sebentar saja.Aku menolak dan menangis lalu aku berlari meninggalkannya.Aku sudah lelah berlari namun aku tetap saja masih berada di area pantai dan kulihat jalan kea rah rumahku masih sangat jauh.Jin Ki menyusulku dengan skuternya dan memintaku naik.Aku segera naik dan memintanya secepat mungkin menuju rumahku.Aku memeluknya dari belakang dengan kencang. Aku takut sekali! Aku tidak ingin semuanya berakhir dengan begitu cepat.

Sesampainya di depan rumahku, aku berlari secepat mungkin masuk ke dalam rumah namun aku ternyata terlambat, cahaya pertama matahari muncul dari ufuk sana dan menerpaku tepat sebelum aku masuk ke dalam rumah.

-TBC-

aduhh.. apalagi ya ini..

maaf ya publish lanjutannya lama😦 mana gaje lagi..

maaf bgt ya..

dimohon komentarnya🙂

About Oktabri

procrastinator

Posted on 3 April 2012, in Korean FF, Oki Kim★fiksikopat, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Ahhh makin penasaran (> .̫ < )
    Lanjut thor😀

  2. ini mirip kayak filmnya yui…..0=;

  3. Ea kshan bngt thu……!!! ;(

  4. Makin seru. Brhubung gtau film nya, jd minta lanjutin yah.. Hehe gomawo🙂

  5. Aih… Jinki nya sweet banget…
    Well, ini lanjutannya mana… Cepetan dong!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: