Category Archives: Alma_cchu

[FF/S/6/PG-15/] Can You Love Me??? part 6

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

adakah yg nunggu??? :p mianhae aku hiatus bgtu lama XPP klo bingung baca part2 sbelumnya 🙂

part 1part 2, part 3part 4part 5

Happy reading~~

Pupus sudah,,

Harapku hanya satu…

Kembalilah padaku! Aku tak ingin sendiri

 

Salahku,, memang…

Ya,, betapa bodohnya aku

Sifat manja yang melekat padaku, kenapa tak kunjung hilang?

 

Gontai,, semua perasaan menyelimutiku

Ingin aku berteriak,, lampiaskan galau yang merajaiku

 

Author POV

Myuu pulang dengan gontainya, terlebih tanpa ‘hasil’. Hubungannya dengan Taemin tetap buruk. Membuat semangatnya buyar dengan seketika. Ia tak berniat untuk nangis, justru ia kesal. Sangat kesal hingga sepanjang jalan ia sibuk menghentak-hentak kakinya dan menggigit bibir bawahnya, menahan kesal.

Pikirannya kalut, seakan memaksanya berpikir keras.

“Aahh… menyebalkan >,<…” kalutnya mengacak-acak rambutnya sendiri. Sadar banyak mata memandangnya aneh, ia hanya memandang orang-orang itu tajam, seakan berkata apa-yang-kau-lihat?. Lebih mempercepat langkahnya pergi, karena ia tak mau dikira seperti orang gila atau orang stress. Padahal ya,, benar. Memang sedang stress.

~~~

Myuu POV

“aku pulang…” tak ada jawaban. Huft… aku lupa, umma sedang ada urusan mendadak jadi mungkin pulang terlambat.

Aku masih berjalan gontai menuju kamar, sangat-sangat tak bersemangat.

Ku rebahkan tubuhku di kasur, lepaskan penatku yang melekat akhir-akhir ini. Ku raih bingkai foto di atas meja sebelah tempat tidurku. Fotoku, taemin dan hae-oppa. Ku peluk erat bingkai foto yang tengah ku genggam.

“taemin… hae-oppa… jangan tinggalkan aku…” lirihku. Air mata mengalir seraya ku pejamkan mata sekedar melepas rindu akan keberadaan mereka,, hingga ku terlelap dalam keresahan yang tak terbendung.

“minnie,, oppa~ acungkan jari kelingking kalian!” seru Myuu kecil sambil mengacung-acungkan kedua kelingkingnya.

“seperti ini??” tanya Hae mengikuti Myuu mengacungkan kedua jari kelingkingnya seraya senyum manis yang tak pernah lepas menghiasi bibirnya.

“mau apa sih Myuu? Kau selalu saja aneh-aneh” taemin ikut mengacungkan jari kelingkingnya dengan malas.

“kita kaitkan dan saling berjanji…”

“ya,, baiklah aku berjanji…” selah taemin memotong pembicaraan.

“issh,, apa yang kau janjikan minnie>,<? Aku belum selesai bicara”

“kalian jangan bertengkar! Ayo Myuu lanjut, kamu mau kita berjanji apa?” hae menenangkan. Setidaknya senyum tulusnya bisa menenangkan keadaan taemin dan myuu yang sering bertengkar.

“berjanjilah, kalian akan selalu menjagaku dan bersamaku…” ucap myuu mempererat kaitan jari-jemari kelingking mereka yang saling bertautan.

“ya,, kita berjanji untuk selalu saling menjaga dan bersama selamanya…”

“setidaknya sampai aku menikah dengan Hae-oppa nanti…” celoteh Myuu pelan, tapi masih dapat terdengar jelas dengan pipinya yang merona merah.

“Yya~ apa-apaan kamu Myuu, kalau begitu aku tidak janji…” selah taemin, melepas paksa tautan jari kelingkingnya dari Myuu dan hae. Mengrucutkan bibirnya kesal.

“issh,, kenapa kamu marah minnie >,<? Hae-oppa saja setuju.. iya kan, oppa?” Myuu menoleh pada hae dan mengeluarkan jurus puppy eyesnya.

Hae hanya terkekeh melihat tingkah saeng-saengnya.

“jangan mau hyung! Myuu kan cerewet dan manja,, kau suka gadis yang dewasa dan tidak manja kan hyung” timpal taemin memanas-manasi.

“kau menyebalkan minnie! Lihat saja nanti,, aku akan memakai gaun cantik berjalan di altar gereja bersanding dengan hae-oppa sebagai istrinya …” khayal myuu sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Yya~ khayalanmu ketinggian myuu,, hae-hyung tak akan mau menjadi suamimu…”  tambah taemin, mengibas kilat tangannya didepan wajah myuu seakan menghilangkan bayang-bayang khayalan Myuu.

“issh…” myuu semakin geram dengan taemin. Menghentak-hentakkan kakinya, mukanya memerah karena kesal.

“minnie kau menyebalkan! Kau tidak akan mendapat istri secantik aku,, aku akan menyumpahimu menikah dengan Ki Yeon anak perempuan dari kelas sebelah yang gendut seperti sapi >,<” kesal myuu asal bicara.

“yang mana ya~ yang mana ya~ aku tak kenal~~ tak kenal~~”

“minnie menyebalkan >,<… XP (mehrong)”

Semakin kesal dengan sikap taemin, yang bisa diharapkan hanya Hae. Dengan kesal myuu menginjak kaki taemin dan bergegas menghampiri hae. Meninggalkan taemin yang meringis kesakitan memegangi kakinya.

Hae hanya duduk memandangai adik-adiknya yang selalu saja bertengkar. Membuat hidupnya dipenuhi keramaian dan kebahagian. Berharap tak hilang dari hidupnya.

“oppa~ minnie menyebalkan…” rengek Myuu.

“sudahlah Myuu, taemin hanya bercanda” hae menenangkan, mengusap-usap halus pucuk kepala Myuu.

“kalau begitu berjanjilah ketika aku sudah dewasa kau akan menikahiku nanti…” rengek myuu seakan menuntut, sambil mengacungkan jari kelingking kanannya.

“E???”

***

Myuu POV

Blam…

Suara dobrakan pintu mengagetkanku yang baru saja mencoba terlelap. Aku keluar kamar masih dengan keadaan ‘kusut’. Berharap Taemin yang datang. Ya, aku jauh dalam hatiku berharap taemin yang datang, walau keadaanku masih setengah sadar.

“umma??”

“ahh, Myuu… sudah pulang rupanya,, umma pikir kau akan lama disana…” kaget umma sambil meletakkan beberapa bungkusan di atas meja.

“aku pikir umma yang akan lama, aku… baru saja… pulang…” sergahku gugup.

“bagaimana tadi taemin??? Kau jadi menonton performnya kan?” tanya umma sontak membuatku semakin gugup, bingung harus menjawab apa.

“taemin… bagus…” jawabku semakin gugup.

Umma menyerngit dahi, curiga.

“Kau yakin?” tanya umma menyelidik.

“iya umma… ahh, umma mau masak apa untuk makan malam? Aku yang masak ya!” selahku mengalihkan pembicaraan. Mempercepat langkah keruang dapur dengan mengambil beberapa kantong belanjaan yang ada di atas meja.

“Yya~ kau ini bisa saja mengalihkan pembicaraan…” gerutu umma pelan, tapi masih terdengar jelas olehku.

***

Hari ini adalah upacara kelulusan. Para siswa kelulusan berkumpul di aula yang biasanya di pakai untuk pertunjukan teater. Seperti biasa di awali dengan pidato. Tapi aku sama sekali tidak memperhatikan pidato kepala sekolah,, otakku tak fokus, mataku pun sibuk mencari sesosok yang akhir-akhir ini membuat ku insomnia. Ya,, Taemin.

Akhinya aku menemukan sosoknya, lumayan jauh jarak bangku kami. Disebelahnya Key fokus memperhatikan pidato guru. Tapi Taemin sepertinya tidak memperhatikan, sesekali ia menguap, lelah mungkin.

Akhirnya aku dapat melihatmu,,

Walau mulut ini enggan untuk menyapamu,,

Cukupkah tatapanku mewakili semua ragaku untuk menyampaikan rinduku padamu?

…rindu,, bahkan sangat Rindu.

Tiba-tiba Taemin mengalihkan pandangan ke arahku,, sontak membuatku kaget, buru-buru mengalihkan pandangan darinya sambil menundukan kepala menahan malu atas kebodohanku.

***

Usai upacara kelulusan ku edarkan pandanganku mencari sosok yang dari tadi menggangu pikiranku. Hilir mudik orang-orang berjalan di sekitarku. Lagi-lagi aku kehilangan jejaknya.

Hilang,, kau selalu saja hilang begitu saja

Dari segelintir orang-orang yang hilir mudik disekitarku

Aku tak melihat sosokmu

 

Muncullah,, tampakkan dirimu walau hanya kilasan-kilasan bayangan semu

Mungkin cukup walau hanya melihatmu,,

Bila kau tak mau bertemu denganmu,

Biarkan fatamorgana pancarkan semu bayangmu…

 

Semilir angin berhembus,,

Hempaskan daun-daun rapuh

Berguguran tinggalkan kokohnya sang pohon

Teriknya  mentari bersinar

Seakan ikut mengedarkan sinarnya mencari bayangmu

Di antara segelintir orang-orang yang hilir mudik

Adakah kehadiran dirimu???

“Myuu…”

Suara ini,, suara yang aku rindukan, bahkan sangat aku rindukan. Perlahan aku berbalik,, menghadap ke asal suara, berharap terkaanku benar,, bukan khayalan semuku semata. Sepasang mata coklat jernih menatapku dalam. Ya,, sepasang mata sahabatku yang sangatku rindukan. Beberapa lama kami hanya saling bertatapan, tanpa sepatah katapun yang terangkai dari bibir kami masing-masing. Berharap ini dapat mewakili perasaan rinduku padanya.

“Hei,, kamu mencariku, Myuu?” tanyanya membuyarkan kebisuan diantara kami.

“…eh..em..” aku hanya mendehem kecil, menggaruk tengkukku dan mengulum bibirku membentuk sebuah senyuman kecil, bingung harus menjawab apa.

“aku punya waktu dua jam sebelum kembali ke asrama,, ayo kita ke taman belakang sekolah!” ia mengenggam tanganku, membawaku pergi ke taman belakang sekolah.

***

“apa kau harus benar-benar pergi, taemin…nie…?” tanyaku menghentikan langkah kami. Terdiam menundukkan kepalaku.

“bukankah kau ingin aku pergi??” taemin malah balik bertanya. Nada bicaranya terdengar lirih.

Aku memberanikan diri menatapnya, tapi ia malah mengalihkan pandangannya dariku.

“Mianhae…” lirihku.

“gwenchana…” ia mengusap halus kepalaku dan kembali menggenggam tanganku, membuatku pasrah mengikuti langkah kakinya.

Taukah?? Taemin tak pernah memperlakukanku selembut ini. Bukan berarti ia memperlakukanku dengan kasar, hanya saja,, biasanya kami bertengkar.

“Myuu, mianhae. Aku tak menepati janjiku untuk selalu menjagamu. Jaga dirimu di SMP nanti ya!” jelasnya tanpa menghentikan langkah diantara kami, seraya tangannya yang menggenggam ku semakin erat. Sekilas senyuman tipis mengembang dari bibirnya.

Rasa kecewa tentu saja ku rasakan,, tapi aku yakin kau akan kembali. Senyum itu, teruntukkukah?. Maaf taemin, kau tak dapat membalas apapun perkataanmu. Aku sedih,, sekaligus bahagia. Setidaknya kau tidak meninggalkanku begitu saja. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik sampai kita,, kau, aku dan hae-oppa bersama seperti dulu.

***

“hae-oppa~, minnie menyebalkan…” rengek Myuu kepada Hae yang sedang asyik membaca buku. Hae hanya menebarkan senyumnya, mengusap halus pucuk kepala Myuu. Dilihatnya Taemin yang hanya mengerucutkan bibirnya, mengalihkan perhatian dari Myuu dan Hae.

“tuh kan oppa~ dia sangat-sangat menyebalkan…”

Hae hanya menghela nafas kecil.

“apa yang kalian ributkan? Hemm??” hae mengerutkan alisnya bingung, bertanya pada kedua saengnya berharap ada yang dapat menjawab.

Taemin tetap mengalihkan pandangannya. Sedangkan Myuu merajuk kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

“Yya~ minnie jelek>,< aku adukan hae-oppa ya!!”

“Adukan saja week XP (mehrong) aku kan hanya bilang khayalanmu ketinggian, Myuu…”

Jawab taemin meledek.

“issh… oppa lihat sendiri,, minnie sangat-sangat menyebalkan >,< sampai kapanpun kami takkan akur kalau dianya menyebalkan seperti itu…”

“husst… jangan bicara seperti itu, Myuu!” hae berusaha menenangkan.

“kalian ini, tiada hari tanpa bertengkar…” lanjut hae, menggaruk tengkuknya yang tak gatal, hanya bingung dengan sikap saaeng-saengnya.

Myuu dan Taemin hanya saling mengerucutkan bibirnya. Tidak ada yang mau mengalah.

“Minnie yang menyebalkan aku tidak akan mau minta maaf padanya apalagi mengalah >,<”

***

Pipp pipp pipp…

Bunyi alarm jam weker perlahan bangunkanku dari mimpi indahku. Tampak sinar mentari mencuri-curi pandang dari sela-sela tirai jendela kamar. Udara pagi berlomba-lomba masuk kamar melalui lubang-lubang ventilasi udara. Bau basah embun pagi menyerbak seraya ku buka perlahan jendela kamar. Cerahnya mentari pagi seakan menyemangatiku mengawali hari ini. Ya,, ini hari pertamaku masuk SMA. Di Chungdam high school.

Ku pandangi bingkai foto kami bertiga. Aku, Taemin, dan Hae-oppa.

“selamat pagi Hae-oppa…” sapaku. Yap, hampir setiap pagi ku sempatkan untuk menyapa mereka walau hanya dari foto.

“selamat pagi taeminnie,, haha… taukah?,, aku memimpikan kita sewaktu kecil, tapi anehnya, aku selalu memimpikan saat saat pertengkaran kita…” tawaku lirih.

“… apa kalian merasakan apa yang ku rasakan?? Aku… merindukan kalian… bahkan sangat sangat merindukan kalian…” aku tak sanggup membendung air mata yang menumpuk di pelupuk mataku. Mengalir begitu saja.

“hehe… mianhae… padahal aku sudah berjanji bahwa aku bisa menjaga diri,, tapi aku masih cengeng seperti ini…” tawaku lirih berusaha menghapus air mata yang masih mengalir di pipiku.

“minnie, hae-oppa… sekarang aku sudah tidak manja. Kalau kita bertemu kelak aku akan buktikan kalau aku sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang mandiri!” tegasku memantapkan hati.

“jya~ bye oppa, minnie… hari ini hari pertama aku masuk SMA,, semoga menyenangkan! Doakan aku ya! Jya~ aku bersiap-siap ke sekolah dulu…”

***

Jantungku berdegup kencang, ratusan nama-nama tercantum di dinding pengumuman. Nama-nama pembagian kelas. Aku terus mencari namaku dari sekian nama yang ada. Yap,, ketemu aku masuk kelas 1B.

Eh,, sekilas aku seperti melihat nama yang ku kenal.

“lee taemin…” gumamku pelan. Diakah?? Taeminnie ku kah??

Sontak aku berlari menuju kelasku, berharap dugaanku benar. Hanya harapan kecil,, tapi feelingku mengatakan “Ya,, ini taeminnie ku” sahabat kecilku yang ku tunggu selama 3 tahun.

Blam…

Aku membuka pintu kencang, sehingga menimbulkan dentuman keras. Sontak membuat seisi kelas mengalihkan perhatiannya ke arahku.

Aku tak peduli,, ku edarkan pandanganku ke seisi kelas, mencari sosoknya yang mungkin ada diantara mereka semua. Nihil. Tak kutemukan sosoknya.

Harus pupus lagikan harapanku?

Aku mohon,, walau hanya kemungkinan kecil. Ya,, kemungkinan kecil datanglah!

“huft… mianhae…” ku hela nafas panjang seraya menunduk dalam meminta maaf pada seisi kelas karena membuat kegaduhan dipagi hari, terlebih dihari pertama masuk.

Sudahlah myuu, kau terlalu banyak berharap. Berhenti mengkhayal dan fokus sekolah!. Aku berusaha menenangkan hatiku yang sedikit kecewa.

Padahal hanya harapan kecil, tapi tetap tak terpenuhi.

Apa aku terlalu banyak berharap?? Mungkin…

Aku… lelah berjalan seorang diri…

 

Lihatlah,, ini aku yang tengah beranjak menjadi gadis dewasa…

Aku janji,, bila kelak kita dipertemukan

Aku… tak kan bersikap kekanak-kanakan

Karena kini,, aku tengah berusaha mandiri

Jadi,, aku mohon, datanglah!

“Hei,, Kalau kau diam seperti itu di depan pintu kau mengalangi siapapun yang ingin masuk…”

Apa tuhan tengah mengabulkan harapanku???

TBC…

tunggu part terakhirnya yaa~

Ini ga ngedit~.~ lagi haroream eung T.T mianhae~~

nikmati sajalah maaf kalau rada mengecewakan *udh lama baru muncul mengecewakan lagi T.T ckck mianhae~~~
Jangan lupa komentar!! ^^

Iklan

[FF/S/5/PG-15] Can You Love Me??? (Part 5)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

Langsung aja yuu ah^^ tak mau banyak cuap-cuap XD

yg mau baca part sebelumnya buka ini aja : part1part2part3, dan part 4

Happy reading 🙂

 

 

~Myuu POV~

“Myuu… gwenchana?”

Suara ini,, begitu jelas ditelingaku.

“Minnie…” sontak aku refleks memeluknya. Merasa ada sedikit kelegaan dalam hatiku.

“Gwenchana yo…” Taemin mengusap halus punggungku. Membuatku mempererat pelukanku.

“Hae-oppa dan kau tak kan meninggalkanku kan?” tanyaku masih terisak.

Diam. Taemin tak bergeming. Ku rengangkan pelukanku. Menatapnya. Tatapan sendunya sulit ku artikan. Sesaat kemudian ia tersenyum, senyum parau yang tak pernah ku lihat sebelumnya dari bibirnya. Kembali menyesakkanku.

“Hae-oppa mana?” tanyaku lirih.

“Mianhae, myuu…” jawabnya tak kalah lirih.

“Aku tak butuh permintaan maafmu! Aku tanya, hae-oppa mana??” bentakku. Meluapkan segala kagalauanku padanya.

“Jeongmal mianhae, myuu…” lirihnya lagi.

“Pabo namja! Hae-oppa mana?” kesalku memukul-mukul bahu dan dadanya.

“Mianhae…”

“Jangan jawab maaf! Aku mau hae-oppa…”

Segala berkecambuk dihatiku. Marah, kesal, sakit hati, dan kegalauan. Entah sudah berapa banyak air mata ini mengalir. Tak habis-habis, terus saja mengalir. Membuatku semakin sesak.

Jahatkah aku? Melampiaskannya semua pada Taemin, melampiaskan sakitku padanya, membagi beban sakit hatiku padanya. Maaf,, tapi aku tak tahan menanggung semua ini seorang diri.

“Kau jahat, minnie! Jahat…” aku masih saja memukul-mukuli dadanya. Ia pasrah. Namun tiba-tiba ia menahan tanganku tepat dadanya. Aku mencoba meronta, tapi ia menahannya kuat. Aku mendongak memandang wajahnya. Ia pun menangis, sontak membuatku kaget. Ini pertama kalinya aku melihanya menangis lagi semenjak  pemakaman appa ku.

Entah mengapa ini tambah membuatku sakit, tapi kegalauan yang merancauku memaksaku untuk acuh, tak pedulikan namja dihadapanku yang mungkin merasakan sakit yang sama.

Aku memaksa lepas dari genggamannya.

“Aku membencimu, Taemin…”

“Aku akan menggantikan hyung menjagamu, myuu…” lirihnya masih terisak, memotong pembicaraanku.

Ini membuatku geram, ada apa sebenarnya denganku?. Sebenarnya aku senang, setidaknya aku tidak sendiri. Ada taemin bersamaku, tapi… kegalauanku seakan-akan merancauku untuk marah, kesal. Mengapa bukan hae-oppa?. Kenapa harus selalu taemin?. Ketidak bersyukuranku terus saja merancau, merajai otak dan hatiku. Semakin membuatku bimbang.

“Pabo! Aku tidak butuh kau! Aku hanya butuh Hae-oppa!!”

Plakk

Akhirnya aku malah mengucapkan kata jahat itu padanya. Ditambah menamparnya keras dan pergi, lari meninggalkanya begitu saja.

Jahatkah aku?? Taemin juga jahat. Dan Hae-oppa juga jahat.

Ya, kami bertiga jahat. Saling menyakiti.

***

~Taemin POV~

“Aku membencimu, Taemin…”

“Aku akan menggantikan hyung menjagamu, Myuu…” lirihku masih terisak. Sakit,, tak tau kah kau Myuu, ini juga menyakitkanku. Tapi seakan-akan kau melimpahkan semua ini padaku.

Ia terdiam, membiarkan keheningan menyelimuti kami sejenak. Aku tak berani memandang wajahnya.

“Pabo! Aku tak butuh kau! Aku hanya butuh Hae-oppa!!”

Plakk

Sebuah tamparan keras melayang ke pipiku. Sontak membuatku kaget. Lebih tepatnya membuatku sakit, sakit yang tak akan mudah terobati hanya dengan obat merah atau obat apapun. Kata-katanya yang begitu menyakitkanku.

Pergi meninggalkan aku dalam luka yang semakin dalam.

Sebegitu tak berartinyakah aku dimatamu, Myuu…

“Terus apa yang harus aku lakukan sekarang? Alasanku tetap disini hanya karenamu,, tapi sedikitpun kau tak peduli dengan keberadaanku. Haha. Kau menyedihkan, Taemin…” tawaku getir, miris dengan semua yang terjadi denganku.

Entahlah,, sekarang kemana kaki ini akan melangkah, maka ke situlah aku.

***

~Author POV~

Myuu keluar kamarnya dengan keadaan yang masih ‘kusut’. Mengucek-ucek matanya yang masih bengkak dan sembab karena menangis seharian dari kemarin. Kakinya reflek melangkah ke arah dapur karena wangi masakan untuk makan malam.

“Umma, wangi sekali masakan…nya…” Ia tersontak kaget, karena sosok yang menambahi sakitnya pagi tadi kini ada di hadapannya, tepatnya duduk dimeja makan.

“Ahh.. Myuu, kamu sudah bangun. Ayo bantu bereskan masakan di meja makan! umma sudah selesai memasaknya.” Seru umma seraya tangannya sibuk menuang masakan yang masih berada di panci ke dalam mangkuk.

“Ne, umma…” mata Myuu tak lepas menatap namja itu, Taemin. Ya, namja itu taemin. Taemin hanya tersenyum kecil, tanpa mengatakan sepatah katapun. Pipinya masih merah, bisa dibilang lebam. Dan matanya juga, masih sembab.

Keadaan tampak hening saat makan malam. Umma bergantian tengak-tengok dari Myuu ke Taemin. Mungkin merasa ada yang aneh. Suasana tampak canggung. Auranya tampak tak mengenakkan.

“Ahh, Myuu,, karena sekarang Taemin tinggal sendiri di seoul, untuk sementara Taemin tinggal dengan kita, bagaimana?” tanya umma memecahkan keheningan.

“Jangan bicara saat sedang makan…” jawabnya ‘dingin’.

Keadaan kembali hening dalam kecanggungan.

Taemin tidak bergeming, tetap melahap makanannya perlahan, walau mungkin tak bernafsu sama sekali karena keadaan yang tidak mengenakkan seperti ini.

“Taemin-ah, nanti kamu SMP dimana? Bareng dengan Myuu lagi kan?” Tanya Umma pada Taemin, mencoba menetralisir keadaan yang aneh ini.

Taemin hanya tersenyum miris, Senyum yang sulit diartikan.

Brakk

Tiba-tiba Myuu menggebrak meja, membuat Umma dan Taemin sontak memandangnya kaget. Tatapan tajamnya mengarah ke Taemin.

“Kau dengarkan aku baik-baik LEE TAEMIN,, jangan masuk sekolah yang sama denganku! Karena aku muak denganmu LEE TAEMIN. Aku tak mau satu sekolah lagi denganmu. Titik!” bentak Myuu. Bergegas lari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya keras.

Sontak membuat Umma kaget. Taemin hanya diam menunduk.

“Taemin,, maaf… ahjumma benar-benar tidak tau ada apa dengan Myuu, jadi…”

“Gwenchana ahjumma,, aku mengerti…” lirih taemin, memotong pembicaraan umma Myuu.

Taemin berjalan gontai menuju kamar tamu, kamar yang kini ditempatinya untuk sementara.

***

~Taemin POV~

Ternyata kau benar-benar membenciku, Myuu. Sakit hatiku bukan hanya seperti teriris, tapi bagai remuk, atau malahan telah hancur.

Teganya kau, Myuu. Tak cukupkah kau monolakku waktu kita kecil dulu, kini kau tambah lukaku dengan luka yang lebih besar. Aku juga punya perasaan, sakitmu sakitku juga,, tapi malah kau tusuk lagi lukaku yang belum sembuh dengan belati karatmu.

“ANDWAE~ Ingat ya Oppa, dan Kau Lee Taemin… AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENIKAH DENGANMU LEE TAEMIN…”

Terngiang kembali kata-katanya yang cukup membuatku shock.

Kuhempaskan tubuhku dikasur. Ingin aku menghilangkan semua beban ini, satu-satunya yang bisa menenangkanku atau paling tidak menghilangkan sedikit bebanku adalah bermain piano.

Tiba-tiba pikiranku beralih mengingat suatu hal. Ku raih amplop coklat besar di atas meja belajar. Perlahan ku buka. Ya, ini adalah surat beasiswa penerimaan siswa baru School of Music. Karena aku termasuk kandidat peserta lomba piano yang terselenggara minggu depan, School of Music menawari beasiswa selama 3 tahun sekolah musik dan beasiswa juga dapat dilanjutkan sampai SMA.

Kini  keputusanku bulat. Aku akan masuk School of Music, dan asrama di sana. Sudah tak ada alasan lagi aku di sini. Myuu tak pernah mengharapkanku, mungkin memang lebih baik aku pergi dari kehidupannya. Dan bila Hae-oppa kembali nanti,, semua akan kembali seperti biasa. Toh,, ada dan tak adanya aku dikehidupan mereka tak berarti apapun.

Aku tinggal disini hanya sampai upacara kelulusan. Tidak lebih.

***

~Myuu POV~

Bodoh,

Aku pikir aku bodoh

Meninggalkan semua yang kumiliki

Akankah mereka hilang dan tak kembali?

 

Mulutku tak sanggup bicara,

Mataku tak mau terbuka

Telingaku tak dapat mendengar

Tertutup semua indera…

 

Hatiku bagai tercabik-cabik,, sakit rasanya…

Kebodohan ini meracuni pikiranku

Merancauku,,

 

Aku tak dapat berpikir,

Merasapun tak bisa…

‘MATI’

Semua rasa dan indera

 

Menangis,, lagi-lagi saat seperti ini aku hanya dapat menangis. Mengeluarkan semua sakit dan bebanku lewat air mata yang mengalir deras membasahi pipiku. Peluh yang mengalirpun tak terasa kini membanjiri seluruh tubuhku.

Jahatnya aku,, sangatlah jahat dirimu, Myuu… sadarkah kau?

Aku sadar aku jahat, tapi entah mengapa itu terus saja kulakukan. Aku tau itu semua bukan sepenuhnya salah Taeminnie, tapi kenapa aku melimpahkan semuanya padanya. Bodoh. Bodoh. Bodoh… Dasar Myuu Bodoh!. Pikiranku terus saja bergelut tak karuan.

***

~Author POV~

Sudah hampir seminggu keadaan antara Myuu dan Taemin masih tidak baik. Myuu selalu menghindari Taemin bila bertemu atau hanya sekedar papasan. Sama seperti saat kejadian Myuu dan Hae. Myuu selalu menghindar bila ia merasa ia bersalah dan bila tak mau mendengar berita buruk. Seakan-akan cuek tak peduli, padahal ia hanya tidak siap bila dibenci dan tidak mau lagi-lagi mendapat sakit hati terus-menerus.

Sebentar lagi mendekati lomba piano se-seoul. Taemin kini sendiri, tak ada yang bisa diharapkan datang ke acara pertunjukannya kecuali, umma Myuu dan Myuu. Itu dulu, sebelum keadaannya kini buruk dengan myuu. Kini ia hanya berteman piano yang akan mengiringinya,, tanpa keluarga, maupun…teman.

***

~Taemin POV~

Kini aku berada diruang musik, mencoba berlatih untuk perlombaan besok. Tapi, sudah lebih dari satu jam aku disini, tak satu tuts pun yang terdengar. Tepatnya,, aku merasa tak sanggup. Tak ada yang menjadi alasan ku untuk melantunkan tuts-tuts indah ini. Untuk siapa kau melantunkannya?? Untukku? Ya, untuk diriku yang menyedihkan ini.

~~~

Ini adalah saat yang harusnya kutunggu-tunggu. Detik-detik dimana aku akan mempersembahkan lantunan pianoku untuk keluargaku, dan sahabatku.

Tapi,, pupus semua harapanku. Itu dulu, kini aku berdiri diatas beribu orang yang menanti permainan pianoku tanpa aku kenal siapa mereka. Tiada orang tuaku, Hae-hyung, Umma Myuu, bahkan Myuu pun tak terlihat diantara beribu penonton itu. Aku hanya akan melantunkannya untuk aku yang ‘menyedihkan’ ini.

*River Flows In You*

(bayanginnya perform taemin yang waktu di Music Core 2009-07-04)

***

~Myuu POV~

Hari ini acara yang seharusnya di tunggu-tunggu taemin, lomba piano se-seoul. Dari beberapa bulan yang lalu kami selalu membicarakan untuk menghadiri acara ini bersama-sama,, tapi ini malah aku sembunyi-sembunyi menghadirinya. Kasian Minnie, Hae-oppa dan orang tuanya tak hadir. Umma juga tak bisa hadir karena ada acara mendadak. Dan aku,, malah sembunyi-sembunyi seperti ini.

Taemin telah bersiap, ia sangat tampan dengan toxedo abu-abunya.

Perform Taemin dimulai. “River Flows In You…” gumamku pelan.

Dulu, hae-oppa dan taeminnie sering melantunkannya bersama-sama. Saling menghayati. Aku masih hapal betul bagaimana mereka tersenyum bahagia melantunkannya bersama-sama.

Tak terasa air mataku kembali mengalir. Aku merasa sangat sangatlah jahat. Harusnya aku bersyukur aku masih punya Taeminnie yang mau menemaniku dan menjagaku, tapi aku malah ‘menjahati’ nya. Aku takut taemin membenciku.

Aku putuskan. Setelah acara ini selesai, aku akan menghampirinya. Memeluknya dan meminta maaf padanya. Aku tak ingin persahabatanku hancur karena keegoisanku. Sekarang aku hanya punya Taemin, bodohnya aku bila melepaskannya. Membiarkan aku terpuruk pada kesendirian.

***

~Author POV~

Akhirnya acara selesai, para pengunjung sebagian berbaur keluar aula. Sebagian ada yang memberi rangkaian bunga pada para peserta lomba.

Myuu berjalan perlahan mencoba menghampiri Taemin yang tengah berbicara dengan seorang ahjusshi. Dengan rangkaian bunga mawar putih cantik yang telah siap di tangannya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja menghampiri Taemin dan memeluknya. Tepatnya ia tau siapa yeoja itu. Hyu Ri, yeoja yang waktu itu bersama Hae-oppa.

Myuu mengurungkan niatnya untuk menghampiri taemin. Ia jongkok bersembunyi dibalik kursi ke tiga dari depan. Mencoba mengdengar kilas-kilas apa yang mereka bicarakan.

“Taemin-ah, chukkae~” ucap Hyu Ri mengageti taemin karena langsung memeluknya. Taemin membalas pelukan yeoja yang lebih tua 5 tahun darinya itu. Berusaha tersenyum dan bersikap seperti biasa.

“gomawo Hyu Ri noona…”

“Cheonmaneyo…” Hyu Ri merenggangkan pelukanya dan langsung memberikan rangkaian bunga yang sedari tadi dipegangnya.

“Ah,, Ini…”

“hahha… noona, tidak usah merepotkan begitu… kamsahanmida noona…”

“seperti dengan siapa saja, ahh… iya, ini…” Hyu Ri menimbang-nimbang handycam ditangannya.

“Noona merekam perform ku?”

“haha… tentu saja…” mereka saling tertawa akrab.

“maaf ya noona kalau mengecewakan…” taemin merendah.

“Ahh, iya sini aku bisiki,, aku ingin mengatakan sesuatu…” Hyu Ri berbisik ditelinga taemin, setelahnya Taemin terlonjak kaget dan saling tertawa.

Tak jauh dari tempat mereka tak menyadari bahwa sedari tadi ada yang memperhatikan mereka. Myuu merasa geram. Sejak kapan mereka jadi seakrab itu? Pikirnya sambil menghentak-hentak kakinya kesal. Ia berniat keluar dari persembunyiannya setelah Taemin dan Hyu Ri keluar aula.

“Kalau begitu,, ayo noona, kita bersiap ke bandara…”ajak taemin pada Hyo Rin. Seraya jalan berlalu menuju pintu keluar keluar aula.

“Bandara???” sontak Myuu terlonjak kaget.

TBC

#maaf~ disini fokus ama taemin n’ Myuu,, hehhe lengkapnya baca lanjutannya nanti ya~~

hahha… lagi2 gaje ya 😀 mian *bow* ^^

tapi beginilah kemampuanku XP

hm… yg abis baca komen ya^^

^^arigatChuu~

[FF/S/4/PG-15] Can You Love Me??? (part 4)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

aLma_cchu a.k.a Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

^^ehemm… maap ya Part 4 nya baru di post 😛 pasti tambah bingung ama nii cerita,, cz authornya aja bingung *ga bener emang nii hm… kalau pda pusing sm nii eps,, maen dulu dah dari part 1 ke part 2 dan part 3,, oKEY^^

Maaf juga udah lama ngpostnya ehh, malah ga muasin (?) XDD

 

^^yosh,, langsung aja yo ahh,, Happy Reading~~

 

~Myuu POV~

“Kenapa Minnie tidak mau ikut ya, oppa?” tanyaku ragu-ragu, mencoba memecahkan suasana hening kami di dalam mobil.

Hae-oppa hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Hari ini mereka semua aneh, membuatku bingung saja.

Harusnya aku senang hari ini bisa pergi dengan Hae-oppa tapi kenapa aku merasa ada yang mengganjal ya. Jujur, semenjak kejadian di toko buku aku selalu gugup kalau bertemu Hae-oppa. Mudah-mudahan oppa tidak ada niat untuk menceritakan masalah itu, karena aku sama sekali tidak ingin mendengarnya, biar saja terkesan ‘menggantung’. Aku sibuk bergelut dalam pikiranku.

“Myuu, kita hanya bisa bermain sampai jam 4, tidak apa-apa kan?” tanya Hae-oppa membuyarkan lamunanku.

“Ahh.. Ne,.” jawabku singkat.

“kau sedang memikirkan apa, Myuu? Melamun begitu…”

“an.. aniyo…” duh,, kenapa aku jadi gelagapan seperti ini?. Aku hanya senyum terpaksa. Hae-oppa hanya terkekeh kecil melihat tingkahku.

Setidaknya keadaan sudah seperti biasa, aku tidak mau telihat canggung atau gugup.

***

~Taemin POV~

Entah apa yang ku pikirkan, aku merasa galau, kebimbangan merajai pikiranku, kepenatan memenuhi semua ruang otakku. Tak seharusnya aku seperti ini, Ya, aku hanya perlu tenang. Tenang,, setenang mungkin.

Aku memasuki rumahku, hanya tinggal beberapa barang yang tersisa karena besok kami akan pindah, tepatnya mungkin orangtuaku dan hae-hyung. Aku?? entahlah,, aku belum memutuskan, haruskah aku ikut? Tapi aku merasa tak bisa meninggalkannya.

Ku rebahkan tubuhku dikasur empukku, sekedar melepas lelah,, paling tidak mampu menghilangkan penatku walau sedikit. Biarkan lelah lelapkan penatku.

***

~Author POV~

“Myuu, kita main satu permainan lagi! Itu…” ucap Hae seraya tangannya menunjuk tempat yang ingin dituju. Myuu mengalihkan pandangannya pada tempat yang di tunjuk. Bianglala.

“Ayo!” seketika senyum semangat menebar di bibir mungil Myuu.

“Kamu tidak takut ketinggian ‘kan Myuu?”

Myuu sejenak menggelengkan kepala dan sedikit berpikir

“Sepertinya tidak…” jawabnya tak begitu yakin.

“Ayo,, kalaupun kamu takut, kan ada oppa yang melindungimu. Ne?”

Phuss~~

Ucapan sederhana itu berhasil meronakan pipi tirus Myuu, membuatnya tak dapat memandang wajah Hae yang sedari tadi tak melepaskan senyuman yang melengkung di bibirnya, dan juga tak lepas erat genggaman tangannya.

~Hae POV~

Aku tak tau ada apa denganku, yang jelas, aku hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Untuk rasa bersalahku,, dan untuk janjiku.

Aku hanya terus memandang gadis yang duduk di depanku, pandangannya hanya tertuju pada pemandangan di luar jendela, sesekali celotehan kecil keluar dari bibir mungilnya mengagumi pemandangan yang dilihat dari tempat setinggi ini.

“Huaaaa~ oppa~ lihat! Mereka semua jadi sekecil itu. Aku jadi tinggi, setinggi raksasa” celotehnya sambil tak bisa diam menggoyang-goyangkan seruang kecil bianglala yang kami naiki.

“Myuu, ayo duduk! Kamu mau membuat kita berdua jatuh dari ketinggian yang setinggi ini?” ucapku menenangkan kegaduhannya. Dia hanya terkekeh kecil, membuatku sedikit gugup.

“Hehhe.. Ne,, mianhae, oppa”

Lagi-lagi aku hanya memandangnya yang sedari tapi riang menikmati pemandangan di luar dari dalam ruang bianglala, begitu manis sikap saengku ini, selalu membuatku tersenyum dan tertawa bila bersamanya. Ya, aku hanya boleh menganggapnya dongsaeng, HANYA DONGSAENG, tak lebih Donghae! Dia dongsaengmu. Kalut batinku.

“Oppa~” panggilnya membuyarkan lamunanku.

“Waeyo??”

“Oppa tau,, aku sudah lama sekali ingin ke tempat ini bersama oppa, tapi oppa selalu sibuk dan sibuk sekali…” celotehnya lagi. Aku hanya tersenyum kecil, mengusap halus kepalanya.

“Ne, nae Dongsaeng…” ku usap halus pipinya yang sedikit merona. Entah apa hanya perasaanku saja atau memang begitu, sepertinya raut wajah tersenyumnya tiba-tiba berubah sedikit murung. Ia mengalihkan pandangannya ke pemandangan luar. Membiarkan keheningan menyelimuti kami.

###

Dalam keheningan,, tau kah oppa, seberapa takutnya aku akan terdengarnya debaran jantungku yang tak dapat berdetak normal ini?

Bahkan dalam keramaian pun aku masih takut,, takut oppa akan tau segugup apa aku berada di sampingmu…

Salahkah??? Bolehkah aku berharap???

Haruskah semua pupus tanpa terjawab???

Jawab!!! Aku mohon jawab aku!!!

…..

Tak ada jawab,, bahkan mungkin… Tidak akan pernah terjawab…

###

Mataku tepat terpaku pada barisan secarik kata-kata bercetak miring. Ya, tepatnya aku sedang membaca lagi cerpen Myuu yang telat di terbitkan. Sudah kesekian kalinya dari semenjak membelinya dua hari lalu, aku terus mengulang-ulang baca. Berusaha mencerna kata tiap kata yang tertoreh dalam cerpen ini. “Mianhae, Oppa! Saranghae…” itu judulnya,, terdengar terlalu dewasa mungkin untuk anak seumurnya, tapi,, tampaknya aku tak bisa menyepelekan masalah perasaan.

Taukah kau Myuu, betapa terbelenggunya aku. Kau adikku haruskah aku ingkari tali saudara yang telah ku ikat di hatimu??. Janjiku hanya menganggapmu sebagai adik. HANYA ADIK, dan akan tetap seperti itu. Apa harus aku berteriak pada semua orang bahwa kau itu adikku,, selamanya tetap seperti itu. Lagi-lagi aku hatiku dan pikiranku kalut.

“Ini…” ku sodorkan majalah yang menerbitkan cerpennya, tepat di depan halaman terdapatnya cerpennya.

Ia tampak tercengang, kaget. Tapi tak bergeming, hanya menundukkan kepalanya. Perlahan mengambilnya.

“Ceritanya bagus…” pujiku mengusap halus kepalanya.

“Gomapta…” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan padaku.

Lagi-lagi keheningan menyelimuti kami. Aku semakin kalut, tapi tetap berusaha tenang. Aku masih mengusap halus kepalanya.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya padaku, kami saling bertatap mata. Ia memandangku tajam, aku hanya menebarkan senyum khasku. Paling tidak,, senyum dapat menenangkan sekalut apapun perasaan dan seberat apapun masalah yang dihadapi.

“Oppa, aku… aku…” ucapnya terbata.

“Waeyo??” tanyaku tanpa melepas senyumku.

“Aku… aku…su…”

Jebb (?)

Tiba-tiba bianglalanya berhenti pas di puncak atas. Ucapan Myuu pun terpotong, karena kaget. Tampak sedikit salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya berdiri memandang pemandangan di luar. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang mudah ditebak.

“Mau kamu lanjutkan Myuu?”

“Itu… hm…” gugupnya salah tingkah.

“duduklah, tenang…” ucapku seraya memapahnya duduk di sampingku.

“akusukaoppa…” kilat ucapnya.

“Mwo??” tanyaku bingung, membulatkan mulutku membentuk huruf ‘o’

“Aku… suka… oppa…” kali ini sedikit berbisik, tapi aku dapat mendengar jelas maksudnya.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Menggenggam erat tangannya.

“Myuu coba kamu pejamkan matamu,, bayangkan dan rasakan bagaimana perasaanmu padaku…”

Ia mengikuti titahku, dipejamkan perlahan kedua matanya.

“sudah??” tanyaku meyakinkannya. Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan.

“Sekarang,, coba kamu bayangkan ayahmu dan rasakan bagaimana perasaanmu padanya…” titahku lagi.

Aku hanya memandang lekat wajahnya yang masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya. Mengerjap-erjapkan matanya, membiasakan bias cahaya yang masuk ke matanya.

Aku kembali menebar senyumku, ia pun ikut tersenyum.

“Bagaimana??? bisa membedakan?” tanyaku halus.

“hm…” ia terlihat memutar otak, berpikir sambil kembali memejam matanya.

“Hangat,, nyaman,, damai… aku merasakan hal yang sama antara Hae-oppa dan appa…” jawabnya yang masih terpejam.

“Tapi…” ia menggantungkan kata-katanya.

“Tapi???” aku berusaha memastikan.

“… ahh,, tidak ada… hanya itu…” jawabnya gugup, kaget begitu membuka matanya aku memandanganya lekat.

“Maafkan aku ya, Myuu… Tapi begitulah… Kau itu sama dengan Taemin,, sama-sama dongsaengku. Aku tetap akan menjagamu dan melindungimu selayaknya kakak kandung…” jelasku.

Ia lagi-lagi menundukkan kepalanya, wajahnya memerah. Terlihat seperti menahan tangis. Tapi perlahan,, air mata itu jatuh juga. Ia tak bisa lagi menahan isaknya. Mengalir deras airmata di pipinya. Ku dekap tubuh mungilnya, biarkan semua tumpah didadaku.

“Menangislah… sepuasmu…” kueratkan dekapanku, seraya bianglala yang kembali berputar.

***

~Myuu POV~

Ku buka perlahan mataku, membiasakan bias cahaya yang tiba-tiba secara perlahan memasuki mataku. Jendela kamar yang telah terbuka, membiarkan udara pagi berebut memasuki kamarku. Aku yang masih setengah sadar perlahan mencoba menerawang seisi kamarku. Dan kembali terpaku menatap satu bingkai foto yang terpasang rapi disudut meja. Ya,, fotoku, Taemin dan… Hae-oppa.

Maafkan aku ya, Myuu… Tapi begitulah… Kau itu sama dengan Taemin,, sama-sama dongsaengku. Aku tetap akan menjagamu dan melindungimu selayaknya kakak kandung…”

“Menangislah… Sepuasmu…”

Ia membiarkanku menangis di dekapan hangatnya, sengguh hangat dan… damai.

Aku kembali mengingat kejadian kemarin. Lagi-lagi aku tidak dapat menahan air mataku.

Tok.. Tokk.. tokk…

Ketukan pintu kamarku mengalihkan dari tangisku yang hampir tumpah.

“Myuu… kamu sudah bangun?? umma sudah siapkan sarapan” teriak umma dari balik pintu kamar.

“Ne,, umma. Aku sebentar lagi keluar…” aku bergegas keluar kamar.

~~~

“umma sarapan apa pagi ini?” tanyaku setiba di dapur.

“umma bikin sandwich,, ayo makan!” ajak umma menarikku duduk di meja makan.

Aku mulai melahap sarapanku dengan lahap, mungkin karena aku lelah. Sejak kemarin pulang dari taman bermain aku mengurung diri di kamar. Lelah juga aku menangis seharian. Apa mataku bengkak ya?. Aku sibuk dengan pertanyaan dan pernyataan di otakku, tiba-tiba pandanganku tertuju pada secarik kertas beramplop kuning tergeletak di samping salah satu piring kosong di meja makan.

Begitu penasaran aku meraihnya.

“Ini apa umma??” tanyaku bingung karena tak ada data pengirim di bagian depan maupun belakang amplop.

“Itu… ahh, umma lupa bilang,, itu dari Donghae, pagi-pagi sekali ia menitipkannya pada umma. Dan, oh iya,, mereka sekeluarga pindah pagi tadi…”

Seperti tersambar petir,, aku terbelalak kaget. Pindah??? siapa??? Hae-oppa dan Taemin???. Saking shock aku sampai tak berani membuka isi surat yang sekarang berada dalam genggamanku. Tanganku gemetar , tubuhku mulai memanas, air mata yang tertahan di pelupuk mataku tak dapat terbendung lagi.

Perlahan ku buka surat itu…

Myuu,, Mianhae…

Maafkan aku…

Mungkin berjuta kata maaf tak dapat menghapus salahku padamu,,

Saengku,, jagalah dirimu baik-baik…

Percayalah dari sini aku akan tetap dan terus menjagamu…

Kamu tau,,

Senyummu bagai oksigen untukku

Ceriamu bagai pelangi dalam hidupku

Dan,, Cintamu… bagai detak jantungku…

Ingatkah,,

Saat kau menangis,, aku selalu ingin mendekapmu…

Taukah seberapa sakitnya aku saat melihatmu menangis,,

Aku mohon,, jangan lagi menangis karenaku,, atau karena apapun

Sebab setelah ini,, aku tak dapat lagi mendekapmu

Membiarkan kau menumpahkan segala bebanmu dalam dekapku,,

Teruslah tersenyum,, hiasi harimu dengan keceriaan agar saat aku kembali nanti, aku tak kehilangan Oksigenku,, Pelangiku,, dan Cintaku…

Saranghae,, nae Dongsaeng

~DongHae~

~~~

(Backsound: Please don’t go—SHINee)

eojetbam kkumsoge , nega naege dagawa

(Last night in my dreams , you drew close to me)

soksagin geu mari , nae eolgul manjideon geu meoritgyeori

(Your whispered words , your hair that brushed against my face)

kkumeseo kkaeboni , neomunado seonmyeonghande

(When I woke up from my dream , it was all too clear)

nega inneun ge kkumieotdan geol , nae nungae goyeojin nunmuri malhaejwosseo

(That your presence was nothing but a dream ,The tears in my eyes told me)

 

Tanganku gemetar hebat,, Sesak, dadaku terasa sakit. Aku tak dapat menahan air mataku,, seraya air mata mengalir deras di pipiku. Seketika pikiranku kalut, memaksaku berpikir lebih tepatnya mencerna tiap kata-kata yang tertoreh dalam surat ini.

“Tidak,, Hae-oppa tak boleh pergi!!” refleks ku berlari meninggalkan kebingungan pada umma. Berlari sekuat tenaga mencari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin dapat menjawab semua kekalutanku sekarang.

 

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

dasi nungama neol boreo gamyeon geu jarie meomchun nareul anajwoyo

(The next time I close my eyes to meet you,Hold me as I stay still in that spot)

 

Segala kekalutan berkecambuk dalam otakku. Air mata tak henti-hentinya mengalir menyamarkan pandanganku.

Ku hapus kilat air mataku dengan punggung telapak tangan.

 

nuneul tteo boado

(Even when I open my eyes)

ne moseumman seonmyeonghande

(only your figure is clear)

nega inneunge kkumieotdan geol ,

(That your presence was nothing but a dream)

nae nunmure bichwojin seulpeumi malhaejwosseo

(The sadness reflected in my tears told me)

 

“Aku tak boleh menangis,, air mata berhentilah! Kau menyamarkan pandanganku, nanti aku tak dapat melihat keberadaan Hae-oppa”

Aku terus berlari, hiraukan semua mata memandangku aneh, masih memakai piyama, tak beralaskan sendal, terlebih air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Pikiranku hanya satu,, Mencegah Hae-oppa pergi meninggalkanku,

 

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal hanbeon man hanbeon man nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

dasi nungama neol boge doemyeon ,

(The next time I close my eyes to meet you)

geu jarie meomchun nareul anajwoyo

(Hold me as I stay still in that spot)

 

“Oppa jahat,, Oppa dan Taeminnie jahat, kalian janji akan terus bersamaku dan menjagaku,, tapi kalian ingkar janji, meninggalkanku seorang diri. Kalian sama dengan appa, berjanji akan menjagaku tapi malah meninggalkanku tanpa memberitahuku…”

“…Hae-oppa,, Taeminnie… aku mohon… Kembalilah!! Jangan tinggalkan aku…”

 

aereul sseo aereul sseodo ttereul sseo ttereul sseo dasi dorawa

(I try and even though I try, I insist, I insist ,Come back to me)

 

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

 

Aku terpuruk,, di depan pintu rumah Hae-oppa dan taeminnie yang sepertinya sudah tak berpenghuni. Berteriak-teriak memanggil mereka seperti orang gila,, aku tak peduli, asalkan mereka menampakkan diri di depanku dan berkata semua ini tidak benar. Mereka tidak akan pernah meninggalkanku seorang diri. Cukup appa yang pergi meninggalkanku, jangan mereka juga.

“Ini hanya mimpi,, Bangunlah Myuu!! Bangunlah dari mimpi buruk ini…”

“… Baiklah,, saat aku menutup mata, aku akan bangun dari mimpi buruk ini dan kembali dalam dekapan Hae-oppa saat berada dalam bianglala…”

Yakinku dalam hati,, memejamkan mataku perlahan. Berusaha hentikan air mataku yang tak henti-hentinya mengalir. Tenangkan kegalauan dan kekalutan yang merajai setiap suduk otakku.

 

dasi nungama neol boreo gamyeon

(The next time I close my eyes to meet you)

geu jarie meomchun nareul anajwoyo

(Hold me as I stay still in that spot)

 

“Myuu,, gwenchana??”

*ToBeContinue*

 

Huahahhaha makin GaJe yeyy~ XDD

akhirnya selesai juga nii part 4 😛

^^disini terlalu fokus ke Donghae n’ Myuu *jgn protes n’ tanya mengapa,, karena aku tak tau jawabannya XDD #sujud2 minta maap ama taemin chagii XP

Yossh,, Comment sehabis baca oKEY^^

[FF/S/3/PG-15] Can You Love Me??? (part 3)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

Ini alurnya maju mundur,, jadi maaf ya klo ngebingungin^^ haha

Happy reading chingu~

>,<Miann~ lama bgt ya lanjutannya 😀 hahha maaf bgt lho^^ hehhe mudah-mudahan masih ngerti sama jalan ceritanya klo enggak ngerti baca dulu part 1 dan part 2 oKEY^_^

~Myuu POV~

Aku berlari di koridor sekolah menuju gerbang depan, terengah-engah lelah, degup jantung berdebar cepat seraya keringat yang bercucuran di sekujur tubuhku. Ku atur sedikit demi sedikit nafasku dan debaran jantungku yang cepat ini agar dapat berdetak normal. Lelah, bahkan sangat lelah. Bayangkan saja aku berlari dari kelasku yang dilantas 3 sampai ke depan gerbang ini. Huhh. Hebat juga aku. Aku hanya berdecak kesal, ini gara-gara Taemin.

Berharap Taemin tak mendahuluiku pulang, aku bersembunyi di balik gerbang. Menunggunya keluar sekolah dan aku akan menjegatnya untuk tidak pulang dulu ke rumah sebelum ia berjanji untuk tidak memberitahu hal tadi pada Hae-oppa.

Aku masih mengatur nafasku yang masih sedikit terengah-engah. Ku lihat Taemin keluar pintu utama sekolah dengan Key. Aku belum menghampirinya. Setelah ia melewati gerbang ku tarik kuat tangannya hingga ia menghimpitku ke dinding gerbang.

“Auch.. appoyo,, taeminnie…” aku hanya meringis karena tubuhku terhentak lumayan kuat ke dinding, terlebih terhimpit tubuh taemin.

“Yya~ Myuu,, kenapa kau menarikku?” Taemin membenarkan posisi berdirinya, mundur dua langkah dan menarik pelan lenganku agar aku tak bersender dinding seperti itu.

“Mianhae, Minnie~ Aku.. ak..aku…” kenapa aku jadi gugup begini.

“Kepalamu sakit Myuu?” Raut wajah taemin tampak cemas, ia mengusap-usap halus kepala belakangku. Mungkin ia pikir aku terhentak begitu keras. Nyatanya tidak sih, hanya aku tak berani untuk memohon agar taemin tidak membocorkan rahasia itu.

“Myuu, kau tidak apa-apa?? Yya~ Taemin, kau membuatnya hilang ingatan ya?” Key angkat bicara, berhasil membuat taemin lebih cemas dan memandangku dengan takut.

“Myuu, kau ti…” aku tak membiarkan taemin menyelesaikan ucapannya. Ku tarik kuat lengannya dan ku seret ia berlari. Bahkan aku juga meninggalkan Key tanpa pamit dengan raut wajah Key yang bertanya-tanya.

“Kenapa sekarang kau menyeretku Myuu?” tanya taemin berusaha menghentikan langkah lariku.

Ku hentikan langkahku, diam sejenak.

“Taeminnie,, apa kau akan benar-benar memberitahu Hae-oppa tentang semua rahasiaku??” tanyaku to the point.

Entah kenapa seketika taemin tiba-tiba tertawa geli. Issh,, menjengkelkan, pasti ia mau menggodaku lagi.

“Jadi,, dari tadi kau bersikap aneh hanya karna takut aku memberitahu Hae-hyung tentang rahasiamu itu??” taemin malah balik bertanya, bukan menjawab pertanyaanku.

Aku hanya mengangguk. Ia kembali terkekeh. Begitu geli tertawanya hingga air mata terlihat di pelupuk matanya.

“Cukup taeminnie! aku tak menyuruhmu tertawa! aku menyuruhku untuk menjawab pertanyaanku!” aku semakin gemas dengan sikap taemin ini. Sangat menjengkelkan.

“Ne,, Ne,, Arraseo… Aku hanya lucu saja melihat wajah khawatirmu itu,, apa sebegitu cemasnyakah kau Myuu?” Ia mengangkat sebelah alisnya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku, terus saja menggodaku.

“Issh, kau ini menyebalkan! sudah LUPAKAN!” ku tonjok keras bahunya hingga tubuhnya terhentak ke belakang. Ia malah semakin terkekeh sambil meringis kecil memegang bahunya yang ku tonjok.

Aku hanya mencibirkan bibirku, sesekali mengembungkan pipiku kesal dengan sikap menyebalkan taemin.

“Hahhah.. oke! aku berhenti tertawa tapi kau jangan marah seperti itu…” Taemin mulai berhenti tertawa walau masih terkekeh kecil, mengusap air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

“Janji!! jangan tertawa lagi! >,<” aku mengacungkan jari kelingkingku.

“Iya,, iya… aku janji…” taemin mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku, saling bertautan.

Aku mengangguk mantap “Kajja~” ku tarik taemin, masih dengan jari kelingking saling bertautan.

“mau kemana Myuu?” taemin menghentikan langkah kami, menarik jari kelingkingku yang masih bertautan di jarinya.

“Temani aku ke toko buku ya, Kajja!”

***

~Taemin POV~

“Sudah ketemu Myuu buku yang kamu cari?”

“Iya” jawabnya singkat, Myuu malah asik dengan bukunya, tidak mengalihkan pandangannya sedari tadi walau ku ajak bicara tanggapannya hanya “iya” atau “tidak tau” ckckck kadang tidak nyambung jawabannya.

BUKK

Ku tutup dengan kencang buku hardcover yang ku pegang sedari tadi, jengkel dengan sikap Myuu yang mengacuhkanku dari tadi.

“Yya~ kau ini apa-apaan sih Minnie >,<” Myuu terlihat jengkel karena aku menutup buku dengan kencang yang sepertinya mengganggu konsentrasi bacanya, bagus… aku sukses mengalihkan perhatiannya.

Aku hanya memandangnya tajam. Tapi ia malah mencibirkan bibirnya, membuatku tak tahan ingin mencubit pipinya.

“Sudah sore Jung Myuu Ki, kau tak mau pulang?? sudah ketemu belum buku yang kau cari?” karena gemas kucubit kedua pipinya membuat bibir mungilnya melebar kesamping (?), gemas.

“Appoyo taeminnie~” ringis Myuu memegang kedua pipinya.

Aku hanya mengacak-acak rambutnya gemas, Myuu semakin mencibirkan bibirnya, mungkin jengkel.

“Taemin-ahh, Myuu… kalian sedang apa di sini?” tanya seorang namja tiba-tiba.

“Ahh, Hae-oppa…”

“Hyung,, kau di sini juga!?” Aku dan Myuu kaget dengan kehadiran Hae-hyung yang tiba-tiba.

“Aku sedang….”

“Donghae-sshi,, ini bukunya sudah ketemu…” ujar seorang yeoja yang tiba-tiba datang menghampiri hae-hyung.

“Ahh,, Hyu Ri… sini ku kenalkan pada saeng-saeng ku! Ini Taemin,, dan ini Myuu Ki…” kami saling membungkuk memberi hormat, memperkenalkan diri.

Aku melirik ke arah Myuu, benar saja dugaan ku, dia sudah mencibirkan bibirnya menahan kesal dengan yeoja yang bersama Hae-hyung. Tapi yeoja itu terus tersenyum manis.

Melihat sinyal-sinyal tak enak Hae-hyung mencoba mencairkan suasana.

“Kalian sudah makan siang, ayo ku traktir makan!” usul Hae-hyung.

“Ayo,, aku juga ingin lebih mengenal adik-adik Hae-oppa” ujar Hyu Ri-noona ramah, berpindah ke sebelah Myuu dan mengusap halus kepala Myuu, tapi buru-buru ditepis karena risih.

“Aku bukan adik Hae-oppa >,<” tegas Myuu, mempercepat jalannya di depan kami.

Aku, Hae-hyung, dan Hyu Ri noona hanya saling berpandangan heran dengan sikap Myuu. Di balik itu semua, aku tau jelas kenapa dengan sikap Myuu. Dia masih terlalu labil.

“Kalian makan berdua saya ya, hyung. Aku harus mengantar Myuu ke suatu tempat” ucap ku tiba-tiba, hanya itu yang terbersit diotakku.

Myuu membelalakan matanya kaget dan juga bingung. Aku buru-buru menarik tangannya hendak berlalu, membiarkannya yang kebingungan dengan sikapku.

“Annyeong noona, annyeong hyung…” pamitku dan dengan cepat berlalu.

Awalnya Myuu mencoba melepaskan genggaman tanganku, tapi aku semakin mempererat genggamanku, tanpa mengalihkan pandanganku padanya, berharap Myuu luluh dan tak lagi memaksakan diri. Ku rasakan tangannya sedikit gemetar, ku reganggakan genggamanku, menoleh padanya. Ya, dia sedikit terisak, perlahan air matanya mengalir.

“Kenapa kau membawaku pergi, minnie?? Itu… Dia… dia siapa?? ” isak Myuu.

Entah,, aku juga tak tau kenapa membawanya pergi, entahlah,, mungkin karena aku tak mau melihatnya uring-uringan tak jelas melihat Hae-hyung bersama ‘temannya’ Hyu Ri noona. Walau aku tak tau jelas apa hubungan Hae-hyung dengan Hyu Ri noona tapi, ada baiknya antisipasi, aku hanya tak ingin melihat Myuu sedih dan kecewa.

Suasana sejenak hening, hanya terdengar hanya isak kecil tangisan Myuu. Aku tak menjawab, diam. Memandangnya yang menangis tertunduk.

“Maafkan aku Myuu…” jawabku lirih, ku hapus perlahan air matanya.

“Taeminnie jahat! aku… aku… hanya ingin tau dia siapa??” masih sedikit terisak,, dipukul-pukulnya bahuku  pelan. Mungkin ia kesal, tepatnya pada diri sendiri. Ya,, lampiaskanlah,, semua…semua kekesalanmu padaku.

Aku hanya diam, membiarkan dada dan bahuku jadi pelampiasan tinjuan-tinjuan dari tangan mungilnya. Padahal aku dan Myuu sama-sama masih labil, tapi tetap saja aku tak tega melihat dia menagis, apa lagi kalau itu menyangkut Hae-hyung.

Aku merengkuh tangan kecilnya, mengenggamnya erat.

“Kita pulang ya!” ajakku sedikit terdengar lirih.

Dia hanya mengangguk lemah.

*****

Ini sudah ke 25 kalinya aku bulak balik di ruang tamu sampai ruang keluarga,, tapi belum juga muncul ‘batang hidung’ Hae-hyung. Sedari tadi habis bertemu di toko buku dia belum pulang, padahal sekarang jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Aku sangat gelisah, bukan karena gelisah karena Hae-hyung belum pulang sampai larut malam begini, tapi karena Hae0-hyung bersama seorang yeoja,, aku hanya penasaran ingin tau siapa yeoja yg bersamanya tadi. Aku sangat cemas dengan Myuu, setidaknya kalau Myuu tau bahwa itu hanya teman Hae-hyung, aku tenang. Aku hanya ingin melihat Myuu tersenyum bahagia. Itu juga tak akan menyakitkanku walau senyumnya bukan untukku dan bukan karenaku.

krekk…

Bunyi pintu yang terbuka membuyarkan lamunanku.

“Aku pulang…”

Benar saja, orang yang sedari tadi ku tunggu-tunggu akhirnya pulang.

“Taemin-ah, sedang apa kau? menunggu ku pulang?” tanyanya dengan wajah bingung. Aku hanya menggaruk kepala tak gatal, hanya bingung bagaimana menanyainya masalah tadi.

“itu… hm… tadi itu… siapa hyung?” tanya gugup.

“kau ini, tidak sopan. Aku kan bertanya duluan, kenapa kau balik bertanya begitu?” ucapnya sambil duduk di sofa ruang tamu.

Aku hanya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihku. sebenarnya aku hanya bingung untuk basa basi jadi langsung to the point saja bertanya. Aku pun ikut duduk di sebelahnya.

“Tadi itu,, hanya teman…” ucapnya terdengar lirih.

Entah kenapa itu terdengar lirih di telingaku, apa aku yang salah dengar? apa teliaku bermasalah? entah…

“owh… hyung yakin kan itu hanya teman?” tanyaku (lagi) memastikan.

“begitulah…” jawabnya singkat, hendak bangun berjalan ke arah dapur.

“Hyung…”

Ia hanya menoleh, raut wajahnya berubah ketika pulang dan langsung ku tanya masalah itu. Mungkin ia sedang lelah dan mau membahasnya, atau… ada yang ia rahasiakan? entah…

“Aku… hanya cemas…” ucapku lirih.

“Aku tau…” jawabnya singkat dan kembali beranjak pergi ke dapur.

Huft… ini salahku,, bertanya di waktu yang tak tepat. Pabo taemin.

***

~Myuu POV~

Mungkin aku memang masih terlalu kekanak-kanakan untuk Hae-hyung. Umurku pun terlampau cukup jauh, tapi tak bisakah?? tak bolehkah aku berharap??. Apa salah gadis berusia 12 tahun menyukai laki-laki berumur 18 tahun? Tidak!! tapi mungkin,, Iya…

Entah bagaimana perasaanku padanya, aneh. Tapi aku sangat nyaman berada di sisinya. Sifatnya yang hangat, tutur katanya yang begitu sopan, sikapnya yang bijak, ucapan semangatnya saat aku galau membuat ku seketika langsung bangkit. Ya, dia mirip seperti sosok ayah ku.

drrrt….drrrttt….

Getar handphone membuyarkan lamunanku. Ku lihat nama yang tertera dilayar handphone ku. Taeminnie.

“Yeobseyo…” ucapku lirih.

“Myuu, kau sudah tidak apa-apa?” tanya taemin cemas.

“ya” jawabku singkat, sambil mengangguk lemah. Walau aku tau Taeminnie tak mungkin dapat melihat aku mengangguk.

“…”

Sejenak kami tak saling bicara, hanya deru nafas kami saja yang terdengar. Mungkin dia berada di luar rumah padahal cuaca dingin.

“masalah tadi…”

“tak perlu dibahas minnie, aku sudah tak apa-apa…” sebelum dia melanjutkan kata-katanya aku sudah memotong, aku tak mau mendengar. Aku rasa aku sudah baik-baik saja, tepatnya,, akan baik-baik saja…

“…ok,, hm… kau tidurlah. slamat tidur.” sebelum aku menjawab ia sudah memutus telponnya.

Ya,, setidaknya aku punya Taeminnie.

***

~Author POV~

Hari berjalan begitu cepat, ini sudah lewat sebulan dari kejadian di toko buku itu. Terlihat Myuu dan Taemin tampak seperti biasa saja, tapi keadaan berbeda dengan Hae, Myuu belum bisa bersikap seperti biasa pada Hae. Kalau sempat pasti ia selalu menghindar dengan berbagai alasan, ia hanya tak siap mendengar penjelasan Hae tentang yeoja itu. Walau kemungkinan belum tentu Hae menjelaskan tentang itu, tapi tetap saja Myuu menghindar.

“Myuu, ayo kita pulang!” ajak Taemin, tapi Myuu tak sedikitpun menoleh. Sibuk dengan lamunannya. Karena gemas Taemin mencubit kedua belah pipi Myuu, refleks Myuu berdiri dari bangkunya sambil menginjak kaki Taemin mencoba melepaskan diri. Seketika Taemin melepas cubitannya dan meringis sakit memegangi kakinya.

“Yya~ Myuu, appoyo~ kau ini selalu saja mainnya injak-injak kaki begitu, sakit tau…”

“salah kau sendiri mengageti aku saja, selalu saja main cubit-cubit pipi, sakit juga tau…” balasnya cuek dan beranjak pergi.

“kita impas,, week XP” lanjutnya mehrong-mehrong dan berlari keluar kelas di susul Taemin yang mengejarnya berlari sampai di gerbang sekolah.

~Taemin POV~

Ya, aku senang akhirnya dia dapat tersenyum apalagi tertawa lepas seperti ini. Hentikan waktu, tuhan! aku mohon! hanya untuk saat ini, karena gadis yang berada dalam kejaranku ini tertawa karenaku. Taukah kau betapa bahagianya aku kini?.

Tiba-tiba langkahnya berhenti, aku dapat menggapai tangannya. Ternyata ia berhenti bukan karena lelah ataupun ingin aku menangkapnya, tapi ada yang menunggu kami di depan gerbang, tepatnya mungkin menunggunya.

“Annyeong Myuu, Taemin-ah…” sapa namja di depan kami ini, yang tak lain adalah Hae-hyung.

“Annyeong hyung,, kau mau menjemput kami hyung?” tanya ku basa-basi, ya, sebenarnya aku sudah tau rencananya untuk kesekolah, tepatnya ingin menepati janjinya pada Myuu bulan lalu.

“Ayo kita ke taman bermain, Myuu! aku kan sudah janji.” ajak Hae-hyung sambil menebar senyum khasnya. Ku lirik Myuu, dia hanya tertunduk diam, tak merespon atau pun menerima ajakan Hae-hyung, padahal biasanya dia pasti langsung bahagia dan berbinar-binar apalagi Hae-hyung yang nengajak lebih dulu.

“Ayo!” hae-hyung langsung menarik lembut tangan Myuu dan beranjak ke arah parkiran mobil.

“…Tunggu, Taeminnie??” tanyanya menghentikan langkah dan berpaling menghadapku yang jauh di belakangnya.

Aku menghampirinya perlahan.

“Bersenag-senanglah Myuu! ini saat yang kamu tunggu-tunggu kan?” tegasku menebar senyum padanya.

Walau bukan pertama kalinya aku selembut ini pada Myuu, tapi untuk saat ini saja, entah ini untuk terakhir kalinya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia seperti sedia kala ketika ia bersama Hae-hyung.

***

“Hyung, kau yakin mau secepat ini?” tanyaku panik dengan pernyataan yang baru saja ku dengar terlontar dari mulut hyung ku satu-satunya ini.

“Maafkan aku, taemin-ah! jeongmal mianhae…”

“Tapi hyung…”

“Husst… sudahlah taemin, ini sudah keputusanku” Dia masih saja sibuk membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke koper.

“Apa yang harus aku jelaskan padanya, hyung??” tanyaku lirih. Aku benar-benar bingung dengan hyung ku satu-satunya ini.

“Aku akan menceritakannya sendiri…” ucapannya begitu yakin, membuatku semakin bingung.

“Tapi kita sudah berjanji untuk menjaganya kan, hyung?” tanyaku masih dengan cemas dan panik.

“Kalau begitu,, yang pergi hanya Aku, umma, dan appa. Dan kau, di sini… menjaganya…”

***TBC***

hohoho makin bingung ya sama ceritanya 😀 maafkan aku yang kurang bertanggung jawab ini~.~ huhhu

mudah-mudahan kalian bisa menikmati ^_^

Pesanku semoga kalian jadi Good Reader yaa~~

jangan lupa RCL^_^

[FF/S/2] Can You Love Me??? (part 2)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

Ini alurnya maju mundur,, jadi maaf ya klo ngebingungin^^ haha

Happy reading chingu~

Read the rest of this entry

[FF/S/1/PG] Can You Love Me??? (part 1)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG

Ini alurnya maju mundur,, jadi maaf ya klo ngebingungin^^ haha

Happy reading chingu~

 

“Hae-oppa~ kita main menikah-menikahan. Aku jadi pengantin wanitamu dan Hae-oppa jadi pengantin priaku” pinta Myuu manja sambil bergelayun di tangan Donghae. Ya, itulah ucapan polos gadis kecil berusia 6 tahun kepada Donghae yang jauh berjarak 6 tahun darinya.

“Taemin bagaimana, Myuu? kita main yang lain saja ya!” sanggah Donghae lembut.

Walaupun dia berjarak jauh 6 tahun darinya dan Donghae adalah seorang laki-laki, ia tetap dengan senang hati menjaganya. Lee Taemin adalah adik laki-laki Donghae satu-satunya dan Myuu Ki adalah tetangganya. Mereka bersama sejak kecil bahkan sejak Taemin dan Myuu ki baru lahir. Donghae sangat menyanyangi Myuu Ki, ia sudah menganggap Myuu Ki sebagai adiknya juga.

“Taeminnie,, kamu jadi anakku dan Hae-oppa saja, bagaimana?” jawab Myuu polos dan tampak berbinar-binar.

“ANDWAE~ aku tidak mau…” tegas taemin, tampaknya marah.

“Taeminnie~ aku mohon~” pinta Myuu memelas *puppy eyes*

“Hae-hyung~ aku tidak mau menjadi anak kalian (lagi)” Taemin memohon juga pada hyungnya denagn wajah memelas.

“Kalian ini, dongsaengku… jangan ribut seperti ini. Siapa yang mau mengalah? Taemin,, atau Myuu?” ucap Hae bijak sambil mengelus kedua kepala saeng-saengnya.

Myuu tampak memakai jurus mautnya, wajah memelas, mata berkaca-kaca dan akhirnya mengeluarkan beberapa butiran-butiran air matanya. Ya, itu senjata ampuhnya untuk membuat Taemin mengalah.

“Ya,, Baiklah… Aku jadi anak.” Taemin akhirnya mengalah. Tak tahan melihat raut wajah Myuu yang seperti itu.

“Jinjja???, Hyaa~ Taeminnie gomapta… Kamu memang anak perempuanku yang cantik” Myuu memeluk Taemin, seraya ia benar-benar menganggap taemin itu anak perempuannya (?).

“Lepaskan! aku bukan anak perempuanmu!” sanggah taemin kasar, melepas pelukan Myuu dan menjauh.

“Ahh, Hae-oppa… Anak kita kenapa ya?” dengan polosnya ia berkata itu pada Donghae.

Donghae hanya tersenyum melihat tingkah saeng-saengnya.

“Aku lupa,, aku mau pulang dulu mengambil sesuatu…” Myuu berlari menuju rumahnya, entah apa yang mau ia ambil.

“Taemin,, kau kenapa hanya duduk di sini? tidak menikmati permainan ini?”

“… ti,, tidak hyung- aku baik-baik saja…” jawab taemin terbata

“Mianhae… Taemin…” ucap Donghae, mengusap halus punggung Taemin, dan menebar senyum yang dapat menenangkan adiknya.

“Ini dia…” Myuu tiba-tiba datang mengageti, sambil  menunjukkan apa yang dibawanya. Sebuah ikat rambut dan jepitan berbentuk kupu-kupu berwarna kuning.

“Untuk apa itu Myuu?” Tanya Donghae heran.

“Untuk taeminnie kita oppa…” jawab Myuu polos.

Taemin terlihat kesal dan hanya mengalihkan pandangannya. Supaya tak terpengaruh oleh wajah memelas Myuu yang selama ini adalah kelemahan taemin.

“Minnie~” panggil Myuu manja, seraya memainkan jepitan itu ke arah taemin. Taemin hanya sedikit menghindar dan berlindung di balik punggung Donghae.

“Yya-, Myuu, jangan begitu… kasian Taemin. Dia kan bukan anak perempuan. Kamu saja yang pakai” Dongahae mengambil jepitan yang ada di tangan Myuu dengan lembut, tak tertinggal senyum yang selalu menebar dari bibirya. Myuu balas tersenyum tapi malah menyembunyikan jepitannya belakang badannya, mundur selangkah, memiringkan badabnya ke kiri dan akhirnya berhasil menarik taemin.

“Hyaa~ minnie,, pakai ini ya! aku mohon~” lagi-lagi Myuu memasang wajah memelasnya.

Entah ada sihir apa yang merasuki tubuh taemin, membuatnya begitu saja mengangguk. Membiarkan sepasang jepitan kupu-kupu kuning melekat di rambutnya. Tentu saja Myuu hanya melompat-lompat kegirangan. Ia merasa Taemin memang lebih cantik seperti ini. Tak lupa ia membangga-banggakannya pada donghae. Donghae hanya tersenyum manis melihat tingkah lucu saeng-saengnya. Taemin yang mencibirkan bibirnya kesal dengan tingkah Myuu tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Myuu yang selalu memperlakukan taemin seperti perempuan tampak senang dengan hasil make over-nya terhadap taemin.

Donghae mengambil ponsel cameranya, secara diam-diam ia memotret Taemin dan Myuu. Mereka terlihat sangat bahagia. Donghae menyukai itu. Tidak ingin membuat salah satunya terluka.

 

“Nahh, Myuu… bagaimana kalau kita gantian,,” ucap Donghae tiba-tiba.

“Mwo??” tanya Taemin dan Myuu bersamaan.

“Ne,, gantian- Kamu tetap jadi pengantin wanita,, dan yang menjadi pengantin laki-laki… Taemin.”

Ucapan Donghae benar-benar mengaggetkan Myuu. Raut wajahnya berubah. Tampak cemberut dan terlihat ingin sekali menolak. Taemin hanya diam tak bergeming.

“bagaimana??” tanya Donghae memastikan.

“ANDWAE~ SHIREOYO~ Aku tidak mau!” teriak Myuu tiba-tiba.

“kenapa Myuu? inikan hanya main-main. Kita harus bergantian. Biar aku yang menjadi pendampingmu.” jelas Donghae halus.

“TIDAK MAUU!!” lagi-lagi Myuu teriak.

“Sudahlah hyung,, aku juga tidak mau pura-pura menikah dengan dia… nanti aku setiap hari di suruh pake pakaian wanita lagi (?)” ledek Taemin berusaha mencairkan suasana.

“Aku juga tidak mau menikah denganmu! Taemin jelek!!” Myuu mulai ‘terpancing’ dengan ledekan Taemin.

“issh,, kau yang selalu memperlakukanku seperti anak perempuan,, mana mau donghae oppa menikah denganmu!” tegas taemin semakin menjadi meledek Myuu.

“Kaunya saja yang memang sudah seperti perempuan”

Donghae bingung harus berbuat apa bila saeng-saengnya sudah menjadi-jadi seperti ini. Ya, ini salahnya memancing keadaan yang semula baik-baik saja. Tapi memang tak di duga sebelumnya.

“Sudah.. sudah… Mianhae… aku minta maaf, aku kan hanya ingin bergantian dengan Taemin. Biarkan dia merasakan pura-pura menjadi pengantin priamu Myuu…” jelas Donghae di sela-sela pertengkaran saeng-saengnya.

 

“ANDWAE~ Ingat ya Oppa, dan Kau Lee Taemin… AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENIKAH DENGANMU LEE TAEMIN…”

 

***

 

~Myuu POV~

“Hahaha… Kau masih saja mengingatnya Minnie…” godaku pada Taemin yang sedang mencibirnya bibirnya.

“issh,, Berhenti memanggiku ‘Minnie’ >,<” sepertinya aku sukses membuat taemin ngambek. Taemin masih saja mencibirkan bibirnya. Aku hanya terkekeh kecil melihat sikap taemin.

Ya,, kami sedang bernostalgia kenangan 6 tahun yang lalu waktu umur kami masih 6 tahun, sekarang kami sudah kelas 6 SD. Hae-oppa kelas 3 SMA, jadi sudah jarang menemani kami bermain. Aku tau pasti dia sangat sibuk mengurusi tugas sekolahnya dan juga untuk menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi.

Kami duduk di bangku taman tempat kami sering bermain dari dulu. Suasana tampak hening sejenak. Taemin masih saja mengalihkan wajahnya dariku. Ia memainkan kakinya mengayun-ayunkan seperti bermain ayunan.

“Taeminnie…” panggilku tampaknya mengageti ia yang sedang melamun.

“Mwo?” tanyanya mengerutkan keningnya.

” -hm…  apa kita dengan Hae-oppa bisa seperti dulu? Aku… Aku…” ucapku sedikit ragu-ragu.

“Kau masih menyukai Hae-hyung ya?” Pertanyaan taemin membuatku tambah gugup.

Aku hanya mengangguk pelan, aku tau taemin pasti mengerti. Karena selama ini memang hanya dia yang mengerti keadaanku. Aku tau jarak umurku dan Hae-oppa terbilang cukup jauh, tapi apa daya. Dari dulu aku menyukainya, entah kenapa, mungkin selama ini hanya dialah yang selalu menjagaku. Senyumnya sangat membuatku senang. Sikapnya yang tenang dan dewasa juga sangat membuatku nyaman berada di sisinya. Mungkin,, karena aku tak punya sosok seorang ayah yang dapat membuatku tenang kala aku galau, mendekapku kala aku menangis, menasehatiku kala aku berbuat salah, dan selalu menyemangatiku dalam keadaan apapun.

Tapi akhir-akhir ini Hae-oppa tampak menghindariku. Membuatku berpikir keras apa aku tanpa sengaja telah membuatnya marah. Walau bila bertemu atau berpapasan dia tetap memberi senyum termanisnya padaku, tapi tetap saja aku tak tenang bila seperti ini.

“Heii~ kenapa kau jadi bengong begitu?” Taemin mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku dan memandangku bingung. Wajahnya mendekati wajahku, jarak wajah kami kurang lebih mungkin hanya sekitar 7 senti.

Aku mengedip-kedipkan mataku kaget, wajah taemin terlalu dekat. Membuatku kaget dan refleks mendorongnya menjauh.

“Yya~ apa yang kau lakukan?” jujur Taemin membuatku kaget.

“issh,, tapi kau tak perlu mendorongku sekeras itukan!” marah taemin “lagian kau yang bengong seperti itu…” lajut taemin menatapku kesal.

“ahh,, Minhae Taeminnie~” sesalku sambil membantunya bangun. Tapi taemin menepis tanganku.

“Aku bisa bangun sendiri…”

Aku hanya diam dan menundukkan kepala. Sepertinya taemin masih memandangku dengan tatapan kesal.

“Myuu, Taemin, apa yang kalian lakukan?” Tanya seseorang tiba-tiba, ahh, rupanya Hae-oppa.

Aku hanya tersenyum. aku senang sekali Hae-oppa mau menghampiriku duluan, walau yaa, tentunya karena ada Taemin pula. Tapi aku tetap senang.

“issh,, kenapa kau senyam-senyum sendiri seperti itu?” tanya taemin masih kesal dan menghampiri Hae-oppa.

“a- aniyo-” jawabku terbata.

“Hyung,, Kau tidak les? tadi umma menyuruhku untuk tidak mengganggumu untuk latihan piano dalam dua bulan kedepan”

“ahh, Ne… Gwenchana Taemin-ah,, nanti kita tetap latihan… bulan depan kau ada kompetisi kan?”

“Tapi hyung, nanti umma marah padaku…”

“issh,, aku di kacangin…” ku potong ucapan taemin, mereka memandangku bingung.

“Anni- bukan begitu Myuu…” selah hae-oppa. Dan tersenyum padaku.

“hehhe,, gwenchana oppa, aku becanda” aku senang melihat senyumnya padaku. Membuat jantungku berdebar kencang, huhh rasanya jantungku seperti ingin lompat keluar dari rongga dadaku.

“Hyung,, tadi kan aku tanya, kau tidak les? nanti umma dan appa marah…” omel Taemin, ahh… mengganggu saja Taemin ini, tidak tau sikon yang tepat.

Aku memandang Taemin sinis. iss-mengganggu-saja-kau-taemin. Tapi taemin malah tertawa sinis. Sepertinya ia sengaja ingin mengganggu aku yang baru saja ngobrol dengan Hae-oppa.

“Ne,, Taemin-ah… Myuu,, aku pergi dulu ya, annyeong~” pamit Hae-oppa sambil mengusap lembut kepalaku dan menebar senyum manisnya seperti biasa.

“Ne, annyeong oppa~” mengangguk kepalaku dan melambaikan tanganku padanya yang baru saja berlalu.

issh,, aku mengalihkan pandanganku pada taemin. Memandangnya kesal. Tapi taemin malah mengacuhkanku dan terkekeh kecil.

Ahh, aku jadi ingat sesuatu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Hae-oppa.

“…ahh, Hae-oppa!!” panggilku, Hae-oppa belum terlalu jauh perginya.

“Mwo, Myuu?” Hae-oppa menghentikan langkahnya.

Aku berlari menghampirinya, tidak memperdulikan taemin yang sedari tadi menyebalkan sekali tampangnya.

“…Oppa,, boleh aku memohon sesuatu padamu???”

“Mwo??”

“Hm… Hae-oppa bilang kalau cerpenku berhasil dimuat di majalah, oppa akan mengajakku ke taman bermain. Apa itu boleh ku tagih?” tanyaku sedikit ragu.

“Cerpenmu berhasil dimuat Myuu?” tanya Hae-oppa seperti tak percaya.

“Ne, oppa…” jawabku malu-malu.

“Yya~ tapi kan aku bilang aku akan membacanya dulu sebelum aku tepati janjiku…”

“…Tapi, oppa…” belum sempat menjelaskan tapi oppa sudah memotong ucapanku.

“Baiklah,, setelah aku membacanya… kita bertiga akan ke taman bermain..Hebatnya saengku…” ia mengusap-usap halus kepalaku.

ehh, tapi nanti dulu, bertiga??? dengan taemin?? ahh… tidak! aku kan hanya ingin berdua dengan Hae-oppa, kenapa harus dengan taemin yang menyebalkan itu. Tidak sudi dan tidak boleh!. aku hanya dapat bergerutu dalam hati. menggigit bibir bawahku menahan kesal.

Hae-oppa pamit pergi dan berlalu hilang dari pandanganku.

Kini pandanganku ku alihkan pada taemin yang tampaknya terkekeh dengan ucapan Hae-oppa, Dia tau jelas bahwa aku hanya ingin pergi dengan Hae-oppa tapi, Hae-oppa malah meminta pergi bertiga dengan taemin juga. iss, menyebalkan.

Aku pandang taemin sinis, dia makin terkekeh.

“Hei,, Myuu! kenapa dengan wajahmu? tampak panik begitu…” taemin makin meledek dengan ucapannya.

“Issh,, kenapa Hae-oppa harus mengajak kau juga? kau tak boleh ikut~”

“Hehh?? Yang mengajakku itu Hae-hyung,, kau saja yang bilang kalau tidak mau aku ikut…” timbal Taemin.

“Hahh… Kau ini menyebalkan sekali>,< pokoknya kau tak boleh ikut!!”

Ahh, aku memakai jurusku saja memohon padanya dengan wajah memelasku. gumamku dengan dalam hati.

“Taeminnie,, aku mohon~ tak maukah kau membiarkan aku pergi berdua dengan Hae-oppa? Taeminnie, kau kan teman baikku, aku mohon~”

“issh,, kau kira aku taemin 6 tahun lalu yang lemah akan wajah melasmu itu., kau tidak akan bisa pergi berdua dengannya. hahha…” ledek taemin semakin menjadi dan tertawa sinis.

Aku hanya cemberut kesal, aku sebal sekali dengan sikap taemin yang seperti ini.

“Hehh… Myuu Ki, lagian sebenarnya yang kau khawatirkan itu kita pergi bertiga atau…” taemin mencubit kedua pipiku.

“… cerpen itu??” lanjutnya dengan menaikan satu alis matanya, raut wajahnya benar-benar memperlihatkan kalau dia benar-benar sedang meledekku. eh?? tapi nanti dulu… Cerpen??? oh, iya.. isi cerpen itu kan tentang Hae-oppa, bagaimana kalau ia benar-benar membacanya?? hyaaa~ ottokhae?? >,<

“issh,, benarkan kau tidak menyadarinya. kau pikir aku tak tau isi cerpenmu. Ingatkah kau kalau kau meminta aku yang mengedit sebelum kau kirim ke penerbit??”

“ahh… aku lupa…” aku mulai gelagapan dan jadi tak tenang.

Taemin hanya terkekeh melihat betapa gelagapannya aku, double gelagapan.. yang pertama karena harus pergi ke taman bermain bertiga dengan taemin, huhh padahal aku hanya ingin berdua dengan hae-oppa. Dan yang kedua,, isi cerpen itu sangat-sangat memperlihatkan kalau itu tentang hae-oppa.

“Hyaa~ Ottokhae??? >,<”

 

***TBC***

==========================================================================================

Maaf ya klo cast ini2 aja yg aku pake 🙂

cz susah lagi nii klo mau diganti :p

jangan bosen2 ya :DD hahha

Makasih udah baca 🙂

jangan lupa COMMENT ya sehabis baca!!

 

^^arigatChuu~

********************************************************************************************************************

©2011 S3FFIndo

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

 

[FF/2S/PG-15]Hoshizora–Darkness Phobia (Part 2/END)

TITLE : HOSHIZORA–DARKNESS PHOBIA

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : ~ Kim Kibum a.k.a Key

~ Myuu Ki (anggap aja reader sekalian :3)

~ Lee Donghae a.k.a Hae

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Twoshoot

GENRE : Frienship, Sad Romance

RATING : PG-15

Maaf nunggu lama part 2-nya :p

^^Happy reding aja ya chingu~~

“umma…LARI!”

“…umma tak…ta…tahan… Myuu, ting…gal…kan..sa..saja…umma…kamu…ha…rus…selamat…”

Dengan nafas terengah-engah, kaki yang lelah gontai tak kuat lagi berlari, tubuh yang bergetar seraya keringat yang mengalir deras, hembusan angin malam yang menerpa setiap lapisan kulit, dinginnya begitu menusuk membuat kami menggigil tak kuasa menahannya. Gelap yang begitu mencekam seakan ingin menerkam kami hidup-hidup di dalamnya. Ketakutan menghantuiku. Semakin ku genggam erat tangannya.

Upayanya selalu ingin melepaskanku. Dipaksanya melepas genggaman erat tanganku.

Aku menoleh ke belakang, masih dengan nafas terengah-engah, umma memaksaku untuk terus berlari, dengan isyarat tangannya jelas sekali ia ingin aku terus berlari. Langkah kaki ku mengecil, aku tak sanggup lagi, apalagi aku melihat umma yang terpuruk jatuh dibelakang sana. Aku bimbang. Kegalauan, ketakutan, kebimbangan merancau otakku dalam seketika. Degup jantung yang berdetak kencang, jauh di atas normal. Entah karena lelahnya berlari atau karena ketakutan dan kegalauan yang kini merancau otakku.

Samar-samar terdengar langkah lari. Ya, tepatnya orang-orang yang mengejar kami tadi. Degup jantungku berdetak jauh lebih kencang, tubuhku gemetar tak karuhan. Ketakutan seakan melahapku dalam lubang hitam yang mencekam. Kakiku lemas, tak sanggup lagi berjalan apalagi berlari. Aku hanya bersembunyi dibalik pohon besar.

Aku melihat mereka mengarahkan pedang samurai ke arah ibuku. Dari pantulannya pada sinar bulan sangat jelas terlihat samurai itu begitu tajam, seperti dapat membelah kayu jati hanya dengan sekali tikam.

Aku mendengar umma menjerit. Sedetik kemudian yang terdengar hanya lesatan samurai yang menikam sesuatu.

Aku berusaha mengintip apa yang terjadi. Sangat kaget dengan apa yang ku lihat. Samurai itu menikam tubuh umma. Yang terlihat hanya derasnya darah yang mengalir dari lehernya. Dan ditinggallah umma dalam keadaan begitu saja.

Begitu terbelalak aku melihat kejadian ini, ku bekap mulutku sendiri menahan kengerian yang baru saja ku lihat seraya air mata mengalir begitu derasnya.

Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi. Aku benamkan wajahku di antara kedua sisi lututku.

Suasana tambah mencekam saat bulan tak terlihat lagi sinarnya. Yang terlihat hanya kegelapan yang begitu pekat yang seakan akan melahapku masuk kedalam kegelapannya yang abadi.

========================================================================

“Gwenchana yo…” seorang laki-laki  mengusap kepalaku halus. Seakan ia tau akan kegalauan dan ketakutan yang tengah aku rasakan. Tiba-tiba ia mendekapku. Kini diusapnya halus punggungku.

Seketika sedikit demi sedikit ketakutanku sirna. Aku mulai merasa tenang. Senyumnya seraya menjadi kekuatan akan ketakutanku ini. Sirnahkan semua kegalauan dan ketakutan yang tadi merancauku.

“Ayo kita pulang!”

Seakan ia tau aku tidak sanggup lagi berjalan. Ia menggendongku di punggungnya.

Punggungnya sangat hangat. Aku pun dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.

“Kalau kau lelah,, tidurlah!” aku hanya mengelengkan kepala pelan.

“ahh, kau tidak mengerti bahasa korea ya? maaf, aku lupa…”

Hening kembali di antara kami. Pikiranku lagi-lagi tertuju oleh kejadian tadi. Padahal ini pertama kalinya aku memanggilnya ‘umma’.  Aku tak dapat menahan air mata yang sedari tadi tertahan. Aku menumpahkannya semua. Di sini, di punggung laki-laki yang tak ku kenal, tapi begitu hangat dan menenangkan.

“Nakanai de. . . Daijoubu yo…

Kitto daijoubu…

Zutto… Boku ga kimi o zutto sobani iru yo…

Boku ga iru…

Boku ga kimi o mamotte ageru…

ITSUMADEMO…

Shinjiteru yo…”

“[Jangan menangis… semua akan baik-baik saja…]

[Semua pasti akan baik-baik saja…]

[Selalu… Aku akan selalu di sisimu…]

[Ada aku di sini…]

[Aku akan selalu menjagamu…]

[SELAMANYA…]

[Percayalah padaku…]“ Read the rest of this entry

[FF/2S/PG-15] Hoshizora–Darkness Phobia (Part 1)

TITLE : HOSHIZORA–DARKNESSS PHOBIA

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : ~ Kim Kibum a.k.a Key

~ aLma_cchu a.k.a Myuu ki (atau kalian para readers)

~ Lee Donghae a.k.a Hae

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Twoshoot

GENRE : Frienship, Sad Romance

RATING : PG-15

Annyeong :3 ini ff pertama aku d blog ini^^

makasih ya yg udah mau baca n’ komen di ff ini yg Teasernya tadi^^

Happy reading chingu~

Read the rest of this entry

[FF/2S/Teaser] Hoshizora–Darkness phobia

TITLE : HOSHIZORA–DARKNESS PHOBIA

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : ~ Kim Kibum a.k.a Key

~ aLma_cchu a.k.a Myuu ki (atau para readers-lah^^)

~ Lee Donghae a.k.a Donghae

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Twoshoot

GENRE : Frienship, Sad Romance

RATING : PG-15

“Nakanai de. . . Daijoubu yo…

Kitto daijoubu…

Zutto… Boku ga kimi o zutto sobani iru yo…

Boku ga iru…

Boku ga kimi o mamotte ageru…

ITSUMADEMO…

Shinjiteru yo…”


“[Jangan menangis… semua akan baik-baik saja…]

[Semua pasti akan baik-baik saja…]

[Selalu… Aku akan selalu di sisimu…]

[Ada aku di sini…]

[Aku akan selalu menjagamu…]

[SELAMANYA…]

[Percayalah padaku…]”

Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: