Arsip Blog

[FF/G/One Shot] My Best Birthday

Cast = Donghae SJ as him self
Readers a.k.a Han Hyo seok
Others, you can see later

A/N : Annyeong!! ^^ author ~Fishy balik lagi, ini FF buat merayakan hari ultah nya suami author, DONGHAE !! \^^/ dan FF ini juga buat para ELF !! oh iya, jeongmal mianhae ya kalau gak bagus, soalnya ini bikin nya ngebut u,uv kkkkk~ jangan lupa comment ya!! ^^ Oh iya, kalau ada yg mau kenal deket sm author, ini twitter nya ya : @rasass  DON’T BE PLAGIATOR !! v^^v
Read the rest of this entry

Iklan

[FF/PG-15/Prolog] LOVE FOR THE DARKNESS

CAST: Yuri – Jessica – Siwon – Hyoyeon – Sooyoung – Donghae

OTHER: Yunho – Kyuhyun

GENRE: Romance – Friendship

TYPE: SERIES 

Read the rest of this entry

[FF/PG-15] Why I Like You part 2

Title : Why I Like You

Author :  Berlian astrid

Genre : romance

Rating :  PG-15

Leght : chapter

Cost : Eunhyuk Super Junior, aku, minah (menejerku), member super junior, member shinee

disclaimer : ini semua cuma karanganku yang di dapet kalo lagi ngalamum, so ini semua cuma halusinasiku yang berhasil tersalurkan. semoga tidak ada pihak yang merasa di rugikan ^^

N.A : mohon bantuan ya ajak teman-temannya semua buat baca FF aku. semakin banyak yang komen akan semakin cepat part selanjutnya kekekekke~gomawo buat yang RCL.

don’t be SILENT READERS !!!! ^^

Read the rest of this entry

[FFS/3/last] Is it A Love ? -chap 3-

Is it a Love ?

(LAST PART) 

chap 3

“Dengarkan aku…”

“Mulai sekarang aku ingin kao melihatku bukan sebagai orang yang kao lihat dengan matamu, tapi dengan hatimu”

“Lihatlah aku sebagai orang yang kao cintai, bukan sebagai periii, kumohonnnn~~~”

Aku tak ingin mata ini hilang dari pandanganku, aku tak ingin suara ini hilang dari telingaku.. Tapi hatiku tak ingin aku menjadi egois

 
Read the rest of this entry

[FF/G] BROTHER COMPLEX (MINHO IS MINE) part 1

Main Cast:

  • Kim Kibum
  • Choi Minho
  • Lee Taemin
  • Kim Jonghyun
  • Lee Onew (?)

 

Support Cast:

  • Jo Kwon 2AM
  • Han Gain BEG
  • Park Jiyeon T-Ara
  • Kang Hodong
  • Kim Heechul SUJU
  • Lee Donghae SUJU
  • Uee Afterschool (di sebut doang)

 

Genre: Comedy

 

Leght: Sequel

 

Rating: General

 

Annyeong!!Annyeong!! nama saya Gegey a.k.a Kim Jong Gey (nora bgt dah nama lo!). Sebenarnya saya bukanlah author FF romance atau NC yg handal.. saya lahir dr FF comedy ^^ *curcol*.

Jd kali ini saya mau kasih FF comedy saya. Bukan FF pertama, tp salah satu FF andalan saya hehehehe..

 

Ini FF shounen ai atau slash fic atau switch gender.. tp gpp kan namanya juga comedy~

Brother Complex adalah sebutan untuk seorang adik yang sangat menggemari kakaknya sendiri,  bahkan bisa sampai tingkat mencintai.

 

HAPPY READING CHINGU~ 

KALO DAH BACA JGN LUPA KOMEN YA!!!!!
Read the rest of this entry

[FF/S/6/PG-15/] Can You Love Me??? part 6

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

adakah yg nunggu??? :p mianhae aku hiatus bgtu lama XPP klo bingung baca part2 sbelumnya 🙂

part 1part 2, part 3part 4part 5

Happy reading~~

Pupus sudah,,

Harapku hanya satu…

Kembalilah padaku! Aku tak ingin sendiri

 

Salahku,, memang…

Ya,, betapa bodohnya aku

Sifat manja yang melekat padaku, kenapa tak kunjung hilang?

 

Gontai,, semua perasaan menyelimutiku

Ingin aku berteriak,, lampiaskan galau yang merajaiku

 

Author POV

Myuu pulang dengan gontainya, terlebih tanpa ‘hasil’. Hubungannya dengan Taemin tetap buruk. Membuat semangatnya buyar dengan seketika. Ia tak berniat untuk nangis, justru ia kesal. Sangat kesal hingga sepanjang jalan ia sibuk menghentak-hentak kakinya dan menggigit bibir bawahnya, menahan kesal.

Pikirannya kalut, seakan memaksanya berpikir keras.

“Aahh… menyebalkan >,<…” kalutnya mengacak-acak rambutnya sendiri. Sadar banyak mata memandangnya aneh, ia hanya memandang orang-orang itu tajam, seakan berkata apa-yang-kau-lihat?. Lebih mempercepat langkahnya pergi, karena ia tak mau dikira seperti orang gila atau orang stress. Padahal ya,, benar. Memang sedang stress.

~~~

Myuu POV

“aku pulang…” tak ada jawaban. Huft… aku lupa, umma sedang ada urusan mendadak jadi mungkin pulang terlambat.

Aku masih berjalan gontai menuju kamar, sangat-sangat tak bersemangat.

Ku rebahkan tubuhku di kasur, lepaskan penatku yang melekat akhir-akhir ini. Ku raih bingkai foto di atas meja sebelah tempat tidurku. Fotoku, taemin dan hae-oppa. Ku peluk erat bingkai foto yang tengah ku genggam.

“taemin… hae-oppa… jangan tinggalkan aku…” lirihku. Air mata mengalir seraya ku pejamkan mata sekedar melepas rindu akan keberadaan mereka,, hingga ku terlelap dalam keresahan yang tak terbendung.

“minnie,, oppa~ acungkan jari kelingking kalian!” seru Myuu kecil sambil mengacung-acungkan kedua kelingkingnya.

“seperti ini??” tanya Hae mengikuti Myuu mengacungkan kedua jari kelingkingnya seraya senyum manis yang tak pernah lepas menghiasi bibirnya.

“mau apa sih Myuu? Kau selalu saja aneh-aneh” taemin ikut mengacungkan jari kelingkingnya dengan malas.

“kita kaitkan dan saling berjanji…”

“ya,, baiklah aku berjanji…” selah taemin memotong pembicaraan.

“issh,, apa yang kau janjikan minnie>,<? Aku belum selesai bicara”

“kalian jangan bertengkar! Ayo Myuu lanjut, kamu mau kita berjanji apa?” hae menenangkan. Setidaknya senyum tulusnya bisa menenangkan keadaan taemin dan myuu yang sering bertengkar.

“berjanjilah, kalian akan selalu menjagaku dan bersamaku…” ucap myuu mempererat kaitan jari-jemari kelingking mereka yang saling bertautan.

“ya,, kita berjanji untuk selalu saling menjaga dan bersama selamanya…”

“setidaknya sampai aku menikah dengan Hae-oppa nanti…” celoteh Myuu pelan, tapi masih dapat terdengar jelas dengan pipinya yang merona merah.

“Yya~ apa-apaan kamu Myuu, kalau begitu aku tidak janji…” selah taemin, melepas paksa tautan jari kelingkingnya dari Myuu dan hae. Mengrucutkan bibirnya kesal.

“issh,, kenapa kamu marah minnie >,<? Hae-oppa saja setuju.. iya kan, oppa?” Myuu menoleh pada hae dan mengeluarkan jurus puppy eyesnya.

Hae hanya terkekeh melihat tingkah saeng-saengnya.

“jangan mau hyung! Myuu kan cerewet dan manja,, kau suka gadis yang dewasa dan tidak manja kan hyung” timpal taemin memanas-manasi.

“kau menyebalkan minnie! Lihat saja nanti,, aku akan memakai gaun cantik berjalan di altar gereja bersanding dengan hae-oppa sebagai istrinya …” khayal myuu sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Yya~ khayalanmu ketinggian myuu,, hae-hyung tak akan mau menjadi suamimu…”  tambah taemin, mengibas kilat tangannya didepan wajah myuu seakan menghilangkan bayang-bayang khayalan Myuu.

“issh…” myuu semakin geram dengan taemin. Menghentak-hentakkan kakinya, mukanya memerah karena kesal.

“minnie kau menyebalkan! Kau tidak akan mendapat istri secantik aku,, aku akan menyumpahimu menikah dengan Ki Yeon anak perempuan dari kelas sebelah yang gendut seperti sapi >,<” kesal myuu asal bicara.

“yang mana ya~ yang mana ya~ aku tak kenal~~ tak kenal~~”

“minnie menyebalkan >,<… XP (mehrong)”

Semakin kesal dengan sikap taemin, yang bisa diharapkan hanya Hae. Dengan kesal myuu menginjak kaki taemin dan bergegas menghampiri hae. Meninggalkan taemin yang meringis kesakitan memegangi kakinya.

Hae hanya duduk memandangai adik-adiknya yang selalu saja bertengkar. Membuat hidupnya dipenuhi keramaian dan kebahagian. Berharap tak hilang dari hidupnya.

“oppa~ minnie menyebalkan…” rengek Myuu.

“sudahlah Myuu, taemin hanya bercanda” hae menenangkan, mengusap-usap halus pucuk kepala Myuu.

“kalau begitu berjanjilah ketika aku sudah dewasa kau akan menikahiku nanti…” rengek myuu seakan menuntut, sambil mengacungkan jari kelingking kanannya.

“E???”

***

Myuu POV

Blam…

Suara dobrakan pintu mengagetkanku yang baru saja mencoba terlelap. Aku keluar kamar masih dengan keadaan ‘kusut’. Berharap Taemin yang datang. Ya, aku jauh dalam hatiku berharap taemin yang datang, walau keadaanku masih setengah sadar.

“umma??”

“ahh, Myuu… sudah pulang rupanya,, umma pikir kau akan lama disana…” kaget umma sambil meletakkan beberapa bungkusan di atas meja.

“aku pikir umma yang akan lama, aku… baru saja… pulang…” sergahku gugup.

“bagaimana tadi taemin??? Kau jadi menonton performnya kan?” tanya umma sontak membuatku semakin gugup, bingung harus menjawab apa.

“taemin… bagus…” jawabku semakin gugup.

Umma menyerngit dahi, curiga.

“Kau yakin?” tanya umma menyelidik.

“iya umma… ahh, umma mau masak apa untuk makan malam? Aku yang masak ya!” selahku mengalihkan pembicaraan. Mempercepat langkah keruang dapur dengan mengambil beberapa kantong belanjaan yang ada di atas meja.

“Yya~ kau ini bisa saja mengalihkan pembicaraan…” gerutu umma pelan, tapi masih terdengar jelas olehku.

***

Hari ini adalah upacara kelulusan. Para siswa kelulusan berkumpul di aula yang biasanya di pakai untuk pertunjukan teater. Seperti biasa di awali dengan pidato. Tapi aku sama sekali tidak memperhatikan pidato kepala sekolah,, otakku tak fokus, mataku pun sibuk mencari sesosok yang akhir-akhir ini membuat ku insomnia. Ya,, Taemin.

Akhinya aku menemukan sosoknya, lumayan jauh jarak bangku kami. Disebelahnya Key fokus memperhatikan pidato guru. Tapi Taemin sepertinya tidak memperhatikan, sesekali ia menguap, lelah mungkin.

Akhirnya aku dapat melihatmu,,

Walau mulut ini enggan untuk menyapamu,,

Cukupkah tatapanku mewakili semua ragaku untuk menyampaikan rinduku padamu?

…rindu,, bahkan sangat Rindu.

Tiba-tiba Taemin mengalihkan pandangan ke arahku,, sontak membuatku kaget, buru-buru mengalihkan pandangan darinya sambil menundukan kepala menahan malu atas kebodohanku.

***

Usai upacara kelulusan ku edarkan pandanganku mencari sosok yang dari tadi menggangu pikiranku. Hilir mudik orang-orang berjalan di sekitarku. Lagi-lagi aku kehilangan jejaknya.

Hilang,, kau selalu saja hilang begitu saja

Dari segelintir orang-orang yang hilir mudik disekitarku

Aku tak melihat sosokmu

 

Muncullah,, tampakkan dirimu walau hanya kilasan-kilasan bayangan semu

Mungkin cukup walau hanya melihatmu,,

Bila kau tak mau bertemu denganmu,

Biarkan fatamorgana pancarkan semu bayangmu…

 

Semilir angin berhembus,,

Hempaskan daun-daun rapuh

Berguguran tinggalkan kokohnya sang pohon

Teriknya  mentari bersinar

Seakan ikut mengedarkan sinarnya mencari bayangmu

Di antara segelintir orang-orang yang hilir mudik

Adakah kehadiran dirimu???

“Myuu…”

Suara ini,, suara yang aku rindukan, bahkan sangat aku rindukan. Perlahan aku berbalik,, menghadap ke asal suara, berharap terkaanku benar,, bukan khayalan semuku semata. Sepasang mata coklat jernih menatapku dalam. Ya,, sepasang mata sahabatku yang sangatku rindukan. Beberapa lama kami hanya saling bertatapan, tanpa sepatah katapun yang terangkai dari bibir kami masing-masing. Berharap ini dapat mewakili perasaan rinduku padanya.

“Hei,, kamu mencariku, Myuu?” tanyanya membuyarkan kebisuan diantara kami.

“…eh..em..” aku hanya mendehem kecil, menggaruk tengkukku dan mengulum bibirku membentuk sebuah senyuman kecil, bingung harus menjawab apa.

“aku punya waktu dua jam sebelum kembali ke asrama,, ayo kita ke taman belakang sekolah!” ia mengenggam tanganku, membawaku pergi ke taman belakang sekolah.

***

“apa kau harus benar-benar pergi, taemin…nie…?” tanyaku menghentikan langkah kami. Terdiam menundukkan kepalaku.

“bukankah kau ingin aku pergi??” taemin malah balik bertanya. Nada bicaranya terdengar lirih.

Aku memberanikan diri menatapnya, tapi ia malah mengalihkan pandangannya dariku.

“Mianhae…” lirihku.

“gwenchana…” ia mengusap halus kepalaku dan kembali menggenggam tanganku, membuatku pasrah mengikuti langkah kakinya.

Taukah?? Taemin tak pernah memperlakukanku selembut ini. Bukan berarti ia memperlakukanku dengan kasar, hanya saja,, biasanya kami bertengkar.

“Myuu, mianhae. Aku tak menepati janjiku untuk selalu menjagamu. Jaga dirimu di SMP nanti ya!” jelasnya tanpa menghentikan langkah diantara kami, seraya tangannya yang menggenggam ku semakin erat. Sekilas senyuman tipis mengembang dari bibirnya.

Rasa kecewa tentu saja ku rasakan,, tapi aku yakin kau akan kembali. Senyum itu, teruntukkukah?. Maaf taemin, kau tak dapat membalas apapun perkataanmu. Aku sedih,, sekaligus bahagia. Setidaknya kau tidak meninggalkanku begitu saja. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik sampai kita,, kau, aku dan hae-oppa bersama seperti dulu.

***

“hae-oppa~, minnie menyebalkan…” rengek Myuu kepada Hae yang sedang asyik membaca buku. Hae hanya menebarkan senyumnya, mengusap halus pucuk kepala Myuu. Dilihatnya Taemin yang hanya mengerucutkan bibirnya, mengalihkan perhatian dari Myuu dan Hae.

“tuh kan oppa~ dia sangat-sangat menyebalkan…”

Hae hanya menghela nafas kecil.

“apa yang kalian ributkan? Hemm??” hae mengerutkan alisnya bingung, bertanya pada kedua saengnya berharap ada yang dapat menjawab.

Taemin tetap mengalihkan pandangannya. Sedangkan Myuu merajuk kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

“Yya~ minnie jelek>,< aku adukan hae-oppa ya!!”

“Adukan saja week XP (mehrong) aku kan hanya bilang khayalanmu ketinggian, Myuu…”

Jawab taemin meledek.

“issh… oppa lihat sendiri,, minnie sangat-sangat menyebalkan >,< sampai kapanpun kami takkan akur kalau dianya menyebalkan seperti itu…”

“husst… jangan bicara seperti itu, Myuu!” hae berusaha menenangkan.

“kalian ini, tiada hari tanpa bertengkar…” lanjut hae, menggaruk tengkuknya yang tak gatal, hanya bingung dengan sikap saaeng-saengnya.

Myuu dan Taemin hanya saling mengerucutkan bibirnya. Tidak ada yang mau mengalah.

“Minnie yang menyebalkan aku tidak akan mau minta maaf padanya apalagi mengalah >,<”

***

Pipp pipp pipp…

Bunyi alarm jam weker perlahan bangunkanku dari mimpi indahku. Tampak sinar mentari mencuri-curi pandang dari sela-sela tirai jendela kamar. Udara pagi berlomba-lomba masuk kamar melalui lubang-lubang ventilasi udara. Bau basah embun pagi menyerbak seraya ku buka perlahan jendela kamar. Cerahnya mentari pagi seakan menyemangatiku mengawali hari ini. Ya,, ini hari pertamaku masuk SMA. Di Chungdam high school.

Ku pandangi bingkai foto kami bertiga. Aku, Taemin, dan Hae-oppa.

“selamat pagi Hae-oppa…” sapaku. Yap, hampir setiap pagi ku sempatkan untuk menyapa mereka walau hanya dari foto.

“selamat pagi taeminnie,, haha… taukah?,, aku memimpikan kita sewaktu kecil, tapi anehnya, aku selalu memimpikan saat saat pertengkaran kita…” tawaku lirih.

“… apa kalian merasakan apa yang ku rasakan?? Aku… merindukan kalian… bahkan sangat sangat merindukan kalian…” aku tak sanggup membendung air mata yang menumpuk di pelupuk mataku. Mengalir begitu saja.

“hehe… mianhae… padahal aku sudah berjanji bahwa aku bisa menjaga diri,, tapi aku masih cengeng seperti ini…” tawaku lirih berusaha menghapus air mata yang masih mengalir di pipiku.

“minnie, hae-oppa… sekarang aku sudah tidak manja. Kalau kita bertemu kelak aku akan buktikan kalau aku sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang mandiri!” tegasku memantapkan hati.

“jya~ bye oppa, minnie… hari ini hari pertama aku masuk SMA,, semoga menyenangkan! Doakan aku ya! Jya~ aku bersiap-siap ke sekolah dulu…”

***

Jantungku berdegup kencang, ratusan nama-nama tercantum di dinding pengumuman. Nama-nama pembagian kelas. Aku terus mencari namaku dari sekian nama yang ada. Yap,, ketemu aku masuk kelas 1B.

Eh,, sekilas aku seperti melihat nama yang ku kenal.

“lee taemin…” gumamku pelan. Diakah?? Taeminnie ku kah??

Sontak aku berlari menuju kelasku, berharap dugaanku benar. Hanya harapan kecil,, tapi feelingku mengatakan “Ya,, ini taeminnie ku” sahabat kecilku yang ku tunggu selama 3 tahun.

Blam…

Aku membuka pintu kencang, sehingga menimbulkan dentuman keras. Sontak membuat seisi kelas mengalihkan perhatiannya ke arahku.

Aku tak peduli,, ku edarkan pandanganku ke seisi kelas, mencari sosoknya yang mungkin ada diantara mereka semua. Nihil. Tak kutemukan sosoknya.

Harus pupus lagikan harapanku?

Aku mohon,, walau hanya kemungkinan kecil. Ya,, kemungkinan kecil datanglah!

“huft… mianhae…” ku hela nafas panjang seraya menunduk dalam meminta maaf pada seisi kelas karena membuat kegaduhan dipagi hari, terlebih dihari pertama masuk.

Sudahlah myuu, kau terlalu banyak berharap. Berhenti mengkhayal dan fokus sekolah!. Aku berusaha menenangkan hatiku yang sedikit kecewa.

Padahal hanya harapan kecil, tapi tetap tak terpenuhi.

Apa aku terlalu banyak berharap?? Mungkin…

Aku… lelah berjalan seorang diri…

 

Lihatlah,, ini aku yang tengah beranjak menjadi gadis dewasa…

Aku janji,, bila kelak kita dipertemukan

Aku… tak kan bersikap kekanak-kanakan

Karena kini,, aku tengah berusaha mandiri

Jadi,, aku mohon, datanglah!

“Hei,, Kalau kau diam seperti itu di depan pintu kau mengalangi siapapun yang ingin masuk…”

Apa tuhan tengah mengabulkan harapanku???

TBC…

tunggu part terakhirnya yaa~

Ini ga ngedit~.~ lagi haroream eung T.T mianhae~~

nikmati sajalah maaf kalau rada mengecewakan *udh lama baru muncul mengecewakan lagi T.T ckck mianhae~~~
Jangan lupa komentar!! ^^

[FF/PG-13] Is it A love ? chap 2

Is it a Love ?

chap 2

Key ^^ ♥

Cast :

Kim Kibum SHINEE

Lee Donghae SUJU

Lee Hana

‘Kao tahu ? Kupikirkan yang kao rasakan itu bukan cinta, kao hanya terbiasa dengan keberadaan Donghae yang selalu ada di dekatmu. Saat Saera tiba-tiba muncul, kao merasa Donghae adalah belahan jiwamu yang hilang. Padahal sebenarnya tidak, yang kao rasakan sebenarnya hanya sekedar kehilangan seorang sahabat saja’

 

 

Previously~~~ 

“ANNYOOOONG~~~YOROBUNN !!!” aku menoleh ke arah Key yang berteriak keras. Semua orang melihat ke arahnya. Kenapa dia berteriak keras begitu ? “AKU INGIN MENGUMUMKAN SESUATUU” aku memandang bingung peri aneh di sebelahku. Wajahnyaa….tampak bahagia. “MULAI HARI INI….HANA ! LEE HANA ! ADALAH MILIKKU”

Aku terperangah cukup lebar, sementara yang lain mulai brtepuk tangan dan mengucapkan selamat padaku. Aishhh~~kenapa dia tersenyum riang begitu ? Apa maksudnya ? Omooo~~apa-apaan dia

_______________________________

-tamankota-

Bulan tampak besar malam ini. Cahayanya juga lebih terang daripada di malam-malam pada musim lainnya. Kao akan lebih mudah melihat sekitar taman walau tanpa lampu seperti sekarang ini. Aku tak menyangka kalau bulan di musim panas akan sehangat dan seindah ini. Hmmm……*trpesona*

Aishhh~~LEE HANA ! SADARLAH ! INI BUKAN SAATNYA TERPESONA DENGAN BULAN !

Aku kembali memasang muka cemberutku menunggu Key. Katanya pergi membeli es krim, kan ? Kenapa selama ini ?

“Jagiyaaa~~”, aku menoleh ke sebelahku yang ternyata sudah diduduki Key, ntah sejak kapan. “Ini es krimmu” ucapnya sambil menyodorkan es krim rasa tiramisu kepadaku.

Aku menjitak kepalanya sebelum menerima es krimku, “Jangan panggil aku jagiya”. Key meringis kesakitan akibat jitakanku, lalu mulai menjilati eskrimnya.

Sambil menjilati es krimku, diam-diam aku tersenyum sendiri. Karena ternyata aku sama saja sepertinya yang bertingkah seperti anak kecil. Aku tadi marah pada Key, tapi sekarang sudah padam karena hanya sebuah es krim ?

“Es krimnya enak, kan ?”, tanya Key tanpa berhenti menjilati es krimnya. Aku tak suka berbohong tanpa alasan, jadi aku mengangguk saja.

Tak lama setelah es krim kami habis, Key mendongak dan menatap bulan. “Huoohhh~~bulannya besar sekali !”, ucapnya riang dan kagum. Aku memandangnya sambil cekikan dalam hati, tadi di pesta dia bertingkah seperti orang dewasa yang penuh kharisma, sekarang dia malah tampak seperti anak kecil berumur tiga tahun.

Ahhh~~benar PESTA !! Pesta masih berlangsung kan di sana ? Hufftt…padahal kukira pesta pertamaku ini akan berakhir menyenangkan. Tapi belum sempat aku menyentuh makanan dan berdansa, aku malah menarik Key untuk pulang tadi !. Aishh~~seandainya tadi Key tidak membuatku malu, aku pasti sekarang masih berada di sana.

Tiba-tiba Key bangkit dari kursi taman, dan mengulurkan tangannya kepadaku, “Ayo kita selesaikan pesta kita !”

Selesaikan ? Maksudnya…kembali ke pesta ? “Anni~~aku tak mau kembali ke pesta itu”, jawabku malas. Kembali ke sana setelah Key mengumumkan yang tidak-tidak pada semua orang ? Huh, SHIROO !! Aku malu kembali ke sana >///<

“Phaboya ! Tentu saja tidak”, aku memandang Key tak mengerti. Kalau tidak, jadi maksudnya apa ?

Dalam sekejap, key berhasil membuatku bangkit dari kursi taman dengan sekali tarikan. Aku hampir berteriak marah, tapi Key segera memelukku. Kau tahu ?, memelukku seperti orang yang akan melakukan dansa.

“Kao sudah makan es krim tadi kan ? Sekarang tinggal melakukan dansa untuk menyelesaikan pesta kita”, katanya sambil meletakkan kedua tanganku di lehernya.

Jarak kami sangat dekat sekarang, dan wajar saja aku menundukkan wajahku malu. Lagipula aku sama sekali tak bisa berdansa ! Aku hanya pernah melihatnya di film-film, tapi tak pernah mempraktekkannya.

“Angkat wajahmu !”, ucap Key sambil mengangkat daguku.

“Key…”. Aku menelan ludahku saat mengatakan ini, “akuuu… tak bisa berdansaa…”, ucapku pelan dan hampir tak terdengar di akhir kata.

Kulihat Key hanya tersenyum miring, lalu mulai bergerak kesana kemari. Awalnya sangat sulit mengikuti gerakannya, tapi Key dengan sabarnya memelankan langkahnya, memberiku kesempatan untuk belajar. Hohoo..aku bisa juga

“Lumayan untuk seorang pemula”, ejeknya sambil tersenyum miring lagi. Karena kesal, kuinjak kakinya, “Aishh~~sakit Hana-yaa”

Aku hanya tersenyum puas dan menikmati lagi dansa kami. Ntah kenapa aku berharap, aku dan Donghae lah yang kini berdansa bersama. Huffttt…boleh kan aku berharap lebih padanya ? Sikapnya tadiiii… Omoo~~seperti menunjukkan kalo dia kaget aku menjadi yeojachingunya Key. Diaaa… Apa dia mencintaiku ?

“Jangan berharap lebih padanya..”, ucap key tiba-tiba yang lantas membuatku kaget. “itu akan menyakitimu”

Omooo~~bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang kupikirkan ? Kenapa dia bersikap seolah-olah bisa membaca pikiranku ?

“Sudah kubilang jangan pasang muka bodohmu itu !”, kesal Key sambil memalingkan mukanya dariku. Kudengar dia menggerutu-gerutu tak jelas. Kenapa dia ?

“Key..boleh kutanya sesuatu ?” Key tak menoleh ke arahku, tapi dia berhenti menggerutu. Kuanggap itu jawaban ‘iya..boleh’ darinya. “Apa kao peri yang bisa membaca pikiran orang ?”

Key menoleh cepat ke arahku dan mulai tertawa keras. DEG ! Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas begini. Annii (tidak)~~ini pertama kalinya Key tertawa di depanku. Kao tahu ? Suaranya begitu renyahh dannnn..sexy ? Sejenak aku terpesona melihatnya tertawa. Omo~~ternyata seorang peri bisa terlihat tampan juga ya ?

YAAA~~LEE HANA ! SADARLAHHH !!!

“Kao ini phabo atau apa sih ?” tanya Key geli sambil mengusap air mata yang keluar karena menertawakan aku. “Memangnya ada peri seperti itu ? Tentu saja tidak ada”

“Lalu bagaimana kao bisa tahu apa yang kupikirkan ?”, tanyaku tak mengerti

Saat Key mulai tertawa lagi, segera kugembungkan pipiku padanya sampai dia diam. Lama-lama tawanya itu menjengkelkan juga. “Mukamu itu seperti monitor yang menggambarkan apa saja yang kao pikirkan. Semua orang akan tahu apa yang kao pikirkan dengan wajah bodohmu itu”

Semua orang ? Benarkah ? Apa Lee Donghae juga bisa membaca pikiranku ?

“Tapi kurasa Donghae tak pandai membacanya”

Benarkah ? Hmm~~yahh kurasa yang dikatakan Key benar. Tak mungkin Donghae pandai membacanya. Kalo dia pandai, dia pasti tahu kalau aku mencintainya, kan ?

“Nah..ayo kita pulang !” ujar Key sambil melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya. “Besok kao harus bersiap-siap menjadi pacarku, arraso ?”

_________________________________________

-Esok pagi-

 

Berita tentang Key yang menjadi pacarku sudah merebak ke seluruh sekolah. Key dinilai sebagai murid baru yang keren, karena berani mengumumkan hal itu di pesta sekolah. Dia segera menjadi pujaan gadis-gadis di sekolah, setelah mereka tahu kalo Key juga jago menyanyi dan menari. Sementara aku ? Aku dinilai sebagai gadis beruntung yang mendapatkan hati Key hanya dalam waktu dua hari.

“Beruntung ?”, gumamku dengan nada ejek sambil memainkan pensil di tanganku. Aku sedang memangkukan dagu di tangan yang lain sambil memandang keluar jendela, tepatnya ke arah gerbang sekolah.

Hari ini Donghae tak berangkat ke sekolah bersamaku seperti biasa. Dan jam segeni dia juga belum datang, kemana dia ? Tidak biasanya dia telat begini. Apa sesuatu sudah terjadi padanya ?

‘Kao tahu ? Kupikirkan yang kao rasakan itu bukan cinta, kao hanya terbiasa dengan keberadaan Donghae yang selalu ada di dekatmu. Saat Saera tiba-tiba muncul, kao merasa Donghae adalah belahan jiwamu yang hilang. Padahal sebenarnya tidak, yang kao rasakan sebenarnya hanya sekedar kehilangan seorang sahabat saja…’

 

Aishhh~~Kenapa tiba-tiba aku teringat ucapan Key semalam ?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan meyakinkan diri kalau ini bukan sekedar perasaan kehilangan sahabat saja. Ini perasaan kehilangan sebelah hatiku. Aku mencintai Donghae. Ne..aku mencintainya.

‘..karena itu.., kupikir dengan aku yang selalu berada di dekatmu, akan mengusir perasaan kehilanganmu itu. Tentu saja dengan aku menjadi namjachingumu (pacar), bukan sebagai sahabat. Ini akan lebih cepat dan lebih mudah menghilangkan perasaanmu pada Donghae. Karena perasaan itu akan tergantikan dengan perasaanmu padaku …’

 

Aku menggeleng-geleng lebih cepat karena takut kata-kata Key yang selanjutnyanya akan muncul di kepalaku. ‘… kao akan jatuh cinta pada perimuu, nonaaa !^^’.

Huweee~~aku merasakan mual yang amat sangat mengingat senyum Key semalam saat mengatakan kalimat itu. Dia percaya diri sekali kalau aku akan jatuh cinta padanya. Itu tak mungkin terjadi ! Tak mungkinnnn !! ><

“Hana-ssi ? Hana-ssi ?” tiba-tiba aku melihat bayangan telapak tangan yang terkibas-kibas di depan mukaku. Aku mengerjap-ngerjap dan melihat Saera yang melakukannya. “Gwenchanayo ?”, tanya Saera khawatir.

“Ne..gwenchanayo”, jawabku sambil tersenyum manis, berusaha membuatnya untuk tidak khawatir pada keadaanku. Hmm~~kenapa dia ada di sini ya, di kelasku ?. “Apa yang sedang kao lakukan disini, Saera ?” Ahh~~tntu saja untuk mencari donghae, kan ? Kenapa aku malah menanyakan pertanyaan bodoh ?. “Mencari donghae ?. Aku tak melihatnya sejak dari tadi”

“Geuraeyo ? Tapi bukannya kalian sering berangkat bersama ? Kenapa hari ini tidak ?”, tanya Saera dengan raut muka khawatir. “Apa dia sakit ?”

DEG ! Benar juga..mungkin dia sakit.

“Jangan panik dulu !” aku menoleh ke arah Key yang entah sejak kapan duduk di sebelahku. “Mungkin saja dia hanya terlambat bangun. Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu”

Saera mengangguk-angguk setuju dengan peryataan Key. Tapi tidak denganku, karena aku tahu Donghae tak mungkin terlambat bangun. Donghae adalah orang yang sangat disiplin dengan waktu, jadi tak mungkin dia telat bangun. Sementara Saera dan Key mengobrol, diam-diam aku mengirimkan sms ke Donghae

To : Donghae Nae Chingu..chingu

Kao di mana ? Apa kao sakit

Key sempat curiga dengan tingkahku, tapi aku diselamatkan oleh bunyi bel dan pertanyaan Saera.

“Bagaimana ini ?, Donghae belum juga datang. Apa sebaiknya aku sms saja ya ?”, tanya Saera pada Key.

“Ne..sebaiknya begitu. Tapi kao kembalilah ke kelasmu sebelum seosangnim kembali”, ujar Key yang lalu disambut anggukan dari Saera. Aku menghela napasku saat Saera sudah pergi, tapi Key masih duduk disampingku, “Apa yang kao sembunyikan ?”

“O-oopseo..”, bohongku. Ya Tuhann..jangan sampai Key bisa membaca kebohonganku.

Key masih tak bergeming dari bangku di sebelahku. Dia masih menatapku curiga, sampai teman sebangkuku  mengusirnya dari bangku itu. Key akhirnya bangkit dari bangku di sebelahku sambil menggerutu-gerutu kesal. Huffttt…untung saja.

Ddrddrtt *bunyi hp bergetar* Aku membuka pesan masukku.

SENDER : Donghae Nae Chingu..chingu

Hanya kecelakaan sedikit.  Apa kao bisa menemaniku sekarang ?

Bagaimana ini ? Aku ingin sekali bolos pelajaran sekarang, tapi Key sedang mengawasiku sekarang. Kalau dia tahu aku akan menemui Donghae sekarang, dia pasti akan marah. Dia akan memarahiku karena aku mengingkari janjiku untuk melupakan Donghae. Tapi sekarang aku malah menemuinya, ini akan membuatku tambah susah melupakan Donghae.

Seosangnim (guru) terus memberikan materi pelajaran, sementara aku hanya gelisah tak menentu. Aku berpikir keras cara bolos tanpa diketahui Key. Tapi bagaimana caranya ?

“Lee Hana !”, suara seosangnim membuatku terkejut. “Kao kenapa ? Apa kao sakit ?” tanya seosangnim sambil berjalan mendekat ke arahku.

Sakit ? Hmm..aku tahu cara bolos dari sini. “Ne..”, jawabku dengan nada lemah. Aku memijat-mijat kepalaku, beraking seperti orang sakit kepala. “Pusing sekali”, desahku pura-pura. Aku melihat ekspresi khawatir seosangnim. Berhasil ! Seosangnim tertipu dengan aktingku.

“Kao istirahat saja di UKS ! Mintalah pada ibu dokter obat agar kao lekas sembuh”, aku mengangguk pada seosangnim (guru), tapi bukan dengan anggukan semangat yang sering kubuat. Ini adalah anggukan lemah seorang Lee Hana. Hoho..ternyata aku jago juga berakting.

Segera saja aku keluar dari kelas. Aku tak membawa serta tasku, karena ini hanya bolos sementara. Aku tak boleh lama-lama bolos, karena itu akan membuat Key curiga.

Saat aku melewati kelas Saera, tiba-tiba saja timbul rasa tidak enak padanya. Aku tak memberitahu Saera tentang kabar Donghae, itu tak baikkan ?. Segera saja kukirimkan sms padanya.

To : Saera-ssi^^

Donghae mengalami kecelakaan kecil. Tak usah khawatir karena aku akan menjenguknya sekarang. Aku akan kembali dengan cepat dan memberitahumu bagaimana keadaannya

Setelah smsku terkirim, aku segera mengendap-endap keluar sekolah dengan memanjati tembok pagarnya. Setelah berhasil keluar, aku menelpon Donghae untuk menanyakan keberadaannya.

“Yeobseo ?” terdengar suara Donghae dari seberang telepon.

“Gwenchana ? Kecelakaanmu tak parahkan ?”, tanyaku cemas.

“Gwenchanayo..aku tak kecelakaan. Hanya membohongimu saja”

“Mwo ??!!!” membohongiku ? KETERLALUAN !!

“Kao bisa menemaniku kan ?” aku hampir memarahinya, tapi Donghae lebih dulu memberitahuku, “Aku akan berziarah ke Mokpo hari ini. Kao mau menemaniku kan ?”

Aku menggigit bibirku, cemas. Mokpo ?. Itu kan jauh sekali dari Seoul, bagaimana ini ? Key bisa curiga kalau aku lama sekali kembali.

“Aku hanya rindu pada Appaku. Kalau kau tak mauu ak-..”

“Aku mau..”, potongku cepat. Sejenak kupandangi matahari yang cukup panas untuk menghilangkan rasa cemas karena takut dimarahi Key. Ini hanya ziarah, aku akan tetap pada pendirianku untuk melupakan Donghae. Aku hanya akan menemani Donghae sebagai sahabat, tak lebih “Ayo kita ke Mokpo !”

________________________________________________

-Laut Mokpo, sore hari-

 

“Kyaaa~~hentikan itu Donghae !”, teriakku pada Donghae yang sedang mencipratkan air ke mukaku. Donghae tak berhenti, dan malah semakin tertawa.

Hari ini cukup menyenangkan !. Setelah turun dari Bandara Mokpo, aku dan Donghae langsung berziarah ke makam Aboji (ayah)*Hana udah terbiasa manggil ayah Donghae ‘Aboji’ sejak mereka kecil* Setelah itu, kami jalan-jalan keliling Mokpo dan diakhiri dengan pergi ke lautnya. Walau tak seindah laut di pulau Jeju, tapi aku cukup senang melihat air laut yang biru dan burung-burung camarnya. Hmmm..aku sudah lama tak pergi ke laut sejak hari itu.

“YAA !! Kao tak mau ikut aku ke tengah ?”, teriak Donghae dari tengah  laut.

Aku yang mandi di pinggir, hanya memandanginya saja. “Aku tak mau !”

“Ya sudah kalau begitu”, ucap Donghae yang lalu mulai berenang lebih ke tengah.

Aku menatap sedih jauh ke tengah laut sambil berjalan keluar dari air. Rasanya ingin sekali berenang jauh ke sana, tapi aku tak bisa. Kakiku bisa kram kalau lama-lama berendam di air. Hari itu juga, saat aku dan keluargaku berlibur di laut pulau Jeju. Aku hampir tenggelam karena nekat masuk ke air. Umurku waktu itu adalah tujuh tahun, dan oemma cukup panik waktu itu. Jadi dia lah yang menyelamatkan aku.

Lama sekali kutunggu di tepi pantai, tapi Donghae tak muncul juga. Aku yang mulai khawatir dengan keadaannya, mulai berjalan ke tepi laut. “Donghae-yaa !! Ayo kita pulang~~”, teriakku. Tapi tak ada jawaban, dan tak ada bayangan orang yang mandi di tengah kecuali perahu-perahu nelayan. “Donghaeee !!!!!”, teriakku lebih keras, karena ketakutan.

 

———-

Annyong~ (^___^)/~

Makasi buat yg uda komen d chap sblum nya. Tnyata xan org2 bae smua, hohoho xDD *ngrayu*

Buat skedar informasi aj..

Ini ff emang uda pernah d kluarin d grup fb

Maka nya mungkin banyak yang udah pernah baca (.___.)

Sekali lagi.. Mian yaa~ ngasih ff lama *bow*

Semoga kalian menikmati ff lama ini ^^~

Keep komen, ok ?

Yang bae silahkan komen, yang merasa bukan org bae, yaa~ gak usah komen uga gak apa-apa. Itukan urusan anda dgn hati dan Tuhan semata 🙂

 

[SF/PG] Blue Tomorrow

Blue Tomorrow

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast:

Kim Ryechul

Super Junior

Rating: PG

Length: oneshot (5.729 words)

Genre: Romance, Sad Romance

 

A/N: Just enjoy this songfict. I’m happy if you like this first songfic. Jangan lupa RCL yaa sehabis baca SF ini :D. GO AWAY PLAGIATORS!!

Disarankan untuk mendengarkan lagu dibawah ini.

  • Blue Tomorrow – Super Junior M
  • Let’s Not – Super Junior KRY
  • Miss You – SM The Ballad
  • Quasimodo – SHINee
  • Life – SHINee

 

*** Read the rest of this entry

[FF/S/5/PG-15] Can You Love Me??? (Part 5)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

Langsung aja yuu ah^^ tak mau banyak cuap-cuap XD

yg mau baca part sebelumnya buka ini aja : part1part2part3, dan part 4

Happy reading 🙂

 

 

~Myuu POV~

“Myuu… gwenchana?”

Suara ini,, begitu jelas ditelingaku.

“Minnie…” sontak aku refleks memeluknya. Merasa ada sedikit kelegaan dalam hatiku.

“Gwenchana yo…” Taemin mengusap halus punggungku. Membuatku mempererat pelukanku.

“Hae-oppa dan kau tak kan meninggalkanku kan?” tanyaku masih terisak.

Diam. Taemin tak bergeming. Ku rengangkan pelukanku. Menatapnya. Tatapan sendunya sulit ku artikan. Sesaat kemudian ia tersenyum, senyum parau yang tak pernah ku lihat sebelumnya dari bibirnya. Kembali menyesakkanku.

“Hae-oppa mana?” tanyaku lirih.

“Mianhae, myuu…” jawabnya tak kalah lirih.

“Aku tak butuh permintaan maafmu! Aku tanya, hae-oppa mana??” bentakku. Meluapkan segala kagalauanku padanya.

“Jeongmal mianhae, myuu…” lirihnya lagi.

“Pabo namja! Hae-oppa mana?” kesalku memukul-mukul bahu dan dadanya.

“Mianhae…”

“Jangan jawab maaf! Aku mau hae-oppa…”

Segala berkecambuk dihatiku. Marah, kesal, sakit hati, dan kegalauan. Entah sudah berapa banyak air mata ini mengalir. Tak habis-habis, terus saja mengalir. Membuatku semakin sesak.

Jahatkah aku? Melampiaskannya semua pada Taemin, melampiaskan sakitku padanya, membagi beban sakit hatiku padanya. Maaf,, tapi aku tak tahan menanggung semua ini seorang diri.

“Kau jahat, minnie! Jahat…” aku masih saja memukul-mukuli dadanya. Ia pasrah. Namun tiba-tiba ia menahan tanganku tepat dadanya. Aku mencoba meronta, tapi ia menahannya kuat. Aku mendongak memandang wajahnya. Ia pun menangis, sontak membuatku kaget. Ini pertama kalinya aku melihanya menangis lagi semenjak  pemakaman appa ku.

Entah mengapa ini tambah membuatku sakit, tapi kegalauan yang merancauku memaksaku untuk acuh, tak pedulikan namja dihadapanku yang mungkin merasakan sakit yang sama.

Aku memaksa lepas dari genggamannya.

“Aku membencimu, Taemin…”

“Aku akan menggantikan hyung menjagamu, myuu…” lirihnya masih terisak, memotong pembicaraanku.

Ini membuatku geram, ada apa sebenarnya denganku?. Sebenarnya aku senang, setidaknya aku tidak sendiri. Ada taemin bersamaku, tapi… kegalauanku seakan-akan merancauku untuk marah, kesal. Mengapa bukan hae-oppa?. Kenapa harus selalu taemin?. Ketidak bersyukuranku terus saja merancau, merajai otak dan hatiku. Semakin membuatku bimbang.

“Pabo! Aku tidak butuh kau! Aku hanya butuh Hae-oppa!!”

Plakk

Akhirnya aku malah mengucapkan kata jahat itu padanya. Ditambah menamparnya keras dan pergi, lari meninggalkanya begitu saja.

Jahatkah aku?? Taemin juga jahat. Dan Hae-oppa juga jahat.

Ya, kami bertiga jahat. Saling menyakiti.

***

~Taemin POV~

“Aku membencimu, Taemin…”

“Aku akan menggantikan hyung menjagamu, Myuu…” lirihku masih terisak. Sakit,, tak tau kah kau Myuu, ini juga menyakitkanku. Tapi seakan-akan kau melimpahkan semua ini padaku.

Ia terdiam, membiarkan keheningan menyelimuti kami sejenak. Aku tak berani memandang wajahnya.

“Pabo! Aku tak butuh kau! Aku hanya butuh Hae-oppa!!”

Plakk

Sebuah tamparan keras melayang ke pipiku. Sontak membuatku kaget. Lebih tepatnya membuatku sakit, sakit yang tak akan mudah terobati hanya dengan obat merah atau obat apapun. Kata-katanya yang begitu menyakitkanku.

Pergi meninggalkan aku dalam luka yang semakin dalam.

Sebegitu tak berartinyakah aku dimatamu, Myuu…

“Terus apa yang harus aku lakukan sekarang? Alasanku tetap disini hanya karenamu,, tapi sedikitpun kau tak peduli dengan keberadaanku. Haha. Kau menyedihkan, Taemin…” tawaku getir, miris dengan semua yang terjadi denganku.

Entahlah,, sekarang kemana kaki ini akan melangkah, maka ke situlah aku.

***

~Author POV~

Myuu keluar kamarnya dengan keadaan yang masih ‘kusut’. Mengucek-ucek matanya yang masih bengkak dan sembab karena menangis seharian dari kemarin. Kakinya reflek melangkah ke arah dapur karena wangi masakan untuk makan malam.

“Umma, wangi sekali masakan…nya…” Ia tersontak kaget, karena sosok yang menambahi sakitnya pagi tadi kini ada di hadapannya, tepatnya duduk dimeja makan.

“Ahh.. Myuu, kamu sudah bangun. Ayo bantu bereskan masakan di meja makan! umma sudah selesai memasaknya.” Seru umma seraya tangannya sibuk menuang masakan yang masih berada di panci ke dalam mangkuk.

“Ne, umma…” mata Myuu tak lepas menatap namja itu, Taemin. Ya, namja itu taemin. Taemin hanya tersenyum kecil, tanpa mengatakan sepatah katapun. Pipinya masih merah, bisa dibilang lebam. Dan matanya juga, masih sembab.

Keadaan tampak hening saat makan malam. Umma bergantian tengak-tengok dari Myuu ke Taemin. Mungkin merasa ada yang aneh. Suasana tampak canggung. Auranya tampak tak mengenakkan.

“Ahh, Myuu,, karena sekarang Taemin tinggal sendiri di seoul, untuk sementara Taemin tinggal dengan kita, bagaimana?” tanya umma memecahkan keheningan.

“Jangan bicara saat sedang makan…” jawabnya ‘dingin’.

Keadaan kembali hening dalam kecanggungan.

Taemin tidak bergeming, tetap melahap makanannya perlahan, walau mungkin tak bernafsu sama sekali karena keadaan yang tidak mengenakkan seperti ini.

“Taemin-ah, nanti kamu SMP dimana? Bareng dengan Myuu lagi kan?” Tanya Umma pada Taemin, mencoba menetralisir keadaan yang aneh ini.

Taemin hanya tersenyum miris, Senyum yang sulit diartikan.

Brakk

Tiba-tiba Myuu menggebrak meja, membuat Umma dan Taemin sontak memandangnya kaget. Tatapan tajamnya mengarah ke Taemin.

“Kau dengarkan aku baik-baik LEE TAEMIN,, jangan masuk sekolah yang sama denganku! Karena aku muak denganmu LEE TAEMIN. Aku tak mau satu sekolah lagi denganmu. Titik!” bentak Myuu. Bergegas lari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya keras.

Sontak membuat Umma kaget. Taemin hanya diam menunduk.

“Taemin,, maaf… ahjumma benar-benar tidak tau ada apa dengan Myuu, jadi…”

“Gwenchana ahjumma,, aku mengerti…” lirih taemin, memotong pembicaraan umma Myuu.

Taemin berjalan gontai menuju kamar tamu, kamar yang kini ditempatinya untuk sementara.

***

~Taemin POV~

Ternyata kau benar-benar membenciku, Myuu. Sakit hatiku bukan hanya seperti teriris, tapi bagai remuk, atau malahan telah hancur.

Teganya kau, Myuu. Tak cukupkah kau monolakku waktu kita kecil dulu, kini kau tambah lukaku dengan luka yang lebih besar. Aku juga punya perasaan, sakitmu sakitku juga,, tapi malah kau tusuk lagi lukaku yang belum sembuh dengan belati karatmu.

“ANDWAE~ Ingat ya Oppa, dan Kau Lee Taemin… AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENIKAH DENGANMU LEE TAEMIN…”

Terngiang kembali kata-katanya yang cukup membuatku shock.

Kuhempaskan tubuhku dikasur. Ingin aku menghilangkan semua beban ini, satu-satunya yang bisa menenangkanku atau paling tidak menghilangkan sedikit bebanku adalah bermain piano.

Tiba-tiba pikiranku beralih mengingat suatu hal. Ku raih amplop coklat besar di atas meja belajar. Perlahan ku buka. Ya, ini adalah surat beasiswa penerimaan siswa baru School of Music. Karena aku termasuk kandidat peserta lomba piano yang terselenggara minggu depan, School of Music menawari beasiswa selama 3 tahun sekolah musik dan beasiswa juga dapat dilanjutkan sampai SMA.

Kini  keputusanku bulat. Aku akan masuk School of Music, dan asrama di sana. Sudah tak ada alasan lagi aku di sini. Myuu tak pernah mengharapkanku, mungkin memang lebih baik aku pergi dari kehidupannya. Dan bila Hae-oppa kembali nanti,, semua akan kembali seperti biasa. Toh,, ada dan tak adanya aku dikehidupan mereka tak berarti apapun.

Aku tinggal disini hanya sampai upacara kelulusan. Tidak lebih.

***

~Myuu POV~

Bodoh,

Aku pikir aku bodoh

Meninggalkan semua yang kumiliki

Akankah mereka hilang dan tak kembali?

 

Mulutku tak sanggup bicara,

Mataku tak mau terbuka

Telingaku tak dapat mendengar

Tertutup semua indera…

 

Hatiku bagai tercabik-cabik,, sakit rasanya…

Kebodohan ini meracuni pikiranku

Merancauku,,

 

Aku tak dapat berpikir,

Merasapun tak bisa…

‘MATI’

Semua rasa dan indera

 

Menangis,, lagi-lagi saat seperti ini aku hanya dapat menangis. Mengeluarkan semua sakit dan bebanku lewat air mata yang mengalir deras membasahi pipiku. Peluh yang mengalirpun tak terasa kini membanjiri seluruh tubuhku.

Jahatnya aku,, sangatlah jahat dirimu, Myuu… sadarkah kau?

Aku sadar aku jahat, tapi entah mengapa itu terus saja kulakukan. Aku tau itu semua bukan sepenuhnya salah Taeminnie, tapi kenapa aku melimpahkan semuanya padanya. Bodoh. Bodoh. Bodoh… Dasar Myuu Bodoh!. Pikiranku terus saja bergelut tak karuan.

***

~Author POV~

Sudah hampir seminggu keadaan antara Myuu dan Taemin masih tidak baik. Myuu selalu menghindari Taemin bila bertemu atau hanya sekedar papasan. Sama seperti saat kejadian Myuu dan Hae. Myuu selalu menghindar bila ia merasa ia bersalah dan bila tak mau mendengar berita buruk. Seakan-akan cuek tak peduli, padahal ia hanya tidak siap bila dibenci dan tidak mau lagi-lagi mendapat sakit hati terus-menerus.

Sebentar lagi mendekati lomba piano se-seoul. Taemin kini sendiri, tak ada yang bisa diharapkan datang ke acara pertunjukannya kecuali, umma Myuu dan Myuu. Itu dulu, sebelum keadaannya kini buruk dengan myuu. Kini ia hanya berteman piano yang akan mengiringinya,, tanpa keluarga, maupun…teman.

***

~Taemin POV~

Kini aku berada diruang musik, mencoba berlatih untuk perlombaan besok. Tapi, sudah lebih dari satu jam aku disini, tak satu tuts pun yang terdengar. Tepatnya,, aku merasa tak sanggup. Tak ada yang menjadi alasan ku untuk melantunkan tuts-tuts indah ini. Untuk siapa kau melantunkannya?? Untukku? Ya, untuk diriku yang menyedihkan ini.

~~~

Ini adalah saat yang harusnya kutunggu-tunggu. Detik-detik dimana aku akan mempersembahkan lantunan pianoku untuk keluargaku, dan sahabatku.

Tapi,, pupus semua harapanku. Itu dulu, kini aku berdiri diatas beribu orang yang menanti permainan pianoku tanpa aku kenal siapa mereka. Tiada orang tuaku, Hae-hyung, Umma Myuu, bahkan Myuu pun tak terlihat diantara beribu penonton itu. Aku hanya akan melantunkannya untuk aku yang ‘menyedihkan’ ini.

*River Flows In You*

(bayanginnya perform taemin yang waktu di Music Core 2009-07-04)

***

~Myuu POV~

Hari ini acara yang seharusnya di tunggu-tunggu taemin, lomba piano se-seoul. Dari beberapa bulan yang lalu kami selalu membicarakan untuk menghadiri acara ini bersama-sama,, tapi ini malah aku sembunyi-sembunyi menghadirinya. Kasian Minnie, Hae-oppa dan orang tuanya tak hadir. Umma juga tak bisa hadir karena ada acara mendadak. Dan aku,, malah sembunyi-sembunyi seperti ini.

Taemin telah bersiap, ia sangat tampan dengan toxedo abu-abunya.

Perform Taemin dimulai. “River Flows In You…” gumamku pelan.

Dulu, hae-oppa dan taeminnie sering melantunkannya bersama-sama. Saling menghayati. Aku masih hapal betul bagaimana mereka tersenyum bahagia melantunkannya bersama-sama.

Tak terasa air mataku kembali mengalir. Aku merasa sangat sangatlah jahat. Harusnya aku bersyukur aku masih punya Taeminnie yang mau menemaniku dan menjagaku, tapi aku malah ‘menjahati’ nya. Aku takut taemin membenciku.

Aku putuskan. Setelah acara ini selesai, aku akan menghampirinya. Memeluknya dan meminta maaf padanya. Aku tak ingin persahabatanku hancur karena keegoisanku. Sekarang aku hanya punya Taemin, bodohnya aku bila melepaskannya. Membiarkan aku terpuruk pada kesendirian.

***

~Author POV~

Akhirnya acara selesai, para pengunjung sebagian berbaur keluar aula. Sebagian ada yang memberi rangkaian bunga pada para peserta lomba.

Myuu berjalan perlahan mencoba menghampiri Taemin yang tengah berbicara dengan seorang ahjusshi. Dengan rangkaian bunga mawar putih cantik yang telah siap di tangannya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja menghampiri Taemin dan memeluknya. Tepatnya ia tau siapa yeoja itu. Hyu Ri, yeoja yang waktu itu bersama Hae-oppa.

Myuu mengurungkan niatnya untuk menghampiri taemin. Ia jongkok bersembunyi dibalik kursi ke tiga dari depan. Mencoba mengdengar kilas-kilas apa yang mereka bicarakan.

“Taemin-ah, chukkae~” ucap Hyu Ri mengageti taemin karena langsung memeluknya. Taemin membalas pelukan yeoja yang lebih tua 5 tahun darinya itu. Berusaha tersenyum dan bersikap seperti biasa.

“gomawo Hyu Ri noona…”

“Cheonmaneyo…” Hyu Ri merenggangkan pelukanya dan langsung memberikan rangkaian bunga yang sedari tadi dipegangnya.

“Ah,, Ini…”

“hahha… noona, tidak usah merepotkan begitu… kamsahanmida noona…”

“seperti dengan siapa saja, ahh… iya, ini…” Hyu Ri menimbang-nimbang handycam ditangannya.

“Noona merekam perform ku?”

“haha… tentu saja…” mereka saling tertawa akrab.

“maaf ya noona kalau mengecewakan…” taemin merendah.

“Ahh, iya sini aku bisiki,, aku ingin mengatakan sesuatu…” Hyu Ri berbisik ditelinga taemin, setelahnya Taemin terlonjak kaget dan saling tertawa.

Tak jauh dari tempat mereka tak menyadari bahwa sedari tadi ada yang memperhatikan mereka. Myuu merasa geram. Sejak kapan mereka jadi seakrab itu? Pikirnya sambil menghentak-hentak kakinya kesal. Ia berniat keluar dari persembunyiannya setelah Taemin dan Hyu Ri keluar aula.

“Kalau begitu,, ayo noona, kita bersiap ke bandara…”ajak taemin pada Hyo Rin. Seraya jalan berlalu menuju pintu keluar keluar aula.

“Bandara???” sontak Myuu terlonjak kaget.

TBC

#maaf~ disini fokus ama taemin n’ Myuu,, hehhe lengkapnya baca lanjutannya nanti ya~~

hahha… lagi2 gaje ya 😀 mian *bow* ^^

tapi beginilah kemampuanku XP

hm… yg abis baca komen ya^^

^^arigatChuu~

[FF/S/4/PG-15] Can You Love Me??? (part 4)

TITTLE : CAN YOU LOVE ME???

AUTHOR : aLma_cchu

CAST : Lee Taemin a.k.a Taemin/Taeminnie

Lee Donghae a.k.a Donghae/Hae

aLma_cchu a.k.a Myuu Ki

SUPORT CAST : All SHINee member

LENGTH : Series

GENRE : Family, Friendship, Romance

RATING : PG-15

^^ehemm… maap ya Part 4 nya baru di post 😛 pasti tambah bingung ama nii cerita,, cz authornya aja bingung *ga bener emang nii hm… kalau pda pusing sm nii eps,, maen dulu dah dari part 1 ke part 2 dan part 3,, oKEY^^

Maaf juga udah lama ngpostnya ehh, malah ga muasin (?) XDD

 

^^yosh,, langsung aja yo ahh,, Happy Reading~~

 

~Myuu POV~

“Kenapa Minnie tidak mau ikut ya, oppa?” tanyaku ragu-ragu, mencoba memecahkan suasana hening kami di dalam mobil.

Hae-oppa hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Hari ini mereka semua aneh, membuatku bingung saja.

Harusnya aku senang hari ini bisa pergi dengan Hae-oppa tapi kenapa aku merasa ada yang mengganjal ya. Jujur, semenjak kejadian di toko buku aku selalu gugup kalau bertemu Hae-oppa. Mudah-mudahan oppa tidak ada niat untuk menceritakan masalah itu, karena aku sama sekali tidak ingin mendengarnya, biar saja terkesan ‘menggantung’. Aku sibuk bergelut dalam pikiranku.

“Myuu, kita hanya bisa bermain sampai jam 4, tidak apa-apa kan?” tanya Hae-oppa membuyarkan lamunanku.

“Ahh.. Ne,.” jawabku singkat.

“kau sedang memikirkan apa, Myuu? Melamun begitu…”

“an.. aniyo…” duh,, kenapa aku jadi gelagapan seperti ini?. Aku hanya senyum terpaksa. Hae-oppa hanya terkekeh kecil melihat tingkahku.

Setidaknya keadaan sudah seperti biasa, aku tidak mau telihat canggung atau gugup.

***

~Taemin POV~

Entah apa yang ku pikirkan, aku merasa galau, kebimbangan merajai pikiranku, kepenatan memenuhi semua ruang otakku. Tak seharusnya aku seperti ini, Ya, aku hanya perlu tenang. Tenang,, setenang mungkin.

Aku memasuki rumahku, hanya tinggal beberapa barang yang tersisa karena besok kami akan pindah, tepatnya mungkin orangtuaku dan hae-hyung. Aku?? entahlah,, aku belum memutuskan, haruskah aku ikut? Tapi aku merasa tak bisa meninggalkannya.

Ku rebahkan tubuhku dikasur empukku, sekedar melepas lelah,, paling tidak mampu menghilangkan penatku walau sedikit. Biarkan lelah lelapkan penatku.

***

~Author POV~

“Myuu, kita main satu permainan lagi! Itu…” ucap Hae seraya tangannya menunjuk tempat yang ingin dituju. Myuu mengalihkan pandangannya pada tempat yang di tunjuk. Bianglala.

“Ayo!” seketika senyum semangat menebar di bibir mungil Myuu.

“Kamu tidak takut ketinggian ‘kan Myuu?”

Myuu sejenak menggelengkan kepala dan sedikit berpikir

“Sepertinya tidak…” jawabnya tak begitu yakin.

“Ayo,, kalaupun kamu takut, kan ada oppa yang melindungimu. Ne?”

Phuss~~

Ucapan sederhana itu berhasil meronakan pipi tirus Myuu, membuatnya tak dapat memandang wajah Hae yang sedari tadi tak melepaskan senyuman yang melengkung di bibirnya, dan juga tak lepas erat genggaman tangannya.

~Hae POV~

Aku tak tau ada apa denganku, yang jelas, aku hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Untuk rasa bersalahku,, dan untuk janjiku.

Aku hanya terus memandang gadis yang duduk di depanku, pandangannya hanya tertuju pada pemandangan di luar jendela, sesekali celotehan kecil keluar dari bibir mungilnya mengagumi pemandangan yang dilihat dari tempat setinggi ini.

“Huaaaa~ oppa~ lihat! Mereka semua jadi sekecil itu. Aku jadi tinggi, setinggi raksasa” celotehnya sambil tak bisa diam menggoyang-goyangkan seruang kecil bianglala yang kami naiki.

“Myuu, ayo duduk! Kamu mau membuat kita berdua jatuh dari ketinggian yang setinggi ini?” ucapku menenangkan kegaduhannya. Dia hanya terkekeh kecil, membuatku sedikit gugup.

“Hehhe.. Ne,, mianhae, oppa”

Lagi-lagi aku hanya memandangnya yang sedari tapi riang menikmati pemandangan di luar dari dalam ruang bianglala, begitu manis sikap saengku ini, selalu membuatku tersenyum dan tertawa bila bersamanya. Ya, aku hanya boleh menganggapnya dongsaeng, HANYA DONGSAENG, tak lebih Donghae! Dia dongsaengmu. Kalut batinku.

“Oppa~” panggilnya membuyarkan lamunanku.

“Waeyo??”

“Oppa tau,, aku sudah lama sekali ingin ke tempat ini bersama oppa, tapi oppa selalu sibuk dan sibuk sekali…” celotehnya lagi. Aku hanya tersenyum kecil, mengusap halus kepalanya.

“Ne, nae Dongsaeng…” ku usap halus pipinya yang sedikit merona. Entah apa hanya perasaanku saja atau memang begitu, sepertinya raut wajah tersenyumnya tiba-tiba berubah sedikit murung. Ia mengalihkan pandangannya ke pemandangan luar. Membiarkan keheningan menyelimuti kami.

###

Dalam keheningan,, tau kah oppa, seberapa takutnya aku akan terdengarnya debaran jantungku yang tak dapat berdetak normal ini?

Bahkan dalam keramaian pun aku masih takut,, takut oppa akan tau segugup apa aku berada di sampingmu…

Salahkah??? Bolehkah aku berharap???

Haruskah semua pupus tanpa terjawab???

Jawab!!! Aku mohon jawab aku!!!

…..

Tak ada jawab,, bahkan mungkin… Tidak akan pernah terjawab…

###

Mataku tepat terpaku pada barisan secarik kata-kata bercetak miring. Ya, tepatnya aku sedang membaca lagi cerpen Myuu yang telat di terbitkan. Sudah kesekian kalinya dari semenjak membelinya dua hari lalu, aku terus mengulang-ulang baca. Berusaha mencerna kata tiap kata yang tertoreh dalam cerpen ini. “Mianhae, Oppa! Saranghae…” itu judulnya,, terdengar terlalu dewasa mungkin untuk anak seumurnya, tapi,, tampaknya aku tak bisa menyepelekan masalah perasaan.

Taukah kau Myuu, betapa terbelenggunya aku. Kau adikku haruskah aku ingkari tali saudara yang telah ku ikat di hatimu??. Janjiku hanya menganggapmu sebagai adik. HANYA ADIK, dan akan tetap seperti itu. Apa harus aku berteriak pada semua orang bahwa kau itu adikku,, selamanya tetap seperti itu. Lagi-lagi aku hatiku dan pikiranku kalut.

“Ini…” ku sodorkan majalah yang menerbitkan cerpennya, tepat di depan halaman terdapatnya cerpennya.

Ia tampak tercengang, kaget. Tapi tak bergeming, hanya menundukkan kepalanya. Perlahan mengambilnya.

“Ceritanya bagus…” pujiku mengusap halus kepalanya.

“Gomapta…” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan padaku.

Lagi-lagi keheningan menyelimuti kami. Aku semakin kalut, tapi tetap berusaha tenang. Aku masih mengusap halus kepalanya.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya padaku, kami saling bertatap mata. Ia memandangku tajam, aku hanya menebarkan senyum khasku. Paling tidak,, senyum dapat menenangkan sekalut apapun perasaan dan seberat apapun masalah yang dihadapi.

“Oppa, aku… aku…” ucapnya terbata.

“Waeyo??” tanyaku tanpa melepas senyumku.

“Aku… aku…su…”

Jebb (?)

Tiba-tiba bianglalanya berhenti pas di puncak atas. Ucapan Myuu pun terpotong, karena kaget. Tampak sedikit salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya berdiri memandang pemandangan di luar. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang mudah ditebak.

“Mau kamu lanjutkan Myuu?”

“Itu… hm…” gugupnya salah tingkah.

“duduklah, tenang…” ucapku seraya memapahnya duduk di sampingku.

“akusukaoppa…” kilat ucapnya.

“Mwo??” tanyaku bingung, membulatkan mulutku membentuk huruf ‘o’

“Aku… suka… oppa…” kali ini sedikit berbisik, tapi aku dapat mendengar jelas maksudnya.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Menggenggam erat tangannya.

“Myuu coba kamu pejamkan matamu,, bayangkan dan rasakan bagaimana perasaanmu padaku…”

Ia mengikuti titahku, dipejamkan perlahan kedua matanya.

“sudah??” tanyaku meyakinkannya. Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan.

“Sekarang,, coba kamu bayangkan ayahmu dan rasakan bagaimana perasaanmu padanya…” titahku lagi.

Aku hanya memandang lekat wajahnya yang masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya. Mengerjap-erjapkan matanya, membiasakan bias cahaya yang masuk ke matanya.

Aku kembali menebar senyumku, ia pun ikut tersenyum.

“Bagaimana??? bisa membedakan?” tanyaku halus.

“hm…” ia terlihat memutar otak, berpikir sambil kembali memejam matanya.

“Hangat,, nyaman,, damai… aku merasakan hal yang sama antara Hae-oppa dan appa…” jawabnya yang masih terpejam.

“Tapi…” ia menggantungkan kata-katanya.

“Tapi???” aku berusaha memastikan.

“… ahh,, tidak ada… hanya itu…” jawabnya gugup, kaget begitu membuka matanya aku memandanganya lekat.

“Maafkan aku ya, Myuu… Tapi begitulah… Kau itu sama dengan Taemin,, sama-sama dongsaengku. Aku tetap akan menjagamu dan melindungimu selayaknya kakak kandung…” jelasku.

Ia lagi-lagi menundukkan kepalanya, wajahnya memerah. Terlihat seperti menahan tangis. Tapi perlahan,, air mata itu jatuh juga. Ia tak bisa lagi menahan isaknya. Mengalir deras airmata di pipinya. Ku dekap tubuh mungilnya, biarkan semua tumpah didadaku.

“Menangislah… sepuasmu…” kueratkan dekapanku, seraya bianglala yang kembali berputar.

***

~Myuu POV~

Ku buka perlahan mataku, membiasakan bias cahaya yang tiba-tiba secara perlahan memasuki mataku. Jendela kamar yang telah terbuka, membiarkan udara pagi berebut memasuki kamarku. Aku yang masih setengah sadar perlahan mencoba menerawang seisi kamarku. Dan kembali terpaku menatap satu bingkai foto yang terpasang rapi disudut meja. Ya,, fotoku, Taemin dan… Hae-oppa.

Maafkan aku ya, Myuu… Tapi begitulah… Kau itu sama dengan Taemin,, sama-sama dongsaengku. Aku tetap akan menjagamu dan melindungimu selayaknya kakak kandung…”

“Menangislah… Sepuasmu…”

Ia membiarkanku menangis di dekapan hangatnya, sengguh hangat dan… damai.

Aku kembali mengingat kejadian kemarin. Lagi-lagi aku tidak dapat menahan air mataku.

Tok.. Tokk.. tokk…

Ketukan pintu kamarku mengalihkan dari tangisku yang hampir tumpah.

“Myuu… kamu sudah bangun?? umma sudah siapkan sarapan” teriak umma dari balik pintu kamar.

“Ne,, umma. Aku sebentar lagi keluar…” aku bergegas keluar kamar.

~~~

“umma sarapan apa pagi ini?” tanyaku setiba di dapur.

“umma bikin sandwich,, ayo makan!” ajak umma menarikku duduk di meja makan.

Aku mulai melahap sarapanku dengan lahap, mungkin karena aku lelah. Sejak kemarin pulang dari taman bermain aku mengurung diri di kamar. Lelah juga aku menangis seharian. Apa mataku bengkak ya?. Aku sibuk dengan pertanyaan dan pernyataan di otakku, tiba-tiba pandanganku tertuju pada secarik kertas beramplop kuning tergeletak di samping salah satu piring kosong di meja makan.

Begitu penasaran aku meraihnya.

“Ini apa umma??” tanyaku bingung karena tak ada data pengirim di bagian depan maupun belakang amplop.

“Itu… ahh, umma lupa bilang,, itu dari Donghae, pagi-pagi sekali ia menitipkannya pada umma. Dan, oh iya,, mereka sekeluarga pindah pagi tadi…”

Seperti tersambar petir,, aku terbelalak kaget. Pindah??? siapa??? Hae-oppa dan Taemin???. Saking shock aku sampai tak berani membuka isi surat yang sekarang berada dalam genggamanku. Tanganku gemetar , tubuhku mulai memanas, air mata yang tertahan di pelupuk mataku tak dapat terbendung lagi.

Perlahan ku buka surat itu…

Myuu,, Mianhae…

Maafkan aku…

Mungkin berjuta kata maaf tak dapat menghapus salahku padamu,,

Saengku,, jagalah dirimu baik-baik…

Percayalah dari sini aku akan tetap dan terus menjagamu…

Kamu tau,,

Senyummu bagai oksigen untukku

Ceriamu bagai pelangi dalam hidupku

Dan,, Cintamu… bagai detak jantungku…

Ingatkah,,

Saat kau menangis,, aku selalu ingin mendekapmu…

Taukah seberapa sakitnya aku saat melihatmu menangis,,

Aku mohon,, jangan lagi menangis karenaku,, atau karena apapun

Sebab setelah ini,, aku tak dapat lagi mendekapmu

Membiarkan kau menumpahkan segala bebanmu dalam dekapku,,

Teruslah tersenyum,, hiasi harimu dengan keceriaan agar saat aku kembali nanti, aku tak kehilangan Oksigenku,, Pelangiku,, dan Cintaku…

Saranghae,, nae Dongsaeng

~DongHae~

~~~

(Backsound: Please don’t go—SHINee)

eojetbam kkumsoge , nega naege dagawa

(Last night in my dreams , you drew close to me)

soksagin geu mari , nae eolgul manjideon geu meoritgyeori

(Your whispered words , your hair that brushed against my face)

kkumeseo kkaeboni , neomunado seonmyeonghande

(When I woke up from my dream , it was all too clear)

nega inneun ge kkumieotdan geol , nae nungae goyeojin nunmuri malhaejwosseo

(That your presence was nothing but a dream ,The tears in my eyes told me)

 

Tanganku gemetar hebat,, Sesak, dadaku terasa sakit. Aku tak dapat menahan air mataku,, seraya air mata mengalir deras di pipiku. Seketika pikiranku kalut, memaksaku berpikir lebih tepatnya mencerna tiap kata-kata yang tertoreh dalam surat ini.

“Tidak,, Hae-oppa tak boleh pergi!!” refleks ku berlari meninggalkan kebingungan pada umma. Berlari sekuat tenaga mencari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin dapat menjawab semua kekalutanku sekarang.

 

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

dasi nungama neol boreo gamyeon geu jarie meomchun nareul anajwoyo

(The next time I close my eyes to meet you,Hold me as I stay still in that spot)

 

Segala kekalutan berkecambuk dalam otakku. Air mata tak henti-hentinya mengalir menyamarkan pandanganku.

Ku hapus kilat air mataku dengan punggung telapak tangan.

 

nuneul tteo boado

(Even when I open my eyes)

ne moseumman seonmyeonghande

(only your figure is clear)

nega inneunge kkumieotdan geol ,

(That your presence was nothing but a dream)

nae nunmure bichwojin seulpeumi malhaejwosseo

(The sadness reflected in my tears told me)

 

“Aku tak boleh menangis,, air mata berhentilah! Kau menyamarkan pandanganku, nanti aku tak dapat melihat keberadaan Hae-oppa”

Aku terus berlari, hiraukan semua mata memandangku aneh, masih memakai piyama, tak beralaskan sendal, terlebih air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Pikiranku hanya satu,, Mencegah Hae-oppa pergi meninggalkanku,

 

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal hanbeon man hanbeon man nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

dasi nungama neol boge doemyeon ,

(The next time I close my eyes to meet you)

geu jarie meomchun nareul anajwoyo

(Hold me as I stay still in that spot)

 

“Oppa jahat,, Oppa dan Taeminnie jahat, kalian janji akan terus bersamaku dan menjagaku,, tapi kalian ingkar janji, meninggalkanku seorang diri. Kalian sama dengan appa, berjanji akan menjagaku tapi malah meninggalkanku tanpa memberitahuku…”

“…Hae-oppa,, Taeminnie… aku mohon… Kembalilah!! Jangan tinggalkan aku…”

 

aereul sseo aereul sseodo ttereul sseo ttereul sseo dasi dorawa

(I try and even though I try, I insist, I insist ,Come back to me)

 

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

 

Aku terpuruk,, di depan pintu rumah Hae-oppa dan taeminnie yang sepertinya sudah tak berpenghuni. Berteriak-teriak memanggil mereka seperti orang gila,, aku tak peduli, asalkan mereka menampakkan diri di depanku dan berkata semua ini tidak benar. Mereka tidak akan pernah meninggalkanku seorang diri. Cukup appa yang pergi meninggalkanku, jangan mereka juga.

“Ini hanya mimpi,, Bangunlah Myuu!! Bangunlah dari mimpi buruk ini…”

“… Baiklah,, saat aku menutup mata, aku akan bangun dari mimpi buruk ini dan kembali dalam dekapan Hae-oppa saat berada dalam bianglala…”

Yakinku dalam hati,, memejamkan mataku perlahan. Berusaha hentikan air mataku yang tak henti-hentinya mengalir. Tenangkan kegalauan dan kekalutan yang merajai setiap suduk otakku.

 

dasi nungama neol boreo gamyeon

(The next time I close my eyes to meet you)

geu jarie meomchun nareul anajwoyo

(Hold me as I stay still in that spot)

 

“Myuu,, gwenchana??”

*ToBeContinue*

 

Huahahhaha makin GaJe yeyy~ XDD

akhirnya selesai juga nii part 4 😛

^^disini terlalu fokus ke Donghae n’ Myuu *jgn protes n’ tanya mengapa,, karena aku tak tau jawabannya XDD #sujud2 minta maap ama taemin chagii XP

Yossh,, Comment sehabis baca oKEY^^

%d blogger menyukai ini: